Two Persons Who I Loved

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 November 2014

Kumpulan awan putih menghilang terganti dengan cerahnya langit biru. Kabut lebat yang menutupi pandangan mata kini menghilang. Terlihat jam tangan Rian menunjukkan pukul 06:30 pagi. Sekolah masih terlihat sepi hanya beberapa teman Rian yang baru datang. Namun Rian hanya duduk tenang melamun di dalam kelas, melihat awan yang perlahan bergerak perlahan tersapu angin.

Entah apa yang ia pikikan. Rian selalu melamun, murung dan tak acuh dengan sekitarnya. Ia sering begitu disaat pelajaran dimulai maupun jam istirahat. Teman sekelasnya tidak ada yang tahu menahu tentang apa yang Rian rasakan.
Hanya ada seseorang yang tahu persis apa yang ia alami. Orang yang berdiri di pintu kelas memandang Rian yang dari tadi melamun. Farid teman sebangku Rian dan juga teman SMP Rian. Farid tahu Rian bersifat begitu semenjak kejadian di hari ulang tahunnya.

Farid masih ingat dengan kejadian tiga tahun lalu. Di malam Farid berulang tahun, malam yang dihiasi dengan pesta dan canda tawa sahabat-sahabatnya. Namun tidak bagi Rian, malam itu adalah malam yang menyisakan sayatan luka yang dalam di hati Rian dan malam terakhir ia bisa bertemu dengan pujaan hatinya.

“Brakkk..!!!” Hentak Farid memecah keheningan.
Rian tetap diam tak merespon.
“Hei Rian! Sudahlah, lupakan kejadian itu. Sudah 3 tahun Rian! Dia pasti akan mengkhawatirkan jika kau terus begini.” Bujuk Farid.
“Hmm, dia tak berkata kalau dia akan meninggalkanku begitu cepatnya.” Jawab Rian dengan nada berat.
“Ayolah Rian, apa kau tak ingat? Dia selalu memintamu agar terus berjuang.”
“Aku selalu mengingatnya Farid. Hari pertama aku melihatanya dan hari terakhir aku bertemu dengannya. Setiap hari aku mengingat senyumannya, kata-katanya juga nasehatnya yang selalu tulus. Andai aku tahu jika dia menyembunyikannya di waktu itu.” Seketika air mata hangat tetes dari pipi Rian.

Di pagi hari yang cerah. Pagi hari yang mengubah sifat Rian. Pagi hari yang selalu membuat Rian tersenyum. Pagi hari yang selalu Rian ingat. Hari pertama kali Rian melihat senyumnya. Di dalam ruangan penuh dengan siswa yang duduk dengan rapi. Di dalam hiruk piruk pemilihan pengurus OSIS. Rian pertama kali melihat senyumannya, senyuman yang menenangkan hatinya. Senyuman yang meluluhkan sifat kakunya.
“Siapa nama perempuan yang tersenyum itu?” Gumamnya dalam hati.
Selang puluhan menit kemudian, rapat pemilihan pengurus OSIS pun selesai. Rian bergegas keluar dari ruangan tersebut. Di luar Rian berputar-putar, mencari perempuan tadi. Hanya ada satu harapn di hatinya, bisa berkenalan dengannya.
“Hei, kau cari siapa Ian?” Tanya Farid yang menepuk pundak Rian.
“Dasar kepo kau, Far.”.
“Yee biarin. Cari siapa sih? Perempuan tadi?” Lanjut Farid yang penasaran.
“E..em… bisa jadi,” Jawab Rian ragu.
“Hahahaha. Ketauan kamu ya Rian. Cie… jatuh hati di pandangan pertama nih” Goda Farid dengan nada puitis.
“Ah, apa-apaan sih kau Farid. Kamu kenal gak sama dia?”
“Ciee… cie… Ada yang penasaran nih. Daripada aku ngomongin semua tentang dia, lebih baik kamu tanya aja sendiri deh. Dia sering ke perpus saat istirahat.”
“Umm, jadi gitu. Masih satu jam pelajaran lagi istirahat Far. Masuk kelas dulu yuk” Ajak Rian yang tersenyum kegirangan sambil berlari meninggalkan Farid.
“Ahh… kamu tu Rian, jangan ninggal napa!”

“Tokk… tok… tok..”
“Permisi Pak, maaf tadi kita ikut rapat OSIS jadi kita terlambat.” Lapor Rian dan Farid kepada Pak Ansyar guru bahasa Indonesia mereka.
“Oh iya. Silahkan duduk.” Jawab Pak Ansyar singkat.
Disaat pelajaran, Rian melamunkan orang yang menawan hatinya. Rian tidak memperhatikan gurunya yang dari tadi meliriknya.
“Hei… hei… hei… lihat murid-murid, teman kalian sepertinya jatuh cinta tuh” Goda Pak Ansyar yang melirk ke arah Rian.
“Cie…cie… Riiaaannn, punya pacar baru yaaa???” Teriak teman-temannya.
Lamunan Rian pun buyar terganti dengan wajah merah merona. Rian hanya terdiam malu. Tapi ia masih menunggu waktu berganti. Menunggu jam istirahat tiba. Dan mencari sosok yang cantik tadi.

“Tettt… teettt… tettt…” Bel berbunyi tanda istirahat
Rian merapikan buku pelajarannya, ia keluar kelas bergegas pergi ke perpus. Ia tak mengajak sohibnya untuk kali ini. Sesampainya di perpus, Rian mengambil sebuah buku novel berlagak membacanya sambil mencari-cari seseorang.
“Puk…” Tepukan kecil di pundak Rian. Rian membalikkan badan, terlihat senyuman manis dari orang yang menepuk Rian tadi.
“Hai, kamu Rian Yudiansyah, kan?” Ia tersenyum lagi, ternyata ia memiliki gigi gingsul yang menambah manis senyumnya. Rian diam menatapnya.
“Hai… Hallo?” Tanya peremuan itu sambil menggerakan tangannya di depan muka Rian
“Emm… eh.. iya aku Rian, emm kamu siapa ya?” Jawab Rian yang tersadar dari lamunannya.
“Oh iya sampai lupa, perkenalkan aku Zahrah Salsabilla. Aku kelas delapan F, senang berkenalan denganmu Rian.” Kesopanan Zahrah membuat Rian semakin mengaguminya.
“Sopan sekali kamu Ra, biasa aja kan? Soalnya aku gak terbiasa.”
“Hahaha, oke Ian”

“Tetttt… teettt… tettt…” Bel tanda masuk kelas berbunyi.
“Eh Ian dah bel nih, aku masuk kelas dulu ya”
“Oke Ra,” Balas Rian dengan senyum kecil.
Rian berjalan santai ke kelasnya, tampak senyum yang menegembang dari wajahnya. Ia sangat senang bisa berkenalan dengan Zahrah.

Di kamar yang masih cerah, jendela masih terbuka. Hening dan tenang terasa. Dinginnya angin melengkapi gelapnya malam, namun Rian baru saja meletakkan bolpennya. Rian beranjak dari meja belajarnya. Rian menghempaskan tubuhnya membuang rasa pegal dan lesu. Namun tak seperti biasanya, Rian tak langsung terlelap. Ia tersenyum melihat ke atas, melamunkan seseorang yang membuat ia jatuh hati.
“Ahhh… Andai saja aku dapat selalu bersamanya dan membuatnya tersenyum” gumam Rian dalam hati. Perlahan matanya Rian menutup, Rian terlelap meninggalkan senyuman yang masih tampak di wajahnya.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan indahnya. Rian mempunyai kebiasaan baru, pergi ke perpustakaan begitu pula Zahrah. Perpustakan yang hening terhiasi dengan senyuman dan canda tawa sepasang sahabat. Hari demi hari di hati mereka tumbuh benih-benih cinta yang mereka rasakan.

Tak terasa dua bulan mereka selalu bersama, timbul keinginan di hati Rian untuk menyatakan perasaannya. Ia berniat untuk melakukannya di malam hari akhir bulan ini, kebetulan baru liburan semester dan Farid juga akan mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya. Kurang dua hari memang namun Rian telah mengajak Zahrah. Zahrah menyetujuinya. Hati Rian bergembira, ia senang sekali. Rian tak sabar menunggu hari itu.

Hari kamis hari terakhir bulan ini. Di depan rumah orang yang ia cintai. Di teras rumah yang sepi dan dingin. Jam tangan Rian menunjukkan pukul 10 malam. Dengan berharap cemas Rian mengetuk pintu rumah tersebut. Dibukanya pintu dari dalam. Tampak bidadari cantik memakai gaun putih, rambut panjangnya menjulur indah ke bawah, wajah cerah nan cantik itu tersenyum kepada Rian. Rian bengong melihat Zahrah bagai bidadari.
“Hei, Ian? Jadi gak nih?” Tanya Zahrah yang menyadarkan Rian dari bengongannya.
“Eh… Iy… iya jadilah” jawab Rian gugup.
“Kamu udah ijin ma ortumu kan Zah?” lanjut Rian
“Udahlah, ortuku baru di luar kota sama adikku juga. Mereka baru menjenguk nenekku yang sakit. Jadi aku di rumah sendirian.” Jawab Zahrah lugas.
“Oh begitu ya..”
“Eh Ian, anyway aku udah cantik belum?” Tanya Zahrah sembari merapikan gaunnya.
“Emm menurutku cukuplah untukmu” Ejek Rian menutupi kekagumannya.
“Ahhh kamu Ian kalo ditanya pasti begitu” Balas Zahrah kesal.
“Hahahaha, Cantik kok Zah, cantikkk banget…” Bujuk Rian dengan senyuman.
“Hehehehe, thanks Ian”
“Eh iya ayo kita berangkat.”
“Oke” Zahrah tersenyum.

Rian mengantarkan Zahrah ke rumah Farid. Zahrah memeluk badan Rian karena hawanya dingin. Pelukan Zahrah terasa hangat. Hati Rian senang seolah-olah ingin meloncat keluar.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Farid. Di sana banyak teman-temannya yang memeriahkan pesta. Rian dan Zahrah masuk bersama. Tampak teman-teman mereka yang menyoraki mereka. Pipi Zahrah yang putih memerah malu. Namun Rian tidak menghiraukannya dan tetap menggandengnya.

Selaku tuan runah Farid mempersilahkan para tamu undangan untuk mencicipi makanan Namun tetap tiada dari mereka yang bergerak mengambil makanan. Tanpa Farid sangka sahabatnya mengambil makanan yang disajikan tanpa perlu dipaksa.
“Hei ayolah, kasihan ini makanan nggak dimakan. Mubadzir lho nanti.” Teriak Rian mengajak tamu undangan. Terlihat Zahrah tersenyum sendiri yang membuat sahabatnya heran. Setelah ajakan Rian para tamu undangan pun mengambil makanan.
“Hei bro, thanks ya” Farid tersenyum.
“Hahahaha, gak pa pa Farid. It’s easy” Rian tertawa dengan riangnya.

Setelah acara makan-makan selesai, Farid mengambil kamera digital. Semua tamu undangan berkumpul di tengah ruangan termasuk Rian dan Zahrah. Mereka berfoto bersama tampak senyuman dan tawa menghiasi malam itu.

Setelah acara selesai, Rian dan Zahrah menyalami Farid dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan pelukan Zahrah menambah kuat. Zahrah tersenyum dari tadi. Dinginnya malam tak terasa bagi dua orang tersebut.

Mereka sampai di rumah Zahrah. Di depan rumah Zahrah yang sepi, Rian menyatakan perasaannya.
“Zahrah…”
“Iya Ian?”
“Sebenarnya aku suka kepadamu dari pertama kali aku melihatmu, dan sampai hari ini rasa suka itu tumbuh menjadi cinta. Aku cinta kamu Zah. Maukah kamu menjadi pacarku dan menemani serta mengisi hari-hariku?” Tanya Rian berharap cemas, hatinya berdegup kencang tak menentu.
“Emm… Rian sebenarnya aku…” Terlintas senyuman dari Zahrah yang seketika berubah menjadi isak tangis. Zahrah berlari ke dalam rumah dan menguncinya
Rian bingung dan sedih setelah kejadian itu. Zahrah sudah masuk ke dalam dan mengunci rumahnya. Rian pulang dengan sedih dan kecewa. Sesampainya di rumah Rian termenung, tergeletak di atas ranjang. Pandangannya kosong. Pikirannya penuh dengan tanda tanya. Mulai hari itu Zahrah tidak menghubungi Rian.

Hari pertama masuk sekolah setelah liburan Rian ke kelas Zahrah untuk mnecarinya. Namun ia tak berangkat. Dan teman-temannya juga tidak tahu kabarnya. Rian mencoba mencarinya beberapa hari kemudian, namun tetap saja nihil.
Dua minggu kemudian diumumkan oleh para pengurus OSIS kabar yang membuat hati Rian hancur tak karuan, kabar bahwa siswa yang bernama Zahrah Salsabilla telah pulang ke rahmatullah. Rian menangis, ia tak menghiraukan pandangan bingung para temannya. Tangan sahabatnya menepuk pundak Rian agar ia tabah dan sabar mengahadapinya. Hanya itu yang dapat dilakukan Farid karena ia tahu seberapa dekat Rian dengan Zahrah.

Di rumah, di dalam kamar. Mata Rian merah tak bisa menangis lagi. Rian masih memakai seragam sekolah, duduk termenung tak merelakan seseorang yang ia cintai telah pergi. Terlihat sepucuk surat untuk Rian yang ibunya letakkan dari siang tadi.
Dibacanya nama pengirim surat tersebut, Zahra Salsablla. Dengan mata yang mulai melembab Rian membaca surat itu.

Teruntuk Rian tersayang

Maaf kan aku rian, karena aku hanya bisa memberitahumu lewat sepucuk surat ini. Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tiada di sisimu. Maaf aku telah meninggalkan mu waktu itu. Aku hanya tidak ingin membuatmu bersedih dan menderita. Karena aku tak bisa menghiasi hari-harimu dan menemanimu lebih lama.
Dari awal aku tak mengatakanmu sesuatu tentangku, yang membuat aku tak bisa bersamamu. Selama beberapa tahun ini, aku mengidap kanker otak dan kondisiku semakin hari semakin buruk. Aku merasa tak akan bertahan lebih lama, jadi aku memutuskan meninggalkanmu. Hanya dengan surat ini aku dapat mengungkapkannya.
Pertama kali aku melihatmu, aku tertarik kepadamu. Hanya lewat teman-temanku aku bisa mencari info tentangmu. Dan tak kusangka kita akan bertemu di perpustakaan.. Ruang hening nan indah, tempat kita selalu berbincang, tempat dimana aku jatuh hati kepadamu Rian.
Kau ingat SMA yang kita bicarakan? Aku ingin kamu masuk kesana, carilah ilmu dan raihlah cita-citamu Rian. Aku juga berharap di Sma itu kamu bisa mendapatkan penggantiku. Aku harap kamu dapat mencintainya dan menyayanginya seperti kamu kepadaku.
Setelah kepergianku aku harap kamu akan dapat menjalani hidup lebih baik. Jangan bersedih kau tak perlu melupakanku, jadikanlah aku kenangan yang tak terlupakan di hatimu. Dan aku harap kamu dapat merelakanku.
Terimakasih atas cinta, senyuman dan candatawamu yang telah kau berikan Rian. Selamat tinggal.
Terimakasih banyak

Zahrah Salsabilla

Tiba-tiba air mata yang semula dingin menjadi hangat menetesi surat tersebut. Hati Rian menjadi beku. Tak ada orang yang dapat menghangatkannya.

Langit biru terlihat cerah. Angin pagi menambah segarnya pagi. Di dalam kelas. Farid dan Rian terdiam, mengingat kejadian tiga tahun lalu. Rian terlihat pucat dan sedih, tampak air mata menetes dari mata Rian.
“Maaf Rian aku tak bermaksud untuk mengingatkanmu.” Farid merasa bersalah mengingatkan Rian pada hari itu.
“Tenang saja Farid, hatiku sudah sudah terlanjur sakit. Lagipula aku juga selalu ingat itu.”
“Ehmmm, siapin bukumu Ian, tuh Pak Heru dah di depan kantor.”
“It’s already here Farid.” Jawab Rian datar
“Udah ah jangan pake bahasa inggris napa, udah tau nilaiku jelek tetep aja ngajak ngbrol pake bahasa inggris” Farid mendengus sebal.

Bel telah berbunyi empat menit lalu namun Rian yang duduk di bangku pojok tetap tak bergeming. Jam pertama adalah pelajaran Bahasa Inggris. Guru Bahasa Inggris juga wali kelas XI C, wali kelasnya Rian.
“Ssssttt Rian” Panggil Farid yang menyenggol Rian.
“Appa sih…” jawab Rian yang dari tadi melihat keluar jendela.
“Itu lihat” Farid menunjuk Pak Heru yang membawa siswi baru ke dalam kelas. Namun Rian tetap cuek.
“Hai perkenalkan namaku Ranai Salsabilla, senang berkenalan dengan kalian” Sapa siswi baru yang tersenyum sembari mencari-cari seseorang.
Rian terkejut, suara yang didengarnya mirip dengan suara yang ia dengarkan tiga tahun lalu. Ia refleks menoleh ke arahnya. Tampak perempuan manis nan cantik yang baru saja memperkenalkan dirinya. Wajah yang tak asing bagi Rian.

“Hai Rian, kau memang seperti yang kakakku bilang. Kau tampan.” Sapanya mendekati bangku kosong di belakang Rian.
Ranai menyapa dengan senyuman yang Rian kenang. Kata-kata yang baru saja keluar itu, sontak membuat teman-teman Rian juga Farid terkejut. Tak terkecuali Rian sendiri. Rian terkejut sekali, ia senang dan takut seperti melihat penampakan perempuan yang ia cinta.
“Emmm, hai Ranai, Zahrah tak bilang kalau dia punya kembaran.” Jawab Farid mewakilkan jawaban sohibnya yang tetap terpana.
Rian baru tahu kalau dia adalah kembarannya Zahrah. Rian memperhatikan dari ujung kaki sampai wajah, mirip persis dengan Zahrah perempuan yang Rian cinta. Tak terasa oleh Rian bahwa ia jatuh hati kepada dua orang yang ia cinta.

Cerpen Karangan: Arta Rafian
Facebook: Assa Raganata

Cerpen Two Persons Who I Loved merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Luwak Patah Hati

Oleh:
Sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang remaja yang menjadi Luwak karena patah hati, haha jangan diangggap serius luwaknya itu hanya filosofi saja, katakan nama gue Rey, gue adalah seorang

Khayalanku

Oleh:
Siang itu, sinar matahari terlalu sengit untuk dilihat secara langsung hingga menembus kaca mobil. Aku (Sesil), Kirin, Didi, dan Julian yang sedang menyetir mobil, sedang menuju Dunia Fantasi yang

Playboy

Oleh:
Siang ini begitu terik. Matahari menyengat kulitku tanpa ampun. Sedari tadi aku mengusap keringat yang menetes di dahiku dengan dasi sekolahku. “Angkotnya pada ke mana sih? Sepi banget,” gumamku

I Hate U, I Love U

Oleh:
“Main basket yuks fay!” ajak vector, Fay menggeleng. Ia sudah lelah berurusan dengan kata Basket, sebenarnya bukan olahraga Basketnya namun pemainnya. Refay Fereira atau Fay, siswi kelas 11 SMA

Sesal Dan Harapan

Oleh:
“Sampai kapankah kita, akan bersama?” Tanyaku, pada sesosok wanita cantik, yang ada di hadapanku. Dia hanya tersenyum padaku, sambil menepuk bahuku. “pertanyaan kamu kok aneh gitu sih?” balasnya. “kenapa?

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *