Tangga Impian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 27 November 2016

“Kau harus pergi Shalsa! Kau sudah bekerja keras untuk meraihnya! Ini mimpimu!! Jangan bertingkah bodoh untuk melepaskannya begitu saja!” Lalu, gadis itu pergi dengan penuh emosi. “Maafkan aku Diana..” Lalu terdengar suara isakan tangisan.

Mentari bersinar dengan cahayanya yang hangat. Burung-burung berterbangan meninggalkan sangkarnya. Sesekali ia hinggap dari pohon satu ke pohon yang lainnya. Sambil mencari serangga kecil untuk dibawa ke sangkarnya.

“Shalsaa, lihat nih..” Raffa menghampiriku memberikan sebuah kertas “Apa?!! Akan diadakan lomba melukis?!!! Ini beneran Raf?” Ucapku sambil menggoyang-goyangkan badan sahabat karibku itu. “Iya benar… Akhirnya mimpimu akan terwujud..” Ucap Raffa sambil tersenyum dan mengacak-acak rambutku. “Heyy.. jangan acak-acak rambutku!!” teriak shalsaa kepada raffa. Lalu mereka berlari-larian di koridor sekolah saling mengejar satu sama lain. Seperti tak ada beban berlari bebas menuju langit biru dengan penuh rasa kasih sayang…

“Kamu bawa aku kemana raff?” Mataku ditutup olehnya. Sedari tadi aku selalu berusaha bertanya. Dan dia hanya menjawab “Lihat saja nanti” jawaban itu baginya seolah-olah telah mengobati rasa penasaranku. Setelah beberapa lama ia menutup mataku, akhirnya ia memintaku untuk membuka mataku. Tempat ini sangat asing bagiku, tapi juga indah. Sebuah padang rumput dengan beberapa pohon yang rimbun. Sungguh tempat yang sangat indah. Dari sini, aku bisa melihat langit begitu dekat denganku. Cahaya matahari begitu hangat menyapa kulitku. Sesekali angin berhembus meniup, seolah menyapa kami dalam keindahan alam yang baru kutemui ini.

“Raf, makasih yahh udah ngajakin aku ke tempat yang indah, eh… bukan hanya indah tapi sangat… sangat… indah. Dan kamu tau Raf? Tempat ini benar-benar menginspirasi aku…, Di tempat ini aku akan mencoba merakit tangga impianku, dengan warna-warna yang akan membuat aku mencapai kesuksessanku…” Aku mengungkapkan semua hal yang ada dalam hatiku, tetapi entah kenapa Raffa tidak seperti biasanya. Dia tidak merespon, biasanya dia selalu menjawabnya dengan guyonan kecil, yang akhirnya hanya membuat kami berdua bertengkar. “Raff?? Are you okey?” Aku melihat wajah Raffa sangat pucat, dan aku sangat khawatir. Tetapi dia hanya mengacak-acak rambutku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum “aku nggak apa-apa kok”. Aku merasa dia seperti menyembunyikan sesuatu, tapi entah apa itu. “Oh ya, Lukisan aku udah selesai, coba kamu lihat” aku memintanya untuk melihat lukisanku. “Wahh, lukisanmu sangat indah shalsa” aku tersipu malu mendengar pujian darinya “ini berkat kamu Raf..”. Lalu, kami saling menatap. Sunyi dan sepi menemani kami dalam rasa yang tak mampu diucapkan dalam kata. Tiba-tiba, ia mengecup bibirku dengan hangat. Di bawah langit biru, bersama awan putih dengan angin yang berhembus bersama dedaunan kering, menjadi saksi bisu ungkapan kasih sayang dua insan.

“Diana!!!” Teriakku kepada gadis berponi dengan ikatan ekor kuda, yah.. dia sahabatku. Tanpa, menunggu jawaban dari Diana aku langsung saja berceloteh “eh, aku baru ngirimin lukisan aku loh, ituu. ohh…. yang pemenangnya bakalan ngewakilin indonesia buat lomba di paris. Doain aku yah semoga aku bisa menang. Kan kalo aku menang kamu bakalan bangga punya sahabat seperti aku, dan kamu tau kemarin yang bantuin aku itu Raffa dan dia ngajakin aku ke tempat yang bikin aku terinspirasi banget.. Beneran deh, tuh anak emang pinter banget bikin aku terkejut… Dan…” Tiba-tiba Diana menangis, menghentikan pembicaraanku kepadanya. “Di…? kenapa?” Tanyaku sambil menenangkannya. “Raa..raf.. raffa…” Dia menyebut nama Raffa sambil menangis. Tetapi, aku tak mengerti ada apa yang terjadi dengan Raffa. “Di..diaa udah me…meninggal.. shaa” aku terdiam, tanganku bergetar hebat. Pipiku terasa hangat, ada air yang mengalir di pipiku. “Di..diaa, nutuup..pin penyakitnya dari kita sha.., dia terke..kenaa kan..ker otak stadium 4, dia nyembunyiin semua ini supaya kita nggak sedih. Dan nggak mau bikin kamu khawatir..” Ia menjelaskan denganku sambil terbata-bata. Lalu, Diana memelukku mencoba mengobati luka lebar yang membuat kami menangis terisak-isak.

“Raf…? Kenapa kamu sembunyiin semua ini dari aku?! Apa kamu fikir, dengan cara kamu pergi tiba-tiba nggak akan buat aku sedih? hahah… hebat raff!! kamu hebat…” Aku berbicara dengan nisan bertuliskan namanya, aku benar-benar merasa sangat terpukul dengan semua yang terjadi. “Raffaaa!! Jawaaab.!!” Lalu, aku menangis terisak-isak dan aku seperti orang yang tak waras berbicara dengan sebuah nisan. “Di depan kamu ini, aku janji nggak akan pernah mau melukis lagi. Dan aku akan ngelupain semua hal yang pernah kita lewatin SEMUANYA!!” Lalu, aku pergi meninggalkan pusara Raffa dengan sebuah luka yang ternganga lebar. Mengalirkan butiran-butiran kepedihan dalam sebuah keheningan.

Disebuah keheningan, di tengah terang bulan dan bintang-bintang. Cahaya malam menjadi tak sepekat gelapnya hitam. Sesekali suara serangga-serangga kecil menghiasi, memecahkan keheningan malam.

“Shalsa?” Bunyi suara orang mengetuk pintu kamarku dan memanggilku. Lalu, aku beranjak dari dunia sepiku untuk membuka pintu kamarku. Lalu ia masuk, ternyata Diana yang datang. Entah untuk apa ia datang malam-malam begini. “Shaa…, ini ada surat dari sekolah” ia menyerahkan sebuah amplop berwarna putih. “Itu hasil dari perlombaan yang kamu ikuti, beberapa bulan yang lalu sha.. Habisnya, dari kemarin kamu kan nggak masuk sekolah dan kepsek minta aku nganterin ini, makanya aku dateng kesini” Ucapnya. Aku hanya diam tak bergeming. “Sha… buka dulu aja, setidaknya itu nggak buat sahabatmu ini penasaran..” Bujuknya terhadapku. Lalu, aku membukanya. Tiba-tiba aku merasa ada butiran-butiran kecil yang jatuh di pipiku. Dan, Diana merebut kertas itu dariku. “Wahhh… akhirnyaa sahabatku impiannya tercapai yah..” Lalu, Diana memelukku dengan hangat. Tetapi, itu hanya membuatku semakin terluka. Dan aku hanya bisa menangis. “Di.. aku nggak bisa..” Ucapku. Diana melepaskan pelukannya dan menatapku bingung. “Aaa..aku.. nggak akan ikut lagi Di..” Ucapku, dan Diana hanya menatapku dengan bingung. “Sha.. Kamu ngomong apa? Ini impian kamu, impian terbesar kamu. Jangan bercanda deh, ini nggak lucu sama sekali.” Ucapnya. “Aku serius Di..” Ucapku datar. “Kau jangan bertingkah bodoh sha!!” Ucapnya dengan nada sangat tinggi. Ia seperti tak menerima keputusanku. “Kau harus pergi Shalsa! Kau sudah bekerja keras untuk meraihnya! Ini mimpimuu!! Jangan bertingkah bodoh untuk melepaskannya begitu saja!” Lalu, gadis itu pergi dengan penuh emosi. “Maafkan aku Diana..” Lalu terdengar suara isakan tangisan.

“Dimana aku?” Tiba-tiba saja aku berada di tempat yang sangat aneh. Semuanya berwarna putih dengan cahaya yang amat menyakitkan kedua bola mataku “Shalsa, kemarilahh..” Suara lembut terdengar dari ujung cahaya. Samar-samar terlihat wajahnya. Tiba-tiba jantungku berdegup sangat cepat. Dia suara yang amat kukenal. “Raffa?” Kuberlari mengejar asal suara itu. Dia benar-benar ada tepat di hadapanku. Lalu, ia memelukku dengan hangat. Pelukan yang sangat aku rindukan.

“Shalsaa, kau harus tau impianmu adalah nyawamu. Apakah kau mau, aku pergi dengan rasa bersalah karena aku membuatmu menghentikan impianmu? Apakah kau tidak mengingat bagaimana kau memperjuangkan mimpimu?” Dengan lembut ia menatapku. “Bagaimana aku bisa berjalan tanpa ada dirimu Raffa? Bagaimana?!!”. “Aku selalu ada, Aku akan selalu ada di hatimu. Melihatmu menaiki tangga impian yang kau rakit dengan warna-warna indah, seperti yang kau ucapkan waktu itu”. Ia mengenggam kedua tanganku dengan erat sambil tersenyum, yah.. Senyuman yang aku rindukan. “Kamu harus janji yaa shaa, harus ngelanjutin merakit tangga impian kamu?” Ucapnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya kepadaku. Dan aku tak bisa menolak untuk menyambut jari kelingkingnya “Iyaa, Raf.. Aku janji” ucapku sambil tersenyum, seolah luka yang ternganga lebar itu telah sembuh terobati. lalu, tiba-tiba wajahnya mulai pudar, senyumannya menghilang dan ia tak terlihat lagi di hadapanku.

Langit biru bersama matahari yang cahayanya begitu hangat. Bersama sekumpulan burung-burung berterbangan menghiasi dan meramaikan indahnya langit biru.

“Raf.. aku akan pergi., untuk merakit tangga impian itu, seperti janjiku. Tapi, sebelum itu aku ingin menemui tempat ini dulu. Tempat yang membuatku tak akan bisa melupakanmu, kenangan kita.” Senyuman manis tergores di wajahnya, dan kini ia berani terbang jauh untuk merakit tangga impiannya. Tanpa ada beban di hatinya. Di ujung padang rumput yang luas, ia melihat sesosok bayangan yang tersenyum kepadanya. Memakai pakaian putih sambil mengacungkan jari jempolnya. Lalu, ia hilang bersama hembusan angin.

Cerpen Karangan: Putry Elviadarjati
Facebook: Putry Elfidayantii (Putrelv)

Cerpen Tangga Impian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dear Friend, Forgive Me (Part 1)

Oleh:
“Selamat pagi!” “Pagi!” Doni menyapa sosok perempuan di koridor kelas. Risa namanya. Mereka adalah sepasang teman yang dekat. “Ada pr gak?” tanya Doni sambil menyeruput kuah bakso. “Ada. Matematika

Kamu, Doa yang Terus Disemogakan

Oleh:
Aku kelu. Dalam ribuan alasan kepergianku, aku menjadi bisu. Di hadapan bayangmu, rindu itu melepaskan kekuatannya yang begitu kuat, merengkuhku dalam pelukannya. Kamu dan pias wajah yang menenggelamkanku dalam

Me and My Beloved

Oleh:
Aku tidak henti-hentinya memainkan pulpen yang ada di tangan kanannya. Mataku menerawang, dia tidak sedang fokus kepada pulpen itu. Lalu cerita 23 jam yang lalu kembali terputar di otakku.

Pelukan Terakhir

Oleh:
Sudah lama kita saling suka tapi kita tak bisa bersama, karena kita sahabat dan mantanku dekat dengannya terlebih mantanku tak bisa menerima bahwa hubungan kita telah berakhir dan aku

Risalah Hati (Part 2)

Oleh:
“Kita begitu berbeda dalam semua hal, kecuali dalam cinta…” Begitu yang ia ucapkan saat aku sedang mengerjakan PR yang Pak Thamrin berikan siang tadi. Ia datang dan mendekatiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *