Ujung Penantian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 16 February 2014

Siang itu dia hanya tidur malas-malasan di dalam kamarnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sehingga dia terlihat begitu gelisah. Padalah tak biasanya dia seperti itu. Yah, Kevin menang dikenal sebagai remaja yang selalu riang dan ramah terhadap siapapun. Tapi sikapnya kali ini tampak terlihat sangat berbeda.

Akhirnya dia mengambil handphonenya yang tergeletak di atas bantal tempat tidurnya. Lalu dia menghubungi seseorang entah siapa. Dan dia berbicara dengan seseorang di seberang sana. “Iya. Nanti aku jemput di rumah kamu jam tujuh ya. Jangan lupa jam tujuh. Iya, iya. Oh nggak usah aku jemput? Oke deh” Itulah kata-katanya dengan seseorang melalui handphonenya.

Dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan pergi ke suatu tempat dengan motor kesayangannya. Ternyata dia pergi ke toko bunga. Dia membeli sekumtum mawar merah. Dia tampak senang sekali. Entah siapa yang akan menerima bunga itu.
Sampai di rumah dia bergegas ke kamar mandi dan mandi. Lalu berdandan. Mamanya heran dengan sikap putra semata wayangnya ini. Tak biasanya Kevin berdandan seperti ini. Sehingga dia nampak terlihat lebih tampan. Memang dari awalnya Kevin sudah tampan. Apalagi kalau berpenampilan seperti sekarang ini. Dia lebih pantas disebut pangeran.

“Kevin, kamu mau kemana? Tak biasanya kamu berpenampilan seperti ini. Jangan-jangan kamu mau kencan dengan seseorang ya? Wah, anak Mama sudah mulai mengenal cewek. Jangan lupa kenalkan pada Mama ya!” kata Mama sambil memandangi Kevin.
“Mama ini apa-apaan sih? Kevin belum punya pacar, Ma. Kevin cuma mau ke rumah temen Kevin. Apa salah kalau Kevin berpenampilan seperti ini? Bukankan sebelumnya Mama yang menyarankan Kevin untuk berpenampilan seperti ini?” kata Kevin sambil berhenti merapikan rambutnya dan sejenak memandang mata Mamanya keheranan.
“Iya. Tapi kamu sudah besar. Sebentar lagi udah mau jadi mahasiswa. Masa kamu nggak mau pacaran atau mengenalkan seseorang pada Mama dan Papamu sih. Mama juga pengen kenal sama cewek yang udah merebut hati anak Mama tersayang ini,” kata Mama sambil membelai rambut anak kesayangannya lalu mencubit kedua pipi Kevin. Sehingga merahlah pipi Kevin dan dia hanya meringis menerima perlakuan Mamanya.
“Mama tahu sendiri kan, besok Kevin harus berangkat ke Paris untuk kuliah di sana? Kevin nggak mau pacar Kevin nanti kecewa dengan keberangkatan Kevin. Apalagi Kevin ke Paris bukan untuk waktu yang sebentar. Kevin di sana untuk tujuh tahun dan beberapa tahun sekali Kevin pulang ke Indonesia, Ma. Itu bukan hal mudah bagi Kevin dan pacar Kevin nanti untuk mempertahankan hubungan yang terpisah jarak dan waktu. Mungkin nanti kalau Kevin sudah menyelesaikan studi di Paris, Kevin akan mengenalkan seseorang pada Mama,” ucap Kevin sambil memegang tangan Mamanya dan menatap mata Mamanya dengan tatapan kasih sayang.
“Iya, sayang. Mama tahu. Mama serahkan semua padamu. Mama tahu kamu bisa menemukan jalan yang terbaik untuk dirimu sendiri. Mama akan selalu mendukung semua keputusanmu. Karena Mama sayang sama kamu,” kata Mama sambil meneteskan air mata. Lalu Kevin menghapus air mata Mamanya itu. Dia tak ingin melihat ada setetes air matapun yang keluar dari mata Mamanya itu.

Setelah sampai di tempat yang dia tuju, Kevin masuk ke tempat tersebut. Dan nampaknya dia mencari seseorang. Dia celingukan kesana kemari. Dia tersenyum saat ada seseorang yang melambaikan tangannya pada Kevin. Lalu Kevin segera menghampiri wanita yang tadi melembaikan tangannya. Mereka saling tersenyum dan sapa-menyapa.

Ternyata wanita itu adalah Lisa. Yah, sudah lama Kevin memendam perasaannya pada Lisa. Sejak SMP mereka selalu satu sekolah. Dan mereka terlihat sangat akrab. Kemana pun mereka selalu berdua. Tak salah kalau orang-orang beranggapan kalau mereka berpacaran. Padahal tidak seperti itu pada kenyataannya.
“Kevin, ada apa kamu mengajakku ke sini? Biasanya kamu datang ke rumahku. Tumben kamu ngajak aku keluar rumah,” kata Lisa sambil terus tersenyum manis pada Kevin. Senyum itulah yang selalu dirindukan Kevin. Dan sebentar lagi, dia akan kehilangan senyum manis dari bibir wanita yang sangat dikaguminya. Mungkin bukan hanya sekedar mengagumi.
“Aku mau bilang sesuatu padamu. Kamu tahu kan besok aku udah berangkat ke Paris untuk melanjutkan pendidikanku di sana. Aku ingin kamu mengetahui rahasia yang udah lama aku pendam dalam-dalam. Rahasia yang selalu membuat aku bersemangat. Dan terkadang rahasia yang membuat aku merasa akan kehilangan seseorang yang sangat aku cintai. Aku rasa ini waktu yang tepat untuk aku mengatakan rahasia itu padamu,” kata Kevin sambil menatap dalam mata Lisa. Mata yang selalu membuatnya bahagia.
“Rahasia? Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Kevin. Apapun itu aku akan selalu siap mendengarkannya. Janganlah ragu untuk mengatakannya. Aku bukan orang lain lagi bagimu. Kita udah seperti saudara kandung. Katakan saja!” ucap Lisa. Dia sangat terlihat tulus pada Kevin.
“Lis, aku cinta sama kamu. Udah lama aku memendam rasa cinta padamu. Sejak pertama kita bertemu dan berkenalan. Aku ingin kamu tahu ini sebelum aku pergi ke Paris. Aku nggak menuntut kamu untuk jadi pacarku. Tapi setidaknya aku udah mengungkapkan rahasia yang besar ini. Dan kini kamu udah tau bagaimana perasaanku kepadamu,” kata Kevin sambil menggenggam erat tangan Lisa. Seolah dia tak ingin melepaskan barang sedetik pun. Matanya mulai berkaca-kaca ketika dia menatap mata Lisa. Lalu Kevin memberikan bunga mawar yang tadi dibelinya. Lisa menerimanya dengan senyumnya dan mencium wangi dari bunga itu.
“Kevin, a… aku nggak menyangka kamu mempunyai perasaan yang sama kepadaku. Ternyata cintaku kepadamu bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku bahagia. Sekarang aku tahu orang yang aku cintai pun mencintaiku. Aku juga mencintaimu, Kevin.” Kata Lisa sambil membalas genggaman Kevin dengan eratnya. Seolah mereka tak ingin dipisahkan. Mata keduanya saling meneteskan air mata haru. Air mata bahagia karena mereka telah mengungkapkan perasaan masing-masing.

Sejak malam itu mereka resmi menjalin hubungan. Kevin terlihat bertambah gelisah kala dia mengingat kepergiannya esok hari untuk meraih mimpi-mimpinya. Hatinya berkata dia tak mau meninggalkan Lisa dan kedua orangtuanya. Namun mimpinya begitu besar untuk ke Paris.

Pagi harinya, Kevin bersama kedua orangtuanya serta Lisa yang kini telah menjadi pacarnya berada di bandara. Mereka ke bandara untuk mengantar kepergian Kevin ke Paris. Dengan sangat berat hati Kevin harus meninggalkan orang-orang tercintanya demi mimpi besarnya. Begitu pula Lisa. Dia sangat menyayangkan keberangkatan Kevin. Namun dia juga harus mendukung impian kekasihnya itu. Kekasih yang amat sangat dia cintai itu.

Tak dirasa setetes air mata menjatuhkan diri di pipi gadis ini. Dia tak ingin berpisah dengan kekahisnya untuk waktu yang lama. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Dengan tengan lembutnya, Kevin menghapus air mata yang mengalir dari pipi gadis cantik itu.

“Lisa, ijinkan aku pergi untuk sementara waktu. Aku berjanji padamu suatu hari nanti aku akan pulang padamu. Pulang dengan gelar baruku yang akan aku peroleh di Paris nanti. Dan berjanjilah untuk tetap menungguku. Menunggu kedatanganku untukmu. Jangan sia-siakan air matamu itu hanya untuk perpisahan sementara ini. Aku yakin Tuhan akan mempertemukan kita lagi. Aku berjanji,” ucap Kevin. Dia menggenggam tangan kekasihnya itu. Lalu membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“Aku dan cintaku akan selalu menunggu di sini untukmu. Aku bejanji untuk selalu menjaga kepercayaanmu padaku. Pulanglah untukku dan cinta kita. Dan ingatlah bahwa aku akan selalu menunggumu dan mencintaimu. Percayalah cintaku tidak terhalang oleh ruang dan waktu. Cintaku ada di sini. Di hatimu. Dan akan kau bawa kemanapun kamu pergi,” kata Lisa sambil menunjuk dada kekasihnya itu.

Pesawat pun mulai membawa Kevin pergi dari tempat yang memberinya banyak cerita bahagia dan haru. Membawa Kevin ke tempat dimana mimpinya akan terwujud. Tempat dimana tiada seorang pun yang mampu merebut cintanya pada Lisa dan keluarganya di Indonesia. Karena banyak cerita yang telah terukir diantara mereka. Yang membuat Kevin semakin merindukan mereka.

Sudah empat tahun lamanya Kevin meninggalkan Lisa beserta kedua orangtuanya yang amat sangat dia cintai itu. Dan hari itu, Kevin akan pulang ke Indonesia untuk mengisi libur panjangnya sebelum masuk kuliah lagi. Dia sangat tidak sabar untuk bertemu Lisa dan Orangtuanya.

Sampai di bandara, Kevin disambut Lisa dan kedua orangtuanya. Mereka tersenyum pada Kevin yang melangkah mendekati tempat mereka berdiri. Mereka saling melepas kerinduan setelah empat tahun terpisah. Meluapkan semua rasa rindu yang lama telah terpendam di antara mereka

Itu malam terakhir Kevin di Indonesia. Esok hari dia akan kembali lagi ke Paris untuk melanjutkan studinya. Malam terakhir itu Kevin mengajak Lisa kencan. Persis di tempat saat keduanya mengungkapkan perasaan masing-masing empat tahun yang lalu. Dan sebentar lagi mereka harus terpisah untuk tiga tahun kedepan sebelum Kevin pulang untuk cintanya pada Lisa.

Mereka terlihat sangat bahagia malam itu. Seolah dunia ini milik mereka berdua. Mereka bergandengan sangat erat. Seolah tak ingin terpisah barang sedetikpun. Tak lepasnya bibir keduanya memancarkan senyum kebahagiaan. Dan sesekali keduanya saling berpandangan. Dan tak bosan-bosannya mulut Kevin melontarkan kata-kata pujian pada kekasihnya itu.

“Kevin, apa yang kamu rasakan saat berada jauh dari aku dan kedua orangtuamu? Tidakkah kamu merasa rindu pada kami di sini yang selalu menunggu dan berdoa kamu akan baik-baik saja di sana?” Tanya Lisa.
“Manusia macam apa yang tidak rindu kala berada jauh dari orang-orang tercintanya? Perasaan rindu dan cemas pada seseorang yang kita sayangi itu sangat manisuawi. Mimpiku terlalu berharga jika harus dibiarkan begitu saja. Dan cintaku pada kalian terlalu besar untuk dihapus begitu saja. Setiap detik aku merindukan kamu dan orangtuaku. Namun aku tak bisa berbuat apa melainkan tetap mengejar mimpi dan menyelesaikan studiku di sana. Sehari di sana terasa setahun tanpa seorang pun yang aku sayangi. Namun, aku selalu yakin bahwa Tuhan akan mempertemukan kita lagi suatu saat,” kata Kevin.
“Terimakasih, Kevin. Kamu bisa mempertahankan hubungan kita walau terpisah oleh samudera luas yang menghampar di antara kita. Ingatkah kau akan perkataanku bahwa cintaku ada di sini. Di hatimu. Dan akan kau bawa kemanapun kamu pergi. Begitu pula denganku. Aku meletakkan semua cintamu dalam hatiku. Agar kamu selalu teringat olehku. Saat aku sedih aku merindukanmu, saat aku sendiri aku merindukanmu. Namun aku sangat merindukanmu saat aku bahagia dan tertawa. Sering aku memejamkan mataku dan berharap saat aku membuka mataku kamu telah berasa di sampingku dengan senyummu itu” kata Lisa.
“Percayalah Lisa. Kita bisa melewati waktu tiga tahun kedepan. Setelah itu aku berjanji akan membahagiakanmu. Dan aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Takkan kubiarkan setetes air matamu yang melintas di pipimu. Aku amat sangat mencintaimu. Bahkan lebih dari nyawaku. Nyawa dan hidupku lebih berarti jika kamu menjadi miliku dan nyawaku menjadi milikmu. Yakinilah jika kamu ini adalah cinta pertama dan terakhirku. Tuhan menciptakanku hanya untukmu. Untuk menjaga, melindungi dan merawatmu. Dan jangan pernah berpikir aku akan berpaling darimu. Percayalah hanya bersamamu aku akan mengabiskan hari tuaku nanti. Aku akan menjadi kakek dan kamu menjadi nenek dari cucu-cucuk kita nanti”
“Iya Kevin. Aku percaya semua akan baik-baik saja. Tapi tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar. Akankah hubungan kita bisa bertahan selama itu dengan jarak yang memisahkan kita? Aku ragu Kevin. Dalam sehari saja bisa banyak terjadi hal buruk dalam hubungan kita ini. Apalagi dalam waktu tiga tahun kedepan” kata Lisa meragu.
“Lisa, hubungan kita akan baik-baik saja. Aku yakin bahwa kau lah tempat terakhirku. Kita bisa terpisah selama empat tahun. Kenapa tidak untuk tiga tahun kedepan? Kuatkan hatimu. Percayalah aku akan datang untuk kembali padamu. Karenamu lah aku tetap bertahan sampai sejauh ini. Aku pergi sementara pun untuk masa depan kita nanti. Kita udah bukan anak kecil lagi yang harus selalu bersama dan berdampingan. Demi cinta kita, aku relakan hatiku tinggal di sini bersamamu. Dan demi kamu aku akan kembali dalam waktu empat tahun lagi. Dan setelah itu tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi selain maut,” kata Kevin meyakinkan keraguan hati Lisa. Padahal dia sendiri ragu kalau hubungannya akan bertahan selama itu. Namun dia mencoba yakin di depan Lisa. Agar tak ada kekecewaan yang terbersit di hati kekasihnya yang amat dia sayangi itu.

Pagi itu Kevin berangkat lagi ke Paris untuk melanjutkan studinya karena masa liburannya telah hampir usai. Dari jendela pesawat, Kevin terus memperhatikan wajah kekasihnya yang makin lama makin nampak kabur dan menghilang dalam sekejap mata. Sementara Lisa dan kedua orangtua Kevin terus melambaikan tangan dan tersenyum manis untuk Kevin. Lisa mencoba tersenyum walau berat untuknya. Karena hatinya merasa akan kehilangan Kevin untuk selama-lamanya.

Lisa mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk percaya kata-kata Kevin yang semalam. Bahwa Kevin akan kembali untuknya dan membahagiakannya dan dia akan menjadi nenek dari cucu-cucunya bersama Kevin. Dalam hati, dia merasa ada firasat buruk yang akan terjadi pada kekasihnya yang telah dianggap tempat terakhir melabuhkan hatinya nanti.
Namun Lisa tetap berusaha yakin dan berdoa bahwa kekasihnya akan pulang dengan selamat dan akan membahagiakannya. Seperti janji-janji Kevin kepadanya. Lisa teringat saat Kevin berjanji padanya. Berjanji akan pulang untuknya yang selalu menunggu. Dan terlintas kegelisahan di hati Lisa. Hatinya tak bisa tenang seperti saat bersama Kevin. Karena hanya Kevinlah yang membuatnya tenang dan aman.

Tanpa disadarinya, Lisa langsung tertidur. Tidur yang lelap dan bermimpilah tentang Kevin. Dalam tidurnya dia bermimpi Kevin. Namun akan menjadi mimpi buruk baginya. Dia bermimpi Kevin pulang dengan seorang wanita bule yang digandengnya. Mereka sangat terlihat mesra. Saat mereka melewati Lisa, Kevin seperti tidak mengenalinya. Malahan Kevin semakin nampak menggandeng erat wanita bule itu.

Lisa terbangun dari mimpinya itu. Dan dia segera mengirim e-mail kepada kekasihnya dan dia bercerita tentang mimpi yang baru dialaminya itu. Dia khawatir terhadap Kevin. Dia sangat bingung dengan mimpinya barusan. Dia tidak ingin mimpi itu menjadi nyata. Dia bertanya dalam hati apakah Kevin masih menyayanginya atau dia udah memiliki dambaan hati lain yang dia temui di Kota Paris itu? Namun tak dapat dia menjawabnya.

Waktu berjalan begitu cepat. Hari itu Kevin akan pulang. Dia telah selesai dengan urusan studinya di Paris. Lisa dan kedua orangtua Kevin telah menunggu di bandara tempat pesawat Kevin turun landas nanti. Mereka nampak bahagia dan sesekali tersenyum karena akan bertemu dengan orang yang mereka sayangi dan mereka nanti-nantikan

Tiba-tiba datang seorang pegawai bandara menghampiri ketiganya dengan raut wajah kekecewaan. Dan dia berkata “Maaf, apakah anda keluarga Kevin yang baru saja melakukan penerbangan dari Paris?”
“Iya, kami keluarganya. Ada apa ya?” tanya Papa Kevin.
“Pesawat yang ditumpangi putra anda telah mengalami kecelakaan di samudera Hindia. Bisa dipastikan semua penumpang dan awak pesawat telah tewas dan tenggelam dalam lautan yang luas. Kami mohom maaf,” kata petugas tersebut dan langsung pergi berlalu.

Semua terkejut dan menangis sejadi-jadinya. Lisa sampai terjatuh karena tak dapat menahan tubuhnya. Dia tak dapat berdiri dan hanya bisa menangis dan berteriak memanggil nama kekasihnya yang telah pergi itu. Kekasih yang telah tujuh tahun ditunggunya kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Meninggalkannya dengan cintanya yang tidak pernah berkurang sedikit pun.

Dia merasa semua impiannya untuk hidup bersama Kevin telah kandas. Hidup bersama seseorang yang amat sangat dia sayangi itu hanya akan menjadi mimpi yang mustahil untuk diwujudkan. Dalam lamunannya dia selalu memanggil nama kekasihnya. Berharap kekasihnya datang dan menjemputnya untuk ke tempat yang abadi.

“Kevin, bawalah aku serta dalam perjalananmu menghadap Sang Pencipta. Manakan janjimu yang kamu ucapkan padaku? Kenapa kamu malah pergi saat aku membutuhkanmu? Aku telah lelah menunggumu. Menunggumu untuk datang padaku. Kamu telah berjanji akan kembali padaku. Dan kita akan menjadi kakek dan nenek dari cucu-cucu kita nanti. Semua itu terlalu indah untuk diingkari. Bawa aku pergi Kevin,” kata Lisa dalam hati.
Lalu dia tertidur dalam kamarnya yang menjadi saksi kesedihannya saat kehilangan dan merindukan Kevin yang telah pergi itu. Dia berharap kala dia membuka mata nanti, semua akan kembali seperti biasa. Kevin berada di sampingnya dan tersenyum untuknya. Serta membelai rambutnya dan mengatakan bahwa Kevin mencintainya.

Namun Lisa tak dapat lagi terbangun. Sukmanya telah pergi bersama Kevin menuju hadapan Sang Ilahi. Hingga pagi dan seterusnya dia tak dapat terbangun lagi dan terlelaplah dia untuk selamanya. Kini perjuangannya menunggu Kevin telah berakhir. Dan inilah puncaknya. Cinta Kevinlah yang membuatnya kuat selama tujuh tahun ini. Hingga akhirnya dia pergi menyusul kekasihnya untuk selamnya.

Cerpen Karangan: Dita Atma Nila Sari
Facebook: Https://www.facebook.com/ditaatma.nilasari.1

Cerpen Ujung Penantian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesalku Tak Lagi Berarti

Oleh:
Matahari nampak sudah enggan menampakkan sinarnya, langit mulai gelap kehilangan cahaya, suara petir pun mulai menderu, mendung hitam tampaknya sudah tak sabar lagi mengguyur bumi, menyirami bunga-bunga yang telah

Your Lie

Oleh:
Kebohonganmu. Ini semua tentang bagaimana kau merayuku dengan semua kata kata manismu. Janji palsumu. Janji yang kau akan tetap bersamaku apapun yang terjadi. Sudahlah. Sungguh aku tak bermaksud menjelekkanmu.

Yang Terakhir Untuk Septia

Oleh:
Sore itu, Septia si gadis mungil berusia enam belas tahun tengah duduk di tepi danau seorang diri. Menunduk menatap permukaan air danau dan terhanyut dengan suasana tenang yang terpancar.

Love In Class

Oleh: ,
Di pagi hari yang cerah tria berjalan bersama temannya yaitu Eva dan Nisa, mereka bersahabat dari kecil, mereka begitu dekat, ketika di perjalanan mereka bertemu dengan 2 orang cowok

Autumn (Cinta di Musim Gugur)

Oleh:
Cinta mungkin bisa bersemi pada musim apa saja dan mungkin bisa kapan saja dan dimana saja. Cinta tidak memandang arti sebuah kecantikan dan ketampanan ataupun pintar atau bodohnya seseorang.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Ujung Penantian”

  1. Lena Sutanti says:

    kenapa harus nama kevin :3 :'(

  2. devi saputri says:

    asli, cerpen “Ujung Penantian” bagus bangett
    waktu baca dibagian akhir cerita,nyesek…rasanya pengen nangis :'(

  3. M. A. K. says:

    Bagus.. Lanjutkan (y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *