The Red Thread Denies Destiny (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 17 June 2021

Aku sedang kebingungan di rumah seseorang, aku memutar kunci rumah itu dengan jari tanganku. Sedari tadi aku terus berdebat dengan isi otak dan hatiku, masuk ke rumah ini atau tidak?

Tapi ini adalah rumah sahabatku, sahabat yang paling baik, paling humoris, paling unik, jika boleh aku sangat berharap untuk selalu bisa ada di sampingnya. Walaupun terkadang aku harus bersabar mengurusi dia dengan kelakuannya yang sangat ‘childish’ itu, aku ingin masuk ke rumah ini dan melihat semua kenangan. Tapi di sisi lain, aku harus menghadapi emosi yang menyakitkan.

Rumah ini sudah dikosongkan 3 hari yang lalu, dan kunci rumah diberikan kepada aku. Entah apa alasannya itu diberikan kepadaku, dan sampai sekarang aku masih saja berpikir untuk masuk apa tidak. Entah kenapa aku sangat ragu untuk masuk ke rumah ini, padahal dulu aku sangat senang saat bermain di rumahnya sampai lupa untuk pulang.

Karena aku berpikir terlalu lama, dan aku juga sudah lelah berdebat dengan isi hati dan otak yang berbeda kemauan itu, aku memasukkan kunci pintu itu ke lubang dan membuka pintu rumah secara terburu-buru saking emosinya. Saat masuk, aku harus dihadapi hawa yang tak pernah bahkan benar-benar tak ingin untuk merasakannya.

Funitur barang di rumah ini masih ada dan menganggur setelah rumah ini tak ada pengurusnya, walaupun begitu, aku merasa rumah ini masih hidup dengannya. Dulu saat aku datang ke rumah ini, ia akan sangat senang seperti anak kecil yang dikasih kado ulang tahun oleh orangtuanya, dia akan membukakan pintu, menyambutku dan membawakan mochi dengan isian krim putih dan stroberi untukku, bisa dibilang itu makanan kesukaannya, dia sering memberikan itu padaku, padahal aku lebih suka mochi rasa matcha.

Sekarang tidak, aku tidak disambut dengan itu, tak ada lagi kelakuan konyolnya saat aku datang, tidak ada mochi stroberi yang selalu ia buat untukku, semuanya kosong.

Ingin rasanya aku menghidupkan kenangan di rumah ini tapi aku tak mampu, untuk masuk saja rasanya butuh mental yang kuat, sekarang hawa di rumah ini sangat berbeda, sangat sesak.

Aku masuk ke ruangan dapur, tak ada yang spesial, hanya saja semua peralatan dapur lebih rapi dari biasanya. Padahal dia sangat payah kalau urusan membersihkan barang-barang di dapur, akan sangat berantakan saat dia mengajakku untuk bikin kue bersama dan ujung-ujungnya aku lah yang membersihkan dapurnya itu setelah selesai membuat kue. Dan sekarang peralatan dapur itu akan tetap bersih selamanya, dia tak akan membuat mochi, kue, atau makanan apapun disitu lagi.

Aku menatap foto seorang cowok dengan senyuman manisnya di beberapa foto bingkai, ah aku rindu muka imutnya itu. Dan aku melihat sebuah foto kita berdua yang sedang memakai bando Mickey Mouse di DisneyLand. Lucu sekali foto itu dan di pinggir bingkai tertulis dua nama.

‘Aiko & Akiyama’

Namaku dan dia terpampang di pinggir bingkai itu, sebuah nama yang harusnya selalu bersama, selalu ada di sisiku. Dan harusnya sekarang ini dia tidak kesakitan dan pergi tetapi jalan-jalan bersamaku menikmati musim gugur dan mampir ke sebuah bukit yang telah kita sahkan menjadi tempat kita sebagai sahabat untuk bersenang-senang dan melihat pemandangan apapun musimnya. Takkan ada orang lain menginjakkan kakinya disitu, tak akan ada. Aku menatap semua foto-foto itu, dan hanya ada rasa sakit di tubuhku.

Aku menaiki tangga, satu tapakan yang kuhasilkan rasanya sesak, tak seperti dulu. Dia selalu menggenggam tanganku untuk naik ke lantai atas, lantai terfavorit aku dan dia, disana banyak hal yang terjadi, dulunya memang seperti itu.

Di lantai 2 hanya ada ruangan tv tanpa sofa, balkon kecil dan kamarnya, biasa saja tak ada yang spesial. Aku melihat suasana di lantai 2, yah sesuai tebakanku, sepi sekali, aku tak mendengar suara merengeknya yang memaksaku bermain game bersama, suara tertawanya disaat aku tak sengaja berperilaku aneh, suara kesalnya saat aku menasehatinya untuk tidak terlalu banyak tingkah karna umurnya yang tak kecil lagi, tidak, tidak ada lagi suara itu.
Ya ampun, rasanya aku ingin berlutut dan menangis melihat semua kekosongan ini.

Perlahan kubuka pintu kamarnya, semuanya terlihat sama seperti sebelumnya, tapi tidak dengan suasananya. Hawa disini lebih sesak dari ruangan lainnya, tempatku bercurhat dengannya, tempat aku bercerita banyak dengannya, tempat aku mengajari dia yang kesulitan memahami materi kuliah, dan apapun itu yang terjadi di ruangan ini, dan aku yakin disinilah dia mengeluarkan air mata, rasa sakit, dan seluruh rahasianya itu.

Melihat beberapa barang yang berantakan, aku bergerak untuk membersihkan beberapa. Tak sengaja aku melihat sebuah toples dengan kertas warna warni yang diremuk menjadi bola kecil, isi kertas itu banyak hingga membuat toples terlihat penuh.

Aku tau barang ini sudah ada dari dulu, tapi tak pernah ku bertanya dengannya tentang barang ini. Aku selalu penasaran karna kertas itu semakin lama semakin banyak. Kupikir itu hanya bekas kertasnya yang dia buang ke toples itu, tapi tak mungkin, dia memang orang yang berantakan tapi tak pernah membuat sampah kertas sebanyak ini di dalam toples. Kubuka penutup toples itu dengan rasa penasaran yang tinggi

Tidak, ini tentu bukan sampah kertas, kertas ini diberi tulisan, dan stiker-stiker lucu. Dia benar-benar kekanak-kanakan, tapi aku suka itu.

Ah, ini sebuah tulisan surat yang diciptakan oleh pena dan suara hatinya.
Tentang apa yang ingin dia katakan tanpa orang lain tau.

Kuambil satu bola kertas dan kubuka.

10 januari 2021
Tadi aku kesal sekali, ai-chan memarahiku karna aku tak kerjakan tugas kuliah, aku tau itu salahku tapi dia memarahiku terlalu keras, aku sangat takut ai-chan, jangan sering-sering marah ya? Ai-chan marahnya serem banget:< Ah maafkan aku kalau waktu itu aku memarahi terlalu keras, kau itu suka lupa mengerjakan pr sekolah sampai aku harus membantu pr kuliahmu di waktu mendekati jadwal deadline, selalu saja mencari masalah. Kuambil dan buka kertas selanjutnya. '21 januari 2021 Aku ingat pas pertama kali temenan, dia kurang suka dengan nama panggilannya yaitu 'ai-chan', aneh sekali padahal nama itu bagus dan imut, tapi sekarang dia membiarkan aku memanggilnya seperti itu. Aku juga pernah menyuruhnya memanggil diriku 'aki-kun' tapi dia selalu memanggil aku 'akiyama' saja, aku buat seperti itu biar gak ribet, ai-chan:<' Memang sih imut, tapi dulu aku tak terlalu suka nama itu karna itu terlalu imut bagiku, dan aku juga kurang suka memanggil orang dengan nama panggilan yang imut, aku sengaja membiarkanmu memanggilku seperti itu karna kamu memaksa. Kertas selanjutnya. '16 februari 2021 Hari ini aku ulang tahun, ai-chan ngasih aku strawberry shortcake dan mochi kesukaan aku, ai-chan baik banget deh^^ Ai-chan sempat nanya apa yang akan aku harapkan di umur yang baru tapi aku tak ingin menjawabnya langsung. Aku tak membuat permintaan apapun, jadi aku tak bisa menjawabnya:)' Aku ingat saat aku memberikan kejutan itu, dia senang kegirangan hingga ia tak sengaja menabrak dinding saat ingin ke dapur, dasar ceroboh. Kertas selanjutnya. '25 februari 2021 Ai-chan tiba-tiba datang ke rumah aku larut malam, aku sangat heran, rupanya ai-chan curhat sama aku, katanya lagi jatuh cinta sama cowo yang terkenal di kampus, dia bilang cowo itu sangat baik, ramah, sopan, dan sangat pintar, hebat banget cowo itu, coba aja aku jadi kayak dia. Tapi ai-chan takut mau mengungkapkan perasaannya secara langsung, takut gak diterima, yah udah menyerah duluan siapa tau diterima kan, sia-sia dong kesempatannya:( Lain kali ai-chan harus lebih berani yah, aku ga mau nanti ai-chan menyesal, okey? ' Lelaki itu terlalu sempurna, akiyama. Tak sebanding denganku ini yang kadang suka terlambat ke kampus dan dosen yang hobi kasih nilai C ke mahasiswa. Kertas selanjutnya. 5 maret 2021 Aku ajak ai-chan ke sebuah hutan di atas gunung, disana ada ayunan yang tergantung di pohon besar, lereng tinggi dan curam yang menjadi tempat aku melihat pemandangan dari bawah, di dekat pohon besar ada taman bunga yang lumayan besar disertai pohon-pohon hutan, ini tempat rahasia yang aku temukan saat aku masih kecil, dan cuman aku dan ai-chan yang tau^^ Keliatannya ai-chan suka sekali ya sama tempatnya, sampai ai-chan betah banget disana sampai malam, iya kan? ^^' Jujur saja, aku sangat terkejut dia bisa membawaku ke sebuah tempat rahasianya yang sangat indah itu, lagipula siapa yang tak menginginkan tempat seperti itu? Cerpen Karangan: Nazahra Instagram: @zahra_hq Wattpad: @Nafsi_Zahra Tema cerpen ini diambil dari sebuah mitos di Jepang yaitu 'Benang Merah Takdir' silahkan cari di google tentang mitos ini

Cerpen The Red Thread Denies Destiny (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Musim

Oleh:
Lima belas hari lagi. Jantungku semakin berdebar tanganku mulai berkeringat setiap kali melihat susunan tanggal tanggal di kalender yang menggantung tegak lurus di tembok kamarku. Suara kerumunan manusia yang

Ace’s Diary After Death

Oleh:
Bocah 17 tahun itu mengerang. Entah sudah berapa kali ia melakukannya. Ia mengerang, menangis, memukul, berharap apa yang terjadi pada kakaknya hanyalah sebuah mimpi. Namun itu kenyataan. Monkey D

Bukan Rio Tapi Sureno

Oleh:
— Rissya P.O.V — “KYAAAA… Kak Rio! Jangan gangguin gue mulu bisa kan!” bidik ku pada sosok kakak kelas yang setiap hari membuat mood-ku turun. “gak bisa deh! Bisa

Aku dan Senja Sahabatku

Oleh:
Ra, hampir di setiap saat teringatmu, hanya satu wejangan Umi yang selalu menyuruhmu bersabar di setiap kali kau pulang dengan wajah muram penuh akan kesedihan, lantas berucap Alhamdulillah, sebab

Kekasih Mautku

Oleh:
Hembusan angin kian menerpa menggelitik lembutnya kulit, semerbak aroma mawar atau mungkin melati mendarat tepat di mancungnya hidung sosok pria atletis. Semakin lama semakin pasti aromanya menusuk dalam ingatan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *