Tentang Jen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 26 June 2017

Pagi ini awan berarak hitam pekat, sesekali turun gerimis yang sesaat berhenti memberi jeda, lalu turun kembali secara beraturan. Hal itu membuatku enggan ke luar dari selimut yang kurasa cukup hangat.
“Ada apa ini?” batinku bertanya-tanya sembari mengambil posisi duduk di atas ranjang kecilku. Suara burung gagak hitam di luar sana begitu ribut seperti mengabarkan sebuah berita duka. Setelah cukup lama terdiam, aku beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu saat aku hendak mengeringkan rambut cepakku. Dengan segera aku berlari ke arah pintu dan memutar gagang pintu. Saat daun pintu terkuak lebar, aku melihat seorang pria paruh baya di baliknya.
“Selamat pagi, apa betul ini rumah saudara Doni?” tanya bapak tersebut sesaat setelah aku membukakannya pintu.
“Ya, betul. Dengan saya sendiri, maaf apa ada yang bisa saya bantu?” sahutku bertanya seramah mungkin. “Eh. Mari, silahkan masuk, Pak!” ajakku menyadari posisi kami yang masih berada di ambang pintu. Bapak itu menurut masuk, kemudian duduk setelah kupersilahkan.

“Sebelumnya bapak mohon maaf karena telah mengganggu waktu pagi Nak Doni.” ucap bapak itu membuka percakapan, aku menggangguk dan tersenyum sembari menghidangkan secangkir kopi hangat yang asapnya masih mengepul. “Bapak adalah ayahnya Jen, Nak.” sambungnya berubah sendu.
“Jen?” ulangku tak percaya. “Dia adalah teman lama saya semasa kuliah, Pak. Tapi sayang setahun belakangan kami jarang berkomunikasi dan bahkan tidak pernah bertemu lagi.” sesalku. Gadis itu adalah salah satu teman baikku, namun sayang setelah kami lulus dan mendapatkan pekerjaan dan jalan masing-masing kami putus komunikasi. “Lalu, bagaimana kabarnya sekarang, Pak?”
“Ya, karena itulah bapak datang ke mari, Nak Doni.”
“Maksud bapak?” Aku gusar dan penasaran, perubahan air muka ayah Jen membuat rasa ingin tahuku memuncak di ubun-ubun.

Pak Hendro, ayah Jen menghempas napas berat sebelum bercerita. Aku kaget bukan main mendengar keadaan Jen saat ini. Jen terpuruk setelah kepergian Dika, kekasihnya. Dika meninggal karena menjadi korban tabrak lari saat ia hendak menjemput Jen dari kantornya. Aku tahu betul bagaimana rasanya menjadi Jen, bagaimana rasa kehilangan itu menyergap setiap rongga yang ada pada jiwa dan raganya. Kehilangan yang menggali lubang besar yang hampa dan kian menganga dari hari ke hari. Aku pun tahu betul bagaimana perasaan Jen pada Dika dari dahulu, hingga itu menjadikan alasan bagiku untuk menjauh dari Jen. Aku tahu hanya Dikalah segala-galanya bagi Jen.
“Sebulan sudah Jen berdiam diri dan mengurung diri di kamarnya. Ia hampir tidak tidur, jika tidur pun ia selalu meracau memanggil Dika agar tidak pergi.” Ayah Jen menutup ceritanya dengan linangan air mata yang ditahannya sekuat hati.

Setelah ayah Jen pamit, aku menimang-nimang keputusan apakah aku akan menemui Jen lagi. Dan ini lah keputusanku, siang ini aku melajukan motor ke rumahnya sesuai alamat yang diberi Pak Hendro tadi pagi.

“Jen!” sapaku mendekati Jen yang murung di depan jendela kamarnya. Tatapannya kosong dengan lingkaran mata yang nyaris menghitam semua. Ia tetap bergeming meski aku berulang kali memanggilnya. Aku memperhatikan detail wajah gadis itu. Jen yang di hadapanku jauh berbeda dengan Jen-ku yang dulu, ia kini telah berubah menjadi manusia setengah zombie. Mata yang dulu selalu berbinar kini berubah menjadi mata sayu yang sarat akan kesedihan yang mendalam. Bibir yang dulu senantiasa senyum terkatup rapat menggambarkan dinginnya suasana hatinya kini. Oh.. Jen.
“Jen, ini aku… Doni!” terangku memegangi kedua lengan kursi roda yang tengah didudukinya. Aku sedang berjongkok menghadap Jen. Ingin rasanya aku menangis dan berteriak memakinya agar dia sadar akan bagaimana mengenaskannya keadaannya kini. Perlahan pandangannya yang kosong beralih pada wajahku di depannya. Ia merespon, memandangiku dengan kebingungan.
“Doni…!” lirihnya merangkulku memeluknya. Aku tergagu, andaikan pelukkan ini bukan di saat seperti ini, andaikan pelukkan ini dua tahun yang lalu sebelum kedatangan Dika, pasti semua akan terasa berbeda. Kedua orangtua Jen yang berada di ambang pintu tersenyum haru melihat anak mereka bisa merespon lawan bicaranya lagi.

Dengan pilu, Jen mengisahkan kembali cerita hidup yang dialaminya. Ia kembali mengungkap kepedihan yang tak mampu disimpannya sendiri itu. Aku mendengarkannya dengan seksama, rasa iba dan kasihan menyergapku saat melihat air mata membanjiri wajahnya. Bahkan ia seperti orang gila yang tiba tersenyum dan tertawa di sela-sela air matanya.
“Andai kemarin itu aku tidak meminta Dika menjemputku, andai aku tidak marah saat Dika enggan menjemputku karena hujan, andai aku tak seegois ini…” Jen menangis pilu. Kamu memang egois Jen, jika tidak, aku pun takkan begini. “Don, aku kangen Dika. Kamu tahu kan aku sayang banget sama Dika?” Ya, aku tahu itu Jen. Sangat amat tahu sekali. “Aku pengen nyusul dia, Don.” Untuk ucapan terakhir Jen mampu membuatku teperangah. Apakah cintanya sedalam itu atau segila itu?

Tak banyak memang yang bisa aku lakukan untuk Jen, aku hanya bisa mendengar keluh kesahnya sepanjang hari, persis seperti dahulu. Namun aku harap dengan adanya aku sebagai pendengar setia dari ceritanya, bisa membantu dalam masa pemulihan Jen, akan adanya kelegaan dalam hatinya sehingga ia mampu bangkit secara perlahan.

Siang ini setelah kurasa Jen cukup puas menumpahkan isi hatinya, aku pamit pulang. Hari ini ia cukup ceria karena mengingat kenangan manisnya bersama Dika. Hanya tentang Dika. Aku meminta dengan sangat pada Jen agar ia tidak berlarut-larut dalam duka lagi. Ia memang kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya, namun hidupnya sendiri harus tetap berlanjut. Ia tersenyum manis saat mengantarku pulang hingga halaman rumahnya yang luas. Mendung di langit pun rasanya kalah saing dengan senyumnya yang tetap saja membuat getar di dadaku, sama seperti dahulu. Kedua orangtuanya sangat berterima kasih atas perkembangan Jen yang katanya berkat aku. Aku telah menyampaikan maksudku, aku tak bisa lagi datang menemui Jen. Sejujurnya, aku ingin melarikan diri untuk ke dua kalinya dari… Jen.

Sesampai di rumah, rasanya tubuh dan hatiku sangat lelah. Kuhempaskan tubuhku ke kasur dengan posisi terbaring senpurna. Saat pandanganku terhampar menyapu langit-langit kamar, aku teringat bayangan senyum Jen tadi siang. Andaikan senyum ini terkhusus untukku, bukan hanya untuk Dika. Namun semua tetap sama, itu hanya untuk Dika dari dahulu hingga kini sekali pun. Aku tersentak kembali ke alam sadarku, gagak hitam di luar sana kembali buka suara. Aku mendesis heran sekaligus ngeri. “Ah. Mungkin dia hanya kedinginan karena gerimis sore ini.” kilahku mengacuhkannya.

Senja menjelang, aku sedang asyik mengotak-atik laptopku. Tiba-tiba saja perasaan tidak enak menyergapku saat ponselku berdering dan menampikan Pak Hendro sedang memanggilku. Kabar mengejutkan itu datang begitu saja dari suara di seberang sana, kata-kata yang mati-matian sulit diucapkan oleh ayah yang baru saja kehilangan anaknya.
“Jen telah tiada.” Ia pergi beberapa menit yang lalu, terjatuh dari kursi rodanya saat hendak menyentuh gerimis di taman.

Jen pergi menyusul Dika. Dan senyumnya tadi siang itu mungkin adalah senyum terakhirnya yang dapat kunikmati. Senyum kedamaiannya. Entahlah, Jen. Kau mengajariku rasa kehilangan untuk kedua kalinya. Dahulu aku kehilanganmu saat kau memilih Dika lalu aku melarikan diri darimu, dan kini aku kehilanganmu untuk selamanya saat kau menyusul Dika saat aku hendak melarikan diri darimu pula.

Cerpen Karangan: R. Suliyarti
Facebook: Riri Suliyarti
Saya bisa juga ditemui di Tweet @RiriYarti

Cerpen Tentang Jen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Tak Berlisan

Oleh:
Senja menyapa, Mentari elok segera sirna dari peraduannya. Sore seakan berganti malam yang berhias bintang. Bersama sinar rembulan yang menawan cinta yang menyatukan insan sesuai titah Tuhan. Cinta entah

Yasa Pulang!

Oleh:
Di luar sana ada berbagai macam warna dari satu objek, warnanya berjuta-juta. Menyampaikan keindahan yang dimilki tuhan, yang katanya menciptakan semuanya hingga sehebat ini. Aku melihat ke arah utara

Aku Kehilanganmu

Oleh:
Jihan terlihat duduk dengan gusar sambil beberapa kali melihat jam putih yang melingkar di tangan kirinya, sebenarnya hari ini ia memiliki janji bertemu dengan Berry di taman tetapi mendadak

Break

Oleh:
Tentang mencintai dengan tulus, bukan berati cinta yang lain meminta pamrih. Namun, ini cerderung kepada mengikhlaskan cinta yang tumbuh untuk kamu pangkas dan tanami lagi dengan cinta yang lain.

Senja Terindah

Oleh:
Ujian Nasional SMP pun kini telah berakhir, semua orang sorak serantai membicarakan kemana akan melanjutkan sekolah. Namun kebingungan masih dialami abang, kemana ia harus melanjutkan sekolah, sampai suatu hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *