Takdir Nya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 19 June 2017

Syahdu malam berlabuh sepi mengiringi hati yang mati. Di atas bilik kau masih termenung. Menatap potret diriku di sudut ruangan. Erat sekali kau peluk kakimu yang telah terlipat. Tajam sekali sorot matamu tertuju pada potret diriku. Air suci mengalir perlahan dari kedua bola matamu. Masih kaku, tidak bergerak. Pikiranmu melayang jauh meninggalkan tubuhmu menuju masa lampau. Semakin dalam pikiranmu masuk ke masa lampau, semakin dalam hatimu tersayat.
Jangan salahkan aku. Ini bukan pilihanku. Ini jalan hidupku. Ini takdirku. Bukan aku minta. Kalau boleh memilih aku tidak ingin seperti ini. Aku tidak ingin menoreh luka di hatimu. Tapi apalah dayaku ini, aku hanya seorang hamba-Nya, tidak lebih. Aku juga tidak akan mampu merubah suratan-Nya, melampaui aturan-Nya. Pasrah, itulah bisa kulakukan sekarang.

Tegarkanlah hatimu. Aku tahu kau perempuan tegar. Perempuan hebat yang sempurna penciptaanya. Bangkitlah dari keterpurukanmu. Tidak perlu kau sesali apa yang telah terjadi. Percayalah! Tuhanmu pasti tahu apa yang terbaik bagimu. Ini hanya hal yang pahit yang menutupi manismu. Buang pahitnya. Temukan manismu. Lupakan diriku walapun itu sulit bagimu.

“Siapa lagi yang akan sayang padaku?” aku dengar jelas suara hatimu itu. Kalau bisa menjawab pasti akan kujawab “Buka matamu! Di luar sana masih banyak yang akan menyayangimu lebih dariku. Ini tentang waktu. Lewati masa suramnya. Hampiri waktu indahmu di depan sana. Tuhanmu juga akan selalu menyayangimu, jika kau juga sayang dengan-Nya”
“Apa yang harus aku lakukan?” jika kau tanya begitu padaku maka sekali lagi, jika aku dapat menjawab. Niscaya jawabanku akan seperti ini “Terserah apa yang akan kau lakukan. Menangis pun tidak masalah. Keluarkan semua air mata kesedihanmu hingga tak tersisa lagi. Muntahkan kegetiran hatimu itu. Luapkan segala emosimu. Tapi ingat, jangan pernah kau lukai organ-organ di tubuhmu. Mereka tidaklah bersalah dalam urusan ini. Ini hanya tentang aku, kau dan suratan takdir-Nya”

“Bisakah aku melupakanmu?” pertayaan bergejolak lagi dalam hatimu.
“Mengapa tidak? Semua tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Sekali lagi, ini hanya tentang waktu. Jangan kau pikir tak mampu dulu. Jangan kau mendahului takdir-Nya. Semua masih mungkin bahkan sangat mungkin. Jangan menjadi lemah seperti ini” itu jawabanku.

“Bagaimana jika penggantimu tidak sebaik dirimu?” lagi-lagi jeritan hatimu menggangguku, mengusik ketenanganku.
“Kau hanya belum mengenal penggantiku. Jika kau sudah mengenalnya, bukan tidak mungkin kau bisa mengatakan kalau penggantiku lebih baik dariku. Ini juga soal waktu. Waktu untuk lebih dekat dengan penggantiku dan perlahan melupakanku. Tuhanmu lebih tahu mana yang terbaik bagimu” itu jelasku.

“Tapi bagaimanapun aku tidak bisa melupakanmu. Kau terlalu indah untuk kulupakan” hatimu berkata lagi.
“Indah atau tidak itu hanya presepsimu. Ubah presepsimu, niscaya kau akan menemukan yang lebih indah dariku. Kau tidak perlu melupakanku, cukup buka hatimu. Masa lalu tidak untuk dilupakan karena sampai kapanpun kau tidak bisa melupakan masa lalumu. Karena masa lalumu merupakan bagian dari hidupmu. Aku hanya masa lalumu yang pernah menuang setetes air kebahagian di hatimu, masih banyak telaga yang siap menyiram hatimu. Jadikan semua itu sebagai pembelajaran. Lagi-lagi ini soal waktu. Kau hanya belum menemukan titik terindah dalam hidupmu. Tuhanmu juga tahu mana yang indah untukmu. Biar waktu yang menjadi obatnya”

“Aku takut menghadapi dunia ini tanpamu”
“Mengapa takut. Kau masih punya Tuhan yang selalu melindungimu. Jangan sedih, Tuhan selalu bersamamu. Aku percaya bahwa Tuhanmu tidak akan membiarkan hamba-Nya yang taat jatuh ke dalam jurang kenistaan. Jika kau takut kegelapan. Nyalakan lentera keEsaa-Nya. Jika kau takut akan tenggelam ke dalam samudra kehinaan. Gunakan pelampung tasbih-Nya. Jika kau takut tersesat di jalan berliku. Gunakanlah tahlil sebagai pedomanmu. Tuhanmu akan selalu membimbingmu di jalan yang lurus”

“Tapi kau benar-benar bodoh. Kau tinggalkan aku disaat kita akan terikat janji suci. Dua minggu. Hanya tinggal dua minggu kau meninggalkanku. Kau sungguh tega” kali ini hatimu memanas. Kata hatimu bernadakan tinggi. Menyiratkan bahwa diriku yang paling bersalah dalam hal ini. Kau menyalahkan diriku.
“Sungguh ini bukan pilihanku. Aku ingin sekali bersamamu, membangun mahligai rumah tangga bersamamu. Tapi takdir tidak memihak padaku. Aku ingin menjadikanmu pendampingku di dunia. Tapi nampaknya Tuhan berkehendak lain. Tuhan lebih setuju bila kau menjadi pendampingku yang kekal di surga-Nya. Awalnya aku sedikit tidak sejutu dengan Tuhan. Namun, seiring bergantinya waktu aku baru mengerti bahwa maksud Tuhan itu sanggat indah. Bukankah di surga lebih kekal dari didunia, lebih indah dan lebih nikmat?
Kalau kau ingin tahu. Aku di sini sungguh teracuni dengan tangismu. Ingin sekali rasanya aku menangis sepertimu. Tapi aku tidak lagi memiliki air mata yang dapat tercurah dari tubuh kakuku ini. Aku di sini sungguh ingin di sampingmu untuk meneduhkanmu. Memayungimu dalam dekapanku, membelaimu lembut penuh cinta. Namun kini tangan, kaki, badan, dan semua organ tubuhku tidak dapat lagi bergerak.
Tuhan telah menutup jalur petualanganku di dunia. Tuhan menyuruhku untuk istirahat. Tenangkan hatimu. Kau nanti juga akan menyusulku dan beristirahat bersamaku dalam keabadian. Maafkan bila aku tidak bisa lagi di sisimu. Tidak bisa lagi menemanimu. Ruang, waktu dan dimensi kita kini sudah berbeda.
Dengan ikhlas, aku serahkan dirimu kepada penggantiku untuk menjagamu di dunia. Ketika sampai waktunya nanti, aku akan ambil lagi dirimu untuk aku jaga di akhirat”

Hatimu bungkam, tidak dapat lagi berkata-kata. Hatimu sedikit tenang. Aku lihat senyuman kini tersimpul di bibirmu mengiringi keikhlasan hatimu melepaskanku. Aku sudah tenang di sini.

Tamat

Cerpen Karangan: Zula Muhammad
Facebook: Zula Muhammad
Nama: zula muhammad

Cerpen Takdir Nya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terlambat Memang

Oleh:
Aku duduk sendiri, saat hujan beramai-ramai menghempaskan diri ke bumi. Duduk di halte, sembari menanti jemputan bus yang biasanya sudah tiba saat senja bekerja. Tapi ini hujan, tak ada

Jangan Tinggalkan Aku

Oleh:
Brraakk…!!! ” Mampus loe sit, nabrak orang tuh..!! ” teriak Iren ” Ayo kita lihat.. ” Sita dan Iren keluar mobil dan menuju ke belakang. ” Aduh mas, sory

Klara

Oleh:
Hari itu hari minggu, 29 juli 2015. Hari yang paling berat dalam hidupku, hari dimana aku benar benar kehilangan orang yang mencintaiku dengan tulus. Hari yang akan selamanya ku

The End (Part 5)

Oleh:
Esok pagi ketika aku tiba di lantai tiga, aku bertemu dengan Leon yang sedang berdiri di pinggir pembatas. “Pagi Jeslyn!?” Leon menyapaku. “Leon?!” Aku melangkah cepat menuju Leon, dan

Hingga Napas Ini Habis

Oleh:
“Kita pernah coba hempas, kita pernah coba lawan, kita pernah coba melupakan rasa yang menghadang. Kau bilang perbedaan ini bagaikan jurang pemisah maka biarkan aku menyeberang dan coba berjuang.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *