Untuk Kakak Dan Panda


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 24 June 2013

Sikap, sifatnya dan cara dia menatapku berbeda dengan semua orang. Ketika dia marah, dia berusaha menyembunyikan amarah supaya aku dan orang-orang disampingnya tidak tahu apa dia sedang marah atau tidak. Sifatnya itu dingin seperti pangeran yang terbuat dari es. Sikapnya agak kasar tapi aku tahu dia selalu melindungiku dari bahaya apapun. Dia orang yang paling berharga dan yang paling kusayangi. Hanya satu kata untuknya…
I LOVE YOU…
Karina Sakata…

Pagi itu…
“Cepat bangun… Panda.”
Suara alaramku terdengar keras, pagi yang hening itu dikejutkan dengan suara dia yang menjadi awal pagiku itu. Tersentak aku terbangun…
Mandi, habis itu mengambil seragam sekolahku. Turun ke ruang makan lalu sarapan adalah kegiatanku di pagi hari sebagai anak sekolah.

Pukul 07.00
Matahari terbit dari ufuk timur, berjalan bersamanya dari hari senin sampai sabtu menuju sekolah…
“Hari ini sekolah ngadain bazzar oleh kakak kelas XII. Katanya juga ada pembagian snack gratis.”
“Pasti ada buku-buku baru. Nanti temanin aku ya.”
Dia senang membaca buku. Setiap ada bazzar pasti tujuan pertamanya adalah bazzar buku.

“Karin…”
“Kak Mei.”
Sapa seseorang, yang ternyata adalah kakak kelasku. Sekarang dia duduk di kelas XII.
“Kamu datang dulu ke bazzar kami dong, masih sepi”
Kak Mei menarik tanganku dan Akira.
“Eh.”
Aku bingung dengan bazzar kak Mei, sepi dan aneh.
“Selamat datang, untuk sepasang kekasih silahkan mengulurkan tangan kalian.”
Aku mengulurkan tanganku, tapi Akira cuek dan tetap menaruh tangannya di dalam sakunya.
“Akira, ayo.”
“Tidak ada gunanya. Ayo pergi, bazzar ini sangat membosankan.”
“Jangan begitu, kalian ini pasangan pertama yang datang kesini. Ayo ulurkan tanganmu.”
Akira menghela napas, mungkin dia sedikit malu. Maklum dia nggak suka dengan hal-hal tentang ramalan atau sebagainya…
“Baiklah, menurut buku ramal ini kalian mempunyai nama yang unik. Kalian akan menjadi pasangan yang mempunyai cerita cinta yang rumit dan unik. Cinta kalian akan bertahan sampai tua nanti walaupun kalian berada di tempat yang sangat jauh.”
Wah, kak Mei kayak peramal betulan! Aku tertawa kecil, walaupun hanya ramalan belaka, aku sangat senang kak Mei bilang cinta kami bertahan sampai tua. Semoga ^^
“Sudahkan, puas. Ayo pergi.”
“Iya. Oh ya aku mau cari novel. Katanya ada novel baru terbit di bazzar sana.”
Aku dan Akira kembali berjalan menuju bazzar buku, di sepanjang jalan setapak yang dipenuhi dengan buang sakura yang berguguran. Dan berada dipinggiran jalan berbagai bazzar mengisi sepanjang jalan. Sambil bergandengan tangan dengannya, serasa genggaman itu tidak akan terlepaskan sambil seperti kisah cinta di masa SMA ini.

Malamnya…
“Bagaimana bukunya, kamu udah baca?”
“Sudah.”
“Panda.”
“Apa?”
“Tidak apa. Lebih baik kamu tidur sudah malam.”
“Iya, aku tutup teleponnya ya. Selamat tidur.”
“Iya Panda.”
Setiap malam aku dan Akira teleponan, kadang-kadang kami saling email-an. Tapi hari ini suara Akira tidak seperti biasanya. Mungkin dia ngantuk jadinya suaranya agak lesu. Udahlah lebih baik aku tidur, esok menantiku dengan hari yang indah…

Keesokan harinya…
“Kemana dia. Udah jam berapa ini?”
Sudah lebih setengah jam aku menunggu Akira, tapi dia tidak datang. Biasanya dia selalu menungguku, tapi sekarang aku yang menunggunya. Apa dia sakit? Astaga aku khawatir…
Tak lama…
“Hai.”
Seseorang menyapaku dari belakang, aku pun menoleh ke belakang dan ternyata Akira…
“Kok lama sih aku nunggu dari tadi.”
“Maaf, aku telat bangun.”
Aku kaget! Dia tersenyum…! Bagaimana bisa? Akira tidak pernah terlambat atau tersenyum bebas seperti itu. Sebenarnya ada apa dengannya? Bukan seperti Akira yang ku kenal…

Sesampai di sekolah…
“Pagi, apa kabar?”
“Hei, Bro. apa kabar?”
Aneh, benar-benar aneh…! Kenapa dengan Akira. Sejak dari tempat biasa menunggunya dia terus ceria dan tidak seperti biasanya…
“Akira, kamu demam ya?”
Aku memegang dahi Akira, suhu badannya tetap, tidak demam atau semacamnya. Tapi kenapa hari ini dia begitu ceria, menyapa teman-teman di sekolah dan teraneh lagi dia melucon. Astaga apa mungkin Akira berubah gara-gara ramalan itu ya?
“Nggak kok, apa kamu yang demam. Aku ceria begini kamu…”
“Apa benar Akira? Akira cowok yang paling cuek di sekolah ini, kok jadi aneh begini.”
“Sudahlah, ayo kita mulai dari awal. Masa, kamu mau punya cowok cuek. Aku ingin berubah, bukannya kamu senang aku dapat cowok ceria dan tertampan sepertiku malah bilang aku demam. Dasar.”
Astaga lagi-lagi dia tersenyum dan membelai rambut panjangku. Aku jadi heran dengan Akira hari ini. Sejak SMP pacaran dia tidak pernah tersenyum atau membelai rambutku. Kenapa dia, apa dia berubah karena aku?

Kemudian…
“Panda, nanti malam ada festival kembang api. Kita nonton ya.”
Wah, ajaib baru kali ini Akira mengajakku pergi ke festival kembang api. Ternyata benar Akira berubah dalam semalam…
“Ayo, tapi…”
“Tapi apa? Bilang aja.”
Aku mau bilang sesuatu tapi tidak usahlah…
“Nggak jadi. Oh ya jangan lupa jemput aku ya.”
“Sipp!”

“Tuhan, boleh aku bertanya satu hal? Apa yang ada dihadapanku sekarang adalah pacarku Akira Haru? Apa Kau yang merubah sifatnya agar aku bahagia atau apa ini sebuah cobaan dalam kisah cinta kami nantinya? Tuhan, ada yang aku inginkan dari-Mu, kalau boleh kembalikan Akira-kun seperti dulu. Karena sifat dan sikapnyalah aku tetap bersamanya.”
Karina Sakata

Di acara festival kembang api…
“Wah siapa dia? Gagah sekali.”
Lagi-lagi Akira bertingkah aneh, dia tebar pesona dikeramaian orang. Semua mata tertuju pada…
“HAI.”
Semua cewek disana langsung terpesona melihat Akira tersenyum dihadapan mereka. Tapi apa dia tahu aku ilfeel dibuatnya. Tak lama seorang cewek menarik tangan Akira dan dia menghilang di antara keramaian orang disana…
“Menyebalkan.”
Aku menghela napas dan langsung pergi dari sana. Tiba-tiba…
“Wah lihat, siapa itu. Karina Sakata.”
Seseorang memegang bahuku, dan menyebut namaku. Aku menoleh ke belakang, dan ternyata adalah preman sekolah. Mereka itu murid-murid bandel di sekolah.
“Ada apa! Aku nggak ada waktu sama kalian. Akira menungguku.”
“Apa, Akira! Kau kira kami bodoh, Akira sedang bersenang-senang disana. Mau membohongi kami.”
“Kalian mau apa?”
“Kami mau balas dendam, Akira murid sombong dan cuek di sekolah, sok gagah dan terus bersamamu. Tapi sekarang perempuan kesayangannya lagi sendirian.”
Aku langsung berlari. tapi kimono yang menyulitkan aku untuk berlari, jadinya aku merobek bagian bawahnya dan sekuat tenaga lari. Tiba-tiba…
“Aduh!”
Aku terjatuh, kaki terkilir dan preman-preman jahat itu semakin dekat. Aku nggak bisa bergerak kakiku sangat sakit…
“Nah, sekarang kamu makin jauh dari dia.”
Tangan kotor mereka mau memegangku, aku menutup mataku dan terus berdoa agar Akira datang menolongku…
“Akira.”
Lalu…
“Jauhkan tangan kalian, dari cewekku.”
Suara itu, Akira…
Dia berkelahi dengan preman-preman itu. Lalu…

“Kau tidak apa?”
“Wajahmu…”
“Tidak apa, yang penting mereka mendapat pelajaran karena mengganggu Pandaku.”

Akira mengantarku pulang, dia menggendongku karena aku nggak sanggup berjalan, kaki masih sakit…
Di perjalanan yang sangat gelap hanya lampu jalan yang menyala di setiap lima puluh meter jauhnya. Aku merasa bersalah, Akira babak belur gara-gara aku…
“Maaf.”
“Tidak apa, ini tugasku untuk selalu melindungimu.”
“Pasti besok kau akan di panggil kepala sekolah.”
“Itu sudah biasa.”
“Ha? Apa yang sudah biasa?”
Akira terhenti sebentar…
“Ha, nggak apa.”
“Terima kasih.”
Aku menutup mataku, aku benar-benar kelelahan malam ini…

Setelah kejadian itu, para preman yang menggangguku di acara festival kembang api itu telah dikeluarkan dari sekolah. Syukurnya Akira tidak dinyatakan bersalah. Tak terasa ini sudah dua tahun di masa SMA ini menjalani hubungan dengan Akira yang baru membuat kisah cinta ini begitu berwarna. Dulunya Akira sangat cuek tapi sekarang dia mempunyai banyak teman dan sangat perhatian denganku. Tapi masih saja aku ingin Akira yang dulu…
“Panda, nanti main kerumahku yuk.”
“Ha, boleh. Ayo sehabis pulang sekolah.”
“Oke.”
Hari ini aku akan ke rumah Akira. Wah, baru pertama kali aku kerumahnya, bagaimana dengan rumahnya ya?

Di rumah Akira…
“Wah, bawa siapa ini?”
“Bawa teman, Mah.”
“Teman apa teman?”
“Pacar sih sebenarnya.”
Akira tertawa gembira, ibunya hanya tersenyum…
“Ayo makan dulu, bibi ada buat cake kesukaan Akita.”
Ha Akita? Siapa dia?
“Salah, Akira. Aduh bibi sudah tua nama anak sendiri lupa.”
“Iya, bibi.”
“Ayo kita ke halaman belakang”

Kemudian…
“ada yang mau kukatakan.”
“Katakanlah aku mendengarkannya.”
“Sebelumnya tolong lihat foto ini.”
Aku mengambil dan melihat foto itu, ada dua anak lelaki disana, kembar…
“Siapa ini?”
“Itu aku.”
“Kamu punya kembaran. Kenapa kamu nggak cerita.”
“Ini aku dan ini kembaranku.”
“Lalu dimana kembaranmu?”
“Dia sakit. Dia harus mendapat donor hati, dia sakit parah.”
Akira meneteskan air matanya, baru kali ini dia menangis. Ya, aku bisa mengerti perasaannya. Aku memegang bahu Akira…
“Tabah ya.”
“Karin, maaf.”
“Maaf untuk apa?”
“Orang yang paling kau sayang itu sedang sakit.”
“Siapa?”
“Akira Haru. Dia yang harus mendapat donor hati itu.”
Apa dia bercanda? Jelas-jelas dia Akira malah bilang kalau Akira sedang sakit…
“Kau Akira, kembaranmu yang sakit.”
“Karin, Namaku Akita Haru. Aku kembaran dari Akira Haru.”
“Apa?”
Mataku mulai berkaca-kaca, sakit adalah perasaan yang aku alami sekarang. Pacarku, orang yang paling kusayang itu sedang sakit parah. Pantas orang yang bersamaku ini tidak seperti Akira yang ku kenal, ternyata dia Akita kembaran Akira. Tadi bibi juga menyebut nama Akita, ternyata orang yang bersamaku selama ini adalah kembaran Akira…
“Tapi kenapa? Kenapa dia nggak beritahu aku…”
“Dua tahun, rasa sakit dia pendam. Dua tahun lalu di malam itu dia mau mengucapkan selamat tinggal, karena mungkin dia nggak akan pernah sembuh. Tapi dia nggak ingin orang yang dia cintai bersedih karenanya. Jadi dia memintaku untuk menjadi dia dengan sifatku yang kebalikan dari sifatnya untuk membuatmu melupakan orang cuek, egois dan kasar itu. Dia ingin kau bahagia bersamaku.”
Aku terjatuh lemas, aku nggak sanggup menahan tangisku, orang yang selama ini berada disampingku bukan Akira dan sekarang dia harus sendirian melawan penyakitnya…
“Kau, begitu mencintainya. Walaupun aku menjadi Akira yang ceria kamu selalu ingin bersama Akira yang dulu kan?”
“Iya, aku ingin Akira yang egois, cuek, dan kasar itu. Karena aku tahu dia bersifat dan bersikap seperti itu karena dia mencintaiku. Itulah kenapa selama dua tahun ini aku terus berdoa agar aku bersama Akira yang dulu.”

Di rumah sakit…
“Pagi, sayang. Apa mimpi tadi malam? Apa mimpimu indah?”
Sudah sebulan setiap pulang sekolah aku ke rumah sakit dan menemani Akira. Syukurlah ayah dan ibuku mengizinkanku sesekali menginap di rumah sakit. Selama aku di rumah sakit, aku membacakan Akira buku-buku kesukaannya dan berharap Akira terbangun dari komanya. Sementara itu keluarga Akira mencari pendonor yang mau memberikan hatinya untuk Akira. Tapi itu hanya 1% karena mana ada yang mau mati untuk mendonorkan hatinya. Kecuali dia benar-benar sudah mati…

“aku mencintaimu bukan karena kamu tampan atau perhatian. Aku mencintaimu karena aku tahu kau adalah satu-satunya cinta yang diberikan Tuhan untukku. Aku nggak peduli dengan rasa cuekmu, dan egoismu, karena aku tahu cintamu berbeda dari cinta yang lain. mungkin aku telah terbiasa, aku bertahan menunggumu karena aku kangen sifat dan sikapmu yang egois dan cuek itu.”
Karina Sakata

“Karin, aku boleh bicara sesuatu.”
Akita menghampiriku dan mengajakku keluar sebentar. Walaupun aku sebenarnya nggak mau berpisah dengan Akira, tapi nggak apalah hanya sebentar saja…

Lalu…
“Ada apa?”
“Mataharinya indah, sebentar lagi musim semi bunga sakura pasti akan tumbuh.”
Senyuman Akita berbeda dengan biasanya, kenapa dia?
“Karin, kau mencintai kakakku?”
“Iya. Kenapa kamu tanya kayak gitu.”
“Syukurlah, dia mendapat perempuan sepertimu.”
“Maksudnya?”
“Dia pernah cerita sedikit denganku tentang kau.”
“Wah, dia pernah certain aku. Apa dia bilang?”
“Kau cinta pertama dan mungkin cinta terakhirnya. Kau satu-satu teman dan pacar yang memberikan cerita tentang kehidupan untuknya. Sewaktu dia sakit, dia sempat meneleponmu, tapi dia nggak sanggup. Lalu dia meneleponku yang waktu itu ada di Amerika, dia minta tolong untuk menjadinya dan menjaga seseorang untuknya.”
“Berarti kau adalah orang dipercayanya.”
“Dipercaya?”
“Iya, sekarang aku tahu siapa orang kedua yang dia sayang, itu adalah kau.”
“Aku?”
“Iya, dia sebenarnya menyayangi orang-orang disekitarnya, tapi dia punya cara sendiri untuk menyayangi orang-orang disampingnya”
Mata Akita berkaca-kaca dia begitu terharu dan tahu betapa cinta kakaknya terhadapnya…
“Aku harus pergi.”
“Kemana?”
“Aku harus menyelesaikan tugasku sebagai adik.”
Akita tersenyum manis, tapi senyumnya itu seperti mengucapkan selamat tinggal…

Malam itu, kabar baik terdengar ditelingaku ada seseorang yang pendonor yang mau mendonorkan hatinya untuk Akira. Aku dan keluarga Akira sangat bahagia dan menangis bahagia. Akira bisa sembuh dan hidup lagi…
“Terima kasih, Tuhan.”
Ibu Akira tidak hentinya mengucapkan syukur kepada Tuhan dengan nikmat yang Dia berikan…

Keesokkan harinya, operasi pun di mulai. Tapi aku dan keluarga Akira tidak tahu siapa orang yang sangat baik hati itu menjadi pendonor Akira. Ayah Akira menanyakan siapa orang itu tapi dokter dan orang itu sudah sepakat untuk menyembunyikan identitas pendonor itu…
Berjam-jam operasi dilakukan dan tak terasa malam menjelang. Aku dan ibu Akira masih menunggu operasi selesai. Sampai-sampai aku tertidur disana…

Paginya…
“Cepat bangun, Panda.”
Aku tersentak terbangun, dan dihadapanku sekarang ada Akira yang duduk di kursi roda. Aku kira ini mimpi tapi Akira mencubit pipiku dan baru tersadar ini bukan mimpi…
“Wah, Akira jangan dibangunkan. Dia menunggu semalaman.”
“Siapa suruh! Harusnya kamu istirahat dengan cukup, kalau kau sakit siapa yang merawatku.”
“Maaf.”
“Dasar, Panda.”
Astaga, mimpikah ini? Akira tersenyum, senyuman yang berasal dari Akita. Mungkinkah? Orang itu…

Lalu…
Pagi yang indah, musim semi di hari pertama. Bunga sakura mulai tumbuh dan bergugur menghiasi pemandangan di rumah sakit tempat Akira di rawat. Aku mengajak Akira keluar sebentar, mungkin dia bosan karena dua tahun dia koma dan tidak menghirup udara pagi…
“Indah ya.”
“Ya, seperti waktu bazzar itu.”
“Kau masih ingat.”
“Iya, aku masih ingat.”
Diperjalanan kami seorang dokter menghampiri kami…
“Akira Haru dan Karina Sakata?”
“Iya, ada apa ya?”
“Ini ada surat dari pendonor Akira. Dia mau surat ini disampaikan langsung untuk Akira dan Karina.”

Aku mengambil surat itu, dan setelah dokter itu pergi kami mencari tempat yang enak untuk membacanya. Setelah itu, aku membacakan surat itu…

“Untuk Kakak dan Panda…
Maaf ya! Aku nggak kasi tahu kalian kalau sebenarnya akulah pendonor itu. Seseorang pernah bilang aku, aku adalah orang kedua yang di sayang oleh kakakku. Aku pernah menjadi kakak, tapi sepertinya hanya satu orang yang mengetahui dan berharap kakak kembali. Dia orang disampingmu.
Berbahagialah, dan sepertinya aku tahu apa tugas seorang adik yaitu melihat kakaknya bahagia. Aku ingin kalian selalu bersama di saat suka duka. Aku akan mengawasi kalian berdua disana. Panda juga jaga kakak. Kau benar walaupun sikap dan sifatnya seperti itu tapi dia menyayangiku. Aku sangat mencintai kalian berdua.
Selamat tinggal kakak, Panda. Aku mencintai kalian…”

Dengan tangan yang gementaran aku membaca surat itu. Akira menangis mendengar isi surat untuknya, aku juga nggak sanggup menahan sedihku. Sekarang yang ditinggalkan Akita adalah senyum, tawa dan hatinya untuk kakaknya tercinta. Selamat tinggal Akita Haru. Kami akan bahagia disini sampai tua dan ajal menjemput…

TAMAT

Cerpen Karangan: Tyaz Hastishita
Facebook: Tamia no Tyaz
ini cerpen untuk dia. semoga dia membacanya….

Tips dari admin: Ceritanya sudah bagus, namun sebagai referensi, proses donor hati tidak harus selalu membuat si pendonor meninggal kok, karena pada dasarnya manusia masih bisa hidup meski dengan memanfaatkan separuh Hati nya apabila separuh hati nya di donorkan kepada orang lain… ^_^, tetap semangat dalam berkarya!

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Sedih Cerpen Jepang Cerpen Pengorbanan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One Response to “Untuk Kakak Dan Panda”

  1. yennifer says:

    Terharu

Leave a Reply