Terima kasih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 5 August 2015

Aku adalah gadis remaja yang sekolah di salah satu SMK di Jakarta, aku itu memiliki fisik yang lemah dan juga teman-temanku hanya memandangku sebelah mata karena aku ini selalu atau lebih menyukai menyendiri dan hobbyku itu adalah baca novel. Suatu saat, aku sedang berada di toko buku aku sedang memilih novel yang ingin aku beli tapi saat aku menelusuri bagian novel remaja tanpa sengaja aku menabrak seseorang karena keseimbangan tubuhku kurang jadi aku terjatuh.

Aku mendengar seseorang berkata “maaf kamu nggak apa-apa?” sambil membantuku berdiri, aku sangat membenci diriku karena aku selalu saja dibantu oleh orang lain dan juga orang lain selalu berpikir aku ini orang yang paling lemah dan akan hancur kalau disentuh sedikit saja. Itu karena setiap bulan aku harus check up ke rumah sakit dan juga aku itu bisa bertahan karena obat-obatan yang aku minum.
“Nggak apa-apa kok” kataku dan aku melihat seorang laki-laki di sebelahku yang tadi membantu aku berdiri dia keren dan aku pikir aku itu nggak pantas ditolongin sama cowok kaya dia. Tapi lalu dia memperkenalkan diri dan begitu pula aku, tapi sesungguhnya aku ragu apakah aku harus memberi tahukan namaku padanya, aku sekarang tahu namanya yaitu Rendy dia anak kelas 11 di sebuah SMA di jakarta dan SMA itu jauh dari sekolahku.

Aku ingin menemuinya lagi dia memiliki sifat yang ceria, pasti menyenangkan bisa berteman dengannya, yang membuat aku kaget dari Rendy itu dia meminta nomor ponselku entah kenapa aku langsung memberikannya padahal aku baru kenal. Kami pun berpisah dan entah kenapa aku merasa sedih padahal dia bukan orang yang aku kenal aku baru saja mengenalnya beberapa menit yang lalu dan kami pasti tidak akan bertemu lagi.

Keesokan harinya di sekolah saat aku sedang ke kamar mandi, ponselku berdering dan di layarnya terdapat nomor yang tidak ada di kontakku, aku mengangkatnya aku pikir kalau saja penting dan setelah aku mengucapkan hallo aku mendengar suara orang yang sangat aku rindukan ternyata Rendy meneleponku dan berkata akan menjemputku, aku sangat menantikan jam sekolah usai agar segera bertemu Rendy.

Jam sekolah pun usai aku pun segera pergi menuju gerbang sekolah dan di sana aku melihat Rendy sedang bersandar di sebuah mobil yang berwarna silver, saat aku sampai di hadapannya dia langsung mengajakku pergi dia bilang, ada banyak hal yang ingin dia ceritakan padaku. Aku pun segera masuk ke dalam mobil silver yang ternyata adalah mobil Rendy kami pergi menuju taman yang tidak terlalu jauh dari sekolah dan kami duduk di salah satu bangku yang ada disana.

Rendy meminta agar aku menceritakan tentang diriku karena dia bilang dia sangat penasaran dengan aku. Aku pun mulai cerita saat aku kecil aku itu memiliki tubuh yang lemah dan juga teman-temanku dulu itu sering bilang kalau aku penyakitan dan juga setiap beberapa minggu aku harus chek up ke dokter karena ginjalku itu agak sedikit berbeda dari orang biasanya dan dokter pernah bilang kalau aku itu nggak bisa bertahan lama, aku pun terus cerita tentang diriku dan Rendy dengan serius mendengarkan.

Sampai aku selesai dan aku meminta dia juga menceritakan tentang dirinya, dia pun mulai menceritakan. Dia itu anak satu-satunya ayahnya adalah pengusaha yang sukses karena pekerjaannya ayahnya Rendy itu tidak memperdulikan dia dan Mamanya. Mamanya Rendy sudah meninggal satu tahun yang lalu karena sakit, itu membuat Rendy terpuruk karena penyemangat hidupnya adalah Mamanya karena papanya nggak peduli padanya, Rendy terus cerita dan aku lupa aku belum minum obatku dan ini sudah lewat waktunya entah kenapa kepalaku pusing sekali dan semuanya itu jadi gelap dan aku tidak tahu lagi.

Saat aku sadar aku sedang berbaring di rumah sakit di kamar sendiri aku benci kalau hanya berbaring saja, jadi aku putuskan untuk keluar dan mecari dokter tapi saat aku ingin keluar aku mendengar ada orang yang sedang berbicara di depan kamar.
“ginjalnya sudah rusak total kami tidak bisa menolongnya”
“apa? Apa dia nggak bisa selamat?” suara Rendy.
“tidak. Maaf” kata seseorang
“aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayang, yang udah bikin aku bertahan itu pergi” kata Rendy
“kamu juga harus memikirkan diri kamu sendiri Rendy” kata seseorang.
“aku tahu” kata Rendy.

Loh emang Rendy kenapa, aku segera pura-pura tidur dan Rendy pun masuk lalu Rendy mengelus kepalaku dan berbisik.
“Maaf aku tidak bisa menyelamatkanmu berjanjilah kamu akan bertahan untukku, aku akan melakukan apapun agar kamu selamat karena kamulah orang yang sudah aku cintai selama 4 tahun ini, aku pulang dulu nanti aku akan kembali lagi.” kata Rendy lalu mencium keningku dan pergi.

Saat itu aku mencari orang yang tadi bicara kepada Rendy dan aku tahu dia adalah dokter yang tak sengaja aku tabrak saat aku sedang mencarinya dan dokter itu pun bercerita tentang keadaan Rendy. Dan yang aku tahu Rendy sedang dirawat juga karena kelelahan aku pikir ini adalah hari pertama dan terakhir aku bertemu dan mengenalnya karena penyakitku sudah terlalu parah.
“aku dimana? Sepetinya aku baru selesai operasi tapi siapa yang mendonorkan?” sambil melihat sekeliling dan melihat sebuah amplop berwarna pink di meja lalu mengambilnya dan memembukanya di dalamnya ada kertas yang juga berwarna pink dengan tulisan yang tergores dengan tinta warna biru.

[saat kamu membaca surat ini mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, maaf sudah meninggalkanmu, maaf aku yang sudah melanggar janji akan selalu bersamamu, aku harap kamu tidak marah. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu, aku harap kamu bisa menikmati hidup ini. Terima kasih banyak Rendy, aku juga sayang sama kamu. Windy]

“AAaaaaaa kenapa gue nggak bisa ngelindungin orang yang gue sayang, gue gagal ngelindungin Mama yang sakit dulu dan sekarang cewek yang bakal gue selamatin dengan gue bakal donorin ginjal gue sekarang malah ngedonorin jantungnya buat gue.. AAaaaaaaa kenapa gue nggak berguna, kenapa harus gue yang terus dilindungi. Windy kenapa kamu nggak bawa aku sama kamu, aku nggak sanggup hidup di sini sendiri” kata Rendy yang terus menerus nangis karena keputusanku untuk menyelamatkan hidupnya.

“jangan nangis aku juga ikut sedih. Ini keputusanku aku sayang sama kamu jadi tolong terima hadiah dariku sebagai tanda pertemuan dan perpisahan” bisikku sekuat tenaga padanya agar terdengar olehnya.

Rendy hanya duduk dan merunduk sambil terus menangis.

Cerpen Karangan: Windy Safitriandhini
Facebook: Windy Safitriandhini

Cerpen Terima kasih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Al-Qur’an Cokelat

Oleh:
Ku langkahkan kaki yang berbalut sepatu kets kesayanganku ke luar rumahku dengan mantap. Semilir angin pagi dan kicauan burung menambah sempurna pagi pada hari jum’at indah itu. Namun, cuaca

Love

Oleh:
Dua tahun sudah Gisella Anastasia bersekolah SMA Kartini salah satu sekolah terpandang dan tergengsi di daerahnya, hari ini secara langsung melalui hasil rapat osis di sekolahnya ia telah terpilih

Paket Ujian

Oleh:
“Kita udahan ya?” kata Joni mendadak lewat telepon. Mendengar ucapan Joni langit serasa runtuh menimpa tubuh mungilku ini. Angin mendekap merasuki tulang-tulang, menghentikan peredaran darah dan degup jantungku. Hatiku

Perpisahan Yang Tak di Duga

Oleh:
“Mengapa kita dipertemukan jika akhirnya kita harus dipisahkan?” Benar kata orang bahwa bumi tidak pernah berhenti berputar. Begitu juga ini terjadi pada kehidupan kadang kita berada diatas dan kadang

Secarik Kertas

Oleh:
Matanya memerah, kulihat begitu dalam kesedihan yang dia pancarkan. Aku takut aku akan merasa iba padanya, “kita putus” dan lagi aku tegaskan kata itu kepadanya. Seketika itu pun airmatanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *