Terima Kasih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 11 May 2016

“Heena.. Heena..” Dinda memanggilku dari balik pagar.
“Iya sebentar.” Jawabku keras. Seperti biasa setiap pagi Dinda selalu menghampiriku untuk berangkat ke sekolah bersama. “Hai…” Sapa seseorang pada kami, kami pun menengok ke belakang.
“Oh.. Kak Excel.” Dinda mengenali orang itu, Excel adalah kakak kelas kami di sekolah musik Mistic.
“Boleh aku berangkat ke sekolah bersama kalian?” Tanya Kak Excel pada kami, aku hanya tersenyum.
“Tentu boleh oppa.” Dinda terlihat senang.

Di tengah perjalanan menuju sekolah.
“Lihat aku di sini, kau lukai hati dan perasaan ini, tapi entah mengapa aku bisa mem….”
“Kak Excel.. apa kau bisa diam? suaramu sangat berisik, kau menggangguku.” Aku menghentikan nyanyian Kak Excel, aku tidak menyukai musik.
“Biarinlah Kak Excel nyanyi.” Dinda menjawabku, ku lirik Kak Excel, ia tersenyum, ku pasang wajah kesalku.
“Cih.”

Sesampainya di sekolah, aku dan Dinda masuk ke kelas masing-masing, kami bergurau dengan teman-teman yang lainnya, kedatangan Miss Yuri mengagetkanku dan yang lainnya, kami pun terdiam, Miss Yuri memberitahu jika sekolah musik ternama (sebut saja miracle) akan mengadakan audisi di sekolah ini dan yang lolos akan masuk ke sekolah musik ternama itu dan tinggal di asramanya.

“Guru.. kau tahu kan kalau aku tidak memiliki bakat apa pun di bidang musik, dan kau juga tahu jika aku masuk ke sekolah ini karena paksaan dari Ayahku.” Ujarku kesal.
Miss Yuri mendekat ke arahku. “Iya, aku tahu.”
“Guru.. aku tidak ingin mengikuti audisi itu.” Kataku ketus, Miss Yuri memegang pundakku.
“Kau harus tetap mengikutinya, ini perintah.” Ujarnya yang membuatku kesal, Miss Yuri meninggalkan kelas.

“Kak Dion.. apa yang akan kau perlihatkan nanti?” Bella.
“Bermain gitar.” Jawab Kak Dion sembari tersenyum, ku lihat Dinda sedikit terkejut.
“Apa? gitar.. bukannya kakak jago dance?” Ternyata benar dugaanku, Dinda terkejut.
“Entahlah aku sendiri juga masih bingung.” Kak Dion.
“Kak Excel, Kak Bima, Kak Aris, Kak Selly, Kak Mia, Nickhol, Aulia, dan kau Dinda, kalian pasti akan lolos audisi.” Ujar Bella dengan penuh keyakinan, Dinda memandangi Bella dari bawah sampai atas.

“Apa kau pikir jika kau tidak akan lolos?” Dinda mendekatkan wajahnya ke arah Bella, aku dan Kak Dion tertawa.
“Aku pasti lolos, bukankah akan sangat menyenangkan bisa melihat Kak Mason setiap hari.” Bella, ia membayangkan wajah Kak Mason yang terkenal dengan wajah tampannya dan banyak digilai para wanita. “Mungkin.” Kak Dion. Audisi pun dimulai dan semuanya berusaha untuk menunjukkan yang terbaik.

Saat tiba giliranku…
“Guru.. maaf, aku tidak memiliki bakat apa pun di bidang musik yang bisa ku perlihatkan.” Tuan Ronal, pemilik sekolah musik Miracle memandangku, beliau tersenyum padaku.
“Bukankah kau memiliki suara.” Miss Ani membuatku malu, semuanya menertawakanku, aku memikirkan pengelakan.
“Suaraku buruk dan a…” Kata-kataku terputus, tuan Ronal menghentikan perkataanku.
“Bernyanyilah.”

Dengan sangat berat hati aku bernyanyi, aku mencoba menjelekkan suaraku yang sebenarnya bagus. Tetapi aku rasa tuan Ronal tahu akan hal yang aku lakukan, aku tetap bernyanyi dengan suara yang ku jelek-jelekkan. Kak Excel yang terkenal dengan akrobatic dancenya malah menunjukkan bakat lainnya yaitu bernyanyi, aku sedikit heran dengan tingkahnya. Tuan Ronal mengumumkan untuk mereka yang lolos, aku sangat yakin jika aku pasti gagal, aku duduk dan menyilang kakiku. “Untuk mereka yang lolos.. Excel, Dion, Bima, Aris, Selly, Aulia, Mia, Dinda, Sandi, Mira, dan…” Tuan Ronal berhenti sejenak, ku pandangi teman-temanku yang lolos begitu bahagia dan mereka yang belum terpanggil berharap bahwa nama yang dipanggil terakhir adalah nama mereka, ku lihat wajah mereka penuh harap.

“Dan Heena.” Aku terkejut bukan main, semua teman-temanku memandangku dengan tatapan heran, aku kembali duduk dengan mata melebar penuh rasa kaget. Aku pulang dan menceritakan hal ini pada ayahku, ayahku terlihat sangat senang mendengar hal itu, karena dari dulu beliau selalu berharap aku dapat menyukai musik seperti dulu lagi dan melupakan kenangan pahitku tentang ibuku yang meninggalkanku dan ayahku karena lebih memilih karirnya sebagai penyanyi.

“Ayah.. apa kau senang jika aku pergi dari rumah ini?” Aku memasang wajah beteku, meletakkan kepalaku di bahu ayah, ayah mengelus rambutku.
“Jika itu untuk kebaikanmu, aku akan sangat senang.” Jawab ayahku yang masih terus mengelus lembut rambutku.
“Ini sangat menyebalkan, sungguh.” Aku cemberut.

Hari ini aku dan teman-temanku yang lolos di audisi kemarin berangkat menuju ke sekolah musik Miracle dan tinggal di asrama sekolah musik itu. Setibanya di sana Mr. Mineon, guru dance dari korea yang sangat terkenal membagi kamar untuk kita, aku mendapat bagian di kamar 6 dan satu kamar dengan Dinda, Bella dan Nickhol. Dinda terpilih menjadi ketua kamar. Dinda merasa was-was dengan adanya Bella dan Nickhol dalam kamar kita, karena mereka dulu di sekolahan yang lama terkenal sering bertengkar, ia berbisik padaku.

“Heena.. bagaimana pendapatmu jika tom and jerry satu satu ruangan? apakah itu akan menyenangkan?” Bisiknya di telingaku, aku mulai berimajinasi.
“Hehehe.. itu pasti akan sangat lucu.” Jawabku sembari tersenyum-senyum sendirian.
“Bukankah akan sangat tidak nyaman untuk orang yang ada di sekitarnya?” Bisiknya lagi.
“Itu sangat lucu.”
“Aissh…”

Kelas vokal dimulai hari ini dan seperti biasa, aku selalu mencoba menjelekkkan suaraku, ku lihat banyak teman-teman yang menutup telinga mereka mungkin itu karena suaraku yang bernyanyi seperti orang berteriak-teriak. Setelah kelas vokal selesai, aku menuju ke kantin dan melamunkan sesuatu.

“Kau.” Seseorang memecahkan lamunanku, aku menoleh ke arahnya. Oh ternyata seniorku Kak Jason, adik dari Kak Mason.
“Aku?”
“Iya.. kemarilah.” Aku berjalan ke arahnya.
“Ambil ini.” Kak Jason melempar sebotol minuman kaleng ke arahku, aku menangkapnya dan memandangnya aneh.
“Bukankah sebenarnya suaramu itu bagus? ahh… kau sangat pandai berakting.” Katanya, aku menatapnya penuh heran, dia balik menatapku, aku memalingkan wajahku.

“Kau.. Apa kau mengenalku?” Tanyaku penasaran dan meminum minuman kaleng yang ia berikan tadi.
“Akan sangat aneh jika aku tidak mengenalmu, bukankah kau gadis yang beruntung itu hahaha,” Tawanya seperti seseorang yang dulu aku kenal, tapi aku yakin pasti itu bukan dia, ku pandang Kak Jason seolah aku bahagia mendengarkan kata-katanya. “Hahahaha.. sangat tidak lucu.” Ku ubah raut wajahku, ia balik memandangku dan terus memandangku. Nickhol berlari ke arahku, ia berkata jika Dinda sedang marah padanya, aku langsung berlari menuju kamarku tanpa menoleh ke arah Jason sedikit pun, saat membuka pintu kamar.

“Hahaha…” Tawaku mengagetkan sahabatku itu.
“Kau terlihat seperti angry bird yang berbalut tepung hahaha.” Aku tertawa melihat wajah Dinda yang berbalut tepung, Dinda mulai tersenyum.
Dinda bercerita padaku jika Nickhol dan Bella terlibat perang tepung dan Nickhol melempar tepung ke wajahnya.
“Aku tidak sengaja.” Bantah Nickhol, sembari menahan tawa. Aku membantu Dinda membersihkan wajahnya yang berbalut tepung itu, aku juga menyuruh Nickhol dan Bella untuk membersihkan tepung-tepung yang berceceran di lantai. Ponsel Dinda berbunyi, ia mendapat pesan dari Mira jika tuan Ronal menyuruh semua murid untuk berkumpul di aula sekolah, Aku, Dinda, Bella, dan Nickhol bergegas menuju aula.

“Perkenalkan dirimu.” Ujar tuan Ronal pada gadis cantik di sebelahnya, gadis itu memandang ke arahku.
“Annyeong haseyo… saya Raein, Kim Raein, mulai hari ini saya akan bergabung dengan kalian, saya harap kalian dapat menerima kehadiran saya.” Gadis itu memperkenalkan dirinya, murid pindahan dari sekolah musik di korea.

“Saya rasa kamar Dinda grup terlalu luas, Raein kau satu kamar dengan mereka.” Mr. Mineon Aku, Dinda, Bella, dan Nickhol mengajak Raein ke kamar kami, aku memperhatikan gaya berjalannya yang terlihat sangat anggun. Hani menyuruh Bella untuk berbagi tempat tidur dengan Raein.
“Ani eonnie.” Raein menggelengkan kepalanya, ia mencium bantal di atas tempat tidur Bella.
“Bantalnya sangatlah bau.” Raein melemparkan bantal itu pada Bella, Bella terlihat kesal, ia melempar bantal itu pada Raein, Raein membuangnya secara kasar, ia tersenyum pada Bella.

“Kau…” Bella meninggikan nadanya.
“Lalu?” Aku memotong kata-kata Bella, agar pertengkaran tidak terjadi, karena ku lihat wajah Bella terlihat kesal.
“Ini sangat harum, ini tempat tidur siapa?”
“Heena.” jawab Dinda.
“Heena eonnie, aku tidur denganmu saja.” Raein tersenyum padaku, ia membanting tubuhnya di tempat tidurku.
“Denganku.. oh iya.” Aku sedikit kesal.

Aku pamit ke luar sebentar untuk membeli makanan, Raein ikut denganku, aku berbincang-bincang dengannya, ku pikir dia gadis manja, tapi ternyata dia sangat menyenangkan, tidak butuh waktu lama untukku akrab dengannya. Alasan Raein sekolah di Miracle adalah karena seseorang, karena ia menyukai seseorang, yaitu Kak Mason, kakak dari cowok yang meledekku tadi. Setibanya di kedai makanan kami membeli makanan yang mereka inginkan.

Adanya tugas untuk membuat karya musik membuatku merasa bosan, aku menuju ke ruang musik, ku lihat sebuah piano, aku ingin memainkannya tapi iaku takut jika seseorang melihatku, ku lihat sekeliling, setelah ku rasa aman aku merasa yakin untuk memainkan piano tersebut. Dentingan demi dentingan ku mainkan, mulutku mulai mengeluarkan suara, aku mulai bernyanyi. Suara tepukkan tangan mengagetkanku, aku menoleh ke belakang.

“Kak Excel… apa yang kau lakukan di sini?” Tanyaku, tanganku gemetar, aku takut ia akan menceritakan pada teman-teman. “Kau menyukainya, lihatlah Ayahmu dan keluargamu yang telah mendukungmu selama ini, jangan terus berpura-pura seperti orang bodoh.” Ia meninggalkanku yang duduk mematung. Aku kembali ke kamarku, aku memikirkan perkataan Kak Excel, aku teringat akan senyum ayahku yang selama ini telah berjuang untukku.
“Ini bukan diriku, aku harus kembali seperti aku yang dulu.” Ujarku pada diriku sendiri, ku yakinkan diriku. Kini aku yang dulu telah kembali. Dinda melihat perubahan dalam diriku, ia merasa aku lebih terlihat ceria dibandingkan sebelumnya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanyanya yang melihatku berlatih vokal.
“Aku sedang melatih vokalku.” Aku meneruskan latihanku.
“Apa kau sedang bercanda?” Ia kaget mendengar perkataanku.
“Tidak, aku ingin menjadi diriku sendiri.”
“Hahaha.. berarti kau dulu adalah seorang monster.” Dinda menertawakanku dari aktivitas yang sedang ku lakukan.
“Aku pikir juga begitu.” Dinda memperhatikanku.

Sekolahan miracle akan mengadakan sebuah pertunjukan musik, Kak Jason memilihku untuk berduet dengannya. Saat mendengarkan suaraku yang ternyata bagus semua tercengang. Sejak saat itu aku selalu disebut sebagai “The Golden Voice”. Keberhasilahku dari hari ke hari membuat sahabatku, Dinda, merasa iri, ditambah lagi dengan kedekatanku dengan pria yang ia suka, Kak Jason. Ya.. Sejak pertama kenal dengan Kak Jason, Dinda menyukai pria itu, ia sangat mengagumi Kak Jason, dan aku tahu akan hal itu, Dinda mulai menjauhiku seolah aku adalah musuhnya.

Semua orang di Miracle juga beranggapan jika telah terjadi persaingan di antara kami, aku memang mengagumi Kak Jason, tapi aku rasa aku tidak menyukainya, aku menyukai seseorang yang telah membuatku menjadi diriku sendiri, ya.. aku menyukai Kak Excel, entah sejak kapan aku mulai menyukainya, aku memutuskan untuk tetap menyembunyikan perasaanku, karena aku yakin ia tidak menyukaiku. Aku selalu mencoba mendekati Dinda, dan mengajaknya berbicara tapi Dinda selalu menghindar dariku dan selalu berkata, “Aku membencimu Heena, aku sangat membencimu.” Hal itu membuatku merasakan sedih yang mendalam, seolah-olah aku hidup sendirian di sekolah ini, karena Dinda adalah sahabat terbaikku, dan sekarang ia membenciku.

“Dinda, apa dengan kepergianku bisa membuatmu bahagia?” Tanyaku, aku meneteskan air mataku, aku mendekat ke arah Dinda yang sedang menangis terisak-isak.
“Tinggalkan sekolah ini. dan…” Dinda menghentikan perkataannya.
“Dan tinggalkan Kak Jason.” Terusnya.
“Apa dengan begitu kita bisa berteman lagi? bisa kan?” Pintaku penuh harap, Dinda hanya diam, aku rasa itu yang ia inginkan, aku meninggalkannya.

Aku menemui Kak Excel dan memintanya tolong padanya untuk mengantarkanku pulang, ia menghapus air mata di pipiku. Kak Excel mengantarkanku pulang, ia terus memandangi wajahku yang sangat memalukan, aku merasa nyaman dengannya, dia juga selalu berusaha untuk selalu ada untukku. Seminggu setelah aku meninggalkan Miracle, aku sering sakit-sakitan, karena aku merasa sangat kesakitan, aku memeriksakan diriku ke rumah sakit, alhasil sangat mengejutkan untukku, jantungku mengalami masalah, dan harus segera melakukan transfusi jantung, ku langkahkan kaki menuju rumah, ku lihat kondisi ayahku yang membuatku tidak tega untuk mengatakan tentang penyakitku.

“Jika aku sukses, bukankah aku bisa mengembalikkan keadaan keluargaku seperti dulu, dan aku bisa menyembuhkan penyakitku, tapi jika aku kembali, bukankah Dinda akan sedih dan membenciku lagi.” Pikirku. Aku mengambil keputusan untuk kembali ke Miracle. Kedatanganku disambut dengan baik dan bahagia oleh teman-temanku, kecuali Dinda, Dinda menangis melihatku telah kembali, mungkin ia merasa dibohongi, tapi sungguh aku tidak ingin seperti ini, keadaan yang memaksaku kembali. “Dind.. percayalah ini hanya sementara, ini tidak akan lama.” Aku mencoba menjelaskan pada Dinda, tapi ia menutup telinga, Dinda tidak mau mendengarkanku, ia pergi dari hadapanku dengan air mata di pipinya.

Aku dan Dinda mendapat tawaran untuk melakukan rekaman, ku lihat ia sangat bahagia mendengar hal itu ditambah lagi ia melihat Kak Jason mendukung kami. Saat hendak melakukan rekaman, kondisiku sudah melemah tapi aku berusaha mencoba kuat karena aku tidak ingin membuat Dinda gagal rekaman karenaku. Di akhir rekaman aku sudah tidak kuat menahan sakitku, tubuhku terjatuh. Seminggu kemudian aku tersadar dari komaku, kondisiku semakin membaik dan aku diizinkan ke luar rumah sakit. Setelah kembali ke miracle, sehari dua hari bahkan sebulan lebih aku tidak melihat Kak Excel, Bella dan Dinda mengajakku ke ruangan pribadi Kak Excel di sekolahan Miracle, mereka terlihat ragu-ragu, membuka pintu dan melihat semua foto-foto yang tertempel di dinding membuatku tersenyum, itu adalah foto-fotoku, aku tidak menyangka Kak Excel begitu memperhatikanku.

“Heena shii.. apa kau baik-baik saja, aku harap kau baik-baik saja. Jangan pernah bersedih dan selalu bahagialah.. kau sangat jelek jika menangis. Aku yakin Junho bisa menjagamu, karena hari dimana aku membuat ini aku sudah tidak bisa menjagamu. Tolong bahagialah.” Rekaman sebuah video yang dibuat Kak Excel membuatku bingung, aku terus bertanya di mana Kak Excel, kemana ia, kenapa ia bilang ia tidak di sini lagi.

Dinda menjelaskan padaku jika waktu aku koma satu-satunya cara yang bisa membuatku tetap hidup adalah jantung baru, jika tidak, nyawaku akan melayang, dan… pendonornya adalah Kak Excel, sekarang Kak Excel telah tiada, aku merasa seperti disambar petir di siang bolong, air mataku mulai meleleh, hatiku sangat sakit menerima kenyataan pahit ini, aku kehilangan orang yang aku cintai, orang yang telah membuatku berhasil, aku menangis sejadi-jadinya, hatiku tak kuat menerima semua ini, ini sangat menyakitkan.

Waktu terus berlalu, dan ini sudah setahun lebih sesudah sepeninggalan Kak Excel, aku telah mencapai kesuksesanku, dan yang lain telah mencapai kesuksesan mereka masing-masing. Aku mendatangi makam Kak Excel dengan membawa kesuksesanku, “Kau lihatkan jika aku selalu bahagia, ini semua karenamu.. terima kasih untuk pengorbananmu. Kau adalah keajaiban untukku, kau akan selalu ada di hatiku, bahagialah di sana, aku mencintaimu.” aku tersenyum, ku letakkan piala penghargaan yang ku dapat di atas makamnya, aku berjalan pergi.

THE END

Cerpen Karangan: Putri Anggraini
Facebook: P Anggraini (Lee)

Cerpen Terima Kasih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadiah Istimewa Dari Ibu

Oleh:
23 Januari 2010 Hari ini hari ulang tahunku yang ke 8 tahun.. yeyy! aku gak sabar untuk membuka kado dari ibu dan bapak.. “papa, mama.. mana kadoku?” tanyaku, tapi

Maaf Yang Tertunda

Oleh:
Ketikaku menghadapi kehidupan yang pelik ini, mampukah diriku hanyut dalam suasana yang sangat bertentangan dengan hatiku, Ya Allah hamba malu pada engkau, hamba tak mampu menghadapkan wajah kepada akhirat-Mu.

Waktu Akan Menyembuhkan Setiap Luka

Oleh:
Tuhan menciptakan sesuatu pasti ada alasannya. Contohnya, Tuhan menciptakan manusia untuk meyembahnya, melaksanakan perintah serta menjauhi larangan. Tuhan memberi segala sesuatu pasti punya manfaat tersendiri. Jika kita belum mendapatkan

Mengertilah Cinta Lebih Cepat

Oleh:
Hampir 3 jam sudah Sina duduk di bangku taman yang sedikit basah oleh rintik hujan, Sina tak kunjung pergi meninggalkan bangku taman tersebut untuk sekedar mencari tempat teduh. Sina

Kupu Kupu Kecil

Oleh:
Berkali-kali kulihat jam tanganku. Ah … Pukul 06.47. 13 menit lagi bel masuk berbunyi. Aku sedang menunggu seseorang. Tapi, seseorang yang ku tunggu itu tak kunjung datang. Kemana dia?

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *