Tentang Aku dan Rasa ini

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 6 July 2014

Aku hanya terdiam di bawah senja. Warnanya yang mulai meredup membuat siluet tubuhku di rerumputan ini. Sudah hampir 3 jam aku hanya terduduk disini, menikmati kesendirianku, menikmati segala hembusan angin yang menenangkan. Tenang. Tak ada gemuruh yang berarti. Mungkin, manusia bukan makhluk yang bisa hidup sendiri tapi aku lebih memilih sendiri. Sendiri menikmati waktu yang terus berputar, sendiri menikmati segala rasa yang tak menentu. Aku sadar, aku perlu seseorang tapi mungkin tidak untuk saat ini. Hati ini masih terlalu sakit untuk menatap keramaian manusia yang berlalu lalang.

“Mau sampai kapan seperti ini?” Samar-samar aku mendengar suara yang tak asing di telingaku.
Tak ada jawaban yang aku berikan. Aku sengaja membuat pertanyaannya menjadi menggantung.
“Kiana, Jangan menjadi orang jahat, dia sudah meminta maaf kepadamu.” Katanya lagi seakan menghukumku.
Aku menatapnya yang sudah berada di sampingku, tatapan tak terima tentunya. ‘Jika kau yang ada di posisiku, apa kau takkan seperti ini?’ Tanya ku dalam hati.
“Oke, maaf.” Katanya. “Dia memang belum meminta maaf, tapi aku yakin maksud dia baik. Hanya saja caranya yang tidak tepat.” Sambungnya cepat.
“Sebaik-baiknya kebohongan apa ada yang jauh lebih baik dari kejujuran.” Aku merasakan dadaku yang mulai sesak, mengatur nafasku yang tak beraturan. “Satu tahun aku hidup dengan segala sandiwara bodoh yang dia skenariokan. Apapun alasannya, aku tetap mengerti dan tidak akan mengerti.” Kataku dengan suara yang mulai bergetar.
Dino terdiam, dia tahu bagaimana gemuruh hatiku yang mulai datang kembali. Bersahabat selama 5 tahun membuat kami cukup mengerti satu sama lain, seperti saat ini.

Aku benci ketika semua kembali hadir, segala ingatan tentang kebohongan yang sangat aku kutuk itu kembali menghantuiku. Sina rela membuat sekenario yang sangat cantik untuk membohongiku. Entah apa alasannya, yang aku tahu hanya selama satu tahun ini, aku seperti orang bodoh yang dengan mudahnya Sina bohongi. Dengan mudahnya aku percaya segala ucapan Sina.

Masih sangat sulit untuk dilupakan, ketika aku menerima sebuah pesan singkat yang mengatasnamakan Runo —Orang yang aku cintai. Aku sangat senang saat itu, bayangkan saja sudah cukup lama aku mendambakan itu dan kini, aku menerimanya. Apa ada alasan untuk aku tidak merasa senang? Kami dekat saat itu. Sangat dekat, tapi hanya melalui sebuah telepon. Ya, kami sering berpapasan tapi kami tidak berteguran. Aku sempat ragu akan kehadirannya, tapi ternyata dia dengan mudah mengucapkan segala janji manisnya. Percaya atau tidak, dengan mudah kau akan mempercayai segala ucapan orang yang kau sayangi. Semuanya indah. Sampai akhirnya, semua terbongkar. Runo yang sering mengirim pesan singkat dan janji-janji manis itu bukanlah Runo yang asli. Dia adalah Sina. Sahabatku. Ya, aku dibohongi.

“Aku tahu, tidak mudah untuk memaafkan. Tapi, persahabatan kalian apa tidak lebih penting dibandingkan masalah ini?”
Dengan segala kekuatanku yang tersisa, aku menahan airmataku yang sudah berada di kelopak mataku.
“Bukan karena aku pacarnya Sina, tapi karena kalian sahabatku. Dan Runo juga sahabatku.” Katanya.
Rasa sakit itu kembali hadir ketika aku sadar, seseorang di sampingku sedang memposisikan dirinya sebagai pacar pembohong itu, bukan sahabatku.
“Aku pergi.” Kataku bergegas bangkit. “Saranku, Jangan hubungi aku jika hanya untuk membicarakan hal seperti ini lagi. Ini bukan urusanmu.” Kataku melanjutkan langkahku dengan cepat.

“Runo.” Ucap lelaki di hadapanku dengan gagahnya.
Wajahku mulai tersipu malu, tanganku digenggamnya erat. “Keira.” Kataku berusaha bersikap seperti biasa.
“Dino sudah cerita banyak tentangmu.” Katanya ramah, dengan senyumnya yang membuatku tak berkutik.
Aku melirik Dino, dia mempamerkan giginya yang putih bersih. Canggung, sangat. “Dia memang tukang gosip.” Kataku asal.

Runo adalah mahasiswa jurusan teknik. Dia tidak tampan, hanya saja bentuk wajahnya yang oval dengan warna kulitnya yang sawo matang membuatnya terlihat istimewa di hatiku. Matanya yang bulat hitam selalu mampu menghadirkan rasa ingin menatapnya. Rambutnya hitam pekat diatur sedemikian rupa, dan saat dia tertawa, kau akan melihat dua lesung pipi menghiasi wajahnya. Indahnya ciptaanMu Tuhan.

Sabtu sore kami habiskan di sebuah café di sudut kota ini. Menikmati waktu yang terus berputar. Kami bercengkerama dengan santai. Runo mendominasi perbincangan. Banyak hal yang ia bagikan tentang kami, pengetahuan saat ia ikut menjadi relewan di sebuah dusun yang terkena banjir bandang, saat ia menginap di sebuah desa perdalaman karena ingin membantu desa tersebut. Runo termasuk aktivis kampus, sudah banyak acara sosial yang ia lakukan. Tidak ada kesan sombong di wajahnya, ia hanya ingin berbagi tentang pengalamannya yang mulia itu.

“Terimakasih. Sudah mengantarku.” Kataku saat kami sudah berada di depan rumahku. “Mampir dulu?”
Dia menatap jam tangan yang ia letakkan di lengan kanannya. “Sudah malam, lain kali saja.”
Aku tersenyum tak keberatan.
“Ya sudah, aku pulang duluan. Salam untuk keluargamu.” Katanya berlalu meninggalkanku yang masih tersenyum puas.

Aku menatap wajahnya yang sedang tertidur. Tidur di atas rerumput memang hobinya, dan menemaninya adalah hobi baruku. Meski harus menunggunya tertidur dan memandanginya secara diam-diam bukanlah hal yang buruk untukku. Wajahnya yang manis mampu mengusir segala rasa bosanku.

Sudah 2 bulan kami dekat. Kami menjadi akrab setelah hari perkenalan itu, tak pernah lagi aku lewati sabtu malam sendiri semenjak hadirnya dia. Runo selalu bersedia menjemputku untuk pergi ke kampus bersama. Tak jarang, ia rela menunggu di kampus hingga malam saat kelasku tak kunjung kelar. Runo selalu memintaku untuk menemaninya saat ia futsal, membawakannya minuman untuk mengusir dahaganya. Andai, aku tak membuang waktuku hanya untuk kebohongan itu, mungkin aku sudah bahagia sejak lama. Kataku pelan.

“Kau berbicara denganku?” Runo membuka matanya dan merenggangkan kedua tangannya ke atas.
“Hmmm…” Aku terdiam sejenak. “Tidak, aku sedang membaca buku ini.” Kataku asal.
Dia tertawa.
Hening. Tak ada perbincangan lagi. Aku tak tahu harus memulai seperti apa. Dan Runo asik dengan makalah tebalnya yang akan ia baca.
“Run.” Panggilku mencairkan suasana. “Kamu kenapa ngga punya cewe?” Tanyaku canggung.
Runo menatapku aneh. Dan masih tak ada jawaban untuk pertanyaanku. Bodoh, mengapa aku tanyakan itu?, Aku mengutuk kebodohanku.
“Kenapa aku harus punya pacar?”
“Banyak cewek yang suka kepadamu. Apa tidak ada yang menarik di matamu?”
Runo tersenyum, manis sekali. “Ada.”
“Lalu”
“Maksudmu?” Ia menanyakan pertanyaanku yang aneh. “Kami dekat saat ini.”
Aku tersipu. Ada satu bisikan yang berkata akulah yang dimaksud Runo.
“Kau menyukainya?”
“Mungkin.” Katanya bersinar-sinar. “Hei, sejak tadi kau mengintrogasiku. Lalu bagaimana dengan kau?”
Aku bingung, ingin aku menjawab bahwa dia yang aku kagumi sejak lama. Tapi, sisi gengsiku menolaknya. “Lagi tidak ingin berhubungan serius.” Kataku bohong (lagi). Tuhan, Maafkan aku yang harus selalu berbohong.
Ia tersenyum, dan selalu semakin terlihat manis. “Bagus kalo begitu.”

To: Runo
Text: Selamat ulang tahun, Run. Semoga Tuhan memberikan segala hal yang terbaik untukmu. Aku selalu mendoakanmu. Jangan lupa nanti malam, aku menunggumu di cafe biasa. Kiana.

Hari ini adalah hari ulang tahun Runo. Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan yang istimewa untuknya. Tekadku sudah bulat, di hari ulangtahunnya aku akan mengungkapkan segala hal yang sudah lama aku pendam. Sudah cukup aku menunggu, 4 bulan kami dekat, Runo tak kunjung mengatakan apa yang aku harapkan. Dan di hari yang spesial untuknya, akulah yang akan memulai semuanya.

“Kamu terlihat cantik.” Ucap Mama saat melihat aku yang tak percaya diri di depan kaca.
Sudah hampir setengah jam aku hanya memperhatikan keseluruhan tubuhku di cermin. Hatiku berdegub kencang tak menentu. Ku tarik nafasku dalam-dalam, aku hembuskan. Dan Tuhan, kenapa aku ingin menyerah?
“Sudah, kakakmu sudah menunggu dari tadi.” Kata Mama. “Apapun hasil yang kamu terima, setidaknya tidak ada yang terpendam lagi.”
Aku mencoba mengusir segala keraguan dan kebimbangan di hatiku.

Aku menempati sebuah meja yang berada di pojok ruangan. Tempat yang sudah aku pesan sebelumnya ini adalah tempat pertama kali ia memegang tanganku. Sudah satu jam lebih aku menunggunya di meja ini. Banyak orang yang berlalu lalang membuatku semakin grogi.

Fikiranku semakin tak karuan saat satu per satu pengunjung mulai meninggalkan café. Ingin menangis di bawah hujan yang sedang mengguyur di luar saat ini.
“Maaf, aku terlambat.” Suara itu aku dengar, dengan segera aku menaikan wajahku, menghilangkan segala kegrogian yang ada. “Apa ini? Untukku?” Tanyanya canggung.
“Selamat ulang tahun. Ini untukmu.” Kataku dengan tenang. “Kau ingin tiup lilin?”
Dia tertawa malu, “Boleh.”
Aku menyanyikannya lagu selamat ulangtahun secara pelan. Aku cukup bahagia saat menyadari, Senyum Runo sedari tadi tak berubah.
“Run.” Panggilku.
Ia menatapku. “Ada apa?”
“Ada yang ingin aku katakan.” Aku menarik nafasku. “Sebenernya aku menyukai…”
“Sayang, katanya sebentar. Aku nunggu di mobilnya bete tau.” Seorang perempuan menghampiri kami, ia memakai gaun yang sangat indah. Hiasan make up di wajahnya sangat natural. Cantik sangat.
Tadi perempuan itu memanggil Runo ‘sayang’? Dadaku terasa sakit. Seperti baru aku terima sebuah pukulan yang sangat keras di hatiku. Mataku sudah panas, berkaca-kaca.
“Maaf ya.” Jawab Runo masih sangat ramah. “Kiana, kenalin ini Mioni. Perempuan yang waktu itu aku ceritakan. Ingat kan?” Runo menatap Mioni, mereka terlihat bahagia. “Ini Kiana. Temen baik aku, say.” Katanya memperkenalkan aku.
Aku sakit. Lututku sangat lemas. Dadaku semakin sesak, semakin sulit untuk bernafas. Airmataku sudah tergenang. Bersiap akan menetes secara perlahan-lahan. Aku bodoh, menganggapnya menyukaiku. Aku bodoh saat aku selalu berharap ia menganggapku lebih. Hanya teman baik. TEMAN BAIK, Kiana. HANYA TEMAN BAIK!
“Aku harus segera pulang. Ada yang ingin dibicarakan lagi?” Tanyanya.
Aku menggeleng, lidahku tidak mampu mengeluarkan kata-kata saat ini. Bahkan saat ini aku ingin ia segera menghilang dari pandanganku.
“Aku duluan ya. Terimakasih untuk kejutan ini.” Katanya berlalu.

Aku terdiam di tempatku. Airmata tak lagi bisa aku tahan. Malam ini, malam yang aku fikir akan membuatku bahagia bahkan hanya menyisakan kesedihan. Aku menangis di tempatku terduduk. Mengutuk segala kebodohan diriku selama ini. Aku ingat ketika aku merasa bahagia saat tahu Runo menungguku di kampus saat malam hari. Aku ingat ketika kami menghabiskan setiap malam sabtu bersama. Aku ingat ketika kami terduduk menatap bintang di taman, dan saat hujan datang ia selalu merelakan jaketnya untukku. Aku ingat ketika aku selalu menatap wajahnya yang sedang tertidur. Aku ingat ketika…
Airmataku semakin deras. Dadaku sangat sakit. Aku ingin bernafas seperti aku sebelum mengenalmu, tak ada rasa sesak ini. Aku ingin membuka mataku seperti aku sebelum mengenalmu, tak ada kegelisahan yang hadir. Dan aku ingin hidup seperti aku sebelum mengenalmu, tak ada rasa sakit ini.

Cerpen Karangan: Fanny Saufina
Blog: Fannysaufinaa.blogspot.com
Facebook: fannie_zone[-at-]yahoo.com

Cerpen Tentang Aku dan Rasa ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menatap Dari Belakang

Oleh:
Sudah 3 tahun sejak aku meninggalkan tempat ini. Tempatku menghabiskan 3 tahunku. Tempat yang aku pikir akan menjadi sangat membosankan untukku. Tempat yang siapapun tidak akan tahu pengalaman dan

Harusnya Aku Tak Begitu

Oleh:
Malam dingin yang menyapa, namun hangat kebersamaan kita melenyapkan kedinginan itu. Aku memulai melangkah dengan penuh keraguan, namun kulakukan dengan pasti. Aku melangkah dengan penuh rasa bersalah, namun kurasakan

Hanya Aku Yang Tahu

Oleh:
Di dalam kesenangannya yang suka mendengarkan musik, seakan-akan pikiran Feni sungguh sudah jauh melayang entah kemana. Dia teringat akan temannya yang tanpa disadari olehnya bahwa kemarinnya dia ada rasa,

Selamat Berbahagia

Oleh:
“Kita putus!” kata keterakhir dikatakan Dina kepadaku, mantan kekasihku di akhir tahun ini. “aku mulai bosan dengan semuanya, semuanya sudah berbeda, kita tidak cocok, ” Aku cuma dapat terdiam

Khayalan Semu

Oleh:
Malam yang sunyi, hening, sepi, kosong, hampa. Yaaa… Begitulah yang kurasakan malam ini. Kutatap langit dari dalam jendela kamarku, tak terlihat satu bintang pun yang berkelip. Apakah langit ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tentang Aku dan Rasa ini”

  1. hanif says:

    Unsur intrinsik sekalian dong. Thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *