Ulang Tahunku Kita Jadian Ulang Tahunmu Kita Sudahan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 27 June 2014

Mendung!!! Sang Mentari tampaknya enggan tersenyum lagi di hari ini. Tampaknya ia turut berkabung dengan apa yang mengusikku beberapa hari lalu.
“Please.. jangan hujan lagi,” kataku memohon dalam hati.
Pikiranku melayang kembali mengingat serangkaian kenangan yang hilang itu. Sebuah sayatan tanpa aliran darah menggores satu bagian intim di ragaku. Suara yang biasanya menjadi pengobat kerinduanku, menenangkan kegelisahanku, hari itu berubah menjadi sebuah panggilan terlarang yang harusnya aku reject kala itu.
“Hah, siaalll!!!” teriakku menghapus semua kilasan masa lalu itu.
Janji itu kosong, rasa itu bohong, bulsyiiittt!!!

Tanpa terasa beranjaklah angka di hidupku, tampaknya sudah tak pantas aku bermanja-manja, mulai harus menata diri melangkah ke jenjang yang sering mereka sebut dewasa.
Kringg… kring… kring…
“Halo, Assalamu’alaikum”, kataku manis pada sosok di ujung telepon.
Suaranya memang sudah kutunggu dari lonceng pergantian malam tadi. Syahdu sekali seperti Sang bayu yang mengayun sepoi-sepoi membelai mahkotaku di tepi pantai.
“Selamat ulang tahun ya, semoga apa yang kau impikan dapat tercapai Say.”
“Iya, terimakasih Say,” Jawabku bersemangat.
“Aku boleh bilang sesuatu?”
“Boleh, apa?” kataku dengan cepat, tak sabar apa gerangan kata-kata yang ia utarakan.
“Maaf ya karena aku menggantungkanmu kemarin-kemarin, semoga kamu bisa belajar dari kesalahan, maukah kita menjalin kembali hubungan kita?”
Hatiku mendengar semua perkataanmu sangat bahagia, “Artinya kita pacaran lagi?” meskipun ada hal-hal yang menyakitkanku dengan manisnya permintaanmu, seakan-akan akulah troublemaker dalam hubungan kita. Tapi sayangnya aku tak sanggup marah dan membencimu, karena raga dan batinku sudah terpatri kuat pada satu nama yaitu “Fikar” (namamu).

Satu bulan kita jalani hubungan itu kembali, terasa sangat menyenangkan, meski ragamu tak pernah aku temui, tapi jarak itu seakan tak berarti. Aku selalu merasakan kau ada di sampingku di setiap waktu.

Lima bulan berjalan, kau mulai mencoba lebih serius untuk mengenalku, bukan hanya diriku tetapi melangkah ke sosok-sosok penyemangatku. Aku semakin yakin padamu bahwa aku tak salah memilihmu, menantimu, mengharapmu untuk bersanding sebagai imamku kelak.

Kerikil-kerikil kecil pernah kita alami tapi rasanya tak sanggup aku mengganjalnya terlalu lama. Selalu kita coba untuk membuangnya dan mengobati dampak luka yang terjadi karenanya. Hah, indah sekali rasanya hingga tak kusadari batu besar itu datang.

Bulan Januari, 2 bulan sebelum perayaan 1 tahun usia hubungan kita. Ada gelombang besar yang mengusik hidupmu, aliran takdir tak semulus apa yang engkau bayangkan. Segala upaya untuk masa depan yang engkau rencanakan kelak bersamaku harus rela kau lepas dan mengulangnya dari nol. Aku mencoba menguatkanmu bahwa ini bukan akhir, tapi tampaknya kau terlalu terpukul.

Satu bulan terlewati, mendekati titik-titik penting dari perjalanan kami, kau tampak lebih baik. Semangatmu sudah terpompa lagi, hubungan kita juga semakin erat, rasanya luapan rindu selalu tertampung setiap harinya.
Pengobatan kerinduan kita hanyalah si besi penyampai kabar ini. Seperti hari biasanya, kau selalu menyapaku dengan tulisan singkat di benda itu pada pagi hari. Tapi, hari itu, satu hari sebelum pergantian angka di hidupmu dan bersamaan dengan 6 hari sebelum hari bersejarah kita, pesanmu beda.

Bro, tau ga, tadi malam aku mimpiin Reta lagi, aseemmm. (By: Fikar)

Bagai petir menggelegar saat kubaca pesan yang tampaknya bukan ditujukan untukku. Terlebih Reta itu bukan namaku, kutahu nama itu memang pernah singgah di hatinya tapi itu dahulu. Api amarahku menyeruak, kubalas sms itu dan ku ajukan berbagai pertanyaan yang menyelumut di pikiranku. Fix hari itu kami bertengkar.

Sudah pukul 22.00 tanpa ada kabar darinya, aku semakin merindunya. Harusnya aku jangan terlalu keras padanya, bukankah dia sudah minta maaf, mengapa tidak aku berbaikan saja? Well, akhirnya kuputuskan nanti jam 00.00 ketika pergantian di usianya aku akan mengucapkan selamat dan meminta maaf atas segala tindak kekanakanku.

“Oh my God, sekarang jam 02.00,” kataku kaget karena alarmku tak memihakku.
Segera kupencet nomornya dan kuharap dia belum terlelap tidur. Alhamdulilah, suara di sana ramai.
“Lagi apa?”
“Nonton TV.”
“Say, Selamat ulang tahun ya,” Kataku penuh cinta.
“Iya makasih, aku boleh bicara sesuatu sama kamu?”
“Boleh, ada apa?”
“Kita break dulu aja ya, aku mau menenangkan diri dulu.”

Hatiku tercabik-cabik, pernyataan itu, begitu membuat aku tak sanggup berkata-kata. Tanpa terasa ada aliran deras mengalir membasahi wajahku. Suaranya di ujung sana sudah tak sanggup aku dengarkan lagi, yang ada ragaku menjadi lunglai tak berdaya. Aku mencintainya tapi kenapa ia bilang seperti itu? Salah besar apa yang aku lakukan?
6 hari sebelum hari jadianku, tepat di hari ulang tahunnya hubungan ini di ujung tanduk. Aku hanyalah wanita biasa, yang mempunyai rasa mencinta yang terlampau dalam untuknya, berharap memperbaikinya tampaknya malah semakin parah.

“Perasaanmu gimana sih sekarang?” tanyaku mendesaknya.
“Abu-abu, ya sudahlah semoga kau dapat jodoh yang baik di sana.”

Kata-kata itu menyakitkanku, apa dia ingin mempermainkanku karena sebentar lagi aku akan ulang tahun? O yah, pasti seperti itu, Ok. Aku harus sabar menunggunya.

Tepat jam 00.00 pergantian usiaku, kutunggu-tunggu sms atau teleponnya tapi ternyata kosong. Pagi berganti Siang, Siang berganti Malam tapi kabar darinya tak ada. Aku sakit hati tapi hanya tangis yang bisa mengobatiku. Hingga sebuah pesan baru mengusik kepiluanku

Selamat ulang tahun. semoga kamu bahagia, God bless you (By: Fikar).

Just it? Oh no… apa dia serius ingin menyudahinya? Tapi kenapa Tuhan, Aku tak mengerti!!
Waktu bergulir hingga satu bulan terlewat, aku selalu mencoba mengejarnya untuk menyelesaikan apa yang mengganjal di kalbuku, sayang tanyaku tak pernah berujung dengan sebuah jawaban.
Tiga bulan berjalan, tapi kau tak pernah bersua semanis dahulu, kata-katamu ketus, sakit aku membaca tulisanmu, hingga kuberanikan diri menanyakan mengapa kau lakukan ini padaku.

Maaf, aku tak tahu dari mana aku harus bercerita, awalnya aku memang mencintaimu tetapi beberapa bulan lalu perasaan itu menjadi hambar. (By: Fikar)

Tuhan, aku tak sanggup menangis lagi, air mataku sudah habis. Badanku lemas Tuhan, kehilangannya membuat semangatku memudar. Bayangan sekitarku memudar, aku hanya bisa meraba-raba dinding menemui Ibu, Sayangnya ragaku tak kuasa menyokongku dan akhirnya aku tersungkur. Sebelum mataku terkatup aku sempat memohon pada Tuhan,

“Tuhan, tolong hapuskan ingatanku dan kenanganku yang berhubungan dengannya. Jangan siksa aku dengan rasa yang tak berujung ini”.

(bersambung)

Cerpen Karangan: Marta Widya
Facebook: Ika Widya Martanti
Hanyalah penjaja seni yang masih amatir

Cerpen Ulang Tahunku Kita Jadian Ulang Tahunmu Kita Sudahan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Day When You Say Bye

Oleh:
Kupalingkan pandanganku ke arah penjual jamu yang lewat di depan rumahku. Setelah penjual itu tak terlihat lagi aku terus menundukkan kepalaku dan memandang lantai yang bermotif awan itu. Tapi

Salah Mengartikan

Oleh:
“Maaf aku gak bisa” itulah jawaban yang dia berikan setelah aku menyatakan perasaanku dan berharap dia menjadi pasanganku. Dia adalah Hana, wanita yang aku sukai sejak awal kita bertemu,

Perasaan Yang Mampir Sejenak

Oleh:
Malam mulai tiba langit pun mendung pertanda akan turun Hujan di malam ini. “malam ini pasti bakal lebih dingin lebih baik ku buka chatting.” pikirku. Aku pun langsung masukkan

Bidadari Hujan

Oleh:
Pada saat berangkat sekolahku melihat se sosok perempuan cantik yang ke luar dari istananya maklumlah rumahnya sangat megah serta terdapat gerbang yang besar pula, tiba-tiba hujan mengguyur lumayan deras

Symphony Aurora

Oleh:
Di ruang itu – dengan pencahayaan yang mendekati minim dan satu fenomena alam terlukis di langit-langit yang dipancarkan sebuah proyektor – mirip seperti malam musim panas di San Jose..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *