You Not My Best Friend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 17 November 2017

Dua tahun yang lalu aku punya sahabat yang bernama dela, aku sangat menyayanginya, kita sering menghabiskan waktu bersama, apapun yang kita lakukan selalu bersama, jika ada yang kurang kami sukai di antara kami berdua, kami selalu saling menasehati agar tidak ada perselisihan dan salah faham di antara kita. Tapi semua itu berubah setelah memasuki semester 4.

2 tahun yang lalu
Pagi itu aku dan dela sedang asyik ngobrol bareng di kelas, seperti biasa kami sering membicarakan tentang kakak kelas yang telah membuat hati dela berbunga-bunga, dela sangat menyayanginya, dia bahkan rela melakukan apapun demi kak angga.

“ehhh anha.. tahu tidak, hari ini kak angga benar-benar tampil beda” ucap dela yang dari tadi terus memuji kakak kesayangannya itu, mendengar pujian-pujiannya untuk kak angga aku mulai merasa kalau dela itu terlalu berlebihan, iya sih aku akui kalau kak angga emang keren, tampan dan dia juga anak kepala sekolah, tapi siapa sih yang suka cowok kayak dia? Ganteng sih iya tapi dilihat dari nilainya yang selalu ambruk ngapain juga harus naksir sama cowok kayak gitu…
Sering aku mengingatkan dela untuk tidak terlalu berharap kepada kak angga, tapi disaat aku menasehatinya dia malah berfikir kalau aku jealous…
“ya udah dela kalau kamu emang suka pada kak angga itu, kenapa kamu tidak Tanya langsung aja ke orangnya?” ucapku
“iya tidak mungkinlah aneh, aku kan cewek lagian aku mana berani ngomong gitu ke dia”

Keesokan harinya, pas jam istirahat, dela menyuruhku untuk mendekati kak angga, astaga apalagi ini? Masa iya aku harus ngomong sama cowok yang sangat aku benci itu? Karena dela terus memaksa, terpaksa aku turuti, aku terus mencari cowok yang bernama angga itu, meskipun aku sangat benci dengannya, tapi demi sahabat yang aku sayangi itu, suka tidak suka, senang tidak senang harus aku lakukan..

Tidak lama kemudian sosok yang aku cari itu akhirnya kutemukan juga, dengan sedikit kesal aku memulai percakapan dengannya.
“kak dapat salam dari dela”
“dari dela atau dari kamu dek, udahlah tidak usah munafik dek, kalau kamu emang suka sama aku?” ucap kak angga
Ya ampun entah terbuat dari apa cowok ini, dengan mudahnya dia menganggap kalau aku menyukainya?. tanpa mengeluarkan sepatah katapun aku langsung beranjak pergi dari tempat itu, tapi kak angga menarik tanganku hingga aku terjatuh ke pelukannya, siswa-siswi yang ada di sana pada menyorakiku, aku tertunduk malu, karena malu aku pergi dari tempat tersebut…

Kak angga terus mengikutiku, teman-teman di sekitarku pada memandangiku. Aku sudah sering menyuruhnya untuk menjauh dariku, tapi dia tidak mau.
“emang kenapa aku harus pergi? Bukankah ini jalanan umum?” kak angga terus saja mengikutiku hingga akhirnya aku sampai di kelas, dan paling menyebalkannya lagi, ternyata guru telah di kelas, karena terlambat masuk guru memarahiku…
“dari mana kenapa baru masuk?” Tanya guru..
Baru aku mau jawab, kak angga sudah mendahuluiku..
“bu tadi anha dari kelasku, aku meneleponnya untuk datang ke kelasku, dan karena ibu sudah lama di kelas makanya aku menemani anha ke sini, iya… sebagai pacar yang baik tentunya aku harus perhatian kepada pacarku anha” jelas kak angga
Bagaikan petir yang menyambar, aku dan dia… pacaran? Kapan? Astaga alien satu ini benar-benar membuatku sangat jengkel. Terlihat jelas raut muka dela yang juga sangat bingung dan tentunya sangat marah kepadaku

Pas pelajaran usai aku langsung menjelaskan semuanya kepada dela, tapi dela sangat marah kepadaku..
“del… aku sudah bilang kan aku sama kak angga tidak ada hubungan apa-apa, lagian kamu juga kan tahu kalau aku ini sangat benci kepadanya?” ucapku
“ehhhmm sudahlah ann lagian cewek mana sih yang gak suka sama cowok kayak kak angga, sekarang aku ngerti dan sangat faham dengan semua nasehat-nasehat kamu yang gak boleh inilah sama kak angga, tidak boleh terlalu itulah sama kak angga, ternyata kamu itu munafik ann” dela benar-benar tidak percaya padaku, padahal aku sama sekali tidak punya perasaan apapun sama kak angga
“ya ampun del, aku ini sahabat kamu bagaimana mungkin aku sampai sejahat itu sama kamu”
“sahabat kamu bilang? Kamu itu bukan sahabat aku melainkan musuh” dela langsung pergi dengan rasa amarah dan jealousnya, hati aku sangat sakit mendengar itu semua dari dela..

2 hari sudah berlalu dan dela semakin jauh dariku, aku sangat kecewa pada dela bagaimana mungkin ia bisa berfikir sejahat itu kapadaku? Aku selalu mendekatinya tapi dia tidak pernha mau mendengar penjelasan apapun dariku..
Sementara itu, kak angga semakin jadi-jadi saja tingkah dan sikapnya padaku, entalah kenapa dia seperti itu..
Kak angga selalu saja ada di mana aku berada, baik di perpus, di kantin bahkan saat jam pelajaran dia kadang-kadang masuk ke kelasku dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal itu..

Jam istirahat aku melihat dela sendirian duduk di depan kelas, karena aku tidak ingin salah faham ini terus terjadi aku mencoba untuk berbicara kepadanya, tapi belum sempat menyapanya kak angga yang rese itu muncul lagi, dasar alien
“hai sayang…” sapa kak angga yang tentu saja sangat membuat aku kessal
“ngapain di sini? Ke taman yuk!” sambung kak angga. Aku hanya memandanginya dengan wajah kesal. Melihat ini semua dela langsung beranjak pergi, aku tau dia sangat jealous…
“yukkkk!!” kak angga menarik tanganku..

Sesampai di taman kak angga mengeluarkan sebuah kotak yang dibungkus dengan warna pink, iya warna kesukaanku, tapi bagimanapun itu aku sangat membencinya
“bukankah ini warna kesukaanmu?” sesaat aku terdiam, dari mana dia tahu tentang warna favoritku?
“ann aku tahu sikap aku ini salah, tapi emmm aku tidak tau lagi harus bagaimana untuk mengahadapi dela”
“haaa? Maksud kak angga, tunggu dulu jadi kakak tahu semua tentang dela?” ucapku
“iya, aku tidak suka dengan sikapnya, dia selalu menggangguku di sosmed, dan aku tidak suka itu”
“ohhh jadi kak angga melakukan ini semua karena ingin menjauh dari dela? Astaga gara-gara sikap kak angga yang berlebihan ini ak…” kak angga menghentikan pembicaraanku dengan meletakkan telunjuknya di mulutku. Kurasakan jantungku berdegup, tapi ini tidak mungkin cinta aku hanya nervous biasa. Angga lalu berlutut di depanku, entah hal konyol apalagi yang akan dia lakukan.
.
“anha, aku menyukaimu dari dulu, sejak pertama kali aku melihatmu, sebenarnya aku tidak ingin secepat ini mengungkapkan semuanya tapi karena takut kehilangan dan karena sahabat kamu dela, makanya semua ini harus aku lakukan, anha kotak ini sebenarnya sudah lama aku ingin berikan tapi… Oh iya ini untuk kamu” aku mengambil kotak pink itu,
“sadar atau tidak tapi sikap dan tingkah kakak selama 2 hari ini benar-benar over dosis aku kurang menyukainya” aku langsung beranjak pergi, tapi kak angga menarik tanganku
“maaf, tapi…”
“maaf aku harus perrgi”

Keesokan harinya, pas sepulang dari sekolah tiba-tiba dela sudah ada di depan rumahku, hal ini membuat aku sangat senang…
“del… Kamu di sini?”
“dengar anha, seharusnya kamu tidak melakukan ini padaku?” kata dela dengan linangan air mata, melihat hal itu aku ikut sedih,
“kamu bukan sahabat aku anha, kamu sudah tahu jelas perasaan aku kepada kak angga kan? Kenapa kamu malah mempermainkan perasaanku anha? Apa salahku?”
“dengar dela kamu salah faham dengan semuanya, percayalah aku ha…” aku mencoba menjelaskan tapi dela sangat marah
“salah faham kamu bilang? Lalu bagaimana dengan pengakuan kak angga di kelas dulu? Dan kebersamaan kalian di sekolah setiap hari, dan juga waktu kalian di taman kemarin, kamu tahu anha itu semua sudah jelas kalau kalian berdua pacaran” dela semakin salah faham. Pipihnya yang di basahi air mata, amarahnya yang sangat besar kepadaku, aku tidak tahu lagi harus bilang apa
“aku benci kamu anha,”
“dela aku sudah bilang kak angga itu cuman…”
“cuman apa? Kamu jahat anha, iblis kamu, kamu benar–benar tidak punya hati”
“dela.. aku sudah bilang kan aku sama kak angga itu tidak ada apa-apa, dan satu lagi hanya karena kamu sahabatku bukan berarti kamu bisa mengataiku apa saja”
“sahabat kamu bilang? Aku bukan sahabat kamu lagi, dan aku tidak sudih punya sahabat seperti kamu, aku tidak akan membiarkan kak angga dekat sama kamu” kemarahan dela telah membuatnya buta dengan semuanya, aku marah dengan sikapnya, kenapa tidak dia sudah menghinaku tidak sepantasnya dia melakukan itu…

1 bulan telah berlalu, persahabatan kami berubah jadi permusuhan tapi itu bagi dela perasaanku pun telah berubah, dulu aku sangat membencinya, tapi kini aku telah menyayanginya, dulu aku muak dekat dengannya tapi kini aku seakan takut kehilangannya, tapi semua perasaan itu aku sembunyikan karena aku takut dela semakin jauh dariku, perasaan ini cukup aku dan ALLAH yang tahu…
Setiap hari kami selalu bersama, baik di kantin, di perpus, di taman, tapi tidak pernah sekalipun aku yang mendekatinya, hanya saja jika dia sedikit terlambat menemuiku aku kadang-kadang mencarinya juga tapi cukup hatiku yang tahu kalau aku merindukannya…
1 bulan lebih sudah kita bersama tapi dia belum tahu isi hatiku, bagaimana tidak aku selalu bersikap cuek di depannya, dan seakan akan tidak mengharapkannya

Sepulang sekolah kak angga menawarkanku untuk mengantar aku pulang, dan ia itu hal yang sering dia lakukan.
“dengar anha jika kamu tidak ikut denganku, aku akan memaksamu naik ke mobilku…” kata kak angga, astaga sikapnya yang selalu memaksa itu benar-benar membuatku berbunga, tapi karena di situ ada dela aku terpaksa menolaknya
“maaf kak aku bisa naik angkot saja”
Kak angga menatapku dengan wajah kesal, spontan dia langsung menggendongku naik ke mobilnya,
“kak, turunkan aku”
“diamlah anha…”

Entah apalagi yang harus aku lakukan dan jantungku yang berdegup kencang ini rasanya ingin copot, semua siswa di sana menyoraki kami, kecuali dela aku tahu betul apa yang dia rasakan bagaimana lagi aku sudah mencoba untuk menjauh tapi tidak pernah bisa

Perjalanan pulang kak angga mengajakku makan di warung, sesampai di sana kak angga langsung memesan tanpa menanyakan apa yang ingin aku makan..
“anha, aku berharap suatu saat nanti kamu akan menerima aku dan emmmm mencintaiku. Tapi sudahlah berada di dekat kamu saja aku sudah sangat senang,” kata-kata kak angga membuatku merasa kalau aku memang sepantasnya untuk mengungkapkan isi hatiku, tapi bagaimana dengan dela… aku bukanlah sahabat yang jahat

Tidak lama kemudian pesanan kak angga sudah sampai, dan bagaimana mungkin dia sampai tahu makanan favoritku, Mulai dari warna, film dan sekarang makanan..
“tidak usah bingung, aku tahu semuanya tentang pacar aku”

Setelah usai makan kami pun pulang, perjalanan pulang aku mulai berfikir bahwa perasaan ini tidak salah, lagi pula kak angga tidak suka sama dela dan tentang perasaan dela dia juga sudah tahu dan bahkan setelah dia tahu bukannya membalas perasaan dela tapi malah menghindar karena dia hanya menyukaiku..

“anha jika nanti aku pergi aku ingin kamu bisa menemukan seseorang yang sangat kamu sukai, dan kalau bisa jangan lupakan aku, dan oh iya jika nanti aku telah tiada berziarahlah ke makam aku.” Tanpa aku sadari air mataku mengalir, tapi aku berusaha menyembunyikannya, ucapan kak angga sangat menusuk rasanya…
“dan.. aku berharap sekali saja kamu mengatakan kak angga jangan tinggalkan aku maka aku pasti tidak akan melakukannya percayalah”

Tiba-tiba laju mobil kami tidak bisa dikendalikan. kami berdua sangat panik… kak angga berusaha untuk membuat laju mobil kami stabil tapi tidak bisa karena rem mobil kami yang blong, dan bbruuuukkk… mobil kami menabrak sebuah pos… beberapa detik setelah tabrakan aku masih sadarkan diri, kulihat kak angga di sampingku yang depenuhi dengan darah di wajahnya, dan penglihatanku pun menjadi gelap…

Beberapa saat kemudian aku siuman, orang pertama yang aku cari adalah kak angga aku sangat mengkhawatirkannya, bagaimana keadaannya? Aku berharap dia baik-baik saja dan aku berjanji setelah kami bertemu aku akan mengatakan perasaanku.

Tidak lama kemudian kedua orangtuaku datang…
“mah.. cowok yang bersamaku, dia di mana?” tanyaku
“mama tidak tahu sayang mungkin dia sudah siuman juga”
“pasien yang satunya lagi dia di ruang ICU dia kritis” jawab perawat yang sedang menanganiku
“mah tolong, aku ingin ke sana, kumohon!! Jika aku tidak bisa melihatnya aku akan sangat menyesal semuur hidupku” mama pun mengabulkan keinginanku, dan sesampai di sana lelaki yang aku sayangi itu kini telah terbaring tak bernyawa, hatiku sangat hancur melihatnya.. dia meninggalkanku.

“angga… kumohon bangunlah, angga… angga tolong jangan lakukan ini padaku, aku a aku sangat mencintaimu angga lebih dari yang kamu tahu, angga tolong jangan tinggalkan aku, bangunlah bukankah kamu sendiri yang bilang jika aku memohon untuk tidak meninggalkanku maka kamu akan kembali, angga… Bangun.. aku merindukanmu bangun…”

1 minggu berlalu kini duniaku sangat hampa tanpa dia yang selalu menggangguku, yang selalu bersamaku dan selalu mencintaiku, kini aku hanya bisa melihat batu nisannya saja, setiap hari aku ke sini.. menunggunya aku berharap dia hanya bercanda dan dia akan kembali

2 mingggu setelah kejadian baru aku masuk sekolah, semua teman-teman menyambutku tapi itu semua tidak mengurangi kesedihanku. Jam istrahat aku menemukan sebuah diary yang tergeletak di lantai, aku kenal betul diary ini
“ini diary dela” aku langsung membukanya, helai demi helai aku baca mulai dari kisah kami awal bertemu hingga kami menjadi sahabat dan tentang kecelakaan aku dan kak angga, betapa terkejutnya aku penyebab kecelakaan kami itu karena dela, dia yang membuat rem mobil kami blong, setelah semuanya habis aku baca dela pun nongol dan langsung merebut diarynya
“lancang betul kamu membaca diary aku” kata dela dengan wajah ketakutan, dengan amarah yang berkobar ini aku langsung menamparnya…
“kenapa dela? Apa salahku dan kak angga kamu sampai melukaiku dan merenggut nyawanya? Apa semarah itu kamu sama aku sehingga kamu mengorbankan nyawa orang yang sangat berarti di hidupku, hanya karena sifat keras kepalamu itu, asal kamu tau kak angga tau semua tenang perasanmu tapi dia memang tidak menyukaimu dan apakah setelah itu kamu masih membenciku?” aku tahu dela menyesal melakukan ini, air mata terus melinang di pipi kami
“anha aku tidak bermaksud ak…” ucap dela dengan suara isakan
“kamu pernah bilang kalau kamu sangat membenciku bukan? Baiklah kalau begitu mulai saat ini jangan pernah mucul di hadapanku lagi, aku bersumpah demi orang yang aku sayangi aku tidak akan pernah memaafkanmu dan aku benar-benar jijik melihat muka kamu”

Hari terus berlalu, hari minggu seperti biasa aku ke makam kak angga
“kak aku akan selalu ke sini sesuai keinginanmu semuanya akan aku lakukan, tapi satu yang tidak mungkin bisa aku lakukan, aku tidak bisa mencintai orang lain, kak apa ini hukumanmu untukku?? Aku merindukanmu kak, kenapa harus berakhir seperti ini?”

Selesai

Cerpen Karangan: Nurlia
Facebook: Nur Lia

Cerpen You Not My Best Friend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gempa di Ujuang Tahajud

Oleh:
SALWA memperlihatkan riak wajah buram saat pertama kali menginjak kaki di lembaga pendidikan pesantren Budi di bawah kaki gunung Geurutee Lamno, kabupaten Aceh Jaya. Ia memang gadis anggun yang

Bahagia dalam Kesendirian

Oleh:
Aku ingin bahagia. Bahkan ketika aku sendirian. Corat-coret wanita itu di balik selembar kertas bon yang dia temukan dalam clutch-nya. Kedua bola mata hitamnya bergerak kesana kemari, membaca tulisannya

Coba Lihat Langit Biru di Atas Sana

Oleh:
“Coba lihat langit biru di atas sana.” Kata-kata itu selalu terngiang di otakku, berputar-putar dan diulang-ulang berkali-kali. Kata-kata sederhana tetapi begitu istimewa untukku. “Setiap kali kamu sedih, coba lihat

Diuji Kesabaran

Oleh:
Di sore itu aku sedang duduk termenung di ujung ruang kerjaku. Tak berapa lama ada seseorang duduk di sebelahku “kamu belum pulang, hari sudah mulai gelap lho” kata seseorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *