Tangisan Sang Bangau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 23 September 2014

Pukul 14:00. Tak terasa aku sudah hampir dua jam duduk berdiam di sini. Di tepi sungai yang tak pernah bosan mendengar keluh kesah ku, mendengar kebahagiaanku. Suara bangau-bangau itu membuatku tersadar kembali, bahwa aku harus segera beranjak, aku harus segera pulang. Aku baru ingat pukul 16:00 nanti aku harus mengantar ibu chek up. Sudah dari tiga tahun yang lalu ibu sakit setelah ayah menghianatinya. Tak ada lagi yang bisa diandalkan ibu, kecuali aku. Kakakku sibuk dengan pekerjaannya.

Ku tarik ponselku dari saku celanaku. Dengan sedikit terburu-buru, ku telpon mas Zakky, kekasihku. Kuminta dia untuk menjemputku dan mengantarkan ku dengan ibu ke rumah sakit. Tak berselang lama, Zakky sudah datang dengan Jazzy merahnya. Kami menuntun ibu masuk ke mobil. Ibu tak pernah bosan dengan perjalanan ini, walaupun rumah sakit cukup jauh, namun mas Zakky selalu menghibur ibu sehingga ibu pun selalu menikmatinya. Ibu sudah merestui hubuganku dengan mas Zakky, begitupun dengan mas Zakky, ia termasuk orang yang mudah bergaul dan beradaptasi.

Kami pun sampai, dan langsung menuju ruang dokter yang biasa memeriksa ibu. Hatiku tak tenang, aku gelisah hingga keringat dingin pun mengucur, namun mas Zakky menggenggam tanganku. Itu membuatku merasa nyaman. Dalam lamunanku, samar-samar aku mendengar suaranya “tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja”. Langsung ku tepis jauh-jauh fikiran negatifku tentang ibu. Berbarengan dengan itu ibu dan dokter pun keluar. Tak ada yang menghawatirkanku, ibu keluar dengan senyuman mengembang. Dan aku pikir dia baik-baik saja. Kami pun pulang.

Kulihat ibu sudah tertidur di kamarnya dengan pulas. Sudah malam memang, tapi aku tak bisa tidur. Ku hubungi mas Zakky, ternyata dia juga belum tidur. Cukup lama kami mengobrol. Dia meminta izin padaku bahwa besok dia akan ke rumah Oka (sahabatku) untuk mengambil file-file tugasnya. Dia juga memintaku untuk ikut serta, tapi aku sedang tak ingin kemana-mana. Dia pun menutup telponnya dengan perlahan sambil berbisik “love you honey, my princess now, tomorrow and forever”, karena sudah cukup mengantuk ku hanya menjawabnya dengan “yes, me too” dan langsung ku matikan.

Pagi ini cerah sekali, namun lebih cerah hatiku yang baru saja menerima pesan dengan sambutan senyuman di layar ponselku. Dia selalu membuatku bahagia, selalu dan selalu. Dengan ogah-ogahan aku pun bangkit dari tempat tidur dan duduk di pinggir jendela. Hari ini week end, dan kebetulan tak ada agenda kemana-mana, sehingga sangat mendukungku untuk bermalas-malasan seharian. Dalam kesendirianku, aku teringat ayah, sebetulnya aku rindu, namun kebencianku padanya mengalahkan rasa sayangku padanya.

Tiba-tiba saja ponselku berdering, yang membuyarkan lamunanku. Tumben sekali Oka menelponku. Dari suaranya aku bisa menangkap ada sesuatu yang gak beres yang terjadi dengannya. Aku pun langsung menanyakannya, namun jawabannya langsung membuatku tak berdaya, rasanya seluruh sendi-sendi tulangku luruh tanpa tersisa, aku lemas dibuatnya. Kurang lebih seperti inilah percakapannya:

“Ly, aku minta maaf banget sebelumnya” suara Oka di ujung sana dengan sedikit tersedu-sedu.
“maaf buat apa Ka, kamu kenapa?” aku pun heran dibuatnya.
“sumpah Ly, aku gak nyangka banget”
“iya kenapa Ka, ngomong dulu baru minta maaf” rengekku agak memaksa
“barusan Zakky ke rumahku”
“iya aku tahu, trus kenapa” tanyaku tak sabar.
“aku kaget banget Ly, masa dia ngungkapin perasaannya ke aku” jawabnya dengan gemetar.
“maksudnya gimana Ka?”
“iyah, dia ngungkapin perasaannya ke aku, kalo dia suka sama aku. Gila kan?”

Tak kuat aku mendengarnya, aku langsung ambruk. Tak tahu ponselku jatuh kemana, yang jelas aku tak percaya. Memang sih sebelumnya mas Zakky pernah cerita kalau dia sempet suka sama Oka, karena Oka mirip dengan mantannya. Tapi aku tidak membayangkannya sejauh dan senekat ini. Rasanya baru tadi pagi aku bermesra-mesraan dengannya, walaupun hanya lewat handphone. Aku diam beberapa saat, aku tak tahu harus bagaimana, karena aku memang belum sepenuhnya percaya perkataan Oka.

Pening rasanya ini kepala, namun dengan tertatih aku berusaha mencari ponselku dan meraihnya. Tak membuang waktu lagi, aku langsung menghubungi kekasihku -mas Zakky- dan meminta penjelasan darinya. Belum hilang peningku ini, sudah ditambah lagi dengan batu yang menimpaku, tepatnya menimpa perasaan dan hatiku. Mas Zakky membenarkan apa yang dikatakan Oka, dia pun menjelaskan bahwa dia sudah tak kuat lagi membohongi perasaannya, kalau dia memang suka sama Oka. Degg, aku tak tau pikiranku kemana, namun hatiku hancur, benar-benar hancur. Yang lebih parahnya lagi dia minta mengakhiri hubungan ini –putus-, hubungan yang selama ini aku jaga baik-baik selama empat tahun.
Aku tak mau putus, dia pun tetap bersih kukuh ingin putus. Dia tak ingin lagi denganku, sudah tak butuh. Namun aku juga tak mau mengakhiri ini begitu saja. Aku menangis, memohon kepadanya untuk tidak mengakhiri hubungan ini. Dia tetap tak mendengar bahkan mungkin tak mengerti apa yang aku rasakan. Aku mungkin sudah gila. Aku rela dia tak memberikan hatinya lagi untukku asalkan dia tidak memutuskanku, bahkan aku rela dia mencintai orang lain, asalkan dia masih menjadi kekasihku.

Dia tak menghubungiku dua hari ini, nomornya tidak aktif lagi. Kuliah pun aku tinggalkan. Aku masih tak percaya, aku layaknya patung. Tak bergerak sedikitpun dari tempat tidurku, apalagi keluar kamar, ku kunci kamarku. Kehawatiran ibu membuatnya berani dan mempunyai kekuatan untuk mendobrak pintu kamarku. Ya, saat ini kami hanya berdua, kakakku sedang ada tugas di luar kota untuk beberapa minggu.

Ibu sedih, menangis melihatku seperti ini. Tak ubahnya seperti mayat hidup. Tak satu pun pertanyaan ibu aku jawab, bahkan memberi isyarat pun tidak. Namun sepertinya dia mengerti, dia langsung menciumku, memelukku seerat-eratnya. Aku bisa merasakan pilunya hati ibu menemukanku seperti ini, bisa kurasakan dengan basahnya pundakku dengan air matanya. Sebenarnya aku pun lebih pilu melihat ibu menemukanku dengan kondisi seperti ini. Namun aku masih tak bisa berbuat apa-apa, mataku masih kosong.

Berkat ibu, keadaanku semakin membaik, dan belakangan ini aku pun sudah mulai berkomunikasi dengan ibu walaupun hanya seperlunya. Ibu sangat memahamiku, dia tak pernah sekalipun menanyakan masalahku, apalagi masalah hubunganku dengan mas Zakky. Tanpa ku beri tahu dia pun sudah jauh mengerti, dan dia pun tak ingin melihat malaikat kecilnya semakin terluka lagi. Dalam hatiku menangis. Aku ingin sekali bercerita kepada ibu tentang kesakitanku saat ini, namun aku tak mau menambah sakitnya lagi. Cukup fisik ibu saja yang mengalami itu, dan aku pun tak mau ibu tau betapa kejam dan jahatnya mas Zakky padaku, bagaimanapun aku masih tetap mencintainya, dan akan selalu mencintainya.

Sepuluh hari sudah aku tak masuk kuliah. Aku tak mau menambahnya. Hari ke sebelas aku pun mencoba untuk mengikuti perkuliahan. Teman-temanku hampir tak mengenaliku lagi. Badanku semakin kurus, dengan tulang-tulang yang semakin menonjol yang hanya terbalut dengan kulit. Tak ku hiraukan pertanyaan mereka. Aku hanya mencari satu sosok yang ingin sekali aku menemuinya. Oka, aku ingin sekali bertemu dan mengobrol dengannya, karena semenjak kejadian tempo hari, baik mas Zakky ataupun Oka tak ada satu pun yang menghubungiku.

Setelah hampir setengah hari, akhirnya aku pun berhasil menemukannya. Aku ajak dia mengobrol. Dia pun mungkin terlihat prihatin melihat keadaanku sekarang, namun dia berusaha bersikap biasa. Ku awali perbincangan ini dengan menanyakan kabarnya, keluarganya sampai kuliahnya, yang ujung-ujungnnya ku tanyakan masalah kejadian tempo hari. Dia meminta maaf. Bukan karena dia tak enak telah membuatku kemarin shock, namun dia meminta maaf untuk hal yang tidak akan pernah aku maafkan, bahkan mungkin seumur hidupku. Dia bilang kalau dia sudah jadian dengan mas Zakky, karena dia juga sebenarnya telah lama jatuh cinta pada mas Zakky.

Oh God! Aku semakin shock mendengarnya, dan tanpa menghiraukanku dia berlalu meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah kata pun. Gontai ku kayuh kaki ini melangkah, tak kuat rasanya. Entahlah, aku pun tersadar sudah ada di kamarku. Saat ku buka mataku, ibu langsung menguntai senyum dan memelukku. Teman kampusku yang membawaku pulang katanya. Ibu pun kemudian menyuapiku dengan bubur hangat buatannya sendiri, namun berhenti pada suapan kedua. Aku tak mau lagi, aku tak mampu lagi menahan bendungan air mataku. Perkataan Oka masih terngiang jelas, bahkan sangat dan lebih jelas.

Ibu pun tak kuasa menahan ledakan tangisannya. Kami menangis. Nasib kami sama, ditinggalkan orang yang amat kami cintai, lebih tepatnya dihianati. Di tengah tangisanku, ponselku berdering. Dengan sigap ku raih dan ku angkat. Mas Zakky yang menelponku. Pertama dia meminta maaf padaku atas apa yang telah dia lakukan kemudian dia kembali memintaku untuk ikhlas melepaskannya, dan merelakannya dengan Oka, yang tiada lain adalah sahabatku sendiri. Aku tetap tak mau, hatiku sudah buta, bahkan kesalahannya sekalipun aku sudah tak mampu melihatnya. Percuma, dia tetap memintaku putus, dan aku pun tetap pada pendirianku untuk mempertahankan hubungan ini. Dengan perdebatan alot akhirnya kami pun saling sepakat untuk tetap menjalin hubungan ini (tidak memutuskanku), namun mas Zakky juga tetap menjalin hubungan dengan Oka.

Aku terima semuanya, aku rela, bahkan setiap detik ia menyakitiku pun aku rela. Aku tetap kekasihnya. Dengan sebelah hati, walaupun tanpa sambutan lagi darinya aku jalani hubungan ini. Aku tak akan menyerah, tidak akan pernah.

Hampir setiap waktu aku mengiriminya pesan “sayang, semoga harimu menyenangkan. Jangan lupa jaga kesehatanmu”. Walaupun tanpa balasan, tanpa tanggapan, tetap ku kirim. Tidak pernah bosan aku melakukannya. Setiap siang sampai menjelang sore, aku duduk di tepi sungai. Berharap dia datang, berharap dia kembali. Aku tetap menunggunya. Aku sadar di hatinya sudah tak ada lagi namaku, namun aku yakin di lubuk hatinya yang terdalam masih terselip sedikit ruang untukku, walaupun dia tak menyadari itu. Akan aku tunggu sampai dia tersadar, mungkin saja besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan, dan sampai aku lelah menunggunya.

Bangau-bangau itu memandang ke arahku, seakan dia mengerti akan apa yang aku rasakan. Seakan mereka ikut menangis bersamaku. Karena semakin lelah aku pun pulang. Dari kejauhan terlihat rumahku ramai sekali. Aku masih tak perduli. Tiba-tiba saja ada tetanggaku yang langsung memelukku sambil menangis. Aku kaget, aku tak mengerti, dan bingung. Tak sengaja mataku melihat bendera kuning tergantung di tiang depan pagar rumahku. Aku tak mau berburuk sangka. Aku mencoba menegarkan diriku sendiri.

Tanpa ku bertanya. Telingaku mendengar sendiri, bahkan mataku pun sekarang melihat sendiri. Orang-orang di luar membicarakan ibu, dan saat ini di depan mataku terlihat ibu. Orang yang paling kucintai, yang ku miliki saat ini selain kakakku. Dia diam saja. Dia tak lagi menyambutku dengan senyuman, apalagi memelukku. Ya, dia sudah terbujur kaku. Dia pun ikut pergi meninggalkanku, bahkan untuk selama-lamanya. Ibuku meninggal, dan aku tak tau. Bukan di pangkuanku. Sesak rasanya dada ini, dan gelap.

Aku tak punya lagi ayah, tak juga ibu. Kakakku tak pernah mau kembali ke rumah setelah mendengar berita kepergian ibu. Mas Zakky dan Oka pun tak pernah datang lagi, mungkin dia juga tak tahu kepergian ibu. Aku benar-benar sendiri.

Seperti biasa, ku datangi sungai itu, bangau-bangau itu. Aku ingin mencurahkan kepahitanku pada mereka, aku ingin mengatakan pada mereka bahwa aku sangat mencintai ibuku, aku ingin menceritakan pada mereka bahwa aku akan selalu tetap setia menunggu mas Zakky, walaupun tanpa sebab dan walaupun tanpa jawab, akan ku ceritakan betapa bahagianya aku pernah memiliki mereka walaupun sekaligus betapa pilunya aku kehilangan mereka. Aku ingin menangis bersama mereka, bersama kalian, wahai bangau-bangau ku, barang sekejap saja.

“The End”

Ku tulis ini dengan linangan air mata membasahi pipiku
Teruntuk rajawaliku, i love you so much, always love you
Jum’at, 27 Desember 2013/21:53 pm

Dari aku yang selalu menunggumu kembali,
kembalilah, aku tak akan marah
Ardath Celesta
a.k.a
Safuroh Ahmad

Cerpen Karangan: Safuroh Ahmad
Facebook: Ardath Celesta

Nama: Safuroh
TTL: Serang, 01 Juli 1994
Alamat: Bojonegara (42454), Serang –Banten
Riwayat pendidikan:
– SDN Buah Gede 2 (2000)
– SMPN 1 Bojonegara (2006)
– MAN 2 Serang ( MA Model dan Keterampilan) (2009)
– UIN Sunan Gunung Djati Bandung (2012)

Cerpen Tangisan Sang Bangau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Paket Ujian

Oleh:
“Kita udahan ya?” kata Joni mendadak lewat telepon. Mendengar ucapan Joni langit serasa runtuh menimpa tubuh mungilku ini. Angin mendekap merasuki tulang-tulang, menghentikan peredaran darah dan degup jantungku. Hatiku

Your Eyes

Oleh:
Pagi ini adalah pagi yang sangat cerah. Tapi aku masih dalam balutan selimut tebalku yang berwarna ungu ini. “Noya.. cepetan bangun, bukannya hari ini hari kelulusan kamu” teriak mama

Hati, Bertahanlah!

Oleh:
Hati… Mungkin saja bisa berteriak sekencang-kencangnya. Ya, seandainya hati tersebut bisa berbicara. Ia pasti selalu bercerita apa dan bagaimana yang ia rasakan. Begitu juga dengan diriku. Hati ini begitu

Kesetiaan Yang Terlarang

Oleh:
Niko seorang lelaki yang mampu membangkitkan semangat dalam hidupku, yang mampu meluluhkan hatiku. Aku tak selalu dapat berjumpa denganya. Perantara telepon kasih ini tumbuh semakin besar. Perhatianya ucapanya mampu

Yang Terbaik

Oleh:
Tak menyurutkan harapanku meski kini ku tau kau mencintainya Seperti itulah status facebook cici. Delia sahabat cici mengernyitkan dahinya, ia bingung dengan tingkah sahabatnya kali ini. Mungkin ia galau,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *