Terpaut pada Satu Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 21 April 2014

Saat ini Cares hanya terdiam, terpaku, dan membisu. Hanya rangkaian butiran beninglah yang selalu setia menemaninya tatkala ia mengingatnya, mengingat segala kenangan indah yang telah ia lalui bersamanya. Cares tahu semua memang sudah terjadi, tapi ia tak akan mampu menghapusnya dari bayangnya, ia tak mampu melupakan semua kejadian itu dan ia tak akan pernah mampu membuang begitu saja semua kenangan itu.

Selama 16 tahun Bram selalu membuatnya serasa melayang tapi kini ia pula yang menjatuhkan dan menghempaskan Cares pada jurang kepedihan. Meski begitu tetap saja hingga kini Cares tak tahu bagaimana cara kembali bangkit tatkala ia jatuh setelah lama terbang bahagia bersama Bram.

“Cares, kamu kenapa?” Arlin yang kini tengah menemaninya di ruang rawat ini mencoba membuyarkan lamunan Cares. Tapi tidak berhasil, Cares hanya menggeleng tanpa memberi tanggapan yang lebih.

Kini Cares tengah berhadapan dengan si dia yang hadir lagi saat ini. Ya, kenangan itu kembali hadir menyusup ke dalam hatinya dengan membawa kepedihan. Telah ribuan kali Cares mencoba untuk menepisnya, namun kenangan itu seolah memaksanya dan mendobrak pintu hatinya dengan kasar. Sebenarnya, sangat tidak perlu Cares bernostalgia dengan hal itu, tapi tiba-tiba saja ia terhanyut oleh buaian memori yang menyiksanya.

Dalam hening yang memeluk, Cares hanya ingin terpejam tapi bayangnya begitu gigih diam di pelupuk matanya yang lelah. Resah kembali terurai tatkala batinnya berteriak memanggil seseorang yang dirindukannya. Banyak hal berkecamuk dan membuatnya penat.

“Cares, Kakak tahu pasti kamu lagi ada masalah kan?” tanya Arlin lagi dan Cares hanya menanggapinya dengan sebuah gelengan.
“Res, kamu itu bukan manusia yang pintar untuk menyembunyikan masalah. Hanya karena lihat mata kamu, Kakak dan semua orang bisa tahu apa yang kamu rasa,” Arlin mengusap pundak Cares dengan lembut, “Kamu mau kan berbagi kesedihan kamu sama Kakak?” tanyanya dengan penuh ketulusan.
Cares akhirnya menoleh dan menatap mata Arlin dengan sangat dalam, “Kak, salahkah aku memiliki rasa untuk seseorang di sana? Salahkah aku terpaut pada satu cinta? Salahkah aku tak mampu berpaling dari satu hati?”
Arlin menanggapi, “Cares, cinta itu adalah naluri alami yang terlahir secara tulus dari hati dan merasuk pada jiwa setiap manusia,” Arlin menatap Cares dengan lembut, “Apa yang kamu rasa itu gak salah, tapi itu juga bukan berarti kamu benar. Res, semakin lama kamu menyimpan rasa yang gak berbalas itu, Kakak yakin kamu akan semakin tersiksa.”
“Aku akan berusaha, Kak. Tapi entah sampai kapan aku mampu bertahan. Otakku menuntutku untuk berlari dan meninggalkan rasa itu, tapi hatiku menuntutku untuk diam dan menetap,” kata Cares dengan mata yang begitu sendu.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?” Arlin kembali bertanya dengan tatapan yang tajam.
Cares menyeka matanya, “Aku akan terus berharap agar waktu mengubah dunia ini menjadi seperti apa yang aku harapkan,” ucapnya singkat.

Cerpen Karangan: Deyanggi Bhi
Blog: www.http//world-sastra.blogspot.com
Facebook: Deyanggi Bhi Author
Deyanggi Bhi adalah seorang remaja yang gemar menulis fiksi sejak kecil.Sedang mengenyam pendidikan kelas XI jurusan IPS di SMAN 6 Garut. Penulis Novel, Pengamat Sastra, Pecinta Fiksi.

Cerpen Terpaut pada Satu Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Tak Akan Padam

Oleh:
Masih ku ingat tentang hari itu. “bi kita putus, aku udah gak sanggup pacaran sama orang yang egois kayak kamu” kata-kata itu mengalir begitu saja tanpa aku sadari. “hah?

Kangen

Oleh:
Dalam gelapnya malam, dalam kesendirian yang akhirnya membuat Aldo larut dalam kesedihan yang mendalam. Hembusan angin malam menyeruak masuk ke dalam tubuhnya. Hidupnya kini terasa hampa dan sepi. Senyum

Menantimu di Bawah Tirai Hujan

Oleh:
Waktu telah menunjukkan pukul 06.00 aku segera bersiap siap untuk berangkat sekolah. “Aisyah kamu nggak sarapan dulu?” tanya ibu padaku. “Nggak bu, aisyah udah buru buru”. Jawabku sembari mengecek

Laras Dan Damar

Oleh:
Dahulu kala di sebuah kampung ada seorang gadis yang sangat cantik dan baik, gadis tersebut bernama Laras, dia banyak diperebutkan oleh para pemuda saat itu. Tetapi Laras menolak semua

Cinta Pertamaku Telah Tiada

Oleh:
Hembusan lirih angin ini semakin mengingatkanku tentang kasih sayang Ibu yang kini telah sirna. Dekapan hangat Ibu kini telah menjadi kenangan. Petuah-petuah Ibu kini telah tiada. Ibu bagai boneka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *