Terjebak Nostalgia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 10 June 2016

Hari itu sangat panas. Nazwa berlari menuju rumahnya sepulang sekolah. Di tengah perjalanan, ia bertabrakan dengan seorang lelaki bertubuh lebih tinggi darinya.
“Aduhh!!” sahut Nazwa.
“Ma… maaf.” sahutnya. “Aku tidak sengaja…”
“Sudahlah tidak apa-apa. Lagipula aku yang salah, tidak melihat jalan ketika berlari. Maaf ya. Eh, kamu tetangga baru, ya? Siapa nama kamu?”
“Nama aku… Iqbal. Salam kenal ya, nama kamu?”
“Aku Nazwa”

Sepanjang perjalananan, Nazwa terus bertanya-tanya pada Iqbal. Memang, sifat Nazwa beda sekali dengan Iqbal. Nazwa yang ceria dan Iqbal yang pemurung. Kini keduanya menjalin persahabatan. Tahun demi tahun berlalu. Nazwa, si gadis belia kini telah berusia 17 tahun. Begitu juga dengan Iqbal. Kini mereka bersekolah di sekolah yang sama, yaitu SMAN 5 Jakarta.

“Nazwa, kamu udah makan belum?” tanya Iqbal.
“Aku belum. Makan yuk di kantin.” balas Nazwa. Mereka akhirnya pergi ke kantin. Saat di kantin, Iqbal mengungkapkan perasaannya pada Nazwa. Nazwa yang memiliki perasaan yang sama dengan Iqbal, memutuskan untuk berteman saja.
“Kenapa harus teman?” tanya Iqbal.
“Iqbal, meskipun aku belum pernah pacaran, tapi aku tau. Nanti pas udah putus, pasti musuhan. Aku gak mau kita musuhan. Jadi aku putuskan, kita akan menjadi teman saja. Cobalah untuk mengerti” balas Nazwa. Nazwa lantas meninggalkan Iqbal seorang diri di kantin.

Hari demi hari berlalu, Nazwa terkejut ketika Iqbal untuk pertama kalinya membolos sekolah.
“Mengapa, Iqbal membolos?”
Sepulang sekolah, Nazwa tidak menemui Iqbal dimanapun. Bahkan, di rumahnya pun, Iqbal tidak ada.
Sudah 3 hari Iqbal membolos. Ibunya Iqbal dipanggil ke sekolah untuk menanyakan Iqbal. Nazwa mengintip dari balik jendela.
“Pak, Iqbal selalu pulang sekolah tepat waktu. Hari ini pun ia pamit untuk pergi ke sekolah. Mengapa Iqbal begini?” sahut Ibu Eti.
Nazwa yang merasa heran, pergi ke kelas temannya Iqbal untuk menanyai Iqbal. Tetapi tidak ada yang tau dimana Iqbal berada. Lalu sepulang sekolah, Nazwa bersikeras mencari Iqbal. Nazwa berhasil menemukan Iqbal, tetapi saat itu, Iqbal dalam keadaan mabuk berat karena alkohol, dan jari jemarinya sedang memegang r*kok.
“Iqbal apa yang kau lakukan? Kau membolos hanya demi ini? Pikirkan orangtuamu. Mengapa kau begini?”
“Aku begini karena kamu. Dari awal bertemu denganmu, aku menyukaimu. Dan kau menolakku secara mentah-mentah? Kau punya hati tidak sih?”
Nazwa terkejut. Sontak Nazwa berlari meninggalkan Iqbal. Ia merasa bersalah sekali kepada Iqbal.

Lama kelamaan, tersiar kabar bahwa Iqbal meninggal. Nazwa sangat terkejut, itu membuatnya tambah merasa bersalah. Lalu Nazwa mengurung diri di kamarnya, menutup semua jendela dan tirai yang ada di kamarnya, dan mematikan lampu kamarnya.

Tahun demi tahun berlalu, kini Nazwa remaja telah menjadi dewasa, berusia 20 tahun. Ia mulai berani keluar kamar dan menemui Ibunya.
“Nazwa, akhirnya kamu keluar kamar. Semenjak kematian Iqbal, kamu selalu mengurung diri kamu di kamar.”
Nazwa hanya terdiam. Ia sudah bersiap di hari pertamanya menjadi Mahasiswa. Ia bertemu dengan senior di Universitas itu. Sepertinya ia menyukai Nazwa. Selang beberapa hari, senior itu berani berbicara kepada Nazwa.
“Hai junior. Siapa namamu? Namaku Zidane.”
“Aku Nazwa.”
Setelah sekian lama, Nazwa cukup dekar dengan Zidane. Sangat dekat.
“Kenapa kamu jarang bicara?” tanya Zidane.
“Aku dulu memang suka bicara. Tetapi tragedi itu mengubah segalanya.” sahut Nazwa.
Nazwa sebenarnya sudah tau bahwa Zidane menyukainya, tetapi cinta Nazwa hanya untuk Iqbal. Zidane pub sudah mengetahui bahwa Nazwa hanya mencintai Iqbal, tetapi Zidane hanya diam.
“Nazwa, mau sampai kapan kau Terjebak Nostalgia dan Rasa Bersalah seperti ini?” gumam Zidane dalam hatinya.

Hinga suatu hari tersiar kabar bahwa Nazwa menderita leukeumia stadium akhir. Zidane kaget sekali. Ia lantas menuju Rumah Sakit untuk menemui Nazwa. Ia bertemu dan berbicara dengan Ayah Nazwa. Ayah Nazwa menceritakan segalanya kepada Zidane.
“Nak, kau pria yang baik. Temui Nazwa.”
Zidane pun segera memasuki ruangan tersebut. Terlihat dengan jelas, Nazwa yang sedang terbaring melawan penyakitnya. Didalam ruangan yang hening, Zidane berbisik kepada Nazwa..
“Kau sayang, kan pada Iqbal? Kau tau, Iqbal pasti sedih kalo liat kamu kayak gini. Sadar, jika bukan demi aku, setidaknya demi Iqbal.” bisik Zidane. “Aku sadar, aku hanya seniormu, tetapi aku menyukaimu. Aku juga tau, kamu hanya mencintai Iqbal, tetapi… tetapi aku mohon, untuk kali ini saja, sadarlah, demi aku dan Iqbal.”
Jari Nazwa sedikit demi sedikit bergerak. Matanya juga perlahan-lahan mulai membuka. Zidane sontak terkejut sekaligus bahagia.
“Nazwa…” sahutnya pelan. “Oh Tuhan terimakasih”
“Zi…Dane… Ma… Ka..Sih..” ujar Nazwa sangat pelan.

Hari demi hari berlalu, kondisi Nazwa berangsur-angsur membaik. Hubungannya dan Zidane mulai meningkat.
“Meskipun kamu bahagia denganku, tetapi kamu tidak mencintaiku. Tetap seperti ini terus, Nazwa.” gumamnya dalam hati.

Hari demi hari, Minggu demi Minggu telah berlalu. Hari ini, pada jam 04.29, Nazwa menghembuskan nafas terakhirnya. Untuk pertama kalinya Zidane menangis karena kehilangan seseorang yang ia cintai.

“Kamu disananya yang tenang, ya. Cari Iqbal sampai ketemu. Semoga kamu bahagia.” gumamnya dalam hati. Zidane merasakan kepedihan yang mendalam karena kehilangan Nazwa. Zidane hanya berdoa yang terbaik untuk Nazwa. Kini Zidane hanya sendiri, meratapi sunyinya malam. Selamat Tinggal, Nazwa.

Cerpen Karangan: Zahra Nia
Facebook: Zahra Nia S

Cerpen Terjebak Nostalgia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Coretan Sekolah

Oleh:
Masa sekolah adalah masa yang paling indah dalam hidup. Terutama masa SMA. Masa dimana transisi kita menuju kedewasaan. “Jay, menurut kamu, masa SMA itu apa sih?” tanya Ririn teman

Sahabat di Kesunyian

Oleh:
Awan begitu tipis hari ini hingga Matahari terasa sangat menyengat aku pun berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang yang akarnya sangat kokoh. Aku teringat tentang sebuah peristiwa besar

Kisah Yang Tak Sempurna

Oleh:
Cinta memang tak selamanya bisa indah Cinta juga bisa berubah menjadi sakit Begitu yang kurasakan kini Perih hatiku Tinggal kehancuran Mengapa sebagian orang tua membatasi setiap anak mereka dalam

Always In Our Heart (Part 2)

Oleh:
Roy melayang bersama kilatan cahaya putih dan terdampar di lorong tak berujung. “Tolong kembali Roy.” Kata-kata yang berulang kali ia dengar ketika tak tahu harus menetapkan arah langkah. Seper

Mengapa Dia Bukan Milikku?

Oleh:
Di pelupuk mata masih teringat indahnya kebersamaan di antara aku, kau dan sahabat-sahabat kita. Kala senang, sedih, duka dan gembira selalu kita jalani bersama. Sungguh indah semua itu, rasanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *