Wedding Dress

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 11 November 2017

Cinta Pertama, adalah cinta spesial yang Allah hadirkan untukmu. Lewat cinta pertama, kamu dapat mengerti betapa berharganya waktu yang kita punya untuk selalu menjaga cinta itu, karena cinta pertama mungkin susah untuk bertahan hingga akhir.

“Linzy!” Panggil seseorang dari jauh. Linzy celingukan mencari sumber suara tersebut. Beberapa detik kemudian ia menemukan seseorang yang tengah melambaikan tangan ke arahnya.
Pemuda tinggi itu setengah berlari ke arah Linzy. Eky, ya itulah nama panggilan pemuda yang kini berdiri tepat di hadapan Linzy. Sembari mengembangkan senyumnya pemuda itu merogoh saku celananya. Kemudian ia menunjukkan dua buah kertas ukuran kecil kepada Linzy.

“Tiket?” Tanya Linzy memastikan apa yang ia lihat saat ini. Eky hanya mengangguk. Hari ini Eky berniat mengajak Linzy untuk menonton pertandingan basket di sekolahnya. Entah ini ajakan Eky yang keberapa.
“Aku tidak mau…” Jawab Linzy sembari mengerucutkan bibir tipisnya. Eky menghembuskan napas panajang bertanda bahwa ia kecewa dengan jawaban Linzy.

Ini bukan pertama kalinya ia menolak ajakan Eky untuk menonton pertandingan, bukan karena ia tidak suka basket, namun hal yang paling membuat Linzy kehilangan semangatnya adalah ajakan Eky untuk bertemu dengan teman-temannya.
“Ayolah… untuk merayakan hari ke 100 kita jadian, ini permintaan terakhirku… aku tidak akan memintamu lagi…” Pinta Eky pada Linzy. Hal yang tak mudah di dunia ini bagi Eky adalah membohongi ibunya dan meluluhkan hati Linzy jika hati itu beku terhadap suatu hal.

Sekolah Eky dan Linzy adalah sekolah yang mempunyai eksistensi tinggi baik dibidang akademik maupun non akademik, kedua sekolah ini selalu bersaing keras untuk saling menjatuhkan satu sama lain hingga berhasil berdiri menjadi pemenang. Rupanya hal ini membuat kedua sekolah ini saling bermusuhan.

“Bagaimana jika kita menonton drama korea saja? Kebetulan aku baru download drama baru…” Tawar Linzy pada Eky.
“Kita sudah pernah melakukanya saat merayakan hari ke 50 kita jadian…” Ucap Eky dengan nada malas. Rasa kecawa tergambar jelas di raut wajah Eky, namun Linzy tidak menyerah begitu saja ia tetap berusaha untuk memenangkan hati Eky.
“Kalau kita nonton Anime atau film Jepang lainnya?” Linzy berusaha lagi untuk merayu Eky.
“Kencan pertama kita adalah nonton anime hingga sore…” Kata Eky sembari mengingat kenangan-kenangan indah yang telah mereka ukir samapi saat ini.
“Aduh…” Ucap Linzy sembari memegangi perutnya. Eky yang melihat kekasihnya menahan sakit menyuruh Linzy untuk duduk di bangku taman.
“Kamu di sini sebentar ya?” Pinta Eky pada Linzy, kemudian ia pergi untuk membeli sesuatu.

Beberapa menit kemudian Eky kembali menemui Linzy dengan dua buah es krim di tangannya. Es krim vanilla kesukaan Linzy, walaupun sebenarnya ia tidak suka es krim vanilla, namun demi membuat Linzy senang ia tetap memakan es krim itu.
“Ini…” Eky memberikan es krim vanilla itu pada Linzy. Namun, kekasihnya itu tetap diam sembari memegangi perut.
Eky mulai bingung dengan sikap Linzy yang mendadak diam, tidak biasanya Linzy seperti ini. Lalu ia melirik jam tangannya, dalam jam hitam itu tertulis tanggal 12 bulan maret, salah satu tanggal yang tidak bisa Eky lupakan.

“Kamu lagi datang bulan ya?” Pertanyaan Eky yang to the point ini, sontak membuat Linzy malu dan kikuk harus berkata apa. Ia tak pernah menyangka jika Eky hafal dengan semua hal yang menyangkut diri mereka berdua.
“Sini berdiri…” Pinta Eky yang membuat Linzy bingung.
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Ayo berdiri…” Pinta Eky lagi, ia menarik tangan Linzy, hingga akhirnya Linzy berdiri karena tarikan Eky yang lebih kuat dari tenaga Linzy.

Linzy masih terdiam dan menunduk, menutupi pipi merahnya karena malu. Sementara itu Eky melepas jaket biru tipis yang ia pakai kemudian, ia melingkarkan jaket itu tepat dipinggul Linzy dan menalinya untuk menutupi darah yang membasahi rok putih Linzy.
“Aku rasa di sana ada kamar mandi, jadi kamu bisa pakai pembalut… di sana.” Jelas Eky sembari menunjuk arah ke kamar mandi. Linzy mengangguk kemudian, Eky menggandeng tangan Linzy yang dingin berjalan ke kamar mandi umum.

“Kita mau ke mana sekarang?” Tanya Linzy sambil menyantap es krimnya.
“Ada deh…” Ucap Eky yang berjalan membuntuti Linzy.
“Sayang…” Panggil Linzy pada Eky, Jantung Eky berdetak kencang seperti bola basket yang sedang dribel. 100 hari mereka jadian dan baru kali ini Linzy memanggilnya sayang. Biasanya Linzy memanggil Eky dengan sebutan kakak bahkan ia lebih sering memanggil dengan namanya saja.
“Hnnn??” Tanya Eky singkat.
“Apa kamu tahu jika cinta pertama itu susah bertahan sampai akhir?” Tanya Linzy dengan penuh rasa ingin tahu. Karena Eky pacar pertama sekaligus cinta pertama Linzy.
“Kenapa kamu tanya seperti itu?” Tanya balik Eky pada Linzy.
“Kamu cinta pertamaku, aku takut jika aku tidak bisa mempertahankanmu hingga akhir.” Ucap Linzy pelan.
“Hidup itu penuh kejutan, begitu pula perasaan seseorang dia akan berubah dari waktu kewaktu, cinta pertama memang susah bertahan sampai akhir, kamu tahu apa penyebabnya?” Mendengar pertanyaan ini Linzy hanya menggelengkan kepalanya, ia tak begitu tahu mengenai cinta.
“Karena cinta pertama telah menemukan takdir yang berbeda… takdir yang harus membuatnya tumbuh menjadi cinta yang baru hingga ia sampai batas, dimana ia menjadi cinta terakhir.”
“Sayang… kamu … bisakah kamu bertahan hingga akhir, menjadi cinta terakhirku hanya itu permintaanku sebagai hadiah hari ke 100 kita jadian maukah kamu memenuhinya?” Pinta Linzy sembari menggandeng tangan Eky.
“Linzy, meskipun kamu bukan cinta pertamaku… akan kupastikan kamu menjadi cinta terakhirku. Terimakasih telah mengizinkanku menjadi orang pertama yang menempati hatimu.” Ucap Eky kemudian ia berjalan membelakangi Linzy.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan butik. Linzy heran mengapa ia diajak ke tempat ini. Eky masuk terlebih dahulu, sementara Linzy masih mematung sembari melihat gaun pengantin yang ada di depannya. Beberapa menit kemudian ia sadar jika Eky sudah berada di dalam. Dengan setengah berlari ia masuk ke butik dan segera mencari Eky.

“Kenapa kita ke sini?” Tanya Linzy yang tengah berdiri di samping Eky. Linzy masih bingung dengan maksud kekasihnya itu. “Siapa yang akan menikah?” Tanya Linzy lagi. Linzy menebak jika saat ini Eky tengah memilih gaun pengantin.
Eky tersenyum mendengar pertanyaan itu, kemudian ditariknya halus tangan kiri Linzy sambil berjalan menuju manekin yang tengah mengenakan gaun pengantin dengan anggun. “Waw…” Ucap Linzy kagum. “Cantik bukan?” Tanya Eky. Dan dijawab anggukan oleh Linzy.
“Iya… dia mirip dengan Yuki dalam anime.” Linzy mendekati manekin itu, bukan manekin yang membuatnya kagum, sebenarnya ia kagum dengan gaun yang digunakan oleh manekin itu. Gaun pengantin putih dengan rangkaian bunga kecil mengelilingi bagian pinggang.
“Bukan manekinya… tapi, gaun pengantin itu yang cantik.” Kata Eky.
“Jika dalam anime, aku mirip dengan karakter apa?” Tanya Linzy. Eky seorang pecinta anime sedangkan Linzy seorang Kpopers atau pecinta drama Korea. Perbedaan itu justru mewarnai kisah cinta yang telah mereka jalani hingga saat ini tepat 100 hari.
“Aku rasa kamu mirip dengan Misaki…” Jawab Eky sembari memandang Linzy dan menahan tawa.
“Yang benar saja, apa aku sehoror itu?” Linzy membayangkan karakter Misaki dalam anime another.
“Aku mirip siapa dalam drama Korea?” Tanya Eky, tanpa berpikir panjang Linzy menggelengkan kepalanya.
“Dari sekian banyak tokoh drama tidak ada yang mirip denganku?” Linzy mengangguk, memastikan jawabanya benar. Eky mengerucutkan bibirnya pemandangan ini membuat Linzy puas mengerjain kekasihnya itu.
“Cowok-cowok dalam drama Korea itu, ganteng, keren, dan imut… tapi kamu jauh lebih sempurna daripada mereka.” Jelas Linzy. Sontak hal ini membuat Eky tersenyum lebar dan mencubit gemas pipi Linzy.

“Ayo kita mencoba gaunnya.” Ajak Eky, kemudian ia memanggil penjaga butik untuk mengambil gaun itu.
“Ha… kita untuk apa? Apa kita akan menikah?” Tanya Linzy yang semakin bingung.
Eky tak menjawab pertanyaan Linzy. Setelah penjaga butik memberikan gaun itu, mereka berdua segera menuju ruang ganti. Raung ganti itu ada di sudut kanan butik. Linzy menunggu di luar sementara Eky ganti pakaian di dalam. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka. Linzy segera membalikan badanya dan berhadapan dengan seorang cowok tampan yang saat ini telah menjelma jadi pria dewasa.
“Apa aku setampan itu sampai kamu tak berkedip…” Goda Eky.
“Oh, minggir aku akan berganti pakaian…” Linzy segera masuk ruang ganti sebelum Eky melihat wajahnya yang memerah karena menahan malu.

“Lama sekali anak itu…” Gumam Eky dalam hati. Namanya juga cewek pasti lama kalau sedang berdandan.
Cklek!! Suara pintu terbuka. Eky segera membalikan badannya. Ia terkejut melihat bidadari cantik yang saat ini tengah mengembangkan senyumnya.
“Hai… apa aku secantik itu sampai kamu tak berkedip?” Goda Linzy pada Eky.
Eky mengulurkan tangan kanannya dan Linzy menerima uluran tangan itu. Kini mereka berdua jalan berdampingan layaknya sepasang pengantin baru. Di sisi ruang itu, ada sebuah studio foto. Eky mengajak Linzy masuk, setibanya di dalam ia sangat terkejut melihat meja bundar lengkap dengan dua kursi dan makanan. Selain itu di sisi kanan dan kiri ruangan ada bunga berwarna-warni yang menghiasi ruangan.

“Apa kamu sedang melamarku?” Tanya Linzy to the point.
“Oh… itu…” Eky nampak bingung harus menjawab apa. “Bukan… aku hanya ingin merayakan hari ke 100 jadian kita.” Mendengar jawaban itu raut wajah Linzy menjadi murung. Padahal dalam hati ia berharap Eky akan menjawab iya.
Suasana menjadi hening ketika mereka berdua saling tutup mulut. Linzy kecewa dengan jawaban Eky dan memilih untuk diam. Sementara Eky bingung harus memulai pembicaraan dari mana.

Beberapa saat kemudian seorang fotografer datang. Hari ini Eky sengaja mengajak Linzy untuk foto prewedding. Walaupun Eky tahu ia tidak akan menikah dengan gadis yang sangat dicintainya. Ia hanya ingin membuat kenangan yang seakan-akan mereka pernah menikah dimasa lalu.

Selesai berfoto mereka melihat-lihat hasilnya. Wajah Linzy yang sebelumnya murung kini terlihat ceria kembali. Eky terlihat sangat gagah mengenakan baju pengantin itu. Sebaliknya Linzy juga terlihat sangat anggun dengan gaun putihnya.

“Ayo kita ganti pakaian lagi… ini hampir malam.” Ajak Eky.
“Padahal aku masih ini memakainya… apa aku bisa memiliki ini?” Tanya Linzy.
“Harganya terlalu mahal uang saku punyaku tidak akan cukup untuk membelinya… aku akan bekerja keras dan membelikanya untukmu suatu hari nanti.” Mendengar kata-kata ini, hati Linzy tiba-tiba nyeri. Jatungnya berdetak lebih cepat. Entah mengapa ia merasa rindu pada Eky padahal orang yang ia rindu saat ini tengah berada di sampingnya.

Beberapa saat kemudian mereka berjalan pelan menuju pintu keluar. Setibanya di depan butik, tiba-tiba handphone Eky bergetar lalu membaca pesan yang baru saja masuk.
“Linzy, maaf ya aku tidak bisa mengantarmu pulang.” Mendengar perkataan Eky, Linzy langsung cemberut dan memalingkan muka. “Oh, ini …” Eky menyodorkan sesuatu.
“Kamu menyogokku dengan DVD anime terbaru?” Tanya Linzy untuk memastikan.
“Sebenarnya, bukan ini yang mau aku kasih ke kamu, tetapi… itu sebagai kenang-kenangan kecil.” Linzy masih terdiam, mencerna perkataan Eky satu persatu.

“Linzy ayo bangun…” Pinta seseorang dari luar kamar, namun Linzy enggan membuka kedua matanya. Udara sejuk dipagi hari perlahan mulai menerobos lewat ventilasi kamar. Beberapa saat kemudian sinar mentari menyapa wajah manis Linzy.
“Ah, kakak sudah dibilangin jangan ganggu aku masih ngatuk…” Protes Linzy ketika sang kakak membuka gorden.
“Linzy… apa semalam Eky meneleponmu?” Tanya sang kakak tiba-tiba.
“Hmmmm?” Jawab Linzy bingung. Ia memutar ingatanya yang masih setengah sadar karena mengantuk.
“Eky baru saja dimakamkan…” Ucap Kakak Linzy pelan.
“APPAAAA??” Linzy kaget mendengar kata-kata sang kakak.” Hei… kakak ngelindur atau gimana?” Linzy mengguncang-guncang tubuh sang kakak.
“Kak, ini semua tidak benar kan? Kenapa kakak membuat lelucon seperti ini?”
“Semalam Eky ke sini dia mengantar sesuatu untukmu sebagai hadiah, kakak mau ngebangunin kamu tapi Eky bilang nggak usah. Saat perjalanan pulang motor yang dia kendarai terserempet mobil kontainer hingga Eky terpental jauh.”
“Enggak ini enggak mungkin, kakak pikir aku bakalan percaya sama ocehan kayak gini?” Perlahan air mata Linzy jatuh membasahi pipi mulusnya. Ia teringat dengan 100 hari yang telah ia lalui bersama Eky. Begitu banyak hal aneh yang membuat Linzy merasa jauh dari kekasihnya padahal mereka tengah bersama.

Linzy mebuka sebuah kotak berwarna putih dengan sampul love warna-warni. Perlahan ia melihat sebuah benda yang tak asing lagi dimatanya. Wedding dress yang kemarin ia gunakan untuk sekedar foto bersama kini telah berada di tangannya. Gaun pengantin yang ingin ia kenakan suatu saat nanti di pelaminan bersama Eky. Kini gaun ini telah menjadi miliknya sementara yang akan menjadi pasangannya telah tiada.

“Eky, aku ingin mengenalmu lebih jauh, aku ingin bersamamu lebih lama, tapi mengapa hanya ssebatas cinta 100 hari yang kamu berikan padaku. Aku orang yang sulit merubah perasaan terutama itu perasaan cinta. Apakah begini caramu membalas cintaku? Apa aku kurang cantik hingga kamu pergi menemui bidadari-bidadari surga? Apakah aku bukan cewek yang baik untuk kamu? Hingga kamu pergi kepelukan Allah dan membiarkanku menangis sendiri di sini? Kemana aku harus mencari Eky yang sepertimu?” Linzy menangis sembari memeluk gaun pengantin itu.

Cerpen Karangan: Irene Puspita

Cerpen Wedding Dress merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Start of The Network Site

Oleh:
Berawal dari situs jejaring, ada seorang cowok yaitu berusia 18 tahun yang bernama “Dias”. Dia adalah seorang cowok lulusan SMA favorit di kotanya yaitu Bandung. Hobby dia adalah bermain

Desember

Oleh:
“Aku punya suatu pertanyaan untuk kamu.” “Apa?” “Menurut kamu, hidup itu apa?” “Hidup yah, hidup itu, hidup itu sebuah keajaiban, karena aku bisa ketemu sama kamu. Kalau menurut kamu

My Sweet Wolf Boy (Part 2)

Oleh:
Aku meraba sebilah belati yang diselipkan pada ikat pinggangku, bersiap menyerang apapun. Makin lama, bayangan hitam itu mulai berputar-putar mengelilingiku. Yuki yang berada di luar ‘tornado’ menggeram. Aku mulai

Yang Tersisa Dalam Ingatanku

Oleh:
Angin musim gugur berhembus perlahan menerbangkan dedaunan. Menyibakkan rambut hitam legam yang terurai bebas. Maura, gadis yang tengah termenung di sebuah kursi kayu tua. Fokusnya hanya tertuju pada daun-daun

Dear Friend, Forgive Me (Part 2)

Oleh:
Suasana sore hari yang indah. Di kota, sedang ada karnaval yang ramai dipadati orang-orang. Doni dan Luna berjalan jalan dengan bahagia di sana. Melihat-lihat kemeriahan dan euforia yang menghangatkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *