The Poor Jane

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Terjemahan
Lolos moderasi pada: 1 July 2016

Ini sudah larut malam, tapi Harold belum datang juga. Aku sampai lelah menunggunya. Sejak dua jam yang lalu, aku sudah duduk di bangku yang terletak di taman kota ini, Los Angeles.

Sama sekali tidak ada yang spesial semenjak aku pindah ke kota ini dua tahun lalu. Tapi, suasana malam di kota ini benar-benar membuatku agak ‘lupa diri’.

Aku berdecak sebal. Kemana anak itu sebenarnya? Baiklah, aku akan menunggu lima menit lagi. Kalau lima menit kedepan Harold belum datang juga, aku akan pulang.

“Jane!” teriak seseorang yang aku yakin mengarah kepadaku, karena disini hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang.

Lalu aku menoleh ke arah sumber suara, di belakangku. Aku melihat Harold yang berlari ke arahku. Aku mendengus, lalu mengembalikan pandanganku ke depan.

“Jane, I’m so sorry,” mohon Harold saat dia sudah ada di depanku dengan wajah berkeringat. “Mobilku rusak. Dan juga, Mom memintaku untuk membantunya memperbaiki oven.” ujar dia menjelaskan kenapa dia bisa telat datang.

Harold sangat tampan, lelaki tertampan yang pernah kulihat. Dia memiliki mata berawarna hijau terang dan tubuhnya agak berotot, membuatnya semakin sempurna. Banyak wanita yang menyukainya di sekolah. Bahkan, aku sendiri.

Ya, aku jatuh hati padanya saat pertama kali kita berbicara. Dia sangat ramah. Sifatnya yang dingin itu membuatku semakin ingin memilikinya. Walaupun dia menganggapku sebagai sahabat selama setahun kita berteman, tapi aku tetap mencintainya.

Dia tidak menyadari bahwa aku mencintainya. Dia sangat acuh terhadap lingkungannya. Tapi, aku tetap akan memperjuangkan Harold, walaupun aku tahu bahwa dia tak akan pernah membalas cintaku.

“Sudahlah. Sebenarnya, untuk apa kau memintaku untuk datang kesini?” tanyaku lalu menyuruh Harold duduk.

“Aku ingin memberitahukan sesuatu. Tapi, kau harus janji bahwa kau tidak akan sedih.” jawabnya. Aku mengangguk sembari tersenyum ramah. “Sebenarnya, aku dan Violet, akan…,” ucap dia menggantung.

“Hey, ada apa? Kau dan Violet akan apa?” tanyaku penasaran.

Violet ini wanita populer di sekolah. Harold pernah menceritakan Violet kepadaku. Dia bilang, dia menyukai Violet. Tapi, aku berusaha untuk menyembunyikan kesedihanku saat itu.

“Violet and I… Will be engaged. And after that, we’ll be going to marry.”

Saat mendengar itu, hatiku langsung rapuh. Aku menatap Harold datar. Harold menatapku penuh bahagia. Dia seperti ingin teriak saat itu juga. Aku mengigit bibir, menahan tangis dan rasa sakit di hatiku yang kurasakan.

“Congratulation. Aku turut bahagia.” responku lalu berdiri dari sana. “Aku harus pulang, Ibuku pasti sudah mencariku.” pamitku lalu berjalan meninggalkan Harold sendirian di taman itu.

Aku berjalan lunglai sampai ke jalan. Walau sudah larut malam, jalan di kota ini masih sangat ramai. Aku harus menyebrangi jalan. Tanpa menoleh kanan dan kiri, aku terus berjalan. Sampai pada akhirnya sebuah lampu yang menyilaukan mataku membuatku terhenti dan juga membuatku mengeluarkan cairan kental merah dari hidung dan kepalaku yang terbentur.

Selamat tinggal, Harold. Selamat tinggal, dunia. Selamat tinggal, Jane yang malang.

Cerpen Karangan: Lutfi
Facebook: Lutfi Bai Haki

Cerpen The Poor Jane merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Last White Rose

Oleh:
Kupandangi mawar putih yang berada di dalam vas transparan di atas meja riasku. Mawar itu selalu kurawat sehingga terlihat indah saat kupandang. Di samping mawar putih itu ada sebuah

The Black Basketball

Oleh:
Jakarta, 16 februari 2000. Hari itu cuaca sedang tidak bersahabat, langit ditutupi awan gelap dan bunyi petir pun saling bersahutan seperti pertanda bahwa akan terjadinya hujan deras. Benar saja,

Cinta Pertama (My First Love)

Oleh:
Aku suka banget sama kupulan puisi puisi dan ceren. Menurut aku, daripada nuangin isi hati ke dalam buku diary lebih seru ditulis menjadi cerpen atau puisi. Film kesukaan ku

Tuhan, Jadikan Dia Jodohku

Oleh:
Ia berbaring dan terpaku menatap langit-langit kamarnya sambil sesekali melirik layar handphonenya. Ia masih tak percaya ia telah diputuskan oleh pacar yang dicintainya selama satu tahun ini. Alunan musik

Ucapan Terakhir Untukmu

Oleh:
“Ting Tong…” terdengar bel rumah Kevin, Di depan rumah kevin berdiri gadis manis berkacamata dengan rambut dikuncir dua berperawakan gemuk sambil memegang 2 kotak besar di tangannya, “iya tunggu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *