Tetap Menunggu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 6 May 2017

Aku selalu meyakinkan hati ini, bahwa hujan pastilah akan berhenti. Api yang mengamuk pun pasti akan padam. Begitu pun keyakinanku terhadapnya, laki-laki yang selama ini bersamaku. Ah! Mungkinkah hanya aku yang mengatakan itu. Ia yang setiap hari bergelut dengan kegiatannya, bahkan aku tak mampu berkutik ketika ia sedang asyik dengan dunianya. Siapa aku baginya, hanya pendamping. Yah, hanya pendamping yang dengan sejuta perih menunggunya berbalik dan menghampiriku.

Kulihat jam yang melingkar di tanganku. Tepat pukul 4 sore. Dua jam sudah aku duduk seorang diri di bangku penonton.
“Tunggu ya aku diajak main futsal” Pintanya dua jam lalu saat hendak pulang denganku.

Mungkinkah ia tak ingat ada aku yang sedang menunggunya. Kau tak melihatku? Ataukah memang sengaja mengabaikanku. Berjuta tanya melayang dalam pikiranku. Namun sekejap semua itu lenyap kala kulihat bibirnya tersenyum lepas, tertawa riang bersama temannya. Itu saja sudah mengobati rasa lelah menunggunya. Meski tak dapat kupungkiri lelah menunggunya begitu menyayat hati. Tapi tak ada yang bisa kulakukan selain tersenyum ketika ia berbalik menghampiriku.

“Ah, maaf kelamaan” Ucapnya seraya meminum air mineral yang kuberikan padanya
“Nggak apa-apa” Balasku dengan senyum tipis
“Ayo pulang” Ajaknya

Lelah terobati, hatiku terasa begitu ringan ketika kudapati ia telah ada di sampingku lagi. Aku bersyukur meski itu hanya sesaat kurasakan.

Waktu terasa begitu singkat. Memakan kebersamaan kita, sedikit waktu yang kuhabiskan denganmu. Hanya untaian kata yang tetap menghubungkan kita.

“Pagi Fi” Sapa Reza yang sudah menunggu di depan rumah dengan sepeda motornya.
“Pagi Za” Balasku tersenyum padanya
“Ayo berangkat” Pintahnya
Dan aku bersyukur kembali setidaknya pagi ini aku masih bisa berangkat ke sekolah bersamanya.

Pagi yang cerah, nampaknya sang mentari begitu ceria hari ini. Namun nyatanya sekelilingku tak tampak seceria sang mentari. Muka lemas itu, muka murung itu, dan muka jengkel itu nampak jelas terlihat di bawah sinar sang mentari, melukiskan bahwa pagi ini begitu menjadi beban untuk mereka.
Tapi tidak denganku. Selagi aku menikmatinya maka beban itu akan terasa ringan. Apalagi dengan adanya dia yang setiap hari tetap tersenyum ditengah padatnya aktivitas sekolah. Melihatnya bersemangat aku pun ikut semangat karenanya. Sosok yang selalu kutunggu. Entah kapan ia benar-benar ada di sampingku.

“Mau ke kantin nggak?” Ajak Reza menghampiriku yang sedang asyik membaca novel
“Bo…” Belum sempat aku menjawab sudah ada yang mengusik
“Eh za, gimana buat turnamen futsal minggu depan? Sudah harus direncanain nih” Jelas Andri yang sudah berdiri di belakang Reza
“Ah iya, ayo kita omongin sama yang lain” Balasnya
“Bentar ya” Pintanya yang buru-buru mengejar Andri. Aku hanya menganggukan kepala dengan seulas senyum
Perih terasa tapi senyum ini menahan airmata di pelupuk mata agar tak jatuh membasahi pipi.

Aku menunggunya kembali, tapi hingga bel berbunyi ia tak kunjung datang kepadaku.
“Tak apa” Ucapku menguatkan
Hingga bel tanda pelajaran berakhir pun ia tetap tak melihatku. Aku hanya duduk terdiam di bangku menyaksikan satu persatu anak-anak meninggalkan kelas. Yang tersisa hanya aku, Reza dan teman-temannya. Aku masih menunggunya berbalik melihatku. Aku yakin ia tidak melupakanku.

Setengah jam aku menunggunya berbalik melihatku, nyatanya ia masih asik dengan topik pembicaraannya. Hingga kudapati salah satu temannya mengakhiri pembicaraan itu. Ia pun mulai bergegas pergi dengan teman-temannya. Ia tak melihatku. Sakit. Ah tidak, ia berhenti di ambang pintu.
“Tuhan tolong, menolehlah ke belakang za” Harapku dalam hati
Kutemukan matanya melihat ke arahku. Raut wajah yang begitu terkejut, ia datang menghampiriku.
“Maaf” Ucapnya penuh penyesalan yang telah lupa akan kehadiranku
“Aku nggak apa-apa” Balasku dengan senyum yang begitu mengiris hati
Betapa aku tak berdaya melihat wajah murungnya seperti itu. Amarah yang sempat memuncak pun redam karena penyesalannya.

Aku tahu ini begitu sulit bagiku menunggunya yang tak tahu bahwa aku menunggunya. Menantinya yang tak tahu setiap detik waktuku hanya untuk berharap ia berbalik dan menghampiriku. Biarlah akan tetap seperti itu.
Aku akan tetap menunggu hingga lelah itu yang akan membunuhku. Aku yakin kau pasti berbalik dan tersenyum menghampiriku. Karena cinta ini tak kan lelah menanti kedatanganmu. Sungguh penguat hati yang tak berakar.

END

Cerpen Karangan: Sanima San
Blog / Facebook: reputasi5.blogspot.com / Nima Sansan Sanima

Cerpen Tetap Menunggu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Untukku (Part 2)

Oleh:
Hari semakin petang. Segera kukembali ke rumah. Pikiranku melayang. Entalah apa yang kupikirkan. Aku butuh waktu sendiri. Kali ini aku tak langsung pulang. Aku menuju sebuah taman yang cukup

Cinta Sehari

Oleh:
Renita berangkat pagi-pagi. Di pintu gerbang, Nampak mang Udin sedang menyapu halaman sekolah. Ia mengenakan kaos biru yang sudah kusam. “pagi pak”, sapa Renita ramah. Mang Udin menjawab salamnya

Ku Serahkan Semua Hanya Kepada Nya

Oleh:
Kumandang azan subuh telah terdengar jelas di telingaku. Ku bangunkan dan kudirikan tubuh ini lalu mengambil air wudu dan aku pun menunaikan salat. Sehabis salat ku baringkan kembali tubuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *