True Love (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 3 May 2017

Di taman sekolah terlihat Rere yang masih berdiri mematung di taman. Sara yang melihat sahabatnya itu segera menghampirinya.
Seketika itu juga Sara langsung terkejut melihat keadaan Rere.
“Ya ampun re!! Lo kenapa?” Tanya Sara sembari menghapus air mata Rere, namun Rere hanya diam.
“Lo kenapa Re?!! Bilang sama gua!!”
Rere pun langsung memeluk sahabatnya itu.
“Gua putus Ra, sama Rama”
“Alhamdulillahhh…”
“Kok lo gitu Ra?”
“Gua seneng re, lo udah ambil keputusan yang bener”
Rere hanya diam
“Coba deh lo pikir, kalo dia sayang sama lo. Dia nggak mungkin gitu aja nerima keputusan lo!”
“Iya juga Ra, kok gua bego banget ya”
“Ya udah, ayo balik ke kelas Re”
“Iya Ra, makasih ya”
“Eh Re, lo kalo nangis jelek banget sumpah, tuh tuh hidung lho jadi makin jelas keliatan pesek”
“Iiihhh!! Ara, nggak lucu ah”
Rere pun dapat tertawa kembali dan melupakan kesedihannya sejenak berkat Sara.

Setelah pembicaraan di taman beberapa waktu yang lalu, Rama yang semula terlihat cuek, kini mulai menampakkan kebenciaannya pada Rere. Rama selalu menatap Rere dengan tatapan sinis, sedang Rere? Rere hanya bisa pasrah terhadap sikap Rama yang membencinya, yang Rere pikirkan saat ini adalah bagaimana cara untuk meminta maaf pada Dimas, ia tidak mau menunda-nunda lagi, karena sewaktu ia berpacaran dengan Rama ia tak punya kesempatan untuk itu. Rama pasti akan memarahinya jika ia terlihat berbicara dengan lelaki lain, apalagi Dimas.

Rere berfikir bagaimana cara untuk menyampaikan maafnya pada Dimas. Ia terus memikirkan laki-laki itu, laki-laki yang pernah ada di hatinya walaupun mereka belum sekalipun berpacaran.

Sepulang sekolah Rere meraih Hpnya. Tidak sengaja ia melihat aplikasi facebook, dan iseng membukanya karena memang sudah lama sekali ia tidak membuka akun facebooknya. Tangannya memang terlihat sibuk menggeser layar hp, tapi pikiran gadis itu entah kemana. Hingga tanpa ia sadari ia mengetik nama Dimas Saputra pada kolom pencarian lalu munculah profil dari nama tersebut. Rere menatap foto profilnya beberapa saat, lalu ia membuka kronologinya, ternyata Dimas tidak pernah membuka akun facebooknya.
Karena Rere tak punya cukup keberanian untuk menyampaikan maaf secara langsung ia berniat untuk mengirim pesan melalui akun facebooknya. Ia berfikiran mungkin saja Dimas membacanya setelah mereka lulus SMK, jadi tak apa untuk mengirimnya. Karena memang mereka sudah kelas 3 dan sebentar lagi akan Lulus.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sudah dua bulan lamanya sejak Rere mengirim pesan itu, namun sikap Dimas masih sama seperti biasa. Rere beranggapan bahwa Dimas belum sempat membacanya. Selama dua bulan ini Rere selalu memperhatikan Dimas. “Dimas manis juga ya” dalam hati ia selalu mengatakan itu.

Hari ini Rere tidak ikut bus jemputan karena ia membawa sepeda motor. Cuaca pada hari itu sangatlah panas, membuat wajah gadis itu berluluran keringat. Rere berjalan menuju parkiran tempatnya menaruh sepeda motor, tidak jauh dari tempatnya memarkir sepeda motor terlihat Dimas sedang berbicara asik dengan leny. Rere sedikit merasakan sakit pada ulu hatinya. Dia kenal benar Dimas, Dimas adalah laki-laki yang tak mudahbakrab dengan perempuan. Dalam perjalanan pulang Rere terus memikirkan kejadian tadi.

“Mungkinkah aku cemburu? Mengapa aku cemburu? Mungkinkah aku menyukai Dimas?” Rere terus bertanya-tanya dalam hatinya hingga ia tak menyadari ada mobil pick up yang memotong jalan tiba-tiba, kecelakaan pun tidak bisa dihindar. Rere terpental jauh ke tengah jalan. Orang-orang langsung menolongnya dan melarikannya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit orang tua Rere shock mendengar diagnosa dokter bahwa kemungkinan putri mereka tidak bisa sadar kembali / dalam keadaan koma. Sara dengan bercampur isak tangisnya berusaha menghubungi Dimas. Dimas yang mengetahui hal itu langsung bergegas menuju Rumah sakit tempat Rere berada. Di perjalanan pikiran Dimas bercampur aduk, bagaimana keadaan Rere?. Ia berharap bahwa gadis dengan nama Rere Rahardian dalam keadaan baik-baik saja. konsentrasi Dimas buyar hingga ia tidak melihat bahwa pada perempatan itu lampu berwarna merah. Dimas terus melaju, dari arah kanannya melaju bus dengan kecepatan tinggi, kecelakaan tidak bisa terelakkan lagi. Dimas tertabrak dengan kerasnya, tubuhnya terpental hingga trotoar. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit. Dalam pandangan Dimas yang mulai kabur hanya wajah cantik Rere yang terlihat, ia sering memanggil Rere dengan sebutan “pesek”, hingga Rere sering terlihat marah manja justru itulah yang Dimas suka, ia juga suka ketika Rere diam-diam mengamatinya. Sebenarnya Dimas sudah membaca pesan dari Rere di akun facebooknya, ternyata sering membuka akun facebooknya hanya untuk melihat wajah manis wanita yang ia cintai itu. Dimas ingin menyatakan perasaannya, namun ia belum siap berbicara langsung dengan Rere. Ketika Rere menangis sendirian di taman, dimas sudah membawa sapu tangan di tangannya. Tapi lagi-lagi Dimas tidak mempunyai cukup keberanian. Ia ingin selalu ada untuk Rere, selalu membuat Rere tersenyum, dan mengusap air matanya ketika ia menangis.

Pandangan Dimas yang semula kabur dan hanya terlihat samar-samar, kini menjadi lebih terang, terang, dan padam. Rupanya tuhan berkehendak lain, nyawa Dimas tidak dapat tertolong lagi. Dokter tidak dapat berbuat apa-apa, alat pacu jantung tidak dapat membantu lagi, monitor detak jantung menunjukan garis lurus.

Masih di rumah sakit yang sama, di kamar yang berbeda. Rere merasakan belaian lembut di pipinya. Perlahan ia membuka mata, terlihat sosok pria yang selama ini hadir di mimpinya, pria itu tak lain adalah Dimas Saputra. Rere menatap Dimas lekat-lekat seperti ingin memastikan bahwa pria itu memang benar-benar Dimas. Dimas memegang tangan Rere, Rere terkejut tangan Dimas sangatlah dingin.
“Re, gua sayang banget sama lo, selama ini gua cuma sayang lo Re, gua belum siap bilang langsung, jadi gua cuma diem”. Ucap Dimas
Rere terdiam, ia bahagia, dan hanya ada air mata yang membasahi pipinya.
“Re, di manapun gua berada, gua bakal sayang lo terus Re, tapi maaf gua nggak bisa hadir di hari-hari lo lagi”.
“Kenapa dim? Lo mau ninggalin gua? Lo mau pindah sekolah??”
“Nanti juga lo faham Re”. Ucap dimas lirih

Dimas memegang pipi Rere lembut lalu mengecup keningnya, kemudian perlahan Dimas berjalan meninggalkan Rere dan kini bayangan Dimas pun hilang.

Beberapa saat kemudian Rere merasakan sakit pada kepala bagian belakang. Lalu samar-samar ia melihat petugas rumah sakit menghampirinya. Rere tidak merasa sakit lagi, Rere merasa tenang dan damai hingga ia tak melihat apa-apa lagi. Sesaat kemudian ia melihat Dimas. Berdiri di depan sebuah gerbang yang amat indah, ia terlihat seperti sedang menunggu seseorang. Rere menghampirinya.

“Lama amat Re, gua nunggu lo dari tadi tau!!”
“Lo nungguin gua?”
“Iya pesek”
“Iiihhh, mulai deh! Ngeselin!”
“Ayo ikut gua Re”
“Ke mana dim?”
“Ke tempat tinggal kita yang baru..”

Rere pun menyambut uluran tangan Dimas. Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Mereka terus berjalan hingga mereka lupa bagaimana dan apa itu jalan pulang.

Rere Rahardian & Dimas Saputra
Note: “cinta sejati tidak akan pernah terpisahkan, bahkan oleh maut sekalipun”
T-R-U-E L-O-V-E

Cerpen Karangan: Anninda Dian Pangesti
Facebook: Anninda

Cerpen True Love (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesetiaan Hujan (Part 2)

Oleh:
“Maafkan aku Rain.” kata Rama sambil membungkam mulut dan hidungnya dengan telapak tangan kanannya. Matanya terasa perih menahan air mata yang hampir jatuh membasahi wajahnya, walau begitu menangis juga

Cinta Di Atas Bencana

Oleh:
06 Desember 2016 17.00 Padang, Sumatera Barat, Indonesia Hana duduk di atas kursi kayu. Kursi itu sudah lama dibuat oleh Abi Hana di halaman rumah. Tanaman pohon kertas yang

Cinta Jadi Luka

Oleh:
“Maaf Ta, aku nggak bisa lanjutkan hubungan kita,” jelas Agung pada Lita kekasihnya “Kenapa?” Lita tak terima “Rasanya berat aku lakukan ini, tapi gimana lagi? Kalo ada pertemuan pasti

Rahasia Cintaku (Part 2)

Oleh:
6 tahun lalu saat dia memohon setelah malam perpisahan sekolah. Dan sampai sekarang, tiga serangkaiku masih terus terjalin walau aku berada di tempat yang sangat jauh dari mereka. Gadis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *