Yang Terkasih Bukanlah Ilusiku (Mein Liebster, es ist keine Illusion) Part 3

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Rindu
Lolos moderasi pada: 5 August 2021

Bruk
Bruk
Bruk
Tanpa kesepakatan berdua, Robert telah lebih dulu mendobrak pintu ruangan Alex, dan syukurlah ternyata pintu ruangan Alex adalah tipe yang cukup mudah dibobol.

Setelah pintu terbuka, Carl dan Robert melihat jelas kondisi ruangan Alex yang begitu berantakan.
Kumpulan Cat cat lukis yang hampir mengotori seluruh ruangan, bahkan hingga ke langit langit ruangan, membuat mereka bertanya tanya dalam hati apakah Alex mandi dengan cat di ruangannya?

Tapi tak lama netra mereka fokus pada tubuh Alex yang terkapar tidak berdaya diatas tumpukan kanvas kanvas yang berisi lukisan yang rusak.
Alex berada dalam keadaan tidak sadarkan diri, bahkan disampingnya terdapat pecahan botol dengan butiran pil pil berwarna putih.
“Oh Tuhan! Alex! Kumohon bangun! Alex !” Robert berteriak panik kala mendapati kakaknya tidak sadarkan diri

Sementara itu disi lain, Carl mencoba menganalisis kejadian yang menimpa Alex, lelaki itu memeriksa botol kaca yang pecah namun masih terdapat tulisan.
Ia melihat tulisan yang terpotong pada botol yang bertuliskan Xan..
Meski Carl tidak menimba ilmu pada kelas kedokteran, tapi ia tidak bodoh untuk mengartikan bahwa itu adalah salah satu jenis obat penenang.
Maka dengan cekatan ia segera memasukkan botol kaca tersebut ke saku mantelnya dan membantu Robert untuk membawa tubuh besar Alex ke rumah sakit, tak peduli pada tatapan tetangga yang bergerumul disekitar rumah Alex

Rasanya seperti berada di film Fast and Furious karena Carl mengendarai mobilnya dengan cepat dan ugal ugalan, ia bahkan hampir menabrak truk sampah jika saja Robert tidak berteriak.

“Carl, jika kau mengendarai mobilnya seperti ini, dapat kupastikan bahwa bukan hanya Alex yang dirawat tapi kita semua” ujar Robert dengan kesal, karena rasanya seperti mempercayakan nyawa pada malaikat maut.
“Ya Aku tau!!” Carl membentak, bukan karena marah melainkan rasa tegang, karena ia dapat melihat jelas wajah Alex yang mulai memucat dari kaca spionnya.

Kumpulan spekulasi buruk mulai berkecamuk dalam kepalanya dan menciptakan paranoid tersendiri, Carl khawatir dan takut jika Alex overdosis, karena melihat sisa butir pil pilnya hanya tersisa sebanyak 6 buah, botol pil yang berukuran medium cukup untuk menampung 30 butir lebih.

Sesampainya mereka di rumah sakit, Robert menggendong Alex yang tidak sadarkan diri dipunggungnya, dibantu Carl yang menjaga bagian belakang khawatir jika robert hilang keseimbangan dan membuat tubuh besar Alex terjungkal.
Karena meski Robert dan Alex sama sama tinggi, namun Alex lebih besar dan berotot, sementara Robert adalah kebalikannya.

Selama 1 jam lebih Carl dan Robert menunggu di luar ruangan ICU, karena perawat yang kebetulan berada didekat mereka melihat bahwa kondisi Alex cukup kritis.

Setelah penantian panjang yang rasanya seperti seminggu, akhirnya dokter yang menangani Alex keluar dari ruangan ICU, membuat Robert berlari lebih dulu dan menghampiri dokter.
“Bagaimana keadaannya?” Robert berusaha untuk tetap tenang, tapi raut wajah dokter didepannya membuatnya menjadi cemas bukan main.
“Ia hampir mati karena overdosis obat penenang, saat aku mengecek darahnya ada kandungan alprazolam dalam darahnya, Mungkinkah ia mengkonsumsi Xanax secara berlebihan?” dokter bertanya pada Robert tapi yang ditanya hanya menatap bingung.
Tapi dari belakang Robert, Carl mengulurkan tangannya pada dokter lengkap dengan pecahan botol pil milik Alex
“Apa itu?”
Robert bertanya pada keduanya, tapi carl memilih diam dan memerhatikan dokter yang terlihat memeriksa pecahan botol tersebut

“Ya benar, ini Xanax” ujar dokter itu.
“Ini obat yang dirancang untuk mengatasi orang orang yang merasa panik cemas dan lain lain, obat ini memberikan ketenangan pada saraf yang tegang” ujar dokter secara singkat dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh Robert.
“Oh Tuhan!” Robert nyaris jatuh berlutut jika saja Carl dan dokter tidak membantunya.
“A-aku tidak tahu jika Alex semenderita ini” ujar Robert dengan sedih
Sementara Carl memilih diam, dan memberi kode pada dokter untuk meninggalkan mereka berdua, setelah kepergian dokter, carl mengarahkan robert untuk duduk pada kursi di depan ruangan ICU

“Carl, selama ini yang kutahu hanya meminta uang padanya, aku selalu mengutamakan James tanpa berfikir bagaimana dengannya, bahkan kita sempat bertengkar hebat hanya karena uang” Robert berkeluh kesah pada Carl. Dan carl hanya dapat terdiam.

Karena tidak merokok, kepalanya jadi pusing hingga membuat laju pikirnya jadi lambat..
“Aku akan mencari minuman dulu” Ujar Carl lalu meninggalkan Robert
Sebenarnya itu adalah salah satu alasan baginya untuk membeli rokok, karena ia benar benar membutuhkan rokok, Namun baru saja ia selesai menghisap rokok dan akan membeli minuman, sebuah telepon dari Robert menghentikkannya.
Dengan cepat Carl mengangkat telpon tersebut lalu didetik selanjutnya sebuah jeritan penuh pilu dari Robert terdengar memenuhi telinganya.

“Tidak Carl… Carl!!”
“Hei Hei! Tenanglah Robert, katakan padaku apa yang terjadi?!!” Carl menjadi panik kala hanya mendengar isak tangis dari Robert, maka tanpa menunggu jawaban lagi dari Robert, lelaki itu pun segera berlari kembali menuju rumah sakit.
Ia berlari secepat mungkin, tak peduli ia akan ditangkap security karena membuat derapan langkah yang berisik di koridor rumah sakit, karena saat ini kepalanya dipenuhi dengan Alex.

Saat dirinya berada didepan ruangan ICU, ia pun segera masuk lalu selanjutnya, seketika ia merasakan sesuatu dalam dirinya runtuh, seperti rumah kartu yang telah disusun sangat tinggi dan tiba tiba menjadi runtuh karena sebuah tiupan angin.
Disana Carl melihat bahwa Robert menangisi tubuh Alex yang tidak lagi bernafas, bahkan elektrokardiogram disamping tempat tidur Alex sudah tidak menunjukkan tanda tanda denyut jantung Alex.

“Tidak.. ini tidak mungkin terjadi..” Carl menggeleng ribut sembari menjambak rambutnya seolah menolak fakta pedih yang tersaji dihadapannya.
Dengan hati yang teramat sakit, Carl pun berjalan mundur lalu berlari meninggalkan ruangan ICU tempat Alex berpulang ke singgasana Tuhan.

Carl menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya, pria itu sejenak terdiam lalu memukul mukul setir mobilnya dengan frustasi, sembari menangis Carl juga membenturkan kepalanya pada kaca mobil, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya adalah mimpi. Tapi rasa sakit yang mulai menginvasi kepalanya terasa nyata dan mengartikan bahwa ini bukanlah mimpi. Alex pergi tanpa mengucapkan kalimat apapun.

Maka dengan pandangan yang menggelap, Carl pun mulai melajukan mobilnya, ia mengendarai mobilnya dengan cepat menuju kediaman Alex, Pria itu ingin mengetahui sesuatu sekaligus ingin mencari tahu penyebab asli yang membuat Sahabatnya sampai sebegitu sakitnya.

Setelah sampai, dengan langkah yang tergesa gesa Carl pun memasuki ruangan pribadi Alex, dan tanpa ragu ia pun menarik kain yang menutupi lukisan Anna. Dan seketika Mata carl terpaku, pria itu bahkan tidak bisa berkedip kala melihat secara keseluruhan wajah Anna yang teramat cantik.

Sekarang Carl memahami alasan mengapa Alex berakhir mati dengan kegilaan itu, Ia menyadari sesuatu hal…
“Ternyata inilah alasan kenapa kami tidak bisa menemukanmu” racau Carl
“Alex!! Dasar B*jing*n! Bagaimana bisa kau mencintai wanita yang tercipta dari imajinasimu?!!!” Carl berteriak kesal dan marah lalu mendorong papan kayu tempat lukisan itu bersandar, saat menyadari bahwa wanita itu hanyalah imajinasi dari Alex saja, karena setelah melihat lukisan Anna secara keseluruhan ia meyakini betul bahwa Anna tidak nyata karena dalam lukisan tersebut, Anna memiliki Sayap dan memiliki lingkaran suci di kepala seperti malaikat.
Adakah manusia seperti itu?

Namun saat lukisan itu jatuh, tiba tiba sebuah amplop keluar dari balik lukisan, dengan cepat Carl pun mengambilnya lalu membaca isinya.

Untuk, Anna Weber
Wanita yang teramat cantik, yang tidak ada duanya.

Dimanakah engkau berada saat hatiku memanggil namamu
Dimanakah engkau berada saat telingaku merindukan suaramu
Aku selalu menunggumu disini, tapi kau tidak kunjung menemuiku
Aku mencarimu seperti orang gila, menanyakan kesana kemari dan memanggil manggil namamu di jalanan dan berharap engkau akan berlari ke arahku.

Apakah yang memisahkan kita?
Mengapa sulit untuk bersatu?

Aku terus memimpikan dirimu yang menangis di atas jembatan seorang diri
Netra birumu yang kusukai perlahan mulai redup
Aku takut, sangat ketakutan bahwa kau sudah pergi terlalu jauh..
Dan kini aku meminta belas kasih padamu, maafkan aku sayang apabila aku menyerah pada kehidupan suatu hari nanti..

Rasa rinduku padamu telah menciptakan kanker di dalam jiwaku dan menjadikan diriku seperti kanvas yang kosong, kanvas putih yang selalu menunggu untuk engkau warnai.

Sayangku Anna, rasanya jika aku jabarkan seberapa besarnya cintaku padamu mestilah tidak akan cukup, maka dari itu terimalah usaha terakhir dariku atas murninya cintaku padamu.

Dari orang yang memujamu, Alex Balderich

1 tahun sudah berlalu, namun rasa duka dari keluarga Balderich tak kunjung sirna, bahkan kepala keluarga tertua sudah lama jatuh sakit akibat terpukul oleh berita kepergian putra sulungnya, suasana rumah keluarga Balderich yang sebelumnya dingin menjadi tambah dingin dan tak berwarna, bahkan Robert yang merupakan si bungsu juga mulai mengikuti jejak kakaknya, diusianya yang ke 25 ia memutuskan untuk hidup mandiri, bekerja sama membangun sebuah usaha dari berjualan makanan bersama sahabatnya James.

Sementara Carl tetap melanjutnya hidupnya dan berhenti merokok, karena teringat ucapan Alex yang benci asap rokok, semua orang yang berada disekitar Alex masih merasakan duka, sebagian masih tidak percaya mengenai kepergian Alex, bahkan Robert merasa kakaknya hanya tengah berlibur ke tempat tropis sembari meminum es kelapa yang segar dibawah pohon kepala di tepi pantai, sembari memaki tabir surya ke seluruh badan. Tapi James berusaha mempertahankan kewarasan Robert dan mengatakan bahwa Alex sudah tiada.

Hari ini tepat peringatan kematian Alex, Carl datang ke pemakaman tempat Alex dimakamkan, namun dari jauh, ia melihat ada seorang wanita yang berada didepan batu nisan Alex, seolah menyadari kedatangannya, wanita itu pun segera pergi. Dengan perasaan yang amat penasaran, Carl pun mengejar wanita tersebut hingga ke jalan raya

“Tunggu!” carl berseru memanggil wanita itu, tapi wanita itu tidak menoleh sama sekali.

Saat lampu tengah merah dan semua orang dapat menyeberang, Carl berusaha menyusul wanita yang sedang menyeberang bersama kumpulan orang orang tersebut, tapi sayang sekali saat ia akan menyeberang lampu berubah menjadi hijau dan ia harus menunggu lagi.

Saat menunggu lampu lalulintas berganti warna, dari seberang jalan Carl berteriak
“Anna!, Anna Weber!!” entah dorongan dari mana, tapi seketika hanya nama itu yang terlintas di kepala Carl

Dan tanpa diduga, wanita misterius yang telah berada di seberang jalan itu berbalik dan menatap Carl.
Seketika Carl mematung, ingin rasanya memukul dirinya saat melihat sesuatu yang engan ia percayai, bahkan ketika lampu telah menjadi merah dan semua orang menyeberang, Carl tetap mematung pada tempatnya, otaknya seperti menjadi lambat seketika, namun saat lampu kembali hijau dan ada sebuah truk yang melintas, menghalangi pandangan Carl terhadap wanita yang ia yakini adalah Anna, dengan rambut coklat gelap yang sedikit bergelombang dan kulit putih, namun saat truk tersebut telah berlalu seketika Anna menghilang, meninggalkan carl yang terdiam bagai patung di seberang jalan.

Selesai.

Cerpen Karangan: FoxyHeart

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 5 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Yang Terkasih Bukanlah Ilusiku (Mein Liebster, es ist keine Illusion) Part 3 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maukah Kau Bersamaku?

Oleh:
Sherra, perempuan penunggu ‘Bakery Latte’ ini sudah sejak satu jam yang lalu berdiri di balik etalase kaca yang berisi roti-roti aneka warna yang nampak lezat. “Rainbow Cake satu” seorang

Takdir (Part 2)

Oleh:
“Hai Kalila! Selamat pagi.” Sapa Kania saat Kalila memasuki kelasnya. Ada seseorang di samping Kania, menggandeng erat tangan Kania. Dia adalah kekasih Kania, Rendy Prasetya Wiratama. Dua hari yang

Kisah Cinta Dalam Derita

Oleh:
Aku Jaqueline Haufmann. Tahun ini, aku terdiagnosa menderita Skoliosis. Skoliosis adalah pembengkokan tulang belakang yang bisa terjadi karena faktor genetik, otot yang lemah, dan kesalahan posisi duduk. Penyakit ini

Terakhir

Oleh:
Gadis berwajah oriental itu tersenyum padaku. Diangkatnya gelas yang ada di tangannya, seolah mengatakan ‘mari minum’ yang kubalas juga dengan mengangkat gelasku. Plak! Sebuah tamparan mendarat di kepalaku. “Kenapa

Bagaimana Mencintai Tanpa Bertele Tele

Oleh:
Sebait kisah sedih yang aku yakin sekali bahkan tidak pernah ada yang tahu semenyakitkan apa rasanya ditinggalkan dengan cara yang tidak pernah kaubayangkan sebelumnya. Baru-baru ini, aku berkenalan dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Yang Terkasih Bukanlah Ilusiku (Mein Liebster, es ist keine Illusion) Part 3”

  1. moderator says:

    Kakak bisa merasakan effort yang kamu curahkan dalam membuat cerpen ini… ^_^ kakak nantikan karyamu selanjutnya Foxy

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *