Takdir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 12 May 2017

Pagi itu hujan turun dengan derasnya. Buliran air seolah enggan berhenti di kota tempat besarku ini. Aku terpaku di warung pinggir jalan tempatku berteduh, menatap gusar pada seragamku yang sudah basah. Sesaat tanganku terangkat membetulkan letak jilbabku. Jemariku bergerak menyelipkan kembali helaian rambut yang sudah keluar bebas. Kalau sudah begini, aku tidak mungkin melanjutkan langkahku ke sekolah.

Tubuhku mulai gemetar kedinginan. Tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku, rasanya sudah tidak kuat menahan hawa dingin ini. Aku memejamkan mata sejenak, berharap saat mataku terbuka hujan sudah reda.

Aku membuka mataku dengan cepat. Kurasakan ada sesuatu yang membalut tubuhku. Pandanganku beralih melihatnya, rupanya sebuah jas hitam tengah melekat di tubuhku. Sontak aku mencari orang yang melakukannya. Mataku membulat sempurna, kulihat seorang pria tampan sedang berdiri di belakangku. Dia tersenyum tipis padaku.

“Ini punya kakak?” tanyaku.
“Pakai saja, kamu pasti kedinginan” balasnya lalu tersenyum manis. Bahkan lebih manis dari gula yang termanis. Ini mungkin sedikit lebay. Tapi memang itu adanya.
“Terimakasih”
Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan aku hanya tersenyum sembari sibuk menormalkan detak jantungku. Salahkah jika kubilang aku mengaguminya? baru pertama kali bertemu sudah sebaik ini, apalagi kalau menjadi imamku kelak. Aku benar-benar tak bisa membayangkannya.

“Seragam kamu basah ya? gimana mau sekolah?” tanyanya tiba-tiba.
“Iya, aku juga bingung. Kayaknya mau pulang lagi aja. Kakak sendiri mau bekerja ya?”
“Ya, tapi sepertinya saya mau kembali lagi ke rumah. Lagian tempat kerja saya masih jauh dari sini. Kalau mau bareng saya aja”
“Makasih kak, tapi bentar lagi bunda mau jemput Zahra kok”
Dia menatap bingung. “Nama kamu Zahra?”
“Iya”
“Saya Cristian panggil saja Cris”
Itulah awal pertemuanku dengannya. Sebuah kisah yang tak bisa kulupakan begitu saja.

“Ingat saat kita bertemu?” tanyanya.
“Aku selalu ingat itu” jawabku mantap.
Bibirku mengulum senyum tulus. Aku menatap pria yang kini berada di hadapanku. Ya, dia Cristian pria yang kutemui beberapa tahun lalu. Entahlah, setelah pertemuan pertama kami dulu, rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Aku telah jatuh cinta padanya. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menjalin kasih.

Hubunganku sudah berjalan selama empat tahun. Tapi entah kenapa, dia tak pernah membawaku pada keluarganya. Jujur aku kecewa. Apa tandanya dia tidak serius padaku? padahal jauh dalam hatiku aku selalu menunggu saat Cristian melamarku. Saat dia menyematkan cincin di jari manisku.

“Zahra” aku menoleh menatap pria dihadapanku. Kami sedang ada di taman ibukota.
“Saat nanti banyak perbedaan di antara kita, apa kamu akan tetap bertahan bersamaku?” tanyanya, membuatku bingung.
“Ya, aku akan bertahan”
“Saat takdir bahkan tidak merestui hubungan kita, apa kamu akan tetap bertahan?”
“Ya aku akan tetap bertahan”
“Terimakasih”
Kulihat Cris tampak puas mendengar jawabanku. Aku yang tak mengerti hanya bisa diam tanpa berkata apapun.

“Boleh aku memelukmu” tanyanya.
“Kita belum menikah, seharusnya dengan aku memandangmu seperti tadi saja sudah dosa. Apalagi dipeluk, aku tidak mau memperbanyak dosaku Cris”
“Ya sudah, lupakan permintaanku”

Hari sudah mulai gelap. Kami berdua bergegas pulang. Cris membukakan pintu mobilnya untukku. Tak lama mobil yang kami tumpangi melaju dengan cepat, menerobos jalanan Jakarta.

“Assalamualaikum” ucapku setelah sampai rumah.
“Wa’alaikumsalam”
Kulihat seorang wanita paruh baya muncul dibalik pintu. Gamis yang dipakainya menambah kesan anggun pada dirinya. Pandanganku beralih pada kain hitam yang melekat menutupi rambutnya. Seutas kain yang menjadi penutup auratnya. Dialah pelindungku, sayapku yang selalu siap memapahku. Dialah ibuku.

“Baru pulang? ini malem lho” ucapnya padaku lalu melirik Cris disampingku.
“Iya bu kemaleman nih. Maaf ya Zahra gak sempet ngabarin” ucapku sambil mencium punggung tangannya.
“Saya minta maaf karena saya Zahra jadi kemaleman gini” kini Cris bersuara lalu mencium punggung tangan ibuku.
“Tidak apa-apa, tapi nanti jangan diulangi. Kalian ini belum sah, tidak baik kalau jalan lama dan selalu berdua” kata ibu ramah.
Belum sempat aku melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah, adzan magrib sudah berkumandang. Dengan cepat aku melangkah masuk.
“Cris kamu shalat di sini aja”
“Kayaknya aku pulang aja Ra. Papa udah nunggu di rumah, katanya ada penting” ucapnya. Entah kenapa aku merasa dia sedang membohongiku.
“Oh ya udah, aku masuk ya”

Seminggu berlalu. Waktu berjalan dengan cepat. Tapi selama itu pula Cris belum memperkenalkanku pada keluarganya. Hatiku sudah memberontak, menyuruhku untuk mempertanyakan semua ini. Hubungan ini, apa tidak akan ada status yang lebih serius? ini sangat membingungkan.
Aku meraih ponselku. Tanganku mengetik pesan singkat untuk Cris. Mumpung hari minggu aku harus bisa menggunakannya dengan baik. Sangat jarang aku memiliki waktu luang seperti ini. Kesibukan di dunia kerja membuatku harus mengesampingkan kesenanganku.

To: Cris
Cris kita ketemu di tempat biasa

From: Cris
Ok

Setelah itu aku mengambil tas kecil yang biasa menemaniku. Tak lupa aku memakai jilbab kesayanganku. Ini pemberian Cris untukku. Aku akan selalu memakainya walau nanti jilbab ini sudah tak indah sekalipun. Karena yang membuatnya istimewa ini adalah pemberian pria berarti di hidupku.

“Cris, hubungan kita hampir mau berjalan lima tahun. Jujur aku tidak mau terus berpacaran tidak jelas seperti sekarang. Aku sudah dewasa Cris. Ibu selalu menanyakan kapan aku menikah” ucapku pada Cris.
“Aku tahu”
“Kalau tahu kenapa kamu tidak cepat melamarku?bahkan membawaku pada keluargamu saja tidak pernah”
Cris diam, dia tak menjawab pertanyaanku. Matanya menatap lirih padaku. Cairan bening menetes di pelupuk matanya. Cris menangis, untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis.

“Keyakinan kita berbeda Ra. Keluargaku tidak merestui hubungan ini”

Bagai dihantam seribu pisau. Ini sangat menyakitkan. Selama ini aku selalu bisa menerima perbedaan kami. Tapi kalau untuk masalah keyakinan, aku tak tahu apa aku bisa atau mungkin tidak bisa. Terlalu banyak perbedaan di antara kita.

“Ra apa kamu masih tetap bertahan? Ra kamu sudah pernah mengatakan bahwa kamu akan tetap bertahan, walau takdir tidak merestui kita”

Lidahku kelu untuk menjawab. Aku terlalu kecewa. Aku kecewa pada kenyataan. Aku kecewa pada takdir yang ada. Aku kecewa kenapa kita harus diciptakan dengan berbagai macam perbedaan.

“Ra kamu akan bertahan kan? kamu dan aku akan tetap berjuang. Bahkan kalau perlu aku akan pindah keyakinan”
Aku menggeleng dengan cepat. Menandakan aku tidak setuju pada ucapannya.
“Kamu mau meninggalkan Tuhan kamu? begitu? tidak Cris, saat kamu melakukan itu apa kamu yakin akan setia padaku? saat Tuhan kamu sendiri kamu khianati?” ucapku penuh penekanan.
Tanganku terulur menyentuh pipinya. Jemariku menghapus air matanya. Aku tahu saat ini aku berdosa, aku menyentuh pria yang bukan muhrimku. Maafkan aku Tuhan, tapi aku berjanji aku akan melepasnya.
“Zahra aku mencintaimu” katanya lirih.
“Aku juga, tapi kita harus menyerah Cris. Terlalu banyak perbedaan di antara kita. Mungkin Tuhan hanya memberikan kita kesempatan untuk saling mencintai bukan untuk bersatu”

Aku membalikkan tubuhku. Berlari secepat mungkin. Meninggalkan Cris dan kenangan yang pernah kita lewati. Cinta memang penyatuan perbedaan antara dua insan. Tapi saat perbedaan itu sangatlah besar, adakalanya kita menyerah. Membiarkan takdir menang, lalu melepas seseorang yang selamanya hanya aka menjadi kenangan.

Cerpen Karangan: Linda yunikasari
Facebook: Linda (Linda Y Sari)

Cerpen Takdir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Bukan Untukmu

Oleh:
Pagi Yang cerah, aku berjalan menyelusuri koridor sekolah, pagi ini hatiku sangat senang, Karena aku baru saja jadian sama orang yang aku sayangi dan aku cintai namanya Iqbaal Dhiafakhri

Malaikat

Oleh:
Ini adalah kisah cintaku dimana aku bertemu dengan seorang malaikat yang tidak bersayap, tidak bercahaya, dan tidak dari dunia lain tapi malaikat ini adalah malaikat yang menyerupai manusia, sikapnya

Kunang Kunang di Jembatan

Oleh:
Ada yang tiba-tiba mengukuhkan kembali rindunya. Lelaki itu sengaja datang ke jembatan gantung yang sudah ada sejak lama. Berdiri di persimpangan pagar jembatan. Memandangi pantulan cahaya bulan dan bintang

Cinta Jadi Luka

Oleh:
“Maaf Ta, aku nggak bisa lanjutkan hubungan kita,” jelas Agung pada Lita kekasihnya “Kenapa?” Lita tak terima “Rasanya berat aku lakukan ini, tapi gimana lagi? Kalo ada pertemuan pasti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *