Tutup Mata Di Atas Tebing

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 2 October 2017

Matahari telah kembali ke peraduannya. Bulan sudah mulai bersinar menggantikan posisi matahari. Namun aku masih melamun di sini. Di atas tebing menikmati pemandangan seluruh kota dari atas sini.

Aku ingat dulu ketika aku juga dalam posisi seperti ini, dia datang menutup mataku dari belakang dan aku akan dengan mudah menebak siapa yang menutup mataku. Sekarang dia telah pergi entah ke mana. Tiba-tiba, dia dan juga keluarganya menghilang. Ketika aku bertanya kepada orangtuaku, mereka hanya diam marah dan melarangku untuk bertanya tentang mereka lagi.

Semua tentangnya ikut hilang. Bahkan barang-barangnya yang aku simpan tiba-tiba menghilang secara misterius seperti dia. Satu hal tentangnya yang masih ada sampai sekarang adalah fotonya ketika sedang menulis di kelas. Wajah teduhnya yang dibingkai kerudung sangat elok dan menawan.

Dulu di masa SMA, kami adalah seorang sahabat yang amat sangat dekat. Sampai-sampai ada gosip yang mengatakan kami pacaran. Namun sebenarnya pacaran adalah salah satu hal yang kami jauhi. Kalaupun kami membahas tentang hal itu, hanya untuk seru-seruan agar tak dibilang ‘terlalu polos’ oleh teman kami yang lain.

Umurku sekarang dua puluh lima dan dia mungkin dua puluh empat tahun. Sudah tujuh tahun kami berpisah. Ingatanku kembali melayang pada saat hari kelulusan kami. Dia berada di urutan ketiga lulusan terbaik. Sementara aku berada satu angka setelahnya.

Aku ingat saat dulu dia bercerita tentang bagaimana kekecewaannya tidak pernah membahagiakan ibunya sebelum tiada. Dia juga pernah bercerita bagaimana dia pernah mencintai seseorang yang berkepribadian baik. Namun sayangnya, seseorang itu tak pernah ingin dekat dengannya.

Semua masa lalu tentangnya perlahan muncul kembali ke dalam ingatanku bagaikan zombie yang hidup kembali setelah dikubur sekian lama. Hasilnya, sepanjang perjalanan pulang dari atas tebing menuju rumah hanya dia yang ada di pikiranku.

Duduk di teras rumah adalah salah satu hal yang paling aku sukai. Memandang keramaian jalan sementara di sini lengang tiada seorangpun nampak karena memang aku tinggal sendiri. Halaman rumahku teduh karena dikepung oleh bangunan-bangunan pencakar langit. Sementara rumahku sendiri hanya dua lantai dengan luas total tanah lebih dari seratus meter persegi.

Rumahku ini berhadapan langsung dengan rumah sakit ternama dan hanya berjarak beberapa blok dari universitas tinggi bertaraf Internasional. Rumahku berada di pusat kota yang kanan kirinya adalah gedung perusahaan-perusahaan bahkan gedung Kedutaan Besar Negara Jepang.

Dulu ada yang pernah menawar rumahku ini dengan harga tinggi. Lima puluh juta rupiah per meter dibayar tunai. Itu sangat menggodaku untuk menjual rumah ini. Namun, aku tak mau melepasnya dengan harga berapapun.

Lamunanku terbuyarkan oleh tukang pos yang memanggilku untuk memberikan sebuah amplop yang berisi surat. Aku bingung, di zaman yang serba modern seperti ini kenapa tak menggunakan peralatan elektronik saja? Ada sms, telepon, bahkan e-mail jika tak mampu membayar tarif sms yang memang agak mahal dikarenakan jarak.

Aku membawa masuk amplop dan membukanya. Sebuah kertas sobekan dari buku yang dipenuhi tulisan yang rapi nan indah.

Untukmu sahabatku,
Maafkan aku selama ini tak pernah menghubungimu. Tujuh tahun kita berpisah. Aku sudah meminta orangtuamu untuk mengembalikan semua barangku yang kau simpan. Dan aku juga meminta orangtuamu untuk tidak bercerita apapun tentang kejadian yang pernah aku alami.

Ah, lebih baik tak usah mengingat masa lalu yang suram. Oh ya, bagaimana kabarmu? Aku dengar kakakmu telah menikah dan kedua orangtuamu meninggal. Jadi kau sekarang sendiri di rumah ya. Aku ingat bagaimana bentuk rumahmu. Halaman yang luas tempat kita bermain dulu. Dua kursi dari kayu jati kesayangan ayahmu dulu. Dan kamarmu yang serba hitam itu. Apakah semua itu masih? Aku ingin ke rumahmu suatu saat nanti.

Aku telah menuliskan alamatku di belakang surat ini. Hanya untuk berjaga-jaga jika kau mau datang berkunjung atau membalas suratku. Aku sangat merindukanmu.

Dari sahabatmu,
Lis

Lis. Sebuah nama yang dulu pernah mendiami hatiku. Dan sekarang hatiku itu kosong tak berpenghuni. Aku memang bahagia tapi itu di sisi luarnya. Di sisi terdalam, aku kesepian sejak tak ada dia. Tujuh tahun berlalu. Tujuh tahun itu juga aku selalu kesepian. Tak pernah ada satu wanita pun yang mengisi kekosongan di hatiku selain dia.

Aku membalik kertas itu dan menyimpan alamat itu di gadgetku. Aku bimbang apakah aku harus membalas surat itu atau langsung ke rumahnya.

Malam ini setelah aku berpikir hingga larut malam. Aku memutuskan untuk mengajaknya bertemu melalui surat.

Untukmu teman masa kecilku,
Semua yang kau sebutkan di suratmu memang benar. Rumahku yang kini sepi, aku tak berani mengubah apapun kecuali hanya memperbarui catnya dengan warna yang sama.
Bagaimana kalau kita bertemu? Aku akan menunggumu di tempat kau menutup mataku dulu. Aku tahu alamat rumahmu yang sekarang tak jauh dari tempat itu. Hari minggu jam delapan pagi. Aku harap kau bisa datang

Dengan kerinduan yang terpuaskan,
Rei

Akhirnya aku bisa tidur malam ini. Kulihat lagi sebelum tidur jam digitalku menunjukkan pukul 00:00 AM. Aku akan mengirim surat itu besok pagi.

Sudah setengah jam aku menunggunya. Mungkin dia tak punya waktu. Atau mungkin memang tak memiliki waktu. Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi rumahnya saja. Aku ingin melihat wajahnya yang manis itu. Aku tak lagi sayang padanya tapi lebih dari itu, aku cinta padanya. Walaupun mungkin ia tak pernah memiliki perasaan yang sama padaku.

Menuruni tebing ini dan mengendarai mobilku menuju ke rumahnya. Aku ingin tahu apa yang menyebabkan ia tiba-tiba saja menghilang tak berbekas dan tiba-tiba saja kembali dengan mengirimkan surat padaku. Tapi ketika aku ajak dia bertemu, dia tak datang. Ah, ini dia rumahnya. Aku cek sekali lagi memang benar ini rumahnya.

Aku membuka pagar. rumah itu yang terlihat sudah karatan. Aku berjalan melintasi rumah ini. Ini seperti rumahku sendiri tapi dengan halaman yang lebih kecil karena memang baru beberapa tahun dibangun. Tak seperti rumahku yang telah dibangun sebelum tanah sawah mulai dibangun gedung bertingkat.

Aku ketuk pintu rumah itu tiga kali. Seorang kakek tua membuka pintu. Namun ketika dia melihat wajahku dia langsung menutup kembali pintunya. Aku langsung sadar siapa dia, om Ardi. “Om, ini saya Rei om. Saya mencari Lis yang mengirimi saya surat beberapa hari yang lalu.” Kataku dengan suara yang memang sengaja aku keraskan.

Lalu pintu itu terbuka lagi. Wajah ayah Lis menjadi datar dan lebih banyak kerutan sekarang. “Tak mungkin Lis mengirimi kamu surat beberapa hari yang lalu.” Kata ayah Lis dengan mata berkaca-kaca namun masih tetap tajam itu. “Dia sudah meninggal sejak satu tahun setelah kami pindah ke sini.”

Tubuhku langsung lemas dan terhuyung kebelakang. Tak mungkin dia sudah tiada. Lalu siapa yang mengirimiku surat beberapa hari yang lalu? Om Ardi langsung memegang tanganku dan membawaku masuk ke dalam rumah. Lalu menyuruh pembantunya untuk memberikan minuman padaku.

“Om akan ceritakan semuanya padamu sejak kami pindah kesini dan alasannya.” Om Ardi menghentikan perkataannya dan menunduk. “Tapi sebelum itu, om ingin melihat surat dari Lis itu.”

Aku membuka tasku dan mengambil sebuah amplop dengan surat di dalamnya. Lalu aku serahkan kepada om Ardi. “Aku tak percaya ini. Ini benar-benar tulisan Lis.” Kata om Ardi dengan raut wajah antara sedih dan bingung.

“Bailklah, om akan cerita semua.” Aku mulai fokus mendengar penuturan om Ardi.
“Waktu itu sebulan sebelum kami pindah, kami mengetahui bahwa Lis mengidap kanker otak stadium III. Wajahnya waktu itu terlihat sangat tegar dibandingkan kami. Perpindahan kami kesini adalah keputusannya sendiri karna dia tak mau kamu mengetahui penyakitnya dan menjauhinya. Sehari sebelum kami pindah, dia tak mau ke sekolah dan pergi ke rumahmu. Namun ketika dia pulang, dia membawa satu kardus barang-barang yang katanya barang miliknya yang kamu simpan. Om waktu itu hanya diam mendengar penjelasannya.” Om Ardi meminum teh yang disajikan pembantunya.
Dia menghela nafas panjang. “Om waktu itu sadar. Dia mencintaimu. Dia tak mau kau mengingatnya lagi. Dia merasa dia hanya menjadi beban pikiranmu jika kamu tahu tentang kondisinya.

Lalu tentang rumah ini, sebelum operasi dia meminta untuk direnovasi seperti rumahmu. Agar ketika kamu di sini kamu akan merasa seperti rumah sendiri. Operasinya memang sukses. Kankernya telah diangkat namun selang beberapa lama kondisinya semakin menurun dan akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.” Om Ardi menitikkan air mata. Suasana hening bertahan cukup lama sampai akhirnya aku meminta om Ardi untuk mengantarkanku ke makam Lis.

“Dia meminta dimakamkan di sebelah makam almarhumah ibunya.” Om Ardi diam sepanjang perjalanan setelah mengucapkan kalimat itu.

Nama Lis terukir dengan indah di batu nisan yang dingin dan kaku itu. Kanker yang telah lama menggerogoti otaknya itu adalah hal yang menyebabkan kami berpisah bahkan hingga kami terpisah dua dunia. Aku menaburkan bunga di atas makamnya dan berdoa.

Semoga kelak kami akan bertemu lagi di dunia yang abadi. Sampai jumpa, Lis. Selamat beristirahat dengan tenang. Aku akan selalu mengenangmu dengan menutup mataku di atas tebing kita.

Cerpen Karangan: Ran Kun
Facebook: ridwan agung nugroho (Ran Kun)

Cerpen Tutup Mata Di Atas Tebing merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Always Remember

Oleh:
Felly, gadis cantik itu masih tetap di tempatnya. Tidak bergerak. Tetap diam membisu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir tipisnya itu. Dia berdiri dengan tatapan kosong

The End (Part 3)

Oleh:
Saat Leon akan berjalan menuju kelasnya, Richard berjalan keluar dari ruangan kelas. Tapi tiba-tiba saja, langkahnya goyah. Karena merasa heran, Leon menghentikan langkahnya. Ia melihat Richard yang sempoyongan dengan

Ketika Bintang Jatuh Cinta pada Hujan

Oleh:
Siang ini rintik hujan menyapa tepat begitu sepasang sepatu kets kesayanganku hendak melangkah keluar rumah. Semilir angin berhembus dan membuat setiap tengkuk yang dilewatinya bergidik kedinginan. Dua lapis baju

Pertemuan Singkat

Oleh:
Seorang gadis yang mengaharapkan kebahagian dan kebebasan seperti gadis-gadis yang lain. Renzy.. itu nama sang gadis yang rindu akan kebebasan seperti gadis yang lain, dia sering di panggil zyzy..

Sesal

Oleh:
Kau tahu, sesungguhnya penyesalan terdalamku adalah saat kehilanganmu tanpa terucapnya sebuah kata perpisahan. Malam itu ketika hujan turun rama menarik tangan mila penuh harap, mengucapkan rangkaian kalimat yang begitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tutup Mata Di Atas Tebing”

  1. Dinbel says:

    Jadi sedih bacanya,
    Sukses terus untuk pengarang ya, di tunggu cerpen selanjutnya & klo bisa yang lebih, lebih & lebih sedih lagi yaa, biar makin baper gitu 😀
    Good joobs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *