Takdirlah Sutradaranya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 4 August 2016

Andai kau menyatukan sepasang kasih, tiada luka menyayat lara, tiada puitis mengandung dusta tiada air mata terbuang percuma, tiada hidup berakhir sia. Tidakkah kau dengar rengkuhan doa memanggil cinta?

Takdir, kutulis kisahku menyentuh ibamu, berharap kau satukanku dengan kasihku.

Disepertiga malam, masa seakan berhenti. Seakan semua terkesima mendengar munajatku yang memohon akan cinta.

Kasihku berawal dari perjumpaanku dengan Rahman, kala ia menjadi guru ngajiku.

Rahman istimewa. Ia tuli dari konsonan kata tak bermakna, ia bisu dari ucapan kotor dari bibirnya, ia lumpuh dari jalan mungkar. Ia hafidz. Ia nyaris sempurna. Namun, penglihatan diambilNya, agar ia tak terlena oleh kegelimangan dunia fana.

Aku mencintainya.

Suatu hari, Rahman meminagku. Aku bahagia, hingga aku lelah sendiri agar semesta tau tentang bahagiaku.

Namun kenyataan menumbuhkan ego, kala orangtuaku menolak Rahman, bahkan mencacinya.

“Dasar orang buta! Mau kau kasih makan apa anakku. Hidupmu saja di panti asuhan. Mau kau ajak ngemis nantinya he…”

Cinta. Aku kalap. Orang tuaku murka hingga menumbuhkan penyakit ginjal dalam diriku.

“Jika kita berjodoh, Insyaallah kita akan bertemu sebagai pasangan yang hahal La.”

Ingin hati memeluknya. Menangis, bercerita akan hidupku yang rapuh digerogoti asa yang terlanjur bahagia.

“Aku mencintaimu Mas.”

“Aku pun masih mencintaimu La. Tapi, simpanlah cinta itu untuk pasangan kita kelak.”

“Mas…” aku menunduk. Pandanganku kabur. Gelap.

Nyeri menusuk igaku. Tarikan nafas seakan mencekikku. Setelah operasi ginjal tiga hari lalu, aku siuman.

Sebuah mukena dan tape recorder ada di sebelah tempat tidurku.

“Laila terkasih…
Telah kuterima ketulusanmu dengan cintaku. Jaga ginjalku Lalila. Perkenalan denganmu adalah bahagiaku, aku pergi dengan tenang, kutunggu kau di surga, bersama kebahagiaan cinta kita. Insyaallah.”

Aku terseok mengejar waktu membawa Rahman pergi. Menghampiri hujan uang serasa menjahit kulitku.

Kejam!! Takdir… Kemana kau bawa Rahman? Aku ingin kebersamaan, bukan ginjal…

Sebuah truk melaju kencang. Aku mematung di tengah jalan. Biar kuakhiri semua disini. Aku siap. Rodanya melaju semakin dekat. Aku memejamkan mata dan… trus itu menembus tubuhku.

Tubuhku terlihat samar. Terasa ringan terangkat ke udara. “Kau tak perlu melakukan itu Ukhti.” suara Rahman lembut, lalu menggandeng tanganku menuju titik terang.

Siti menangis tersedu di atas makam putrinya, Laila. Operasi yang dijalani anaknya gagal. Penyesalannya adalah anaknya meninggal dalam keadaan kecewa akan cinta yang ditentangnya. Ia hanya bisa meratap penuh penyesalan.

“Maafkan ibu nak. Semoga kau bahagia di surga bersama Rahman…” doanya.

Cerpen Karangan: Dewi Sumidah
Sekolah: MAN Panggul, Trenggalek
Facebook: Dewi Sumidah

Cerpen Takdirlah Sutradaranya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semuanya Milikmu Kembaranku

Oleh:
Sungguh membosankan sekali hari ini. Nilai metematika aku jeblok, terus aku harus nganter temen sekelas aku ke ruang piket, ceritanya sakit terus mau pulang, tapi enggak tau juga sih

Bayangan Dalam Pejamanku

Oleh:
Lingkaran itu menyerupai bulan. Iya, memang bulan. Ternyata hari kini telah malam. Di satu malam, detak jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat dari keadaan normal. Aku terdiam, terpaku melihat di

Ketika Diam adalah Pilihan

Oleh:
Pagi yang indah ketika nyanyian burung saling bersahutan. Mentari yang mulai berani menampakkan senyumnya, menambah keindahan pagi. Kesibukan di kampus pun telah menungguku. Aku pun pergi ke kampus dengan

Sapaan Terakhirmu

Oleh:
Suara ayam berkokok dan sinar matahari yang pelan-pelan menyinari ke arah kamarku. Membuat aku terbangun dari tidurku. Pagi itu pagi yang cerah, kicau burung bernyanyi menyambut pagiku. Kulihat ke

Lara Senjaku, Nda

Oleh:
Mengenalmu, aku menemukan sesuatu dalam dirimu yang buatku nyaman. Tak terasa, beberapa bulan ini kulalui dengan indah, tanpa sehari pun terlewati untuk sekedar bertanya “apa kabar?” Entahlah… Sampai saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *