Terluka Akan Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 23 September 2017

“meskipun aku tak seterang kejora, tetapi aku masih bintangmu yang akan jatuh tepat pada hatimu”

Tepat saat matahari mulai mengusap lembut wajahku, aku pun mulai membuka mataku perlahan. Kulihat sosok lelaki itu masih tertidur pulas di sebelahku, tak tega untuk membangunkannya, aku pun bangkit dan mencuci mukaku lalu setelah itu aku pun beranjak ke luar kamar dan menuju dapur.

Aku mulai berkutik dengan bahan-bahan makanan yang berada di dapur, ini adalah kegiatan rutin yang setiap pagi kulakukan. Membuatkan sarapan untuk suamiku tercinta sebelum ia berangkat bekerja, walaupun baru tiga bulan umur pernikahan kami, tetapi aku membiasakan diriku untuk membuatkannya sarapan. Karena ini adalah kewajibanku sebagai seorang istri.
Lelaki yang telah menikahiku itu bernama angga, lelaki yang kini amat kucinta dan amat kusayangi.

Setelah selesai membuatkan sarapan untuk mas angga, aku pun menyiapkannya di meja makan, tak lupa juga aku telah membuatkan jus alpukat kesukaannya. Aku pun maenunggu kedatangan suamiku itu untuk sarapan bersama, tak lama kemudian sosok mas angga pun datang lengkap dengan pakaian kerjanya.

“mas sarapan dulu, aku udah buatin makanan buat kamu gak lupa juga jus alpukat kesukaan kamu” ucapku dan mas angga hanya melihatku sesaat dan langsung membuang wajahnya.
“saya gak laper” ucapnya singkat.
“oh kalau kamu gak laper, kamu minum ya jus alpukatnya” aku pun memberikan segelas jus alpukat itu padanya.
Aku pun tersenyum saat tangannya mulai menggapai segelas jus tersebut, ia pun melihatku dan bergantian melihat jus di tangannya. Setidaknya aku akan merasa amat senang karena ia meminum jus buatanku itu. Akan tetapi ia pun mmebalikkan gelas tersebut dan membuat jus alpukat itu jatuh mengalir ke lantai. terkejut bukan main, aku pun berjongkok untuk menahan jus tersebut habis ke lantai, akan tetapi usahaku sia-sia. Mas angga pun menatapku dengan senyuman sinisnya.
“saya tidak butuh apapun dari kamu wanita sialan, dan jangan berharap bahwa aku akan sudi menganggapmu sebgai istri” teriaknya sambil melemparkan gelas itu di hadapanku dan membuatnya terpecah belah.

Setelah melakukan itu, ia pun melangkah pergi menjauhiku dan berangkat menuju tempatnya bekerja. Sementara aku masih terdiam meratapi sikap suamiku yang selalu sama padaku setiap harinya. Satu tahun lamanya aku harus tinggal bersama orang yang amat sangat kucintai dan juga amat sangat membenciku.

Pernikahan ini terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtua kami yang amat ingin anak mereka menjadi pasangan suami istri. Harus kuakui bahwa pertama kali melihatnya pun aku sudah mulai jatuh cinta padanya, akan tetapi ternyata mas angga lebih dulu memiliki seorang kekasih. Mereka pun memilih untuk memutuskan hubungannya karena keinginan ibu dari mas angga untuk menikahi putranya denganku.

Dari awal pernikahan kami, bahkan dari awal pertemuanku dengannya aku telah mengetahui bahwa angga smaa sekali tidak mencintaiku. Menikah denganku pun hanya karena permintaan ibunya yang tidak bisa ia tolak, tetapi aku terlalu yakin pada diriku yang suatu saat nanati bisa membuatnya mencitaiku.
Ia sama sekali tidak pernah menyentuhku, bahkan untuk menatapku dalam waktu lama pun tak sudi ia lakukan. Aku pun sudah sering menerima perlakuan kasarnya padaku, entah dalam bentuk fisik ataupun batin. Aku tak pernah mengatakan hal ini pada siapapun, karena yang orang lain tau tentang kami adalah bahwa kami pasangan yang baik-baik saja.

Air mataku pun mengalir, aku berusaha untuk mengambil setiap pecahan gelas itu dan mengumpulkannya hingga tak ada yang terluka. Tak lupa aku pun membersihkan tumpahan jus alpukat yang telah kubuat, sarapan yang telah kubuat pun pada akhirnya kumakan seorang diri.

Pada pukul sepuluh malam, aku masih terjaga karena mas angga belum juga pulang, tidak seperti biasanya, hari ini ia pulang sangat larut. Sambil menonton televisi dan ditemani cemilan buatanku sendiri, aku pun masih terus menunggu hingga suamiku pulang. Akan tetapi mataku tak bisa diajak bekerja sama, dan aku pun tertidur di sofa.

Tok.. tok… tok…
Aku pun sontak membuka mataku saat pintu rumah mulai berbunyi, aku bisa menebak bahwa itu adalah mas angga. Kulihat jam di dinding telah menunjukkan pukul dua dini hari, apa yang telah dilakukan oleh suamiku hingga pulang selarut ini. Aku pun berjalan menuju pintu dan suara pukulan pada pintu itu semakin keras, dan aku tau pasti bahwa mas angga akan marah besar padaku.

Aku pun membuka pintu dan mendapati sosok mas angga yang tengah mabuk dan tak bisa menahan tubuhnya sendiri. Ia pun mulai memasuki rumah sambil mengatakan hal yang tidak jelas, sesekali ia terjatuh dan bangkit kembali. Hingga akhirnya ia pun menghempaskan dirinya di atas sofa, aku pun mulai mendekatinya dan melepas sepatu yang masih dipakainya.

“dari awal saya tidak pernah mau sama kamu, kamu bukan orang yang saya cinta, saya lakukan ini hanya untuk menuruti permintaan ibu. Kekasihku meninggalkanku karena kamu, harusnya saya hidup bahagia bersamanya, kamu jahat dan memisahkan kami. Kamu memang sumber malapetaka” ucap mas angga masih dibawah alam sadarnya.
Walaupun itu adalah perkataannya yang masih dalam keadaan mabuk, akan tetapi itu sangat menusuk tajam padaku. Ia mengatakannya seolah aku adalah dalang dari segala keterpurukannya, dan ia mengatakan bahwa ia tidak pernah bahagia bersamaku. Tak terasa air mataku pun mengalir, aku harus dihadapkan kembali dengan setiap hinaannya padaku.

Aku pun berusaha untuk menyadarkan mas angga dan mmebuatnya bangun dan pindah menuju kamar. Dengan susah payah akhirnya aku pun berhasil untuk mmeindahkan mas angga untuk kembali tertidur di kamar. Aku pun menatap wajahnya yang tenang dalam tidurnya, aku pun memberanikan diriku untuk menyentuh wajahnya.

Tanganku bergerak meraih wajahnya, walaupun bergetar hebat aku pun meneruskan niatku untuk menyentuhnya. Aku pun menyentuh pelan wajahnya itu, kuusap lembut wajahnya tak ingin ia sampai terbangun, Ini kali pertama ku menyentuh wajahnya dan dekat dengannya. Saat aku beranjak menjauh darinya, tiba-tiba saja ia menarik lenganku sampai aku terjatuh tepat di sebelahnya.
Dan saat itu, aku seolah bukan lagi seorang istri lagi baginya melainkan seorang pel*cur yang hanya menjadi pelepas dahaganya. Air mataku pun terus mengalir dengan semua perlakuan yang kuterima dari sosok suamiku itu. Tak ada sentuhan lembut melainkan kekerasan tanpa akhir, tak ada cinta melainkan nafsu yang menggebu-gebu.

Aku membuka mataku yang terasa perih karena terus menerus menangis, kulihat keadaanku begitu menyedihkan. Di sebelahku berbaring sosok mas angga yang masih terlelap dalam tidurnya. Aku pun mencoba untuk bangkit dari tempatku akan tetapi terasa amat sakit di bagian bawah sana. Kulihat terdapat bercak merah yang terdapat pada sprei putih kami, aku pun menangis karena mengetahui bahwa kesucianku telah direnggut oleh suamiku sendiri.

Aku pun melawan rasa sakitku dan bangkit dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku. Di bawah rintikkan air, aku pun kembali menangisi diriku sendiri, yang telah dinodai oleh suamiku sendiri. Setelah selesai aku pun keluar dari kamar mandi dan mendapati sosok mas angga yang sudah terbangun.

“mas…”
“apa yang sudah kamu lakukan hah!!! Kau berusaha menjebak saya? Tidak kah cukup kau membuat saya menderita?” ucapnya dnegan nada tinggi padaku.
“mas semalem kamu mabuk dan aku…”
“gak perlu lagi kamu mencari alasan, seharusnya sejak awal saya menolak untuk dijodohkan dengan wanita sialan seperti kamu, yang selalu membuat saya menderita”
“mas aku ini istri kamu, kamu berhak atas dirimu tetapi setidaknya mintalah padaku, bukan memperlakukanku seperti pel*cur dan…”
PLLLAAAKKK!!!
Pipiku terasa panas, kata-kataku pun terhenti saat mas angga telah menamparku dan air mataku pun kembali mengalir. Ia menarik wajahku hingga dekat dnegan wajahnya, mata kami saling menatap cukup lama. Tatapannya begitu dipenuhi dengan amarah, sama sekali tak ada cinta yang terlihat dari matanya itu.
“ingat baik-baik witri, sampai kapanpun saya tidak sudi untuk mengakui bahwa kamu adalah istri saya. Kamu hanyalah malapetaka yang tiba-tiba saja hadir dalam hidupku, dan aku bersumpah untuk melakukan apapun agar kita bisa berpisah” ucap dengan amarah dan mendorongku hingga terjatuh, ia pun meninggalkanku yang masih terdiam di tempat.

Seminggu setelah kejadian itu, kini sikap mas angga lebih tambah pendiam padaku, bahkan aku seolah dianggapnya tidak ada di rumah. Tetapi sebagai seorang istri aku masih terus melakukan kewajibanku padanya, walaupun ia sama sekali tidak pernah menyadarinya. Bahkan kini ia jarang sekali pulang ke rumah dengan alasan pekerjaan yang amat menumpuk, aku hanya bisa mengerti dengan keadaannya saat ini.

Pada saat sore hari, aku tengah membuat makan malam untukku dan juga untuk suamiku, walaupun tak pernah ia makan. Tak lama kemudian pintu rumah pun terbuka dan sosok mas angga pun muncul di balik pintu tersebut.
“mas makan malamnya sudah siap, kalau kamu mau nanti aku angetin lagi ya” tawarku padanya.
“gak perlu diangetin, saya mau makan sekarang” ucapnya datar.
Aku pun terkejut bukan main, karena yang kudengar itu nyata bahwa mas angga ingin makan masakanku untuk pertama kalinya. Aku pun dengan sigap menyiapkan makanan tersebut di atas meja makan, setelah memberikan sepiring nasi lengkap dengan lauknya pada mas angga aku pun duduk di sebelahnya.

Dengan tenang mas angga pun mulai memakan masakanku, sendok demi sendok ia terus masukan pada mulutnya. Dan aku hanya melihatnya dengan rasa senang karena akhirnya masakanku bisa dirasakan oleh suamiku sendiri. Ia pun menghentikan makannya dan menatap ke arahku.
“kamu gak makan?” tanyanya dan aku pun hanya mampu menjawabnya dnegan anggukan kepala.
Setelah selesai makan malam, mas angga pun mengajakku untuk berbicara hal yang penting. Entah ada apa dengannya sore ini ia amat berubah dan membuatku senang karena tak pernah mendapat perlakuan seperti ini darinya.

“saya mau kamu menandatangani ini” ucapnya sambil memberi sebuah map hijau.
Aku terkejut karena apa yang tengah kupegang adalah surat gugatan cerai, ternyata keinginan mas angga untuk mmebuat kami berpisah itu sungguh-sungguh. Aku pun menarik nafas panjang dan mencoba memikirkan semuanya baik-baik, pada kenyataannya mas angga tak ingin lagi hidup bersamaku.
“ternyata kamu sungguh-sungguh ya mas untuk mengambil keputusan ini, gak apa-apa aku ngerti. Aku hargai keputusan kamu untuk cerai dengan aku, satu hal yang harus kamu tau mas semenjak kita ketemu waktu itu. Pertama kalinya aku liat kamu aku udah jatuh cinta sama kamu, amat bahagia saat kamu menyetujui tentang perjodohan kita waktu itu. Disitu aku mulai berpikir betapa bahagianya hidup sama kamu mas” aku tak bisa menahan lagi apa yang ingin kukatakan.
“tapi ternyata semuanya gak sesuai apa yang kita pikirkan ya mas, ternyata aku bukan sosok wanita yang kamu cintai. Tapi sampai sekarang, sampai detik ini aku akan selalu berusaha untuk pantas buat kamu, aku selalu berusaha untuk menjadi istri yang terbaik buat kamu. Mungkin salah aku yang terlalu berharap kamu bisa mencintai aku mas dan harapan itu terlalu tinggi bagi aku. Maafin aku yang selama ini hanya bisa membuat kamu susah, dan menjadi malapetaka buat kamu. Tapi aku gak pernah mau menjadi sepeti itu di hidup kamu mas” air mataku pun akhirnya mengalir.

Reaksi mas angga hanya terdiam mendengar perkataanku, ia menatapku dengan tatapan datarnya. Aku terus melontarkan senyumanku pada mas angga, berharap bahwa senyuman terakhir baginya adlah senyuman yang terindah.
“aku bahagia mas, aku bahagia karena sudah menjadi istri kamu, terima kasih telah menjadi suami dan juga imam yang baik bagi aku. Tiga bulan yang berharga dalam hidupku yang tidak pernah aku lupakan, semoga setelah perpisahan kita kamu akan mendapat pengganti yang lebih baik daripada aku ya mas” ucapku dan langsung membuka map tersebut dan mulai memberika tanda tangan di atas materai.
“semoga kamu lebih bahagia setelah perpisahan kita ya mas” aku pun meraih tangannya dan mencium punggung tangannya dengan air mata yang masih mengalir.
“maaf” ucap mas angga dengan datarnya.

“tuhan, jika mencintainya adalah dosa maka ampunilah aku. Aku yang tak bisa menghentikan cinta ini padanya, hanya bisa berharap bahwa ia akan menyadari cinta ini. Ternyata mencintai seseorang dengan tulus itu tak mudah, berbagai karang tajam telah kulalui untuk mendapatkan cinta itu. Haramkah aku untuk bisa mendapatkan cinta yang kuinginkan? Salahku bila aku memiliki cinta yang hakiki? Hatinya tertutup untukku, aku tak memiliki kunci untuk membuka kembali hati tersebut. Aku kini berharap suatu saat nanti datang seseorang yang memiliki kunci hatinya dan mampu untuk membuka kembali hatinya. Tak apa bila tak bersamaku, yang terpenting adalah kebahagiaannya, bila tanpaku akan membuatnya lebih baik, maka aku akan pergi”

Cerpen Karangan: Rizky Anugrah Pratama
Facebook: Rizky Anugrah Pratama
Nama: Rizky Anugrah Pratama
Status: mahasiswa
Id line: rizkyap27

Cerpen Terluka Akan Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Mu Bukan Untuk Ku (Part 1)

Oleh:
Kalimat itulah yang selalu ku bisikkan dalam hatiku sepanjang kebersamaan kami. Menikah denganya mungkin adalah kesalahan terbesar dalam kehidupanku. Bagaimana aku bisa tiba-tiba hidup bersamanya, andai saja tidak ada

Penantian Berharga

Oleh:
Gadis berambut hitam itu terkejut ketika menemui sosok pria yang duduk di sampingnya secara tiba-tiba. “Lo kenapa sih ngikutin gue terus?” tanya gadis itu kian kesal. “Emang udah tugas

Goresan Cinta Sebuah Diary

Oleh:
Tempat yang indah. Tempat apa ini…? Sepertinya aku baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini. Suasananya sangat sejuk, damai dan indah. Bunga-bunga bermekaran indah dan penuh warna. Dan

Where Love Sleeps

Oleh:
Ini adalah kisah cinta antara manusia dan robot, antara Eiry dan Rachel. Eiry adalah pemuda yang tak punya waktu banyak untuk hidup di dunia ini sedang Rachel adalah robot

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *