Tenggelam Dalam Laila

Judul Cerpen Tenggelam Dalam Laila
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Malaysia, Cerpen Nasionalisme
Lolos moderasi pada: 14 July 2016

Hari ini.
Dari jauh mereka menapak senyap. Dengan irama jantung yang membising. Tak sampai 10 menit mereka tiba di jeti, di sana ada sebuah boat menunggu. Aura seram gelombang menemani mereka. Mati matian Laila menahan rasa takutnya kali ini. Ini pertama Laila kali naik speed boat. speed boat itu bergoyang lantaran polah mereka yang tergesa gesa melangkah masuk ke dalam boat. Masing masing duduk di boat berjejer jejer. Sempit. Pengap. Samar samar Laila dapat melihat wajah wajah resah mereka. Mereka diarahkan mematikan ponsel agar tak terdeteksi radar tentera.
“Laila, kau bisa berenang?” Bisik Siska, temannya. Laila menggeleng kepala.
“Aku tak bisa..” Jawabnya lirih.
“Kalau kau bisa berenang.. Kalau boat ini karam.. Tolong selamatkan aku ya!” pintanya memelas. Laila hanya bisa menelan rasa kekhawatirannya saat ini. Bagai mana jika mereka benar benar karam?
“Kalau kau bisa berenang.. Kau selamatkan aku juga ya!” Pinta Laila mengulang permintaan Siska. Siska memeluk tubuh sendiri. Laila tahu siska ketakutan. Laila bisa merasa tubuh Siska yang bergetar. Lalu digenggamnya tangan dingin Siska.
Bunyi mesin speed boat menegangkan Laila. awalnya pelan. Dan mata Laila menutup rapat. Jiwa berselimut kepasrahan. Bersama lajunya speed boat.

30 hari sebelum hari ini.
“Kau ok?” Tanya halim pada Laila. Entah kenapa sikap Laila hari ini tak seperti biasanya.
Gadis cerianya hari ini berubah pasif. Halim mula mengerahkan semua fakta fakta yang terjadi beberapa hari ini. Serangkaian tanya juga bersarang dalam pikirannya. Apa dia menyakiti hati Laila? apa dia membuat Laila cemburu? sepertinya dia tak banyak teman cewek. Apa lagi dalam tim kerjanya hampir semua segender dengannya.
“Saya ok..” Jawabnya kemudian. Mimik wajah Laila benar benar membuat Halim geram.
“Kau ada masalah ke?” Tanya halim ke intinya.
“Halim.. saya teringin ke Pantai Minyak Beku.. Boleh kita ke sana?” Pinta Laila tiba tiba. Ekspresi wajahnya terkesan menyembunyi kan sesuatu. Halim berkerut dahi sebelum menghembus nafas tak ikhlas.
“Ok..” sahutnya kemudian. Gas mendengus dan mobil mereka melaju di jalan berlingkar lingkar menuju Pantai Minyak Beku. Deringan nada panggilan ikut meramaikan suara radio di mobil itu. Halim memperlambat kelajuan mobil untuk menjawab telepon.
“Ya Chief?”
Wajah serius Halim makin datar saat mendengar seseorang di hujung talian. Dan dia memberhentikan mobil.
“baik Chief! saya segera ke sana.” Halim mematikan ponsel seraya melayangkan pandang bersalah pada Laila.
“Sorry sayang.. Kita tak dapat pergi ke minyak beku, Malam ni ada tugas mendadak. Aku terpaksa ke markas sekarang” Katanya kemudian. Laila memasang senyum pasrah. Menghela nafas lesu lalu mengangguk.
“Kau.. Tak apa apa kan?” tanya Halim memegang kedua pundaknya memastikan kekasihnya benar baik baik saja. Entah kenapa ada yang membekas di hatinya. Seperti ada sesuatu yang kurang.
“Saya ok..” Laila meyakinkan Halim.
“Esok kita piknik di sana ok?” Janjinya. Dielusnya punggung tangan Laila.
“Ok.. hati hati.” Jawabnya.
Halim memeluk Laila. Bibirnya makin melengkung saat kali ini Laila tak menolak pelukannya seperti biasa. Gadis itu balas memeluk erat sang kekasih.
“I love you..” Ucap Halim kemudian mengecup kening sang gadis. Gadis itu mengembangkan senyum walau terasa berat.
‘Mungkin belum waktunya.. Walau memang sudah tak ada waktu lagi’

Hari ini.
Hutan ini seperti punya musik sendiri. Dari suara jangkrik, burung burung, gasir dan bahkan desisan ular, Dengingan nyamuk mengganggu kuping dan membuat kulit perih akibat digaruk. Sekumpulan manusia itu berjalan penuh konsentrasi. Sesekali memandang kiri kanan berjaga jaga. Tak jarang melewati paya atau menembus semak belukar. Ada wajah sedih, ada wajah bahagia. Namun perasaan gusar lebih mendominasi.

Laila memandang kekelabuan di atmosfer. Setelah naik speed boat setengah jam akhirnya mereka tiba di tengah hutan tebal itu, mereka menuju perbatasan malaysia untuk menyelinap pulang ke indonesia. Dia pejamkan mata sayu. mungkin hari ini dia merasa lebih menjadi diri sendiri. Dan semoga belenggu status tak jelasnya selama ini akan segera berakhir, walau harus meninggalkan Halim.

“Ibu.. Kapan kita sampai..” Rengek seorang anak berumur 10 tahun. Sontak mereka semua memandang ibu dari sang bocah dengan pandangan mematikan. Merasa segan si ibu segera menutup mulut sang anak.
“Bentar lagi sayang. diam ya nak.. nanti ada polisi.. shhhh..” Bisiknya pada sang anak.
Langkah demi langkah mereka lanjutkan sampai suara pekikan seseorang membuyar kelompok mereka.
“POLIS!!”
“JANGAN BERGERAK!”
Mereka semua berpecah belah. Mencari persembunyian masing masing. Laila hanya membatu di tempat. Jantungnya serasa mau copot dari tempatnya.
“LARI!!!”
Suara suara jeritan panik mencoba berlari sejauh mungkin. Mereka berpecah belah. Laila sadar dia harus berlari sejauh mungkin.
“JANGAN BERGERAK ATAU KAMI TEMBAK!”
Laila menulikan pendengarannya. Dengan tak cukup nafas dia bersembunyi di balik belukar. Ngos ngosan menghela jiwa takutnya. Terisaknya dalam diam. Ternyata polisi sudah lebih dulu mengetahui rencana yang sudah diatur Tekong. Perjalanan pulang mereka untuk pulang ke indonesia lewat jalan illegal terendus polisi.

Masing masing kejar kejaran, ada juga yang pasrah menyerah. Suara isak tangis mengisi musik hutan. Dan Laila masih setia di balik belukar. Polisi masih belum menemukannya, sesaat dia berperang dengan batinnya sendiri. Apa dia harus menyerah atau dia harus melarikan diri?
Kelambu senja mulai berlabuh, berteman dengan rasa takut dan iringan nyanyian nyamuk Laila mencoba berdiri untuk mencari jalan keluar dari hutan ini. Mungkin Pasukan Gerak Khas sudah pergi. Kegelapan sebetulnya trauma baginya tapi kali ini dia harus berperang dengannya lagi.

“JANGAN BERGERAK!”
Perintah seseorang di belakangnya. jantung Laila berdesir mengantar aliran darah lebih cepat. tapi aneh, bukan karena dia telah tertangkap basah. Tapi karana dia mengenali suara itu.
“ANGKAT TANGAN!”
Dengan segera Laila turuti, dia mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah. Dapat Laila rasakan tudungan pucuk pistol sudah menyentuh bagian belakang kepalanya.
“Siapa nama kau?” Tanya polisi itu.
Dan Laila hanya bisa menjawab dengan isakan, karena kali ini dia sangat yakin polisi itu adaah Halim.
“Aku tanya sekali lagi siapa nama kau?” Bentaknya kemudian.
Laila memejamkan matanya. Dia berharap Halim tak mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Tapi Tuhan maha adil. kedok busuk pasti akan menyebar aroma hanyirnya. Sungguh, Laila tak pernah mau berbohong dengan Halim dengan siapa dirinya. Bahkan hatinya selalu menjerit jerit untuk mengakui dia adalah warga Indonesia yang sedari kecil menumpang hidup secara illegal di Tanah Melayu itu. Tapi Laila selalu kalah dengan egoisme Ibu dan Ayahnya. Memang apa salahnya jadi warga indonesia?
“Kalau orangtanya, jawab aja kau orang Johor. paham!” Bentak sang Ibu padanya saat kecil.
“Kenapa Bu.. Tapi.. Kita kan dari indonesia..” Protes Laila.
“Sudah! ikut aja cakap Ibu nanti kau juga yang senang.” Laila hanya bisa mengangguk tak rela. Hati kecilnya membangkang. Dan mulai saat itu mereka yang bertanya hanya mendapat jawaban palsu. Setumpuk rasa berdosa mengisi hari hari Laila.

Sejenak, Laila berpikir. Sekarangkah waktunya untuk dia mengakui segalanya pada Halim?
Setelah selama itu hubungan berlangsung? hatinya akan hancur sekali jika harus melihat Halim patah hati. Tidak, dia belum siap dengan itu.

“BERHENTI!!!”
Halim membentaknya saat Laila maju selangkah. masih memunggungi Halim. Laila pejamkan mata dalam isak senyapnya. Dan kali ini berlari secepat yang dia bisa. Tapi kecepatan peluru memenangkan situasi itu, nafasnya seolah terhenti. Begitu juga langkah kakinya. Tubuhnya limbung setelah tembakan Halim mengenai bagian atas tubuhnya. Dia terkapar. jangkau pandangnya makin menghitam.
Dan suara keterkejutan itu meraung.

365 hari sebelum hari ini.
Laila muak berbohong. Mungkin mereka bilang dia naif. Tapi itu bukan yang menggerogoti keyakinannya saat ini. Memang mencari masa depan di bengkinang sesulit itu kah? Bukan Indonesia itu luas? kenapa Ibu dan Ayah paranoid sekali dengan Negeri sendiri? Tidak! Laila takkan patuh lagi dengan mereka kali ini.
Laila membulat tekad untuk menyerah, menyerah diri pada Polisi. Hanya itu caranya agar dia bisa hidup tenang tanpa kepura puraan.

Belakangan ini Polisi sering mengadakan operasi menyekap imigran illegal dan Laila merasa ini waktunya.
Langkah pelan tapi pasti, memotong jarak antara dia dan kerumunan Polisi di lobi Summit Mall, mereka sibuk menyoal beberapa pengunjung yang menurut mereka mencurigakan.
Dan di saat seorang Polisi mendekatinya. Dengan nametag bertulis ‘M. Halim’ di dadanya. Semua keberanian dan tekadnya seolah menguap. Dia menelan saliva saat menengadah ke arah wajah sangar sang Polisi.
“Siapa nama kau?” Tanyanya serius. Wajah sangar tak mengurangi kacaknya.
“Saya.. Laila.” jawab Laila takut takut.
“Kau ada number phone?” Tanyanya kemudian. Ragu ragu Laila mengangguk. Sang polisi kemudian mengeluarkan notebook dan pen di sakunya. Di hulurkannya ke arah Laila.
“Tulis.” Perintahnya. Seperti dihipnotis Laila menurut. Segera diambil notebook tersebut dan mencoretkan nomor teleponnya. Diam diam tingkahnya mengundang seringaian Halim. Halim menyimpan notebook itu kembali saat Laila selesai mencatat nomornya.
“Thanks.” Ucapnya seraya berlalu. Laila melongo sendirian.
“Tapi.. Kamu tak menyoal saya tentang IC..” Cicitnya. Dan tentu saja sudah tak didengari oleh Halim, dari kejauhan dia bisa melihat senyum tipis Halim melayang buatnya. Sampai menggoyangkan sisi lain hatinya saat itu. Serta mengurungkan niat nekadnya saat itu.

360 hari sebelum hari ini.
Kenapa perasaan cinta itu datang di waktu yang salah. Di tempat yang tidak tepat? Laila sesekali menjeduk jidatnya sendiri. Halim yang baru dia kenal beberapa hari lalu telah sukses mengisi seisi hatinya yang kosong. Ini cinta pertamanya. Mana mungkin dia tak bisa untuk tak tersenyum sendiri. Beberapa menit kemudian ekspresi itu bertukar murung.
‘Tapi.. Aku hanya imigran illegal.. Bagaimana mungkin kami menikah?’ Tanya hati naifnya.
‘Tapi.. Bukannya kita baru kenalan.. Tak mungkin sampai ke situ.. Kita cuman berteman..’ bantah sisi lain hatinya.
Sadar tidak sadar hampir beberapa waktu dia dan Halim menjalani hubungan ini. Halim tak tak pernah main main dengan pendiriannya. Dia mencintai gadis ini. Berkali kali dia mengatakannya. Dia tahu gadis itu juga mencintainya. Walau bibirnya tak pernah jujur.
“Kita kawan karib kan?” kata Laila sore itu berputar putar dalam benaknya.
Halim bosan dengan istilah itu. Sampai kapan Gadis itu membohongi perasaannya sendiri.
Kawan ya? Halim tak bodoh untuk membaca kecemburuan yang bersinar di mata Laila saat Laila secara tak sengaja melihatnya sedang makan siang dengan Nuri, salah seorang partner kerjanya. Halim mengejar Laila. Langkah langkah makin cepat menyamai larian gadis itu. Tentu saja energi tak terkalahkan jika dibandingkan dengan tenaga Laila yang 30 persen di bawahnya. Dengan sigap dia menarik pergelangan tangan gadis itu sampai sang gadis melayang ke pelukannya. Gadis itu meronta ronta dalam pelukannya. Tapi beberapa saat kemudian dia merasakan bagian dadanya menghangat, dengan airmata yang deras membuktikan Laila benar benar mencintainya. Dia tersenyum.

Malam ini.
Bunyi beep beep teratur dan kotinue dari mesin life monitor. Berlawanan dengan detak jantung Halim saat ini.
“Macam mana keadaan dia, Doctor?” Nada kekhawatiran Halim menggetar.
“Dia dah melalui tahap kritikal. Sekarang dia stabil. Berdoalah supaya dia cepat sadar dari koma.” Tutur sang doktor. Halim hanya bisa membalasnya dengan anggukan sesal.

Gadis itu terbaring lemah seakan hanyut dalam mimpi indah. Halim menatapnya dengan berpecah pecah. Atensinya tidak kekaruan. Semua perasoalan dalam benaknya semakin bertambah tambah. Halim bingung harus marah, bersyukur atau harus menyesal.
‘Jadi sebab inikah Laila selalu mengelak? cuma sebab status pandatang haram?’
‘Kenapa Kaila? kenapa kau bohong?’
‘Kenapa kau tak pernah beritahu aku tentang semua itu?’ Keluhnya dalam hati.
“Laila.. Please..Wake up…” Bisik Halim di telinganya. Bulu mata halus Laila seakan bergerak tapi tak ada perkembangan berarti. Halim menghela nafas berat lalu menyandar ke kursi. Dia merogoh smartphone di poketnya. Smartphone milik Laila yang dia temui di tas milik Laila. Halim mengaktifkan smarthphone itu. Beberapa saat kemudian matanya terpaku pada semua photo kebersamaan mereka yang masih Laila simpan. Dan bola matanya menghangat pesan pesan tulisan Laila di draf sejak setahun yang lalu. Semua itu pesan yang seharusnya dikirimkan ke Halim.

‘Halim.. apa kabar?’
‘Halim, ada hal yang saya mau beritahu kamu’
‘Halim.. Maaf..sebenarnya saya bukan yang seperti kamu kira..’
‘Halim.. Saya tak berniat untuk berbohong.. Sebetulnya.. Saya bukan orang johor.. Saya hanya pendatang haram.. Saya minta maaf sebab tak pernah beritahu kamu.. Maaf’
‘Saya tahu, saya tidak layak untuk dimaafkan.. Tapi maafkan saya.. Saya tak ada pilihan lain.. saya terpaksa ikut kata Ibu dan Ayah..’
‘Halim.. Saya akan pergi jauh.. Tidak tahu bila kita akan bertemu lagi’

Sederet pesan lain turut memenuhi kotak draf. Seharusnya semua pesan itu masuk. Tapi sepertinya Laila tak pernah berani mengirimnya. Laila terkubur dalam rasa bersalahnya dan rasa cintanya. Tangan yang memegang smarthphone itu bergetar bersama dengan perasaannya saat ini. Dan Halim mendapat jawaban atas semuanya saat ini. Pantasan saja gadis ini sebegitu perahasianya. Bahkan kadang ada beberapa kali dia memergoki Laila menangis sendiri. Saat ditanya laila menjawab ragu. Terkadang tak jarang mengalih topik. Laila terjebak dalam dilema terpendam.
Suara deritan pintu membelah atensinya. kelihatan seorang suster mendekatinya.
“Inspektur Halim.. Doctor Ling menunggu, beliau ada di officenya.” Tutur sang suster.
“Baiklah.” Jawab Halim.

“Apa? tak mungkin.. Sudah berapa bulan?” Seru Halim dengan nada tak pecaya. Nafasnya seakan tersekat mendengar penuturan Doctor tentang kehamilan Laila. Emosinya naik ke ubun ubun. Apa Laila melarikan diri karena hal ini. Hatinya menggelegak saat memikirkan apakah Laila selama ini selingkuh?
“Hasil usg mencatat kandungannya sekitar 4 minggu.” Sambung sang Doctor kemudian.
Dan di saat bersamaan Halim bagai ditimpa emas. Halim memejam mata sampai kilasan memori sebulan yang lalu memutar samar samar. Detik demi detik di mana laila akhir pasrah dengan rayuannya waktu itu, menghujam seluruh perasaannya saat ini. Dan itu pertama kalinya Laila menyerah padanya. Dan itu kali terakhir pertemuan mereka sebelum Halim mulai sibuk dengan tugas kepolisiannya. 4 minggu, dia menghitung mundur sampai saat pertemuan mereka yang terjadi sekitar 30 hari yang lalu.
Dan tak ada yang salah. Tubuhnya melemah seakan otot otot mencair. Kemudian dia menata sisa sisa ketenangan yang ada untuk menuju ke kamar pasien. Dia membaca pesan terakhir dalam kotak draf Laila.

‘I love you.. Halim.’

Senyumnya bercampur sedih, Halim akan menjadi ayah.
“Laila.. Bangun sayang.. Demi anak kita…” Dikecupnya dahi sang kekasih yang masih tak tergoda untuk membuka kelopak mata.
‘Laila bangun.. dan beri aku cahaya, agar tak tenggelam dalam malam.’

Cerpen Karangan: Suejraeda
Blog: Catatanrandomseoranginsan.blogspot.com
penulis amatir yang masih mencoba

Cerita Tenggelam Dalam Laila merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Will You Marry Me?

Oleh:
9 Maret 2013 Masih membekas di ingatanku. tanggal dimana kau pertama kali berani menggenggam tanganku, berani mengatakan suatu hal yang membuat aku terkejut dan terdiam tak bisa berucap apa

Akhir Kisahku (Part 2)

Oleh:
Dear Diary… Hari ini mungkin adalah hari paling spesial untukku, setelah beberapa minggu kami akrab, entah ada angin dari mana, Iqbaale tiba-tiba menyatakan perasaannya padaku… dan entah kenapa aku

Rintihan Senja

Oleh:
Hujan yang turun membasahi bumi tak mampu menyirami hati ku, sejenak aku berfikir tentang rasa sakit dimana kekasihku pergi dan tak pernah melihat kembali pada kekasih yang dulu dia

Rasa

Oleh:
Karena kita menghadirkan rasa Kicauan burung seakan membuatku menari, walau ku tahu hari ini semua telah berbeda. Orang yang selalu menjadi alasan ku untuk tersenyum kini telah menghilang dari

Ruthless Game

Oleh:
Aku tersentak bangun dari tidurku, handphone di samping wajahku bergetar. Ada satu pesan dari Pablo, lelaki pujaanku. “Morning Velice” Aaah… berbunga-bunga hati ini. Begini rasanya diperhatikan oleh seorang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *