Tungku Tanpa Api

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 8 September 2017

“Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta…” -W.S Rendra-

PEREMPUAN itu gelisah di batas fajar, kemuning pancaran langit tak lagi terbias di wajahnya. Setiap jengkal tubuh kurusnya, seolah redup tak ada sedikitpun pancaran cahaya riang yang menyala seperti biasa. Tersisalah tubuh yang merungkuk tunduk tercium aroma kebimbangan. Fajar menggeser cahaya menunggu mentari hadir mengganti kepiluan. Siti, perempuan itu kini semakin gundah. Perlahan tubuh itu rubuh, sujud di atas pengakuan pagi yang telah datang. Ia memang telah kehilangan malam yang menyiksanya, namun pagi pun tak juga memberi kebahagiaan padanya.

“Bukan mentari pagi yang kuinginkan..”
Rintihnya menatap cahaya kemuning hangat yang menembus kamar lewat sela jendela. Matanya sayu, banyak terpejam semenjak suara berat berdahak yang sering ia dengar telah membisu. Wangi lemon dari parfum yang menebar bersama udara dalam ruang pun tak tercium lagi. Karena yang tersisa kini hanyalah senyum serta tatapan mati, senyuman gagah itu tak bergerak dan hanya menempel di dinding kelabu kamarnya. Siti berjalan pontang-panting menuju senyuman itu, lalu dengan suara parau ia merintih: “Kemana engkau sembunyikan kehangatanmu?”

“Ikhlaskan saja, Siti.. kau tidak benar-benar sendiri..” Larmi, sahabat dekatnya tak tahan pula melihat tingkah Siti yang mulai gila. Benar kata Larmi, Siti memang perempuan yang tidak benar-benar sendiri. Namun kini baginya, keramaian yang mengelilinginya adalah kesuburan akan sepi yang kian hari menggerogoti jiwanya. Seolah orang-orang yang hingga kini menemaninya sejak kepergian pemilik senyum itu telah diangkut pergi juga tanpa sisa.
“Ragaku memang tak sendiri, Mi. Namun jiwaku ini sepi. Aku rindu, Mi. Kangen! Tidakkah kau tahu? Aku tak berdaya ditinggalnya pergi begitu saja.” Siti masih tak ingin kalah dengan bisikan baik sahabatnya.
“Aku ikhlas dia pergi, tapi tolonglah bawa aku seluruhnya pula ke manapun ia pergi.”
“Apa yang membuatmu begini, Ti?” tanya Larmi mulai gemas.
“Andai saja aku tahu..”
“Kau harus tahu, Siti! Kau tak bisa begini terus. Menunggu tanpa kepastian .. Merindu dalam kehampaan. Terimalah kenyataan! Jelas saja ia tak akan kembali, lagi pula kau ini hanyalah …” Suara Larmi tertahan, menggantung.
“Aku ini apa? Kenapa berhenti?” Mata Siti membelah udara menembus retina Larmi serupa hujan yang menghunus luas bumi manusia. Siti berusaha menangkap bahkan menebak kalimat yang tak sempurna itu.
“Kau ini kan hanya istri simpanannya!”
Dengan gemetar suara Larmi membungkam juga mulut Siti. “Si gila Supri itu tak akan kembali dan mengajakmu pergi. Ia telah melupakanmu! Sekarang ia sedang bersenang-senang dengan istri sahnya!! Jangan jadi tungku kosong yang dijejali kayu berapi yang tak abadi itu!!” Larmi meluap-lupa, tak peduli lagi membuat hati sahabatnya tertusuk karena perkataannya. Lebih baik begitu agar Siti tak mati perlahan. Tak bersetubuh dengan setan.

Siti tertunduk untuk ke sekian kalinya. Peringatan sahabatnya menusuk hingga sumsum tulang. Terbayang wajah senyum gagah Supri dalam tunduknya, tercium aroma parfum lemon di antara busuknya cinta, terngiang dalam hatinya; “Membayangkan wajahmu adalah siksa.” Siti tersungkur di atas tanah.
“Kau benar, Larmi. Aku hanyalah tungku tanpa api. Ternyata cintaku tak lagi murni, sebab masih juga aku berharap diberi setelah memberi. Aku tungku tanpa api.”

Alfin Rizal – 2016

Catatan:
Cerpen ini terinspirasi dari puisi W.S Rendra yang berjudul “Kangen”.
Cerpen ini juga menang dalam event Bentang Pustaka 2016

Cerpen Karangan: Alfin Rizal
Blog / Facebook: alfinrizalstory.wordpress.com / Alfin Rizal

Cerpen Tungku Tanpa Api merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arini

Oleh:
Semilir angin berhembus menyebabkan daun-daun kering berjatuhan. Di kursi taman ini aku menikmati sejuknya. Di sini pula aku pertama kali berjumpa dengannya 8 tahun lalu. Masih ku ingat senyuman

Her (Last) Encounter

Oleh:
Udara pagi cukup dingin di kota itu, walaupun matahari cukup hangat menyinari. Headset merah yang dikenakan Adena tidak menganggu pendengarannya terhadap bunyi klakson mobil dan langkah kaki. Lagu-lagu yang

She’s Life Again

Oleh:
Banyak orang mengatakan kita harus melupakan masa lalu tapi bagiku masa lalu adalah guru untuk masa depanku, masa lalu adalah pengalaman yang berharga. Tanpa masa lalu mungkin ku tak

Cerita Dinda

Oleh:
Suasana pagi berselimut sejuk. Udara rindang pepohonan selepas menepis embun menyiarkan harum khas pepagian. Awal hari mulai berjalan. Sang kehidupan telah menulis ceritanya kembali. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah.

Wait For Me In Heaven

Oleh:
‘Tunggu aku yah di surga. Aku sayang banget sama kamu. Maafkan aku, aku pernah membentakmu. Dan sempat tidak percaya denganmu. Aku lebih percaya dengan lelaki b*rengsek itu daripada kamu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *