Tangan Dari Penulis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 11 October 2013

Seorang penulis pasti mempunyai cerita hidupnya yang bahkan gak pernah mereka tulis sendiri. Kehidupan mereka ditentukan oleh takdir mereka tidak pernah tahu kapan mereka mendapatkan jodoh, mendapatkan rezeki, bahkan mereka tidak tahu kapan mereka akan berhenti menulis untuk selamanya. Hal ini tidak berlaku oleh penulis cowok yang satu ini. Ia lebih suka merubah takdir orang lain serta menulis sendiri takdirnya. Menurutnya selamanya ia akan menuliskan takdir dirinya dan takdir orang lain.

Des 31
Hari itu merupakan awal ia gagal menuliskan takdirnya sendiri. Ia tidak dapat menentukan apa yang ia inginkan. Tepatnya pada malam tahun baru ia dan teman-teman mengikuti pesta “Count Down” di daerah Jakarta. Saat teman-temannya menikmati pestanya ia malah menyendiri dan kembali menulis tapi pada saat itu ia bertemu dengan seorang cewek yang suka membaca novel.
“uppsss… sorry!! Maaf aku gak sengaja!” kata mereka berbarengan saat bertabrakan.
“maaf ya, aku bener-bener gak sengaja!” kata Hafitz
“iya gak apa-apa aku juga yang salah jalan gak liat-liat!” kata Rista
“kamu suka baca novel ya?”
“iya, aku suka banget baca novel. Oh, ya nama kamu siapa? Aku Rista”
“aku Hafitz, kamu anak anak baru ya? Soalnya aku gak pernah lihat kamu di kampus”
“iya, aku baru masuk kuliah kemarin. Kamu suka nulis novel ya?”
“kok kamu tahu?”
“aku dikasih tahu Rena kalau yang namanya Hafitz itu pintar nulis novel.”
Mereka pun asyik berbicara banyak. Dan tanpa mereka sadari waktu count down hampir tiba. Mereka segera menhampiri teman-teman mereka.

Hubungan mereka yang berawal dari pesta count down tidak pernah tertuliskan oleh Hafitz. Hubungan mereka semakin erat bahkan beberapa bulan mereka bertemu mereka sudah jadian. Entah apa yang membuat mereka jadian mungkin karena saling membutuhkan. Penulis dam pembaca novel.

Hafitz selalu menuliskan takdirnya bahwa ia akan bahagia dengan Rista dan akan utuh selamanya. Tapi pahit gak bisa dipungkiri. Hafitz mendapat saingan yaitu teman SMA sekaligus mantan pacar Rista sewaktu duduk di bangku SMA. Awalnya Hafitz biasa aja bertemu dengan Willy tapi lama-kelamaan Willy ingin balikan lagi sama Rista.
Betapa hancur perasaan Hafitz mengetahui niat Willy untuk balikan lagi sama Rista. Apa yang ia tulis tetang takdir dirinya dan Rista ternyata tidak dapat berjalan seperti apa yang ia lakukan. Ia akan memutuskan berhenti menulis novel karena ia sudah yakin apa yang ia tulis tidak akan baik lagi buat dirinya dan orang lain.

April 8
Saat di kampus Hafitz lebih suka ngalamun, tidak seperti biasanya yang lebih suka menulis novel. Ia lebih sering menyendiri dan tidak bergaul dengan teman-temannya. Suasana hatinya membuatnya semakin frutasi dengan mendengar kalau Rista di tembak sama Willy. Saat ia berjalan, ia bertemu dengan Rista dan Willy.
“Rista aku ingin bicara sama kamu sebentar. Aku tahu saat ini aku gak bisa bahagiain kamu, dan aku tau juga kamu akan lebih bahagia jika sama orang lain. Demi kebahagiaanmu aku ingin kita putus.” Kata Hafitz
“tapi kenapa? Apa salahku?” Tanya Rista sambil menitihkan air mata
“kamu gak salah, alasannya gak bisa ku ungkapin, maaf sebelumnya jika aku menyakitimu! Selamat tinggal!”
Hafitz meninggalkan mereka berdua. Setelah kejadian itu ia memutuskan untuk mengambil cuti kuliah dan menulis novel yang menceritakan tentang dirinya dan menuliskan akhir cerita yang tragis.

Selama berbulan-bulan ia menulis cerita tentang takdir ia alami selama ini. Tapi karena ia terlalu sibuk menulis, ia sampai tidak memperhatikan kesehatannya. Hingga ia jatuh sakit tapi ia tetap menulis kisah hidup ia alami. Sampai-sampai semua keluarganya khawatir ia kenapa-kenapa.
Sementara itu Rista merasa bersalah dan Willy mencoba menenangkan Rista yang terus-terusan bersedih. Meski ia tidak menjadi pacarnya lagi. Rista selalu mencoba menhubungi Hafitz tapi gak pernah direspon.

Saat Hafitz menulis tiba-tiba ia merasakan dadanya sakit. Ia pun berteriak kesakitan hingga semua orang di rumahnya datang menghampiri tapi Hafitz keburu pingsan. Mereka pun membawa Hafitz ke rumah sakit.
Selama berjam-jam dokter memeriksa Hafitz. Mereka pun menjadi bingung dan menghubungi Rista tapi tidak diangkat-angkat. Kemudian dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
“gimana, Dok kondisi anak saya?” Tanya mamanya Hafitz
“ia terkena paru-paru basah stadium 3, apakah ia sering begadang?” kata Dokter
“beberapa bulan terakhir ini ia sering nulis novel sampai ia begadang.”
“mungkin itu penyebabnya. Sekarang ia sudah sadar, ia ingin bertemu kalian.”

Mereka segera menemui Hafitz. Hafitz memingta agar Rista gak tahu tentang kondisinya. Saat mereka menemani Hafitz di rumah sakit kakaknya Hafitz mendapat telepon dari Rista. Ia pun keluar ruangan untuk menerima telepon.
“halo, Rista?” kata kakaknya Hafitz
“halo kak, aku Rista. Tadi kakak telepon aku ada apa? Maaf tadi aku lagi di kamar mandi!” kata Rista
“gini aku tadi cuma kasih tahu kalau Hafitz sakit, sekarang ada di rumah sakit”
“sakit kak, sakit apa?”
“gak apa-apa dia cuma kecapekan dan telat makan aja.”
“Owh, kalau gitu aku segera ke rumah sakit, makasih ya kak atas infonya!”

Mendengar itu Rista segera ke rumah sakit bersama Willy. Sekaligus untuk menjelaskan masalahnya. Begitu sampai di rumah sakit, ia langsung masuk ke ruang perawatan Hafitz. Willy menjadi merasa bersalah kalau Hafitz cuti kuliah dan masuk rumah sakit itu karenanya.
“Hafitz?” kata Rista
“ngapain kalian kemari?” Tanya Hafitz. Keluarga Hafitzpun keluar ruangan untuk membiarkan mereka bicara.
“katanya kamu sakit, aku khawatir”
“aku gak apa-apa, cuma kecapekan”
“aku juga mau jelasin bahwa aku gak jadian sama Willy. Willy memang nembak aku tapi aku menolaknya.” Katanya sambil menangis
“benar kata Rista, aku ditolak. Dan kami memutuskan untuk bersahabat aja. Rista sangat mencintai kamu jadi jangan tinggalin dia.” Tambah Willy

Akhirnya Hafitz memaafkan mereka. Tapi ia tetap tidak ingin balikan sama Rista. Hafitz meminta mereka untuk benar-benar pacaran. Tapi mereka tidak mau dengan alasan tidak ingin membuat Hafitz sakit hati. Lalu Hafitz meyakinkan mereka hingga akhirnya mereka mau.

Begitu Hafitz keluar dari rumah sakit dan cuti kuliahnya berakhir ia kembali masuk kuliah. Selama di kampus Willy dan Rista menjadi canggung, mungkin merasa malu atau merasa bersalah terhadap Hafitz. Hafitz menjadi dirinya yang dulu lagi sebelum kenal Rista. Selalu bergaul tetapi selalu sibuk menulis novel. Dia selalu menuliskan takdir orang lain tetapi tidak menuliskan takdirnya sendiri dalam hal percintaan. Hanya saja menuliskan takdir umurnya saja, walau dulu hal ini yang paling ditakutkan.

Okt 19
Hingga tanpa terasa mereka lulus dan diwisuda. Pada saat wisuda itu bertepatan dengan launching novel terakhirnya, yang judulnya Takdir yang Kutulis. Yang berisi bahwa umurnya akan berakhir kapan dan dimana. Setelah ia melakukan wisuda di kampus, ia memberikan Willy dan Rista novel yang ia tulis. Kemudian berpamitan dan langsung menuju tempat launching novelnya. Setelah launching novelnya ia langsung pulang tapi di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba ia merasakan sesak nafas dan dadanya sakit. Seketika itulah keluarganya membawanya ke rumah sakit.

Begitu sampai di rumah sakit Hafitz langsung masuk UGD, sementara kakaknya menghubungi Willy dan Rista. Saat itu juga Willy dan Rista menuju rumah sakit. Begitu Willy dan Rista datang dan Hafitz sadar, Willy dan Rista langsung menemui Hafitz.
“Willy, Rista!” panggil Hafitz
“iya, ada apa?” jawab Willy dan Rista
“aku minta kalian baca novel yang kubuat sekarang dan harus selesai hari ini di sini!”

Merekapun langsung membaca novel yang dibuat Hafitz. Mereka membaca sampai malam, kemudian Hafitz meminta untuk mereka berjanji akan selalu bersama dan jangan berpisah. Dan setelah mengatakan itu ia berpamitan dan anfal. Tapi umur tidak bisa ditebak dia tidak dapat bertahan dan pergi untuk selamanya.

Semua orang menangis dan bersedih mendengar kematian dan semua pembaca novelnya. Dan ternyata dalam novel itu tertulis aku akan mati tepat setelah wisuda karena penyakit yang ku derita serta aku akan mati di rumah sakit tepat tanggal 19 Okt dan takdir yang ditulisnya menjadi kenyataan. Membuat semua orang menangis dan bersedih, begitupun Willy dan Rista yang amat sedih karena gak percaya kalau ia menentukan umurnya sendiri.

Dalam cerita ini dapat kita ambil pelajaran yaitu bahwa kita tidak bisa menuliskan takdir kita tanpa seizin yang Maha Kuasa. Umur, Jodoh, dan Rezeki adalah rahasia

Cerpen Karangan: Vixia Ariestya A.k.a Tyas
Facebook: Vixia Ariestya Dwi Andharista

Cerpen Tangan Dari Penulis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehilangan Puisi

Oleh:
Dibalik keramaian manusia yang hinggar binggar mengejar mentari, seperti biasa Vhia selalu datang tepat waktu untuk membeli koran harian lokal, dengan tatapan mata yang kosong ia berjalan penuh semangat

Kata Terakhir Yang Indah Dari Mu

Oleh:
Pertemuan kami sesuatu yang tidak disengaja, walawpun kami satu kampus tapi berbeda jurusan dan kami pun tidak saling mengenal, awal perkenalan kami pada acara pentas seni di kampus yang

Hujan di Bulan Desember

Oleh:
Setelah hampir satu tahun ku berjalan bersisian dengannya, baru ku sadari bahwa cintanya tak kan pernah untukku. Meski ia selalu bilang tak ada yang lain, namun selalu ada kehangatan

Akhir Sebuah Penantian

Oleh:
Malam kian larut yang hanya ditemani dengan bulan dan bintang, angin sepoi yang merasuk dalam jiwa membuat hati ini semakin perih, hanya dalam keheningan malam ini yang menemani keresahan

Senja Yang Abadi

Oleh:
Malam ini sungguh sunyi.. Hanya terdengar suara detingan jam di sudut ruang keluarga. Semerbak tiupan angin membelalak jendela rumah. Percikan hujan di luar membuatku gelisah nan gundah Malam ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *