Weird

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 24 May 2016

Namaku Doni. Umur 17 tahun, 2 SMA. Hari ini, hari yang sangat ku tunggu. Akhirnya aku dapat menghirup udara dengan bebas tanpa mendengar getaran pintu besi penjara. Sidang dimulai dengan lancar, untung saja ada kekasihku yang selalu setia denganku, Amalia. Sebenarnya aku tak tahu kenapa aku bisa masuk penjara, aku merasa tak berbuat kesalahan apa pun. Herannya saat aku senang dan bisa berbincang sebelum persidangan dengan pacarku, ibuku malah menangis dengan sikapku. Ha apa yang salah?

“Sayang, sebentar lagi aku akan segera masuk sekolah lagi,” Ucapku kepada perempuan cantik di depanku.
Dia kekasihku, gadis yang sudah ku pacari kurang lebih satu tahun terakhir.
“Iya, Doni. Nanti kita bisa sama sama lagi,” Ucapnya di iringi dengan senyuman khasnya.
“Aku kangen kamu, Mel,” Ucapku. Lalu dibalas dengan senyuman manis dari pacarku itu.
“Doni, ayo masuk Nak. Sebentar lagi kamu akan sidang,” Ucap ibuku datang menghampiriku dan pacarku.
“Iya Bu. Ayo sayang,” Ku genggam tangan kekasihku untuk masuk ke ruang sidang. Duduk di antara keluargaku.
“Doni, Ibu mohon Nak. Jangan seperti ini,” Ucap ibuku.
“Maksud Ibu apa? Jangan seperti ini apa, Bu?” ucapku bertanya pada ibuku.
“Kamu jangan seperti ini, Nak,” Ucap ibuku lagi. Sungguh apa maksud ibuku ini aku tak paham.

Belum aku bisa memahami perkataan ibuku, aku sudah dipanggil untuk sidang. Sidangku berjalan lancar, akhirnya aku bebas. Aku bisa menghirup udara dengan paru-paruku dengan sangat leluasa sekarang. Kami pun pulang ke rumah. Di perjalanan pulang, kita naik mobil kepunyaan ibuku. Sebelumnya, aku terlebih dahulu menurunkan pacarku di depan rumahnya. Rumahnya terlihat sepi. Ku lihat ibuku, juga ikut turun saat aku mengantarkan pacarku di rumahnya. Kami disambut oleh mamanya Amalia, mama pacarku.

“Tante,” Ucapku pada mama Amalia.
“Akhirnya, Don. Kamu bisa keluar dari penjara,” Ujar mama, Amalia.
“Iya, Tante. Ya sudah kalau begitu kami pamit Tante. Saya kesini cuman mau nganterin Amalia,”
“Gimana, nganter?” ucap Mama Amalia. Aku bingung dengan Mamanya. Kok dia malah bingung ya anaknya aku anter pulang.
Lalu aku lihat ibuku, berbincang agak jauh dari tempatku berdiri, entah apa yang mereka bicarakan aku tak tahu. Lalu setelah itu, mama Amalia menghampiriku.
“Iya, Don. Terima kasih sudah mengantarkan Amalia pulang,” Ucapnya tersenyum padaku.
“Iya sama sama Tante,” ucapku.

Setelah itu aku dan ibuku pulang ke rumah, sampai rumah aku langsung mandi lalu makan masakan ibuku ini. Aku sangat rindu masakannya.
“Doni, besok kamu udah bisa masuk sekolah lagi sayang,” Ucap ibuku.
“Iya, Bu. Doni juga sudah kangen sama temen-temen,” Ucapku.
“Kalau gitu, Doni naik dulu ya Bu,” Ucapku pada Ibuku.
“Iya Nak. Istirahat ya,” Ucap ibuku, aku mengangguk.

Setelah itu aku naik ke lantai 2. Ku masuki ruangan, yang sering kusebut kamar. Dinding kamarku masih seperti dulu, tak ada perubahan. Dinding berwarna cokelat, dengan banyak poster para penyanyi dunia. Lalu ku rebahkan tubuh capaiku ini di kasur empuk berwarna biru. Lalu ku raih ponselku, segera ku mem-BBM Amalia. “Halo sayang, lagi apa,” ketikku pada BBM, lalu ku tekan tombol Send. Lama ku menunggu, BBM-nya malah centang. Apa Amalia sudah tidur ya? Tanyaku dalam hati. Ya udahlah besok kan aku bisa ketemu dia. Lalu rasa kantuk pun menyerangku, lalu aku pun tertidur.

“Pagi Dunia,” Aku pun segera bangkit dari tempat tidurku, membereskannya, lalu segera pergi mandi. Setelah mandi aku pun sarapan bersama ibuku.
“Pagi Bu,” ucapku pada ibuku, yang sedang menyiapkan sarapan.
“Pagi sayang. Gimana semalem nyenyak ya tidurnya?” ucap ibuku.
“Iya Bu. Doni nyenyak banget,” Ucapku sembari mengambil nasi.
Setelah makan, aku pun segera berpamitan ke sekolah. Aku tak menjemput Amalia. Karena, dia itu berangkatnya lebih awal dariku. Apel pagi, itulah rutinitas Amalia, sebagai anggota Paskibraka. Sesampai di sekolah segera aku memarkirkan motorku di parkiran siswa. Lalu kakiku sudah tak sabar menuju kelasku, 11 B.

“Hai bro… akhirnya lu bisa balik ke sekolah,” Ucap sobatku, Tomi.
“Iya, akhirnya ya, Tom,” Ucapku padanya. Lalu setelah itu para siswa lain pun mengerumungiku untuk memberi selamat.
“Iya makasih semua. hei Li, Amalia tadi ikut apelkan?” ucapku pada temanku, Lia. Dia anak paskib juga seperti, Amalia.
“Apa? Amalia?” Ucap Lia kaget.
“Loh, iya. Kok lo kaget gitu sih? Dia kan juga anggota paskib kayak lo kan?” Ucapku pada Lia.
“Oh em, iya. Tadi dia ikut apel,” Ucapnya dengan terbata.
“Ada apa sih? Kenapa semua bingung kalau gue tanya soal Amalia. Jelas jelas cewek gue kan juga siswi di sini. Heran deh gue sama kalian,” Ucapku yang hanya ditanggapi dengan tatapan iba teman temanku. Ada apa sih ini.

“Sayang, kok kamu kemarin aku BM gak dibaca?” Ucapku pada, Amalia. Kami sedang ada di taman, ini sedang jam istirahat.
“Iya, maaf ya. Kemarin aku udah tidur,” Ucapnya. Aku hanya mengangguk.
“Nanti pulang sekolah, aku tunggu di parkiran ya? Nanti kita ke kedai Pizza. Aku kangen makan sama kamu,” Ucapku.
“Iya,” Ucapnya lagi, ia tersenyum.
Tak terasa jam pun cepat berlalu. Sekarang aku sudah menunggu pacarku di parkiran buat pergi sama dia.
“Maaf, aku lama,” ucapnya yang baru datang.
“iya, nggak apa-apa kok, yuk,” ucapku.
Lalu segera dia memboncengku, kami pun segera menuju ke kedai pizza.

“Sayang, aku kangen banget sama kamu. Akhirnya kita bisa makan bareng lagi ya,” ucapku padanya.
“Iya, aku juga kangen sama kamu, Don,”
“Makasih ya, kamu masih setia sama aku,” ucapku padanya.
“iya, sama sama. Aku kan akan selalu ada di sampingmu, di hatimu, dan pikiran kamu,” Ucapnya lagi
“iya, sayang makasih,” Selama kita makan di kedai ini, Banyak orang menatapku aneh. Mereka tampak bingung. Kenapa sih? Kenapa banyak banget orang yang bingung sama aku. Apa ada yang salah dari penampilanku.

Setelah kami selesai, makan dari kedai pizza. Aku mengantar Amalia pulang. Rumahnya, terlihat sepi lagi. Tapi itu tak masalah buatku, yang pasti aku sudah mengantarkan pacarku pulang. Hari hari ku lalui dengan kebahagiaan.Namun, banyak orang juga yang menatapku seperti, “You weird,” tapi aku tak peduli akan hal itu. Tak terasa sudah 3 bulan aku ke luar dari penjara. Hari ini, hari libur. Aku dan Amalia jalan bersama. Kita pergi ke bioskop. Aku memesan Popcorn 2 porsi. Satu untukku dan satu lagi untuk pacarku. Lagi-lagi orang-orang menatapku aneh, si mbak-mbak penjual popcorn itu kaget saat aku memesan 2 porsi popcorn.

“Loh mas pesan 2?” tanya mbak-mbak itu padaku.
“Iya mbak. Ada masalah?” ucapku sinis. Aku heran kok dia malah bingung ya.
“Oh… enggak mas enggak. Saya hanya memastikan,” Ucap mbak itu.

Setelah memesan popcorn aku dan Amalia segera masuk ke gedung bioskop dan menonton film yang sudah di pesan. Setelah dari bioskop, aku dan Amalia segera menuju tempat bermain yang terkenal di Jakarta Timur. Kami naik korra korra, komedi putar, Tornado. Aku dan Amalia pun naik Hysteria bersama. Dia teriak sangat keras. Aku tertawa melihatnya.

“Sayang, makasih ya. Kamu masih mau ada di samping aku sampai sekarang,” ucapku pada Amalia. Kami sedang berada di sebuah tempat duduk di dekat tempat peristirahatan. “Iya, aku akan selalu ada buat kamu,” lalu aku memeluk tubuh kecilnya itu. Tubuhnya agak dingin. Apa dia sakit?
“Sayang kok, kamu dingin gini? Kamu sakit ya?” ucapku padanya. Dia hanya menggeleng.
“Ya udah kita pulang ya. Kamu istirahat habis itu,” ucapnya.

Setelah kami dari tempat itu, aku mengantarkan Amalia pulang. Lalu setelah itu, aku pulang ke rumahku.
“Doni, kamu habis dari mana?” Ucap ibuku di pintu depan.
“Aku habis jalan-jalan sama Amalia Bu,” ucapku.
“Don, tolong kamu jangan seperti ini Nak,” Ucap ibuku sambil menangis. Aku tak paham maksudnya apa?
“Jangan seperti ini gimana Bu. Kenapa semua orang terlihat bingung padaku Bu? Ada apa?”
“Maafin Ibu Nak. Tapi, Ibu terpaksa melakukan ini,” ucap ibuku padaku.
Setelah itu, ada 3 orang pria menggunakan baju berwarna putih membawaku.

“Pak tolong bawa anak saya, sembuhkan dia ya Pak,” ucap ibuku sambil menangis.
“Bu, maksudnya Ibu apa? Aku mau dibawa ke mana Bu? Lepasin gue,” ucapku pada ibuku dan juga kepada petugas itu.
“Mas, tenang Mas. Tolong suntikannya,” ucapnya pada salah seorang petugas lainnya. Mereka petugas Rumah Sakit Jiwa.
“Bu.. tolong Bu. Aku enggak gila Bu. Tolong lepasin Doni,” ucapku pada ibuku, namun kepalaku makin pusing. Samar-samar aku mendengar suara ibuku, “Maafkan ibu Nak. Ibu terpaksa,”

(Author POV)
Hari itu hujan deras. Namun, seorang gadis masih setia duduk di bangku taman sembari melihat jam di pergelangan tangannya.
“Aduh Doni mana ya? Lama banget. Atau aku pulang aja ya,” ucapnya sendiri. “Tapi enggak. Aku harus tetep nunggu dia,” ucapnya lagi.
Dari kejauhan sosok pria yang ditunggu gadis cantik itu, datang. Ia melihat gadisnya masih setia menunggunya padahal ini hujan deras.

“Amalia sayang,” Ucapnya.

Kakinya mulai mendekati gadis itu. Namun, ia tak menyangka di belakang pacarnya itu ada seseorang yang terlihat mencurigakan. Ia masih bisa melihat dengan jelas walaupun di balik hujan. Lelaki yang di belakang pacarnya itu mengeluarkan pisau. Dia akan melukai pacarnya. Mengetahui akan itu, Doni segera berlari, namun ia tersandung batu. Kacamatanya lepas darinya, ia mencarinya namun tak ketemu, dan sekarang pandangannya kabur. Dia sudah tak berpikir akan kacamatanya, yang pasti dan yang terpenting ia harus menyelamatkan Amalia dari perampok itu. Dengan pandangan matanya yang kabur, ia masih bisa melihat ada batu di sampingnya. Ia mengambil batu itu dan ia ingin pukulkan ke sang perampok.

Namun, saat akan memukul kepala sang perampok itu, perampok itu mengetahui kehadiran Doni, dan ia pun segera menghindar. Alhasil, Doni malah memukul Amalia pacarnya sendiri. Doni yang mendengar jeritan gadis, ia baru sadar yang dipukulnya adalah pacarnya sendiri. Doni pun tak menyangka ia berteriak histeris. Ia bingung, takut, dan sedih. Di kejauhaan perampok itu melihat kejadian itu, dan memfotonya. Alhasil Doni pun masuk penjara dan jiwanya terganggu karena peristiwa memilukan hari itu. Saat dirinya tak sengaja membunuh pacarnya sendiri.

(Author Pov)
Akhirnya, Doni pun masuk rumah sakit jiwa. Dia depresi dan jiwanya terganggu. Ibu Doni sangat sedih dan ia terpaksa melakukan ini supaya anaknya bisa kembali normal seperti sedia kala.

“Amalia… jangan tinggalin aku ya? Kamu mau kan nemenin aku sayang,” Ucap Doni bergumam pada Amalia yang hidup dalam dunia fantasinya.
“Iya sayang, aku akan di sini. Aku akan ada di sisi kamu, di hati kamu dan pikiran kamu,” ia pun membayangkan Amalia akan menjawab seperti itu.
Iya benar Amalia akan selalu ada untuk Doni, ada dalam halusinasi dan khayalannya belaka.

Tamat

Cerpen Karangan: Devita
Facebook: Devita Sari

Cerpen Weird merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bagaimana Mencintai Tanpa Bertele Tele

Oleh:
Sebait kisah sedih yang aku yakin sekali bahkan tidak pernah ada yang tahu semenyakitkan apa rasanya ditinggalkan dengan cara yang tidak pernah kaubayangkan sebelumnya. Baru-baru ini, aku berkenalan dengan

Aku Hanya Ingin Cinta Mu

Oleh:
amaku Ferry Fajrul islam aku sering dipanggil Ferry oleh kerabat ataupun teman-teman. Cerita ini berawal tahun 2013 bulan april, aku dikenalkan dengan seorang wanita, yang tidak lain adalah saudara

And I Hope

Oleh:
Hai nama saya Ilona, aku berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi agama islam. Ya beginilah aku, seorang muslimah cantik yang tinggal di dusun kecil Aku memang terkenal dengan keramahanku,

Tentang Jen

Oleh:
Pagi ini awan berarak hitam pekat, sesekali turun gerimis yang sesaat berhenti memberi jeda, lalu turun kembali secara beraturan. Hal itu membuatku enggan ke luar dari selimut yang kurasa

Hingga Akhir Waktuku

Oleh:
Ku buka tirai jendela kamarku. Matahari bersinar cerah, seperti berlawanan dengan suasana hatiku yang masih seperti semalam. Semalam jantungku berdegup kencang. Kini deg deg-an itu menghilang. Tapi resah itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *