Yang Terlupakan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 26 January 2016

Berlari dari kenyataan pahit yang telah terpatri, membuatku menjadi sosok yang tak pernah aku mengerti. Rasa sesal ini, melekat erat bersemayam di dasar hati. Andai saja dosa itu tak ku berikan kepadamu, andai saja waktu itu senyummu yang hadir dalam benakku. Mungkin, aku mampu menatap dunia dengan rasa bahagia, dengan tawa yang selalu kau ajarkan kepadaku. Hiruk pikuk ibu kota yang ku jalani saat ini, tak membuatku merasakan apa yang seharusnya kita rasakan. Semuanya menghilang bersama dengan waktu yang telah menutup semua detik-detik yang berjalan.

Cintaku masih melekat pada sebuah bayang yang hadir dengan membawa payung putih itu. Aku benar-benar merasakan bagaimana ketulusan hatinya menolongku, ketika harus terbuang oleh kenyataan pahit yang tak pernah ku sadari. Rasanya hidup kembali dari kematian yang mendera batin. Bayangan perempuan itu, yang tak akan pernah terlupakan, selalu hadir dalam mimpi. Dia mengulurkan tangannya yang lembut nan halus itu. Senyumnya ramah, walau tak mampu terlihat jelas paras cantiknya. Kehadirannya membuatku terkejut, sekaligus bersyukur. Tuhan masih menyayangiku, dengan menghadirkan perempuan ini.

Kami berdua berjalan menuju sebuah tempat kosong, berteduh untuk sekian lama. Tak ada yang kami lakukan, kecuali hanya terdiam dan saling memandang mata. Ingin ku menanyakan sesuatu kepadanya, atau setidaknya mengucapkan terima kasih. Sorot mata kami, memandang jalanan yang masih saja banyak kendaraan berlalu-lalang di tengah guyuran hujan yang sangat deras dengan kilatan petir yang menyambar. Aku tahu dia sangat takut akan petir, terlihat dari bahasa tubuhnya yang seakan ingin menyembunyikan dirinya, ketika petir itu menyambar. Tak enak rasanya bila harus begini.

“Takut petir?”
“Iya,”
“Tenang, ada aku di sini!”
Dia memeluk tubuhku, ketika petir kembali menyambar. Aku merasakan rasa nyaman yang tak pernah aku rasakan selama ini. Detak jantungku berdebar kencang. Tak pernah sekali pun aku merasakan apa yang saat ini aku rasakan. Sungguh, mungkin inilah yang dinamakan dengan jatuh cinta itu.

“Maaf,” katanya malu.
“Iya,”
“Kalau boleh tahu, di mana rumahmu?”
“Aku tak punya rumah, aku baru saja diusir oleh orangtuaku,”
“Kenapa?”
“Panjang ceritanya.”
“Baiklah, maaf kalau begitu.”
“Kalau mau pulang, silahkan saja!”
“Tak apakah bila kau ku tinggal sendirian di sini?”
“Ya.”

Dia pun akhirnya pergi, dengan meninggalkan sejuta rasa yang entah aku sendiri pun tak tahu. Langkahnya perlahan menghilang, begitu pula dengan rasa sedih yang lambat laun menghilang dari dalam hatiku. Perempuan itu kembali dengan membawa kotak makanan untukku yang masih terbaring di emperan toko. Aku cukup terkejut dengan apa yang dilakukannya. Matanya itu, mengisyaratkan cinta yang tak akan pernah terlupakan, terlebih lagi senyumnya.

“Mengapa kau tahu bila aku di sini?”
“Entah, aku hanya mengikuti kata hati yang akhirnya membimbingku ke sini.”

Dia seakan membius atau lebih tepatnya menghipnotis dengan caranya yang sangat mengesankan. Kelembutan hatinya dan ketulusannya itu yang membuat jiwa ini terasa hidup kembali. Kepedihan ini, tangis ini dan segenap kerapuhanku seakan menghilang dengan sendirinya. Hingga akhirnya, aku berani menunjukkan diri pada dunia, pada semua orang yang telah membuangku ke jalanan.

Waktu berjalan begitu cepat, hingga akhirnya noda itu tercipta pula di kain putih yang terbilang kata cinta yang suci. Kami pun pergi dengan hati yang tak lagi berbentuk. Sejak saat itu, aku dan perempuan itu berjalan sendiri-sendiri, tak pernah bertemu dan tak lagi bertutur sapa, bahkan melambaikan tangan pun enggan. Aku tak dapat menemuinya lagi. Luka itu terlalu dalam untuk mampu ku obati. Rasanya separuh dari diriku menghilang. Tetapi, dia telah meninggalkan sebuah kehidupan yang nyaman. Cinta yang bersemi walau tak mampu sempurna, dan sebuah kenangan yang akan terekam dalam ingatan.

Aku telah melupakannya. Takdir telah menuntunku ke jalan lain yang membuatku kembali merasakan cinta yang sama. Pernikahan yang akan berjalan dengan perempuan itu sungguh tak pernah terbayang. Terlebih lagi, ketika aku kembali menemuinya, sosok perempuan yang telah terlupakan, yang saat ini tersenyum di depan mata dan memberikan sebuah ucapan selamat. “Aku masih ingat katamu waktu itu, dan aku pun menunggumu bersama dengan anak ini,” bisiknya.

Tak ada kata yang mampu ku ucapkan. Penyesalan ini membekas dalam benak. Andai saja aku mampu memutarnya kembali. Mungkin, keadilan ini akan selalu berpihak. Tanpa ku sadari air mata ini menetes bersama dengan raganya yang kembali pergi, dan sepucuk surat yang diselipkan di saat kami berjabat. Dalam isi surat itu, dia menceritakan tentang dirinya yang harus diusir dari rumah karena aib yang telah tertorehkan. Tetapi, keinginannya untuk tetap mencintaiku dan menungguku begitu kuat. Dia selalu mencariku, hanya saja, dia tak tahu bagaimana kehidupanku setelah kita lama tak bertemu. Setelah tangan tak pernah lagi berjabat.

Hujan yang selalu turun, selalu mengingatkannya akan diriku. Akan sorot mataku waktu itu. Dia sempat putus asa, dan hendak mengakhiri hidupnya. Tetapi, buah hatinya yang sangat mirip denganku, selalu mampu menyurutkan niatnya itu. Cintanya kepadaku begitu besar, walau dia tahu bahwa aku telah melupakannya. Janjinya waktu itu masih terekam dengan jelas. Saat ini, janji itu akan diwujudkannya melalui seorang anak kecil yang lucu, yang selalu mengajarkannya untuk tersenyum, walau air mata menetes tanpa henti.

Cerpen Karangan: Van Nusantar
Facebook: Ipmawan Vanryo

Cerpen Yang Terlupakan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dibalik Cinta

Oleh:
Tut.. Tut… Tut… Suara alarm itu membangunkanku. Langkahku langsung mengarah ke persiapan sekolah. Pagi itu aku dijemput oleh kekasihku, bisa dibilang seseorang yang sangat kucintai setelah orangtuaku. Tak berapa

Harapan di Musim Dingin

Oleh:
Melihatmu tumbuh dewasa. Melihatmu berdiri dengan anggun menggunakan gaun warna putih kesukaanmu. Dan melihatmu bersanding dengan seseorang pilihanmu. Hanya itu keinginanku. Pasti akan indah, jika itu benar-benar terjadi padamu,

Karena Kita

Oleh:
Pagi ini cuaca redup, embun pagi masih bergantung di pucuk-pucuk daun. Beberapa menit kemudian, mentari menampakan sinar hangat nya. Hening. Masih terlalu pagi. Setelah menelan sepotong roti isi keju

Goodbye, Davin

Oleh:
Ini adalah malam tahun baruku yang kedua, yang aku lewati bersama dengan Davin, kekasihku. Kami juga berkenalan di saat malam pergantian tahun. Saat itu, aku menghabiskan beberapa jam terakhir

Blue Heart

Oleh:
“Nanti aku jemput kamu jam 7 malam ya, aku udah reserve tempat makan malam ini. Gak usah takut napa aku yang bayar kok, cukup dandan yang cakep, nanti aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *