Terlalu Mencintai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 13 August 2016

“Masih berapa lama lagi Qi?” aku menoleh dan ternyata ia adalah Taufik sahabat yang paling dekat denganku. “Masih berapa lama lagi kamu mikirin dia Sauqi?” Lanjutnya. Aku hanya melirik tak peduli pertanyaannya itu. “dia sudah pergi meninggalkanmu! Tapi kamu masih saja…” Sebelum dia melanjutkan pembicaraannya langsung kupotong. “Dia pasti kembali Fik! aku percaya itu!” Jawabku tegas. “tapi kamu sadar gak kalo..” “aku sadar kok!”. lekas pergi meninggalkannya.

Mungkin mereka berpikir aku adalah orang yang bodoh, sudah disakiti tapi masih mencintai, sudah dilupakan tapi aku tidak melupakan, bahkan sudah dikhianati tapi masih saja setia menanti. tapi ya mau apa lagi karena memang itulah perasaanku, bahkan aku berpikir jika hidupku tinggal 1 hari lagi atau 1 jam lagi ataupun 1 menit lagi maka saat itu aku akan bahagia jika dia yang menemani hari terakhirku.

Aku terus berjalan mengitari sebuah tempat yang menjadikan momen-momen terindah dulu. ya hanya itulah yang aku lakukan setiap hari, mengupas kenangan yang telah berlalu meski tanpanya akan kulalui tempat saat-saat kita bersama. karena pada dasarnya tak ada tempat yang mudah tuk kulupakan.

Kenangan-kenangan yang masih terngiang di telingaku dan sebuah memory yang menempel di pojok otakku membuatku jadi senyum-senyum sendiri, mengingat kembali sewaktu dulu, menari-nari, tertawa bahagia, bercanda tawa. tapi entah mengapa saat aku mengingat kembali bahwa semua sudah berlalu bagai kayu bakar yang telah menjadi abu dan tertiup angin. aneh hatiku teramat sakit seperti teriris pisau yang begitu tajam hingga membuat goresan yang sebegitu banyak saat mengingat itu!

Aku tertunduk lemas saat itu, angin berhembus begitu sejuknya hingga membuat hati ini semakin tersiksa menahan sakit yang sangat. Aneh tiba-tiba kepalaku pusing, sakit, sakit sekali kepalaku, kutengok kiri-kanan tapi entah kenapa hari itu tak ada orang yang melintas di tempatku.. Brruuuaakkk…

Buram, sungguh dunia ini begitu buram saat ku membuka mata, kukedipkan dan kuusap-usap mataku dan membukanya secara perlahan, ternyata ada sosok perempuan cantik yang kudapati, perempuan yang selama ini aku harapkan, perempuan yang selama ini aku impikan ia mengatakan padaku. “aku akan selalu ada di hatimu, Always and forever”. Aku terbangun untuk yang kedua kalinya, aneh, tapi yang aku rasakan tadi adalah nyata bahwa semua bukanlah mimpi, kutengok kiri-kanan tapi tak ada wanita yang tadi mengatakan itu, kemana perempuan tadi hanya itulah yang ada di otakku tak pedulikan keadaan di tempat itu. “Qi, kamu kenapa? Qi”. hanya pertanyaan yang begitu panik saat itu kudengar, aku mengenali suaranya, tapi entah kenapa aku tak mampu berkata yang ada di pikiranku hanyalah perempuan tadi. Tiba-tiba lemas sekali tubuhku, entah apa yang dokter lakukan padaku, mungkin dia menyuntikku dengan suntikan penenang. “Qi, kamu tak apa-apa?” Suara yang begitu khas kudengar, tapi kuhiraukan pertanyaan itu. “yan.. yani kemana Fik?” aku bertanya dengan suara yang begitu parau. “Yani? tak ada Yani di sini Qi, dari tadi aku yang di sini” tapi aku terus menanyakan itu padanya hingga dia menepuk-nepuk pelan pipiku berharap aku berhenti menanyakan Yani, perempuan yang telah pergi, hilang dan melupakanku dari hidupnya.

Entah seistimewa apa dia, hingga aku tak mampu menghapus nama dan kenangannya di dalam memoryku. ingin sekali aku jatuh cinta kembali, tapi mengapa semua sulit! bahkan aku selalu bertanya dengan Tuhan mengapa aku hanya mencintai Yani?
hidupku hancur sudah, ini bukan karena dia tapi karena aku yang terlalu mencintai dan menyayanginya. mungkin Tuhan sedang menguji kecintaanku terhadapnya.

Duduk dan tersenyum saat itu aku lakukan di halaman rumahku, merenungkan diri sambil melihat kendaraan sedang lalu lalang yang melintas di jalan depan gerbang rumahku, aku mencoba untuk bangkit, meskipun sulit tapi aku harus bangkit, agar aku menghilangkan namanya dan menghapus memory yang mungkin sudah dipenuhi oleh sarang laba-laba semenjak tak lagi bersamanya 2 tahun yang lalu.

kini aku hidup dengan membawa sejuta harapan, harapan yang paling utama adalah untuk tak mencintainya lagi, karena aku terlalu mencintainya.

Cerpen Karangan: Ahmad Baihaqi
Blog: cerpenbaihaqi.blogspot.co.id

Cerpen Terlalu Mencintai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rembulan Tanpa Cahaya

Oleh:
Aku bagai lilin kecil tanpa cahaya. Berlari-lari dari kenyataan yang begitu kelam ku rasakan kini. Dulu kau bagai madu yang terucap manis sekali di telingaku. Namun kini kau adalah

Dandelion Garden

Oleh:
Entah sudah berapa lama aku duduk diam tanpa kata di sini, Menatap peri peri kecil yang menari kian ingatkan aku pada senyum gadis yang amat aku rindukan. Kau begitu

Asmara Belia

Oleh:
Ku lajukan armada roda duaku perlahan, dengan hembusan angin yang terasa menyentuh kulitku perlahan. Sesekali ku guratkan senyuman, namun tetap saja wajahku nampak masam. Kini kembali ku terbawa dalam

Cinta Pertamaku Sepupuku

Oleh:
Malam begitu dingin, dengan hembusan angin yang menyentuh secara perlahan. Tiba-tiba Hp-ku berbunyi, ternyata pesan datang dari Kakak onyonk. Dia adalah sepupuku yang tinggal di seberang pulauku, tepatnya kota

Titik Noda

Oleh:
Seperti gadis belia pada umumnya, aku memiliki banyak teman dengan segala kegembiraan yang ada. Senyuman seolah tak pernah sirnah menghiasi wajah yang memang tak seberapa dibanding sekian teman dekatku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *