Terima Kasih, Luna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 6 January 2016

“Makasih banget udah nganterin aku ke sini.” Ucapku yang baru sampai di bandara.
“Hahaha.. Nyantai aja kali..” Jawabnya sambil tertawa manis.
“Aku janji kalau aku balik nanti, aku bakal langsung ngelamar kamu.” Janjiku padanya.
“Janji ya?” Dia memastikan.
“Iyaa.. Asalkan kamu nggak ngelupain aku aja.”
“Hahaha.. Yaudah pergi sana, nanti kamu ketinggalan pesawat.”
“Ya udah aku pergi dulu. Daahh!!” Ucapku sambil melambaikan tanganku padanya.
Dia hanya tersenyum sembari membalas lambaian tanganku.

Dua tahun berlalu. Kini aku bergelar S2 lulusan dari salah satu universitas di Jepang. Aku senang sekaligus rindu. Rindu pada pacarku yang aku tinggal di Indonesia dua tahun lamanya. Namun satu tahun terakhir ini aku tidak mendapat kabarnya. Namun aku tetap berpikiran positif, mungkin dia sedang sibuk mengurusi tugas skripsinya yang hampir selesai. “Haaahhh…” Aku menghela napas panjang. Sudah lama sekali aku tak merasakan panasnya udara Indonesia.

Bunda menelepon. Dia berkata bahwa dia menunggu di kafe di seberang bandara. Segera aku datangi kafe tersebut. Benar saja, Bunda menungguku di sana. Kami berpelukan saling melepas rindu. Setelah melepas rindu, kami pun mulai mengobrol. Mulai dari kehidupanku di Jepang, gaya hidupku, teman-temanku dan hingga sampai ke topik mengenai Luna, pacarku.

“Eh kamu udah taju?” Tanya Bunda sambil meminum kopi pesanannya.
“Apaan Bun?” Tanyaku balik.
“Tahun lalu Luna kecelakaan.” Jawab Bunda serius.
“Sekarang dia tak ingat apa-apa.” Lanjut Bunda.
“Hah? Yang bener Bun? Jangan bercanda Bun. Nggak lucu tahu.” Responku tak percaya.
“Iyaa. Ngapain Bunda ngebohong.” Wajah Bunda membuatku percaya akan perkataannya.

Selesai makan, aku dan Bunda pulang ke rumah. Selesai melepas rindu dengan Ayah dan Adik-adikku. Aku pun menuju ke kediamannya Luna. Sesampainya di sana, aku melihat seorang gadis tengah melamun di meja tamu. Ku lihat matanya kosong. Namun untunglah, wajahnya tak banyak berubah. Masih tetap cantik dan menarik. Segera aku hampiri dan menyapa gadis tersebut.

“Eh Luna.” Panggilku dari luar pagar.
Dia menatapku heran lalu membukakan pagarnya.
“Kamu lupa sama aku?” Aku mencoba memastikan.
“Siapa ya?” Tanyanya balik. Entah mengapa saat ini aku tak ingin dia tahu bahwa aku adalah pacarnya.
“Aku Rudi, teman lamamu.”
“Oh.” Responnya dengan wajah datar.

Kami pun mulai mengobrol panjang lebar.
“Eh besok kita jalan-jalan yuk.. Siapa tahu kamu inget sesuatu.” Ajakku pada Luna.
“Terserah kamu aja.” Jawabnya dengan masih memasang wajah datarnya.
“Besok aku ke sini jam 10 ya. Daahh!” Ucapku sambil berlalu darinya.

Aku berpakaian serapi mungkin dan segera menuju kediamannya Luna. Tak lama aku sampai di sana, Luna ke luar rumah dan berjalan ke arah mobilku. Dia segera masuk dan duduk di sebelahku. “Jadi mau ke mana?” Tanyaku.
“Kan kamu yang ngajak jalan.”
“Aku bingung mau ngajak kamu ke mana.”
“Katanya kamu temen lamaku, coba ajak aku ke tempat biasa kita nongkrong.” Tantangnya.
“Oke!!” Jawabku sambil ku pacu mobilku meninggalkan rumahnya.

Aku membawa dia ke tempat biasa kami nongkrong dulu. Mulai dari alun-alun kota, pohon rindang dekat sekolah, hingga ke terminal pasar tempat kami menunggu angkot dulu. Namun tetap saja dia tidak ingat. Ada yang aneh dengan Luna. Biasanya, ketika dia bersamaku, dia selalu tertawa riang. Berbeda sekali dengan sekarang. Bahkan senyum pun dia jarang. Ya, sudah ku pastikan bahwa Luna benar-benar mengalami amnesia. Karena hari sudah menjelang sore dan kami belum makan, akhirnya aku mengajak dia ke tempat kami biasa makan dulu. Kafe Mang Ajun namanya.

“Kamu ingat sesuatu tentang kafe ini?” Tanyaku.
Dia hanya menggelengkan kepala.
“Ya udah kita masuk aja dulu. Kamu juga belum makan kan?” Ucapku sambil menuntunya masuk ke kafe tersebut.
“Jadi mau pesen apa?” Tanyaku.
“Bentar, aku lihat dulu menunya.” Jawabnya sambil mengambil menu yang ada di depannya.
“Oh ya udah.. Aku ke belakang dulu yah.” Kataku sambil pergi meninggalkannya.

Sesampainya di sana, perutku sakit sejadi-jadinya. Mungkin ini akibat aku terlalu asyik dan lupa akan obat pemberian dokter. Ku buka kantongku dan sial!! Aku lupa membawa obat tersebut. Air mataku mulai menetes, namun rasa sakit ini tak kunjung reda. Akhirnya karena tak bisa menahan sakit yang luar biasa ini, aku pun jatuh pingsan.

“Di mana aku?” Kataku lirih seraya membuka mata.
“Di rumah sakit nak.” Jawab Bunda. Tiba-tiba suasana menjadi hening.
“Bunda..” Ucapku lirih. “Aku sudah tahu, ginjalku tak mungkin berfungsi lagi. Andaikata aku mati besok, apa yang harus aku lakukan saat ini?” Tanyaku dengan sisa tenaga yang ada.
“Bicara apa kamu Nak?! Kamu tak boleh berkata begitu!” Respon Ibuku sambil menangis.
“Bunda bisa tolong pinjamkan aku pulpen dan kertas.” Pintaku pada Bunda.
Bunda segera mengambilkan barang-barang yang ku minta dan memberikannya padaku.

“Untuk Luna. Hei kamu masih belum ingat aku ya? Tenang aja, aku nggak marah kok. Di sini aku mau jujur sama kamu, sebenarnya aku ini Rudi, pacarmu. Entah kamu percaya atau tidak, yang penting aku telah memberitahumu. Oh iya jika aku udah nggak ada nanti, tolong jaga semua keluargaku ya. Salam juga buat Kakak dan kedua orangtuamu. Salam cinta, Rudi.”

“Bun.. jika aku udah tidur, tolong berikan surat ini pada Luna. Mungkin ini permintaan terakhirku.” Pintaku lirih. Belum aku mendengar jawaban Bunda, tiba-tiba tubuhku lemas dan mataku pun tertutup. Mungkin ini adalah akhir dari hidupku. Ahh, terima kasih atas seluruh pemberianmu, Luna. Itu sangat berharga. Walaupun saat ini kau belum mengingatku, tapi tetap aku senang. Semoga saja kita dipertemukan lagi di surga nanti. Aamiin.

“Apakah aku sudah berada di alam kubur?” Aku bertanya-tanya ketika mataku terbuka.
“Rudi..” Ucap seseorang di sebelahku.
“Aku di mana?” Akhirnya mulutku mampu mengeluarkan suara.
“Kau masih di rumah sakit.” Ucap sosok tersebut.
“Mengapa aku masih hidup Bun?” Ternyata sosok tadi adalah Bunda.
“Ada seseorang yang mendonorkan ginjalnya untukmu.” Jawab Bunda.
“Dia juga memberikan ini padamu.” Lanjut Bunda sambil memberikan sepucuk surat padaku.

“Aku sudah baca suratmu. Sebenarnya aku juga ingin jujur padamu. Sehari sebelum pertemuan pertama kita, dokter memvonis hidupku tak lebih dari seminggu. Aku pun menyerah pada hidupku. Namun tiba-tiba engkau datang. Entah kenapa hatiku berkata kamu orang baik, walaupun aku baru mengenalmu. Namun ketika aku tahu kamu mengidap gagal ginjal kronis dan hidupmu tak lama lagi, di situ aku sedih. Tanpa pikir panjang, aku pun mendonorkan ginjalku. Jadi tolong jaga ginjalku baik-baik ya. Mungkin jika kamu baca surat ini, aku udah pergi duluan. Tolong jaga Ibuku dan Kakakku. Salam hangat untukmu, Luna.”

Setelah membaca surat tersebut aku tersenyum dan menangis haru untuknya. Sekali lagi ku ucapkan terima kasih untukmu, Luna. Akan ku jaga pemberianmu ini. Tak akan ku sia-siakan lagi hidup ini.

Cerpen Karangan: Aldi Sastra Wijaya
Facebook: https://www.facebook.com/tofan.sastrawijaya

Cerpen Terima Kasih, Luna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bayangmu

Oleh:
– Jika kau adalah semu. mengapa kau terasa begitu nyata – Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Tanganku pun terasa kaku dan hanya bertaut gelisah satu sama lain. Keringat

Don’t Leave

Oleh:
Entah mengapa keadaan di kelas tidak seperti dulu. Kini rasanya membosankan. Apalagi Rina masih terlihat cuek kepadaku. Entah mengapa itu terjadi. Aku merasa seperti telah melakukan sesuatu terhadapnya, tapi

Teman Pengkhianat Cinta

Oleh:
Sebenarnya kisah ini sudah lama sekali, kurang lebih 6 tahun sudah tapi jika mengingat kejadian itu masih terasa sakitnya luar biasa. Dyah adalah siswi SMP 1 T****ng A**m, saat

And I Hope

Oleh:
Hai nama saya Ilona, aku berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi agama islam. Ya beginilah aku, seorang muslimah cantik yang tinggal di dusun kecil Aku memang terkenal dengan keramahanku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *