The Pain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 26 May 2017

Suasana ruangan itu cukup menegangkan. Dua wanita, seorang berjubah putih dan yang lain berseragam biru langit, tampak masuk ruangan dengan tergesa. Wanita berseragam biru langit terlihat mendorong meja beroda yang di atasnya terdapat obat-obatan dan beberapa alat kedokteran. Di belakangnya menyusul masuk seorang gadis yang baru saja berlari-lari memanggil kedua wanita tersebut. Wajahnya terlihat pucat dan panik, tapi dicobanya untuk tenang. Nafasnya sedikit terengah. Pandangannya tak lepas dari sosok gadis lain yang tengah meringkuk di atas ranjang rumah sakit. Gadis yang selama ini sudah dianggapnya sebagai adik.

Keringat dingin jelas nampak di sekitar dahi dan leher gadis itu. Wajahnya memucat, meringis menahan rasa sakit luar biasa di perutnya. Dia ingin berteriak tapi tidak.. dia tidak ingin terlihat semenyakitkan itu. Kedua tangannya terlipat di atas perutnya yang dimiringkan. Berharap dengan begitu rasa sakitnya akan hilang atau setidaknya mereda. Wanita berjubah putih yang diketahui sebagai dokter tadi menyuntikkan semacam cairan ke dalam infus yang terhubung ke lengan kiri gadis yang masih meringkuk itu. Sementara si perawat membenahi selimutnya. Nyeri di perutnya perlahan mereda, walaupun tidak hilang sama sekali. Kini napasnya terdengar lebih normal.
Jenn mendekat, membelai lembut rambut temannya yang kini mulai tertidur. Ditariknya selimut yang menyelimuti temannya itu lebih ke atas.

“Kami memberikan obat anti nyeri, walaupun sebenarnya ini tidak menghilangkan seluruh rasa sakitnya.” Dokter muda berwajah cantik itu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jubahnya. Tertera nama Sarah Lee di name tag-nya. Dokter Sarah mengangguk sebentar pada perawat yang permisi keluar ruangan lebih dulu.
“Hanna pasti kelelahan setelah menahan rasa nyerinya. Biarkan dia beristirahat.” Kembali suara Dokter Sarah.
Jenn mengangguk patuh. Wajah paniknya sudah tak nampak, namun berganti dengan raut khawatir. Dokter Sarah mengecek kembali infus yang tergantung di depannya, lalu tersenyum lembut pada Jenn.

“Kau juga harus beristirahat Jenn.”
“Terima kasih, Dokter.” Ucap Jenn tulus seraya setengah membungkuk. Matanya mengantar dokter cantik itu sampai keluar ruangan. Kemudian pandangannya beralih pada benda persegi panjang milik Hanna yang dari tadi terus bergetar tak sabar.
Dia melirik Hanna yang sudah terlelap, lalu menghembuskan nafas beratnya. Dalam hati Jenn meminta maaf pada temannya itu. Diraihnya ponsel berwarna perak yang tergeletak di atas meja di samping ranjang rumah sakit. Menggeser gambar ponsel berwarna hijau, dan berjalan perlahan ke luar ruangan.
“Kevin…”

Bunyi debuman khas pintu tertutup terdengar menggema di salah satu ruang apartemen bergaya minimalis. Sesosok laki-laki seperempat abad memasuki ruang tengahnya, melempar sembarang tas kerjanya ke atas sofa coklat di ruangan itu, dan langsung melenggang memasuki dapur. Dibukanya pintu lemari es kemudian mengambil sebotol jus jeruk. Diteguknya jus itu, sebelah tangannya yang bebas memainkan ponsel miliknya. Menghubungi seseorang di seberang sana, seraya kakinya melangkah kembali ke ruang tengah apartemen. Entah ini sudah yang keberapa kali. Masih tidak ada respon. Hampir kesal, dibantingnya benda persegi panjang itu ke atas sofa, disusul oleh tubuhnya yang kini telah rebahan di sofa panjang itu.

Pandangannya menerawang ke atas langit-langit ruang tengahnya. Tidak biasanya gadis itu tidak mengangkat telepon darinya. Sudah hampir dua minggu mereka tidak saling menghubungi. Memang hal ini sudah biasa dalam hubungan mereka. Laki-laki itu selalu berpikir mereka sedang sama-sama sibuk. Dia tengah sibuk dengan pekerjaannya dan gadis itu sedang sibuk dengan pendidikan akhirnya. Dia ingin hubungan yang bisa saling mengerti. Karena itu ia tidak terlalu mempermasalahkan komunikasi dalam hubungannya dengan gadis itu. Walaupun tak sedikit temannya yang berkomentar bahwa hubungan mereka tak sehat. Namun ia tidak peduli. Selama hubungan mereka baik-baik saja, tidak ada yang perlu dicemaskan. Begitu menurutnya.

Pemuda itu merubah posisinya menjadi duduk. Tangan kanannya menjangkau ponsel yang tergeletak di sudut sofa. Dan mencoba kembali menghubungi nomor yang sama. Ia mendengus, lagi-lagi tidak ada jawaban. Sebersit pikiran negatif terselip di otaknya. Tidak, tidak.. dia tidak boleh berpikir macam-macam. Mungkin gadis itu hanya sedang tidak memegang ponselnya, sejak tadi.. pagi. Apakah tugas akhirnya begitu menyita waktu? Atau ada sesuatu yang tidak diketahuinya? Dia menggeleng. Rasa cemas tiba-tiba menelusup perasaanya. Sekali lagi ia menekan nomor dua pada layar ponselnya, angka cepat ke nomor gadisnya. Beberapa detik ia menunggu, begitu deringan keempat tubuhnya otomatis menegak. Seseorang di seberang sana menjawab.
“Kevin…”
Bukan. Itu bukan suara Hanna Dunn.

“Okay, Dokter..” Ketiga gadis di ruangan bernuansa serba putih itu menjawab serempak. Membuat lelaki muda yang mereka panggil dokter itu mau tak mau tersenyum lebar. Ia baru saja memeriksa sekaligus memberi obat rutin pada Hanna. Ketiga gadis itu terlihat bersemangat sekali. Tentu saja, di rumah sakit yang terasa membosankan, kehadiran dokter muda tampan merupakan sesuatu yang sangat sayang untuk tak diacuhkan. Hal ini pula yang membuat Jenn dan Rachel betah menunggui sahabat mereka di rumah sakit itu.

“Saya masih koasisten, belum jadi dokter.” Ucap dokter muda itu, malu-malu. Manis sekali. Wajahnya terlalu imut untuk profesi dokter. Mungkin dia lebih pantas menjadi pemain film dan masih sangat pantas berperan sebagai anak sekolahan.
“Tidak apa-apa, nanti kau juga akan jadi dokter.” Jenn membela.
“Ya, kalau nanti lulus ujian kedokteran.” Dokter muda itu masih merendah. Ia menuliskan entah apa.. pada sebuah lembaran kertas beralas papan yang sepertinya adalah laporan perkembangan pasien-Hanna.
“Kau pasti lulus,” senyum Rachel mengembang sempurna, jelas sekali ia tertarik pada dokter muda itu.
“Ya, semoga saja. Terima kasih, Rachel,” lagi-lagi dokter muda itu tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putihnya. Diletakkannya papan laporan itu pada tempatnya di sisi ranjang. Kemudian matanya fokus pada Hanna. “Kita akan lihat perkembanganmu dua-tiga hari ke depan. Kalau obat itu bekerja dengan baik kau tidak perlu dioperasi, Hanna,” jelasnya. Kini ekspresinya terlihat lebih serius, tapi senyum manis tetap terpahat di wajah imutnya.
Hanna mengangguk pelan. Memaksa bibirnya untuk membalas senyuman dokter manis itu. Sebenarnya dia sudah sepenuhnya pasrah. Walaupun ia tahu dengan operasi itu, hidupnya sebagai wanita tidak akan sempurna lagi.
“Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Terima kasih, Dokter…” Sekali lagi ketiga sahabat itu menjawab serempak. Rachel bersuara paling keras. Dan kali ini berhasil membuat dokter koas tertawa renyah.
Dokter muda itu kemudian mengangguk sopan dan melangkah ke luar ruangan.

“Wow.. aku sama sekali tidak keberatan kalau dia mengajakku kencan,” aku Jenn yang langsung mendapat tatapan tak percaya oleh kedua sahabatnya.
“Jennifer, dokter itu terlalu muda untukmu,” Rachel tak terima. “Dokter tampan itu milikku.”
Di antara ketiga sahabat itu, usia Jenn memang yang paling tua. Sebenarnya ia adalah senior Hanna dan Rachel di kampus. Mereka berbeda tiga tingkat. Jenn juga pemilik butik dimana Hanna dan Rachel bekerja paruh waktu. Namun Jenn tidak pernah menganggap kedua juniornya itu sebagai anak buah. Dia lebih suka menempatkan dirinya sebagai kakak.
“Memang kenapa? Aku suka daun muda. Berkencan dengan pria lebih muda sekarang sedang tren.” Jenn tertawa cekikikan, menggoda Rachel sebenernya. Membuat Hanna geleng-geleng kepala. Sementara Rachel terlihat masih tak terima. Wajahnya merengut lucu.
“Lalu Justin mau kau kemanakan, Jennifer?”
Jenn tidak menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum penuh arti.
“Jenn kau harus mengalah pada adikmu ini. Kau kan sudah punya Justinmu yang tampan dan populer.” Rachel mulai merajuk, kebiasaannya saat meminta sesuatu.
“No way..” Kali ini Jenn menjulurkan lidahnya, membuat teman termudanya itu semakin merajuk.
“Sister…”
“Nooo…”
“Sister.. sister.. sister..”
“No.. no.. no..”
“Jennifer..”

Sekarang Jenn dan Rachel malah terdengar seperti sedang berduet lagu abstrak. Tingkah keduanya mau tak mau membuat Hanna tertawa geli. Mereka selalu saja merebutkan hal-hal yang tidak penting, batin Hanna.
Hanna sangat bersyukur. Di saat ia jauh dari orangtua, ia mempunyai teman-teman gila seperti Jenn dan Rachel. Hanna bahkan sudah menganggap kedua sahabatnya itu sebagai saudara, mengingat ia merupakan anak tunggal. Setidaknya dengan kehadiran kedua sahabatnya itu, hari-hari Hanna di rumah sakit terasa tidak begitu membosankan. Akhirnya ketiga gadis itu tertawa bersama.

Suara pintu bergeser kemudian menghentikan tawa ketiganya. Tiba-tiba saja ruangan itu berubah senyap. Seseorang baru saja membuka pintu, menampilkan sosok laki-laki tampan dengan ransel tersampir di pundak kanannya.
“Kevin…” suara Hanna hampir tak terdengar.
Hanna melirik pada kedua sahabatnya. Rachel menggeleng sekaligus mengedikkan kedua bahunya. Seperti mengatakan Aku tak tahu apa-apa.
“Aku yang memberitahunya.” Jenn mengaku, dan langsung mendapat tatapan tajam dari Hanna. Ia kemudian tersenyum meminta maaf. “Rachel, antar aku beli makan siang,” mengambil tas tangannya lalu berdiri, berkedip beberapa kali pada Rachel yang masih duduk di atas kursinya.
Sedetik kemudian Rachel seperti tersadar. “Oh.. y-yes, Sister. Aku juga lapar.” Cepat-cepat ia berdiri, menyambar tasnya kemudian mengikuti Jenn keluar ruangan. Meninggalkan Hanna bersama prianya, Kevin.

“Hi…” Setelah berapa lama dalam diam, Hanna akhirnya membuka suara.
Laki-laki yang kini sudah duduk di hadapannya itu tidak langsung menjawab. Ia seperti sedang mengamati. Entahlah.. Hanna tidak bisa mengartikan ekspresi wajah kekasihnya itu.
“Kau terlihat lebih kurus.” Kevin bersuara, nadanya memang terdengar datar tetapi terkesan tajam. Dan ekspresinya masih tak terbaca. Seperti marah.. atau kecewa? Mungkin juga sedih, tapi lebih terlihat menyesal.
“I’m sick.” Hanna tertawa, berusaha terlihat tegar namun justru terdengar menyedihkan di telinga Kevin.
“Bagaimana kabarmu, Kevin?” Hanna mencoba mengalihkan topik. Sebenernya ia hampir menangis. Tetapi sebisa mungkin ditahannya. Entahlah.. ia tidak ingin terlihat lemah di depan Kevin. Perasaan diabaikan selama berhubungan dengan laki-laki itu tidak bisa begitu saja ia hilangkan. Walaupun nyatanya sosok yang selama ini ia butuhkan sudah benar-benar ada di hadapannya.

Beberapa bulan belakangan Hanna memang merasa seperti diabaikan, entah itu hanya perasaannya saja atau..? Hanna juga tidak tahu pasti. Tetapi ia tidak pernah mau mengeluh ataupun mencoba membahas apa yang dirasakannya itu pada Kevin. Sebenarnya Hanna tidak berani. Ia terlalu takut.. takut menjadi kekasih yang tidak pengertian, takut mengecewakan Kevin, dan ia sangat takut kehilangan pria yang hampir tiga tahun ini menjadi kekasihnya. Gadis itu hanya berusaha memahami kesibukan lelakinya. Namun ternyata, semakin ia berusaha memahami.. justru kini perasaannya menjadi seolah kosong. Seperti menjadi masa bodoh, dan tak peduli lagi. Walaupun begitu, selama ini Hanna selalu mengatur pikirannya bahwa ia masih membutuhkan Kevin, bahwa ia mencintai laki-laki itu dan tidak ingin kehilangannya. Hingga sekitar seminggu yang lalu, tiba-tiba ia ingin merubah pengaturan otaknya mengenai hubungannya dengan lelaki itu.

“Hanna mengalami perdarahan di setiap siklus bulanannya. Dalam kedokteran kami menyebutnya menorrhagia.”
“Apa itu berbahaya, Dokter?”
“Tidak.. Sebenarnya, hampir setiap wanita mengalami ini, walaupun tidak semuanya. Ini tergantung penyebabnya. Tapi.. untuk kasus Hanna bisa dibilang membahayakan. Dia memiliki endometriosis. Hal ini yang menyebabkan terjadinya perdarahan.”
“En-endo-?”
“Endometriosis. Setiap bulan tubuh wanita akan melepaskan hormon yang memicu penebalan dinding rahim.. kami menyebutnya endometrium. Untuk kasus endometriosis, jaringan tersebut tumbuh di luar rahim sehingga menyebabkan endapan dan iritasi.”
“Apa itu menyakitkan?”
“Ya.. Bisa sangat menyakitkan.

“Kami sudah mencoba semua tahap untuk mengobati Hanna. Tapi.. mungkin kami harus melakukan pilihan paling akhir untuk penyembuhannya, karena obat-obatan sepertinya sudah tidak bekerja lagi pada kasus ini.”
“Apa.. dengan operasi itu, Dokter?”
“Ya. Histerektomi.. operasi pengangkatan rahim.”
“Pengangkatan rahim? Artinya.. dia tidak bisa…?”
“Ya. Tapi kami masih menunggu reaksi obat terakhir yang kami berikan untuk Hanna. Semoga masih ada harapan.”

“Kevin?”
“E-emm.. Ya, Dokter Sarah?”
“Sebenarnya Hanna sering bercerita tentangmu. Kau harus terus mendukungnya. Setelah operasi.. hal yang paling sulit adalah mengobati dampak psikisnya. Aku tahu ini pasti akan sulit untukmu, tapi akan lebih sulit lagi bagi Hanna. Maaf, aku hanya memberi saran sebagai dokter. Kita berdoa saja, semoga Hanna tidak perlu melakukan operasi itu.”

Percakapan dengan Dokter Sarah beberapa saat lalu terus berputar-putar di otak Kevin. Diam-diam Kevin menemui dokter yang merawat Hanna ketika gadis itu sedang tertidur. Dokter Sarah Lee. Dia dokter yang cantik, terlihat keibuan di usianya. Ternyata dokter itu sangat dekat dengan Hanna, bahkan Hanna tidak sungkan bercerita mengenai dirinya kepada dokter itu. Ketika Kevin memasuki ruang kerja Dokter Sarah, dokter itu langsung mengenalinya. Padahal itu kali pertama mereka bertemu. Sebegitu akrabkah Dokter Sarah dan Hanna? Sampai Hanna menunjukkan foto dirinya pada dokter itu. Mungkin karena Dokter Sarah sudah lama menangani kasus Hanna, sehingga mereka menjadi lebih akrab. Sepertinya hubungan mereka sudah lebih dari sekedar dokter dan pasien.

Sebenarnya Kevin menemui Dokter Sarah hanya untuk memastikan keadaan Hanna. Sebelumnya gadis itu berkata tentang operasi padanya. Tapi gadis itu berbicara seolah sedang bercanda, karena itu Kevin ingin memastikan. Dan ternyata, keadaan gadis itu sungguh diluar perkiraannya. Selama ini dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kesehatan Hanna. Gadis itu juga tidak pernah mengatakan apapun padanya. Kenapa? Apa gadis itu tidak percaya lagi pada Kevin? Atau Kevin sendiri yang kurang memperhatikan kekasihnya? Dia memang tidak pernah bertanya mengenai hal ini. Mana mungkin Kevin akan menyangka kekasihnya memiliki endometriosis atau apalah itu. Terlebih sekarang mereka menjalani hubungan jarak jauh dan hampir setengah tahun tidak bertemu. Dari mana Kevin akan tahu Hanna memiliki penyakit itu jika tidak ada yang memberitahunya? Jadi, salah siapa kalau begini?

Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi. Ia tahu tidak akan bisa menyalahkan siapapun. Mungkin Hanna hanya tidak ingin Kevin tahu. Entah apa alasannya. Tapi sekarang, hal itu membuat Kevin benar-benar merasa telah menjadi kekasih yang tidak berguna. Mungkin benar yang dikatakan teman-temannya, hubungannya dengan Hanna memang tidak sehat. Jika operasi itu memang harus dilakukan, apa yang harus ia lakukan nanti? Sanggupkah ia menemani Hanna selamanya? Ada apa dengannya? Kenapa ia berpikir seolah tidak sanggup? Apa selama ini dia tidak benar-benar mencintai gadis itu? Atau jauhnya jarak membuat perasaannya berubah?

Brengsek kau, Kevin. Bisa-bisanya kau ingin meninggalkan Hanna hanya gara-gara keadaannya yang tidak sempurna. Seharusnya sekarang kau lebih memperhatikannya. Kau harus ada selama masa sulit Hanna.
Kevin mengutuki dirinya sendiri. Di satu sisi dia tidak ingin menjadi laki-laki pengecut yang meninggalkan Hanna karena ketidaksempurnaannya sebagai wanita. Namun di sisi lain dia juga laki-laki biasa yang ingin hidup normal dengan memiliki anak dari wanita yang dicintainya. Entahlah.. Seperti kata Dokter Sarah, Kevin hanya berharap operasi itu tidak perlu dilakukan pada kekasihnya -Hanna.

Kaki Kevin berbelok ke lorong sebelah kanan. Lorong rumah sakit ini tampak lengang. Tidak ada siapapun yang terlihat kecuali Kevin sendiri. Sepertinya tidak banyak pasien yang dirawat di lantai itu. Kevin melangkah dengan santai, terkesan lemah. Beberapa meter di depannya adalah kamar Hanna. Ia ingin tahu apakah gadis itu sudah terbangun dari tidur siangnya. Mengingat ia cukup lama berada di luar. Tadi setelah bertemu Dokter Sarah, ia sempat ke apartemen Hanna untuk mandi dan berganti pakaian. Ia juga sempat membeli buah-buahan kesukaan Hanna.

Sambil berjalan Kevin iseng melongok ke kamar-kamar di kiri-kanannya. Benar, tidak banyak pasien di lantai itu. Beberapa kamar terlihat kosong. Dua kamar lagi ia akan sampai di kamar Hanna, saat tiba-tiba ia mendengar langkah terburu-buru di belakangnya. Kemudian seorang pria dengan jubah dokter berjalan melewatinya, dan sedikit menyenggol plastik berisi buah yang dibawa Kevin. Dilihatnya pria tadi memasuki kamar.. Hanna?

Kevin mengencangkan pegangannya pada plastik yang dijinjingnya. Dan melangkah lebih cepat ke kamar Hanna, hampir berlari. Pintu kamarnya terbuka. Di dalam sana Kevin melihat Jenn berdiri menyampingi dokter yang tadi menyenggol tas plastiknya. Mereka berdua sama-sama menghadap Hanna yang terbaring di ranjang. Rasa takut tiba-tiba menelusupi perasaan Kevin. Ia melangkah lebih maju, memasuki ruangan untuk memastikan apa yang terjadi. Di balik pintu ternyata berdiri Rachel, raut wajahnya cemas. Kevin ingin mendekat ke ranjang Hanna, tapi ia ragu. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Hanna meringkuk di atas ranjangnya, kedua tangan gadis itu tampak mengepal erat di atas perutnya, meremas kencang baju rumah sakit yang dikenakannya. Gadis itu sedang berusaha memuntahkan sesuatu ke dalam baskom yang dipegang Jenn. Wajahnya basah oleh keringat dingin. Baru kali ini Kevin menyaksikan gadisnya terlihat begitu kesakitan. Tanpa disadarinya ia mencengkeram plastik buah yang dipegangnya.

Hanna mengerang menahan rasa sakit di perutnya. Wajah gadis itu tidak hanya basah karena keringat. Gadis itu menangis. Membuat Kevin tanpa sadar melangkahkan kakinya maju, tapi ketika itu tatapannya bertemu dengan mata Hanna. Gadis itu kemudian memejamkan matanya, menarik lengan baju Jenn dan berkata sangat lemah.
“Jenn…”

Jenn membungkuk lebih dekat menanggapi panggilan Hanna. Sedetik kemudian pandangannya beralih pada Kevin yang masih berdiri kaku di dekat pintu, bersebelahan dengan Rachel. “Kevin, tolong keluar.” Katanya memohon.
Namun Kevin masih tidak bergerak. Ia menatap Jenn tak mengerti. Sementara itu Hanna semakin meremas lengan baju Jennn, seperti berkata, Cepat bawa dia pergi!. Membuat Jenn bersuara lagi, kali ini terdengar lebih berteriak.
“Rachel cepat bawa Kevin keluar!”

Rachel yang sedari tadi hanya berani menyaksikan Hanna dari jauh, mematuhi perintah teman tertuanya itu. Ia menyeka lelehan air di sudut matanya, kemudian menarik lengan Kevin. “Ayo, Kevin.” Suaranya terdengar serak.
Laki-laki itu berdiri seperti patung. Membuat Rachel harus memohon beberapa kali untuk membawanya keluar dari ruangan itu. Setelah mencoba bertahan, akhirnya Kevin menyerah dan mengikuti tarikan tangan Rachel di lengannya, tapi pandangan matanya tak bisa lepas dari sosok kekasihnya di sana. Ia masih bisa melihat raut kesakitan di wajah Hanna sampai Rachel benar-benar membawanya keluar ruangan dan menutup pintunya.

Pagi ini Hanna kelihatan baik-baik saja. Raut kesakitannya semalam sama sekali tak nampak sekarang. Namun wajahnya tetap terlihat pucat, seperti kekurangan darah. Gadis itu sedang duduk di atas ranjangnya. Punggungnya ia sandarkan pada kepala ranjang. Ia memerhatikan laki-laki yang kini tengah duduk di samping ranjangnya sambil mengupas jeruk. Laki-laki itu belum berkata apapun sejak pertama ia masuk ruangan Hanna pagi ini.

“Bukankah besok kau harus bekerja?”
“Mmm..” Kevin hanya bergumam mengiyakan. Disodorkannya sepotong jeruk yang telah dikupasnya pada Hanna, berniat menyuapi gadis itu.
Alih-alih membuka mulut, Hanna malah menatap sodoran jeruk itu cukup lama. Gadis itu sangat ingin menangis sekarang, ia sudah lupa kapan terakhir kali Kevin memperlakukannya seperti ini. Rasanya sudah sangat lama. Ditatapnya sekilas Kevin yang juga sedang menatapnya. Hanna kemudian membuka mulutnya dan memakan jeruk suapan lelakinya itu. Pandangannya ia alihkan ke langit-langit ruangan, menahan air matanya agar tak terjun bebas. Saat itu ia mendengar hembusan napas berat Kevin.

“Kenapa selama ini kau tidak pernah cerita?” Wajahnya terlihat frustasi. Mungkin sejak tadi ia berusaha menahan untuk tidak menanyakannya, tapi ternyata ia gagal.
“Aku tidak ingin kau khawatir.” Hanna menjawab dengan santai. Seperti sudah menyiapkan jawaban itu sejak lama.
Kevin tertawa pelan, terdengar menyindir. “Alasanmu sangat klasik, Hanna Dunn.” Ia menyodorkan jeruk kedua pada Hanna. Kali ini Hanna langsung menerimanya.
Gadis itu hanya tersenyum tipis. Memang benar. Alasannya benar-benar sangat klasik. Hampir setiap orang akan memberikan alasan seperti itu jika mendapat pertanyaan seperti yang diajukan Kevin. Entah itu memang kenyataannya atau hanya tidak ingin memberikan alasan yang sebenarnya. Untuk Hanna kedua-duanya benar. Ia memang tidak ingin membuat Kevin khawatir, sekaligus tidak ingin memberikan alasan lain yang sebenarnya.

“Kata dokter ini keturunan, karena ibuku juga memilikinya.”

Kevin menghentikan kegiatan tangannya pada jeruk. Ia memperhatikan Hanna.
Jadi ini penyakit keturunan? Tapi kenapa ibunya bisa memiliki Hanna?

“Tapi ibuku masih sempat melahirkanku sebelum rahimnya diangkat. Dan tidak semua penderita endometriosis harus melakukan histerektomi. Kata dokter kasusku cukup langka,” jelas Hanna seperti mengerti pertanyaan di otak Kevin.

Kevin menunduk, menatap kupasan jeruk di tangannya. Bukan pemandangan yang menarik sebenarnya. Ia hanya tidak tahu harus berkomentar atau menanggapi apa. Dia bukan tipe orang yang bisa memberikan kata-kata penghibur di saat seperti ini.

“Dokter Sarah bilang mereka masih menunggu. Masih ada harapan”. Kevin sendiri juga tidak menyangka ia bisa berkata seperti itu. Ia hanya teringat perkataan Dokter Sarah kemarin. Matanya kini berani menatap gadis berlesung pipi itu. Ia ingat pertama kali ia tertarik dengan gadisnya adalah karena lesung pipinya.

Bibir Hanna terangkat sedikit, membentuk sebuah lengkungan tipis. Ia tahu kekasihnya itu sedang mencoba menghiburnya. Sama seperti teman-temannya. Tapi sepertinya harapan itu sudah seperti angin lalu bagi Hanna. Ia juga tahu dokter hanya harus melakukan prosedur yang seharusnya sebelum akhirnya terpaksa mengangkat rahimnya.

Keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kevin berusaha mencari topik untuk percakapan mereka. Tapi sepertinya dia tidak menemukan topik yang cocok. Sampai akhirnya Hanna memangil namanya.

“Kevin.”
“Ya?”
Hanna menatapnya dalam. Kenapa Kevin merasa gadis itu akan menangis?
“Kita… kita putus saja.”

Sesaat Kevin merasakan dirinya berhenti bernafas. Ditatapnya mata almond itu. Mencari kesungguhan atas ucapan yang sempat menghentikan nafasnya. Mata Hanna berair. Gadis itu sepertinya sedang tidak bercanda. Dan di saat seperti ini bawah sadar Kevin hanya bisa merutuki kediamannya. Apa hubungannya dengan Hanna benar-benar akan berakhir seperti ini? Hubungan jarak jauh yang selama tiga tahun ini coba ia pertahankan harus berakhir sekarang? Saat ini?

Pemuda itu sungguh tidak tahu harus berkata apa. Kemarin otak bodohnya sempat berpikiran untuk meninggalkan Hanna. Tapi kenapa sekarang.. disaat gadis itu meminta untuk berpisah, kenapa seperti ada palu 100 kg menghantam dadanya? Kenapa sekarang justru ia ingin mengatakan Aku mencintaimu, Hanna Dunn.

END

Cerpen Karangan: Ika Puji Astuti
Facebook: www.facebook.com/phupuj.ieka

Cerpen The Pain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secarik Kertas Putih

Oleh:
5 tahun meninggalkan Indonesia, Randy kembali lagi bersama dengan berita sedih. Kekasihnya Winda berada di rumah sakit terbaring lemah di dinginnya kasur beroda itu. Randy ditemani robby, dengan berat

Jadikan Aku Penggantinya

Oleh:
Jadikan Aku Penggantinya Cinta… Cinta itu indah… Cinta itu Anugerah… Cinta itu apa adanya… Dan cinta itu sebuah pengorbanan… Jatuh cinta, itulah yang tengah dirasakan oleh cowok bernama lengkap

Ilusi Hati (Part 3)

Oleh:
Seperti apa yang ditawarkan Arza. Malam ini mereka berdua tengah berjalan berdua di bawah gemerlapnya malam Taman Rekreasi di kota ini. Diandra sibuk mengunyah kembang gulanya sembari menarik tangan

Sebuah Tanda Cinta Yang Tergeletak di Lantai

Oleh:
Seorang pria muda tampak berdiri termanggu di hadapan cermin yang menempel di dinding tembok kamar. Triad, demikan nama pemuda itu. Dia tampak rapih sekali dengan celana jeans kecoklatan dan

Paras Sang Saras

Oleh:
Lamban laun umurku semakin lama semakin tua, kini usiaku sudah dewasa sudah siap untuk membina rumah tangga. Umur yang sudah seperempat abad ini aku ingin merasakan bagaimana indahnya membina

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *