The Last Destination (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 3 November 2017

Setelah kunjungan tante Nindy ke rumahku 2 minggu lalu, aku masih belum bisa bertemu dengan Justin. Entah apa yang salah, tapi aku merasa Justin seperti menghindariku. “Justin, we need to meet” aku mengirim pesan singkat pada Justin, dan lagi-lagi Justin tidak membalas. Hingga 1 bulan berlalu aku masih belum bisa bertemu dengan Justin.
Saat itu bulan Februari ketika aku sedang menghadiri pameran art’s di salah satu musium di Jakarta, aku tidak sengaja melihat Justin yang berpakaian hangat di hari yang cukup cerah ini, sedang memandang salah satu lukisan.

“Justin.” panggilku ketika aku sudah berada di dekatnya.
“Ayra.” Jawab Justin sedikit terkejut dan terus menatapku. “Sejak kapan kau di sini?” tanyanya masih dengan menatapku.
“Justin, i don’t know what happen to you, aku tidak tau kenapa kau terus mengabaikanku belakangan ini. Tapi tolong beri aku waktu untuk berbicara denganmu, sebentar saja.” ucapku tanpa menjawab pertanyaannya.
“Bagaimana kabrmu?” tanyanya memulai percakapan saat kami sudah duduk di cafe dekat musium.
“Bagaimana menurutmu, apa aku baik-baik saja ketika aku tidak pernah mendengar kabarmu? Apa hidupku bisa tenang? Bahkan ketika ibumu datang dan menitipkanmu padaku sedangkan aku sendiri tidak bisa menemuimu.” jelasku masih menahan emosi. “Justin ada apa denganmu? Kenapa kau tidak pernah mengangkat telponku bahkan jika aku mengirimimu pesan kau juga jarang membalasnya, kalau pun kau membalas kau selalu membuat alasan sibuk. Aku tau kau memang seorang pria yang selalu sibuk, tapi aku merasa sibukmu kali ini berbeda, aku merasa kau seperti sengaja menghindariku. Apa aku melakukan kesalahan padamu? Aku tidak tau apa kesalahanku padamu, tapi aku minta maaf. Tolong jangan seperti ini.” Lanjutku kali ini dengan emosi yang tidak bisa dibendung lagi.
“Terima kasih telah mau menerima amanat ibuku. Tapi aku tegaskan padamu, hubungan kita tidak lebih dari teman, kau tidak salah, aku hargai sikap perhatianmu. Tapi sekali lagi aku juga memiliki hidupku sendiri, aku memiliki urusanku sendiri yang tidak perlu kau tau. Dan mulai sekarang lebih baik kita tetap seperti ini. Dan mulailah melupakan semua perkataanku tentang sebuah harapan.” jelasnya dengan wajah serius. Dan tak lama Justin berhenti berbicara ponselnya, berdering.
“Hallo” jawabnya ketika menempelkan ponsel di telinganya.
“Baiklah Clara, aku akan segera keluar.” jawabnya lagi lalu memutuskan hubungan.
“Maafkan aku dan terima kasih untuk segalanya. Aku pergi.”

Tanpa mampu berkata apapun aku hanya mampu melihat punggung Justin yang menjauh dan keluar dari cafe menuju mobilnya, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang wanita cantik yang sedang menunggu di samping mobil Justin. Dan tanpa sadar saat itu air mataku sudah mengalir deras membanjiri pipiku.

Sudah beberapa minggu berlalu, aku masih saja tidak bisa fokus dengan hidupku, aku masih sering menyendiri dan merenungi segalanya yang terjadi padaku dan Justin selama 3 tahun lebih. Aku masih terus memikirkan apa kesalahanku padanya hingga dia semarah itu padaku, hingga dia mengabaikanku, hingga dia benar-benar merubah tujuannya, hingga… hingga tanpa sadar air mataku telah mengalir lagi.

“Oh Tuhan, Nafia kumohon berhentilah. Mau sampai kapan kau terus seperti ini?” ucap Tasya yang sudah duduk di sebelahku.
“Aku sudah berkali-kali mencoba berhenti, tapi aku tidak bisa, aku tetap saja memikirkan Justin, apa sebenarnya salahku Tasya? Kenapa dia berubah begitu cepat? Dan kenapa ini begitu menyakitkan? Apa salah jika aku mengharapkannya setelah dia mengatakan tujuannya? Apa aku salah menunggunya, setelah dia menyuruhku untuk menunggu? Ini sangat menyakitkan Tasya.” Dan lagi-lagi air mataku terus mengalir dengan derasnya. Tanpa menjawab Tasya hanya mampu memeluk erat tubuhku dan berusaha menenagkanku.

Sudah 2 bulan berlalu sejak pembicaraan terakhirku dengan Justin. Aku sudah tidak pernah melihatnya ataupun mendengar kabarnya lagi. Justin seperti ditelan bumi, menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun. Hingga ponselku berbunyi “Hallo… Assalamu’alaikum” jawabku setelah menempelkan ponsel di telinga. Dan setelah menerima telepon tersebut tanpa pikir panjang aku langsung berlari meninggalkan toko buku yang diikuti Tasya dan menghentikan taksi lalu menuju Rumah Sakit.

Sesampainya di rumah sakit aku melihat seorang wanita yang tidak asing bagiku, dia adalah Clara gadis yang pernah kulihat di cafe saat sedang menunggu di samping mobil Justin. Dan saat ini dia mengenakan jas putih.
“Ayra?” Tanyanya memastikan saat menghampiriku. Dan diikuti dengan anggukkanku.
“Saya Clara dokter pribadi keluarga Keynes. Bisa kita bicara sebentar?” Ajaknya dengan wajah serius. Lagi-lagi aku hanya mengangguk dengan mengikuti langkahnya.
“Duduklah” ucap Clara saat aku memasuki ruangannya.
“Sebenarnya, bukan aku yang harus mengatakannya padamu. Tapi aku tidak punya pilihan lain melihat kondisi saat ini yang semakin kritis.” Jelasnya masih berbasa-basi.
“Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan apa yang ingin kau katakan padaku?” tanyaku benar-benar bingung dan penasaran.
“Setahun yang lalu Justin didiagnosa mengidap tumor otak stadium awal. Dia telah melakukan oprasi dan penyembuhan selama hampir setengah tahun, kami fikir tumor itu sudah hilang. Tapi setelah 3 bulan Justin sembuh, penyakitnya kambuh lagi. Tumor itu belum benar-benar hilang, dan tumor itu menyebar sangat cepat.” jelas Clara masih dengan wajahnya yang serius.

Saat ini tidak sedang hujan dan aku juga berada di dalam ruangan dokter yang cukup tenang karena kedap suara di sebuah Rumah Sakit, tapi aku seperti mendengar suara petir yang begitu keras dan menghantam hatiku, jantungku seakan benar-benar berhenti berdetak, shock itulah yang ku rasakan saat ini, “Clara aku tidak tau seberapa besar selera humormu, tapi sungguh ini tidak lucu Clara.” ucapku berharap Clara sedang bercanda.
“Ayra, aku tidak sedang bercanda. I’m so serious, kondisi Justin saat ini benar-benar kritis. Justin sudah koma selama 3 hari.” tegasnya kali ini benar-benar serius.
“Apa… apa Justin masih bisa sembuh?” Tanyaku kali ini diikuti air mataku yang menetes.
“Kemungkinannya sangat tipis, dan kalau pun Justin sadar itu hanya akan memperpanjang hidupnya untuk beberapa hari. Saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa memohon keajaiban untuk Justin.” jelas Clara lagi, sebelum aku meninggalkan ruangannya.
Saat ini aku hanya mampu menangis di samping Justin yang sedang terbaring tak berdaya. Entah sudah berapa jam aku menangis hingga air mataku terasa sudah kering.

“Justin, apa yang sedang kau lakukan saat ini?”
“Kau tidak pantas tidur di sini Justin”
“Pembohong… kenapa saat kembali ke Indonesia kau bilang keadaanmu baik-baik saja?”
“Kenapa kau membohongiku?”
“Justin, maafkan aku mungkin selama ini aku salah karena terlalu berharap padamu, maaf karena aku terlalu menginginkan kau mencapai tujuanmu.”
“Sekarang aku sudah tidak peduli apapun tujuanmu, kau boleh abaikan aku sebanyak yang kau mau, tapi kumohon kau harus bangun, jangan seperti ini.”
“Bicaralah padaku Justin, aku mohooonnn…”
Aku terus berbicara padanya tanpa menahan air mataku, berharap Justin akan membuka matanya dan membalas ucapanku. Hingga kedua orang tua Justin datang dan memaksaku untuk pulang dan beristirahat. Aku yang sudah tidak bertenaga lagi menyerah untuk bertahan dan menuruti perkataan tante Nindy dan om Alex.

Kesokan harinya setelah selesai kuliah, aku langsung menuju Rumah Sakit untuk menjaga Justin, tapi betapa terkejutnya aku ketika tiba di depan ruangan Justin. Aku melihat orangtua Justin beserta Jeslyn dan keluarga kecilnya dan bahkan kedua orangtuaku juga berada di sana, mereka menangis di depan ruangan Justin. Melihat suasana saat ini dengan jantung yang berdebar tidak karuan aku berlari memasuki ruangan Justin, dan aku melihat Clara dan beberapa dokter dan suster berada di sana sedang mencabut alat bantu Justin. Dan aku lebih terkejut lagi ketika melihat Justin yang sudah ditutupi oleh kain putih. Air mata yang dari tadi kutahan pun meluap, tubuhku benar-benar lemas, dan aku merasa seperti susuah bernapas, dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi saat itu. Namun mereka mengatakan aku langsung tak sadarkan diri saat itu.

Hari ini adalah hari pemakanman Justin, Justin dimakamkan di tempat pemakaman keluargaku, karena orangtua Justin meminta tolong pada keluargaku untuk membantu mengurus pemakaman Justin sesuai prosedur islam.

“Ayra…” panggil Clara sebelum dia meninggalkan tempat pemakaman. “Sebelum Justin pergi, dia sempat menitipkan ini padaku untuk diberikan padamu. Saat itu Justin mengatakan bahwa aku harus memberikannya padamu, jika dia tidak bisa membuka matanya lagi.” lanjut Clara sambil memberikan sebuah surat padaku. Aku tidak mengatakan apapun dan hanya menerimanya.

Setelah selesai mengurus segala pemakaman Justin, malam harinya aku membuka amplop yang diberikan Clara, dan aku melihat beberapa fotoku bersama Justin dan sebuah surat.

“Dear Azkayra Nafia Putri,

Assalamu’alaikum Ayra, How are you? I hope, you are always be good, dan kuharap kau selalu berada dalam lindungan-Nya. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak bisa membuka mataku lagi, aku sudah tidak bisa melihatmu lagi, melihat senyum manismu, mungkin aku sudah tidak bisa mendengar suaramu lagi, mendengar kabar dan cerita-ceritamu.

Kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Kau tidak sengaja menumpahkan minumanmu ke celanaku karena saat itu kita duduk bersebelahan. Aku tidak pernah melupakan hari itu, memang saat itu aku merasa sedikit kesal karena hari itu adalah acara pertamaku saat aku berada di Indonesia. Tapi aku tidak pernah marah, justru aku ingin terus bertemu denganmu, mengenalmu lebih jauh karena entah kenapa aku merasa berada di dekatmu sangat nyaman dan tentram. Jujur saat itu aku sangat bingung, kau tidak mudah didekati, kau selalu menghindar setiap kali aku menemuimu, tapi itu justru membuatku semakin tertarik untuk mengenalmu lebih jauh.

Meskipun tidak mudah mengenalmu tapi tanpa sadar kau telah mengenalkanku pada Allah SWT. Hingga akhirnya aku memutuskan menjadi seorang mualaf. Kau tau Ayra kau adalah hidayah yang Tuhan kirim untukku, jika aku tidak bertemu denganmu aku tidak tau akan seperti apa diriku, aku tidak tau bagaimana aku menjelaskan pada Tuhan ketika aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Kukira setelah aku menjadi seorang muslim aku akan bisa mendekatimu dengan mudah, tapi ternyata masih banyak tahap yang harus kulalui, tidak mudah memang melalui semua tahap itu, tapi aku tidak menyerah karena kau selalu menjadi motivasiku.

Hingga saat aku memintamu untuk menunggu, dan kau menganggukkan kepalamu, aku merasa Tuhan telah memberikan restunya. Betapa bahagia hatiku saat itu, dan selama di Canada aku selalu bersemangat dan bekerja lebih giat agar urusan perusahaan bisa cepat selesai dan aku bisa kembali ke Indonesia untuk menikahimu, itu rencanaku Ayra.

Kupikir Tuhan benar-benar telah merestui kita hingga penyakit ini datang. Urusanku di Canada sebenarnya sudah selesai dalam waktu 1 tahun tapi ternyata kanker ini tidak mengizinkanku untuk menemuimu lebih cepat. Aku melakukan segala cara untuk sembuh, dan setelah hampir setengah tahun aku dinyatakan sembuh, aku pun sangat bahagia dan kembali membangun harapan bahwa Tuhan memang telah merestui rencanaku. Namun harapan itu tidak bertahan lama, 2 minggu sebelum kepulanganku ke Indonesia aku merasakan gejala-gejala yang ku rasakan saat pertama kali kanker itu hinggap di otakku, tapi kali ini gejalanya lebih parah. Dan ternyata dokter menyatakan bahwa kanker itu kembali lagi, dan kali ini dokter mendiagnosa kemungkinan hidupku tidak akan lama lagi. Aku marah pada Tuhan saat itu, aku merasa Tuhan tidak adil, kenapa Tuhan buat aku seperti ini saat aku menjalankan hidupku di jalan-Nya yang lurus. Aku marah hingga aku tidak ingin disembuhkan lagi, aku tidak ingin dioperasi atau apapun untuk menghambat pertumbuhan kanker itu. Dan aku memaksa untuk kembali ke Indonesia. Meskipun kanker ini sangat menyiksaku, aku tetap bersikeras untuk kembali.

Dan hingga saat pertama kali kita bertemu lagi setelah 3 tahun, aku sangat bahagia, meskipun saat itu aku tidak bisa langsung menyapamu, karena terburu-buru. Tapi pertemuan siangkat itu membuatku merubah pikiranku seketika, aku berpikir mungkin Tuhan memang hanya menghadirkanmu dalam hidupku sebagai malaikat penolongku untuk mengenal-Nya, dan saat itu aku tidak marah lagi dengan Tuhan, aku mulai ikhlas menerima segala rencananya.

Aku berusaha menemuimu saat itu selain untuk menggugurkan rindu yang telah kutahan selama 3 tahun, aku juga bermaksud untuk berpisah denganmu, aku tidak ingin kau mengetahui kondisiku yang akan semakin memburuk. Kau tau Ayra setelah pertemuan terakhir kita di cafe, hatiku sangat hancur aku terus mengutuki diriku karena saat itu aku melihatmu menangis dari dalam mobil, entah apa yang merasuki tubuhku saat itu hingga aku mampu menyakitimu dengan kata-kataku.

Maafkan aku Ayra, maaf aku tidak bisa memberitahumu bahwa aku sekarat, aku tidak ingin membuatmu khawatir, karena itu akan membuatku semakin sakit. Dan maafkan aku, aku tidak bisa mencapai tujuanku untuk menikahimu. Maaf telah membuatmu menunggu dan berharap terlalu lama, dan juga membuatmu menghancurkan harapan itu. Aku bisa terima jika kau ingin membenciku. Tapi aku ingin kau tau 1 hal, bahwa aku telah mampu mencintaimu karena Allah. Terima kasih Ayra, kau adalah anugerah terindah yang Tuhan kirim dalam hidupku.

Dan aku ingin kau berjanji 1 hal, ini adalah harapan terakhirku “ku mohon bahagialah dan tersenyumlah bahkan saat dunia sedang tidak ingin tersenyum padamu, dan temukanlah seorang pria yang mampu membuatmu jatuh cinta padanya setiap hari, yang mampu menjadi imammu kelak, dan tidak akan membuatmu berharap dan menunggu lagi.” Berjanjilah padaku kau akan menepatinya Ayra. Jangan kurung hatimu terlalu lama, i want you to be happy, because your happiness is my last destination.

Sekali lagi maafkan aku, dan terima kasih untuk segalanya Azkayra Nafia Putri, semoga dengan surat terakhir ini kita bisa berpisah dengan tenang dan damai. Good bye…

Your Friend,
Justin Adrian Keynes”

Entah sudah berapa tisu yang kuhabiskan untuk mengelap air mataku, malam itu setelah membaca surat terakhir Justin, aku hanya mampu menangis dan merasakan sakit yang begitu dalam menusuk hatiku, hingga tanpa sadar aku tertidur karena terlalu lelah menagis.

“Hello Justin, how are you? I’m excellent today, i wanna thanks to you karena tujuan terakhirmu yang telah membuatku sangat ingin mencapainya. Kau tau Justin, minggu depan aku akan menikah dengan seorang pria yang mampu membuatku jatuh cinta setiap harinya. Dia juga sama sepertimu memiliki darah campuran Jerman–Turki, bedanya dia seorang muslim sejak lahir. Justin do you know? sekarang aku bisa mengatakan bahwa aku hampir mampu mencapai tujuan terakhirmu. Tenang saja aku pasti bisa mencapainya hingga akhir. Sekali lagi terima kasih Justin, aku akan mengunjungimu lagi nanti. Assalamu’alaikum.”

3 tahun telah berlalu sejak kepergian Justin, dan sore itu di depan tempat peristirahatan terakhir Justin aku memberinya kabar bahagia. Bahwa aku akan mencapai tujuannya, aku akan menikah dengan orang yang telah mampu membuatku jatuh cinta setiap harinya dan aku akan bahagia selamanya itulah tujuan terakhir Justin dan janjiku padanya. Dan aku pun pergi meninggalkan pemakaman dengan perasaan bahagia sambil merasakan angin yang membelai lembut pipiku, dan saat itu aku juga merasa Justin sedang tersenyum kepadaku.

Cerpen Karangan: Chyntia Perdani
Facebook: chyntiaperdani07[-at-]gmail.com / Chyntia Perdani
Penulis yang sering disapa Chyntia memiliki nama lengkap Chyntia Putri Perdani ini lahir pada 07 Juni 1996 silam. Gadis yang sudah hidup selama 20 tahun di kota Bogor ini memiliki motivasi menulis karena gemar membaca novel dan beberapa cerpen. Penulis juga memiliki berbagai macam akun sosmed yang bisa dijadikan wadah untuk menerima kritik dan saran agar lebih baik dimasa yang akan datang, seperti:
Email: chyntiaperdani07{-at-]gmail.com,
Instagram: @chyntiaperdani,
Facebook: Chyntia Perdani,
Path: Chyntia Perdani,
Dan masih banyak lagi, hehehe……

Sekian dan terima kasih

Cerpen The Last Destination (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Paket Ujian

Oleh:
“Kita udahan ya?” kata Joni mendadak lewat telepon. Mendengar ucapan Joni langit serasa runtuh menimpa tubuh mungilku ini. Angin mendekap merasuki tulang-tulang, menghentikan peredaran darah dan degup jantungku. Hatiku

Entah

Oleh:
Isak tangis mewarnai pemakaman siang itu. Di samping kuburan baru itu, berdiri seorang pria tanpa isak tangis yang mempengaruhinya. Saat semua orang berlalu dari hadapannya tinggalah dia seorang diri.

The Last Date

Oleh:
Hari itu, seperti biasa, kami selalu bertemu di kantin sekolah. Setelah satu bulan pacaran, aku masih ragu untuk mengajaknya jalan. Apalagi, setelah mimpi hari itu. “Ayolah, Ki! Sekali ini

Perahu Kertas

Oleh:
Sudah lama gadis cantik yang bernama Syakyla itu memendam perasaannya, bahkan sudah sejak kelas 1 SD. Awalnya bermula dari kesal. “Eh, kamu kalau gak bisa naik perosotan tinggi enggak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “The Last Destination (Part 2)”

  1. faridah says:

    Ceritanya menyentuh banget,bikin nangis pas baca terakhirannya,bikin baper
    Bagu banget,i like

  2. Abdillah Damar Kinasih says:

    Wooow bagus bangeeeeet ceritanya..w suka banget sedih banget pass endingnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *