12 Days to Move On

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 2 April 2016

Aku yang tak menginginkan perpisahan, salahkah jika aku mencoba untuk mempertahankan? Aku yang begitu menyayangimu, salahkah jika aku kembali mempertanyakan apa alasan dari perpisahan ini? Aku hampir tak mengerti dengan pola pikirmu. Kedekatan kita hampir berlangsung 3 tahun dan dengan singkatnya kamu mengakhiri. Untuk alasan keyakinan kita yang berbeda. Aku dengan tasbihku, kamu dengan salibmu. Tapi kenapa baru sekarang sayang? Kenapa kamu baru mempermasalahkannya sekarang? Di awal perjumpaan kita, kita pernah berkomitmen untuk tetap bersama tanpa peduli apa kata orang tentang keyakinan kita. Kita hanya berjalan sesuai kata hati kita yang saling menyayangi. Apa itu salah?

Getar handphone yang mengagetkanku pukul 3 pagi itu masih menghantui pikiranku. Aku masih sangat ingat betapa pesanmu kali ini justru membawa kepedihan yang amat dalam. Meskipun aku harusnya sudah terbiasa dengan kebiasaanmu itu, kamu yang selalu membangunkanku untuk segera mengambil air wudu dan bergegas salat malam. Entah mimpi apa yang datang dalam tidurku semalam, hingga hari itu nada tanda pesan masukku terdengar begitu menyayat hati. “Rinda, maaf. Kita gak bisa terus kayak gini. Semuanya selesai ya? aku mau kita putus. Terima kasih untuk tiga tahun yang tak akan terlupakan ini.”

Aku berharap aku masih bermimpi ketika membaca pesanmu itu, namun sayangnya aku telah benar-benar dalam keadaan sadar. Apa yang kau pikirkan hingga kamu mengambil keputusan yang begitu ceroboh ini? Tanpa penjelasan panjang kamu mengakhiri ini semua. Hanya karena keyakinan kita yang berbeda ini yang kau jadikan alasan untuk pergi. Aku bisa apa? Aku yang terlalu mencintaimu, mana mungkin bisa secepat kilat melupakanmu dan semua kenangan yang sudah tercipta. Aku terus menghubungimu tapi tak ada satu pun respon baik yang ku terima. Aku bagai sampah yang sengaja kau buang jauh tanpa ingin kau pungut lagi. Aku mencoba menghampirimu, tapi kau tak pernah menampakkan diri. Rumahmu selalu sepi, seakan kau tahu akan kedatanganku.

Aku masih terus bertahan di sana. Tak peduli dengan teriknya matahari yang begitu menyengat di kulit, aku akan menunggu hingga kamu ke luar dan menjelaskan apa yang salah dariku hingga kamu mencoba ke luar dari lingkaran hidupku. Satu hari, dua hari, tiga hari, setiap pulang sekolah selalu aku sempatkan untuk datang ke rumahmu. “Aku pulang telat Ma, ada bimbingan.” sms ini ku kirim untuk mama agar tak cemas memikirkanku. Apa kamu tidak lihat usahaku ini? Aku sampai rela berbohong pada orangtuaku demi ingin bertemu denganmu. Aku berusaha menyamakan dengan jam pulangmu. Aku hapal kapan kamu sampai di rumah seusai kuliah. Tapi semua terasa sia-sia. Sekencang apa pun motor yang ku kendarai, sampai detik ini aku belum berhasil menemuimu.

Jum’at ini, hari keempat aku menunggu kepulanganmu. waktu masih menunjuk angka 11. Sepertinya aku terlalu cepat sampai. Ku parkir motorku tepat di depan pagar rumahmu dan mulai duduk. Kamu yang akan pulang pukul 1, kali ini aku berharap bisa mendapat penjelasan darimu. Langit mulai gelap, sepertinya akan turun hujan sebentar lagi. Ku lihat jam tanganku sudah pukul tiga sore. Kamu tak menampakkan diri lagi. Aku pulang dengan rasa kecewa yang kian membesar. Air mataku tak henti-hentinya menetes. Mataku menjadi semakin sipit karena tangis ini. Tapi aku masih belum menyerah, aku akan datang lagi besok dan tetap menunggumu.

Hari kelima penantianku kamu masih belum membalas satu pun pesan singkatku. Keesokan harinya, masih di depan rumahmu, berkali-kali aku mencoba meneleponmu tapi tak juga kau angkat. Whatsapp, BBM, Facebook Messager, Mention Twitter, aku harus gunakan aplikasi yang mana agar kamu mau menggubrisku lagi? Haruskah aku mengirim surat padamu? Atau dengan telepati? Sudah seminggu, aku menantimu dan kamu benar-benar menghilangkan jejak.

“Cari siapa ya, Non? Ibu lihat dari kemarin nungguin terus di sini?”
Perempuan itu sedikit mengagetkanku, entah dari mana datangnya, sepertinya dia mengawasi apa yang ku lakukan selama ini. “Ehh iya Bu, ini lagi nyari Rian,”
“Udah coba pencet bel rumahnya?”
“Udah Bu, tapi gak ada respon,”
“Wah, apa mungkin dia ikut orangtuanya ya?”
“Ikut orangtuanya? Maksudnya? Ikut ke mana? Apa mereka pindah?” tanyaku makin penasaran.

Apa iya karena kepindahannya ini dia memutuskanku. “Kayaknya enggak kalau pindah, Ibu cuma tahu katanya ada saudaranya yang di Bali sakit. Pas mobilnya berangkat semua memang kelihatan naik, tinggal Rian sendirian yang gak ikut, harusnya sih dia ada di rumah.” Syukurlah, ternyata dia masih di sini. Lagi pula jika dia pindah bagaimana dengan studinya di sini. Kuliahnya baru masuk semester satu. Dan jika dia memang berada di rumah, mengapa dia tidak ke luar menemuiku atau bahkan tak ku jumpai dia pulang dari kampusnya. Ke mana kamu sebenarnya?

Hari kedelapan, kesembilan, kesepuluh, kesebelas dan tak terasa dua belas hari sudah aku selalu berada di depan rumahmu. Tak ada hasil nyata dari penantianku selama itu. Aku tak berhasil membawamu kembali dalam pelukanku. Tempatmu untuk pulang bukan lagi padaku. Kenapa ini terjadi setelah tiga tahun kebersamaan kita? Tiga tahun itu bukanlah waktu yang singkat sayang. Secepat itukah kamu bisa menghapus semua kenangan di dalamnya? Aku tersimpuh di dekat pagar rumahmu. Aku tak lagi punya daya untuk berdiri menopang tubuhku. Hatiku telah hancur dengan cerita yang kau cipta ini.

Aku tak lagi peduli dengan kerasnya petir yang mulai menyambar. Aku tak peduli jika hujan deras akan turun. Mungkin lebih baik begitu, biarkan hujan menenggelamkan aku dengan kisah pahit ini sekalian. Semangatku sudah hilang, jadi untuk apa aku bertahan. Rintik hujan benar berubah menjadi semakin deras. Tubuhku mulai basah dan ku rasakan dingin yang begitu menusuk sampai ke tulang. Aku seperti orang gila, atau mungkin memang sudah gila? Sama sekali aku tak ingin beranjak pergi berteduh. Siapa peduli jika hujan kali ini akan membuatku sakit? Derasnya hujan semakin deras pula tangisanku. Aku tak mampu lagi membayangkan hari-hariku tanpa orang yang begitu aku sayangi.

“Kamu waras gak sih, hujan gini malah semedi di sini?” Hujan masih belum reda, tapi aku tak lagi merasakan tetesannya membasahi diriku. Aku melihat ke atas dan ada seseorang sedang memayungiku sekarang dan memasang wajah keheranan. “Kamu ngapain sih, kamu bisa sakit. Ayo sini ikut aku!”
“Rian?” Aku tak menolak gandengan tangannya, laki-laki ini berusaha membawaku berteduh di sebuah pangkalan ojek. Demi memayungiku, kini justru dia yang hampir basah karena hujan.

“Kamu ini kenapa, hah?”

Dia terus memberiku pertanyaan, tanpa mampu aku menjawabnya. Aku benar-benar kedinginan sekarang. Pikiranku semakin kacau dengan kehadiran laki-laki ini. Sungguh bukan Rian ini yang aku harapkan datang. Bukan Rian teman sekelasku. Aku mengharap Rian kekasihku. Mataku semakin berat, wajah Rian makin samar-samar ku lihat.

“Aku mau Rian pacarku…” ucapku lirih.
“Rin! Rinda! Rin bangun Rin. Rinda jangan becanda dong, gak lucu ihh! Rin bangun! Jangan pingsan! Rindaa!”

“Di mana aku?”

Tubuhku masih menggigil kedinginan, aku tak tahu apa yang baru saja terjadi hingga aku harus terbaring sekarang.
“Kamu di rumahku Rin, aku bingung mau bawa kamu ke mana. Mau aku pulangin takut Mama kamu marahin aku nanti.” Rian, aku mengingatnya sekarang. Sebelum ini aku sempat menatap wajahnya yang basah karena guyuran hujan. Dia berusaha meredakan hujan dengan payungnya untukku. Aku masih ingin menangis mendapati kenyataan ini, Rian yang aku harap datang justru benar-benar hilang dari pandangan. “Kamu kenapa sih Rin? Kenapa kamu nyiksa diri kamu sendiri?”

Isak tangisku masih tersisa, aku tak sanggup lagi menahan pedih ini sendiri. Aku mencoba bangun dari tidurku. Menatap laki-laki yang sedari tadi menunggu penjelasan dariku. Ku rengkuh tubuhnya yang tegap itu, aku luapkan kesedihanku dalam pelukannya. Rian pun merespon. Tangannya berusaha mendekapku erat namun tak menyakitkan, dia juga membelai rambutku yang sebenarnya masih basah. “Nangis aja yang kenceng sekalian kalau kamu emang sedih, tapi sekali aja! Jangan sampai kamu menangis berulang-ulang untuk kesedihan yang sama.” Kalimat Rian begitu halus mendarat di telinga, seakan aku mulai menemukan keteduhan lagi. Aku biarkan diriku larut dalam pelukannya meski air mata terus menetes bahkan suara tangisku hampir tak terdengar. Aku memang sedang membutuhkan bahu untukku bersandar, dan laki-laki ini bersedia basah bajunya demi menenangkanku.

Semangatku masih belum kembali sepenuhnya. Setelah kejadian kemarin, aku seperti tak ingin melanjutkan hidup lagi. Rutinitas di sekolah juga pasti akan membosankan. “Pagi Rinda, udah baikan?” sapa laki-laki yang sudah tidak asing bagiku. Rian, siapa lagi jika bukan dia. Aku masih tidak mengerti dengan laki-laki ini, entah sudah berapa kali aku tak pernah menggubrisnya ia tetap saja tak perduli dengan penolakanku.

“Hai, iya pagi. Udah mendingan kok. Paling entar jadi kena flu tapi gak apa-apa. By the way makasih ya kemarin,”
“Iya sama-sama. Alhamdulilah deh kalau kamu baik-baik aja. Aku pikir kamu bakal gak masuk sekolah hari ini. Aku takut kalau sampai kamu sakit gara-gara aku kemarin,”
“Hah? Takut? Kok bisa? Kalaupun aku sakit itu emang udah dari sananya kali, bukan karena kamu,”
“Ehm iya deh.” Wajah Rian nampak lesu setelah mendapati perhatiannya justru mendapat respon ketus dariku. Dia berbalik dan pergi menuju bangkunya. Aku masih tidak terima dengan ini semua. Aku rindu Rianku, bukan kamu.

Aku bersyukur hari ini berlalu dengan sangat cepat bahkan sebelum bel pulang berbunyi. Aku ingin kembali ke rumah itu dan berusaha menemukan Rianku.
“Rinda?” panggil seseorang dari belakang.
Aku menoleh dan sudah tidak ada siapapun di kelas ini selain aku dan Rian. “Iya kenapa?”
“Kamu masih mau balik nunggu di depan rumah Rian itu lagi?”
Astaga. Apa anak ini punya indra keenam hingga dia tahu niatku.
“Kamu mau tahu aja sih sama urusanku?”

“Bukan aku mau ikut campur, tapi aku emang berusaha merhatiin kamu dari dulu. Kamunya aja yang gak peka. Ya aku paham sih itu semua karena kamu punya pacar. Pastinya kamu juga sayang sama dia jadi kamu gak perduli lagi sama orang lain di sekitar kamu. Tapi kalau aku boleh saran Rin, buat apa kamu nungguin dia lagi yang udah gak mengharapkan kamu lagi? Udah dua belas hari kamu nungguin dia dan apa hasilnya? Dia gak muncul, bahkan dia gak peduli di saat kamu kepanasan kehujanan sampai pingsan kemarin.” Rian tahu dari mana jika aku sudah menunggu selama itu. Apa dia mengikutiku selama ini?

“Aku gak sanggup lihat kamu harus berjuang sendirian demi cintamu itu. Please Rin, coba kamu buka hati kamu untuk orang yang benar-benar sayang samu kamu tulus, aku misalnya,” Deg. Ucapan Rian begitu menghantam keras tepat ke jantungku dan serasa membuatnya berhenti berdetak. “Aku udah lama suka sama kamu Rin, tapi aku tahu kalau kamu sudah punya pacar. Aku gak berani ngungkapinnya karena aku gak mau ngerusak hubunganmu. Andai aja kamu tahu, aku selalu stalking semua medsos kamu. Aku selalu ingin tahu apa yang kamu lakukan. Selama ini aku mencoba merhatiin kamu dari jauh. Di saat kamu posting status bahagia dapet surprise dari pacar kamu aku pun ngerasain bahagianya, tapi di saat kamu sedih, hati aku juga nangis ngelihatnya.”

Rian tak memberiku kesempatan untuk menjawab semua pernyataannya ini, dia terus meracau mengungkapkan perasaannya. Kali ini dia semakin mendekat, dia memegang tanganku dan menatapku. “Aku sayang sama kamu Rinda, aku gak mau ngelihat kamu sedih. Tolong jangan ke sana lagi! Aku udah gak sanggup lihat kamu tersiksa seperti ini, izinin aku untuk ngobati lukamu itu.”

“Aku gak tahu Yan, aku gak pernah nganggep ada yang lebih di antara kita berdua. Aku sayangnya sama Rian pacarku bukan kamu,”
“Iya aku paham kok. Aku gak akan nuntut kamu untuk ngelupain dia tapi aku akan berusaha untuk membuat kamu bisa sayang sama aku, aku akan balikin senyum di wajahmu yang udah lama gak aku lihat,”
“Makasih, aku pulang dulu,”

“Beneran pulang kan? Gak nungguin di rumahnya dia lagi?”
“Langsung pulang, aku udah mertimbangin omongan kamu udah cukup nunggunya,”
“Sip. Gitu dong! Ya udah aku anter ya?”
“Ngapain? Gak usah! Aku kan bawa motor,”
“Ya gak apa-apa kan, aku ngikutin kamu di belakang. Buat jaga-jaga kalau nanti kamu kenapa-kenapa di jalan sekalian mastiin kalau kamu gak ke rumah Rian itu lagi,”
“Kayak anak kecil aja. Terserah deh..”

Entah sudah berapa hari sejak kejadian itu, aku tak lagi menghitungnya. Aku mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Rian. Tanpa berlama-lama aku pun memutuskan untuk menjalin kedekatan yang lebih dengan Rian yang baru. Meski sebenarnya hatiku belum sepenuhnya bisa menerima ini, hatiku masih tetap mencintai Rian Pradana bukan Rian Jatmiko. “Kamu gak tambah sakit ya, statusnya pacaran sama aku tapi hati pikiranku semuanya masih untuk Rianku?”
“Sakit jelas lah, tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan bisa nerima aku dan gak banding-bandingin aku sama Rianmu lagi.”

Betapa tulusnya cinta Rian, aku sungguh merasa bersalah terhadapnya. Bagaimana bisa aku melukai perasaannya dengan terus menyamakan dia dengan Rianku. Dia sungguh telah berusaha keras demi mencuri perhatianku. Dia telah mengembalikkan senyum dan tawa di hidupku. Ada keceriaan lagi setelah kehadirannya. Dan satu hal yang penting, pesannya setiap pagi kali ini berbeda dengan Rianku dulu.

“Pagi sayang. Udah bangun? Cepet bangun gih kalau belum. Kita salat subuh dulu.”

Terlihat jelas kan perbedaannya? Papaku pun lebih setuju dengan hubunganku kali ini. Dia yang seorang pemuka agama merasa sangat beruntung jika calon suamiku merupakan seseorang dengan latar belakang agama yang sangat kuat. “Jaga baik-baik pacarmu yang sekarang ini, kan bagus nanti dia bisa bimbing kamu. Gak kayak yang sebelumnya. Tiap minggu kamu harus nungguin dia sembahyang di gereja sementara kamu lima waktu ke masjid. Papa kan sudah pernah bilang, jalan kamu tuh berbeda sama dia.” Aku benci jika Papa masih harus mengungkit tentang Rian. Bagaimanapun usaha orang-orang untuk membuatku lupa dengan Rian tidak akan pernah berhasil.

Dua bulan berlalu, aku salah dengan tafsiranku dulu. Begitu gigihnya usaha Rian yang baru nampaknya mampu membuatku luluh. Sudah cukup aku menduakannya, dia tak pantas mendapatkan perlakuan ini dariku. Dia harusnya mendapat cinta yang sama dariku. Aku harus mulai untuk tidak mengingat Rian lagi, karena sampai detik ini pun dia tak juga muncul memberi kabar. Hari-hariku sangat indah, ku lewati semuanya berdua dengan Rian yang baru. Aku bahagia karena akhirnya aku tak lagi berjuang sendirian demi cinta. Langkah kami pun sama setiap kali terdengar adzan. Aku mulai menyayanginya. Aku telah berhasil move on dari Rian, bahkan mungkin sejak pengungkapan pertama Rian setelah dua belas hari penantianku dulu. Kehadirannya menyuguhkan cinta yang berbeda.

Kriing.. Kriing. Ponselku berbunyi di tengah-tengah waktuku sedang berdandan. Hari ini Rian mengajakku untuk nonton. Aku harus tampil cantik malam ini di depannya.

“Aaaaa Rian,” gumamku girang.
“Haloo sayang, udah mau jemputkah? Lima belas menit lagi ya, aku masih belum selesai dandannya,”
“Gak usah lama-lama, kamu tuh udah cantik.” Wait. Ini bukan suara Rian. Aku melihat ke layar ponselku, terpampang jelas nama “Rian P”. Astaga Rinda, kenapa emoticon titik dua bintang itu belum kamu hapus. Dan kenapa kamu gegabah menganggap itu Rian kekasihmu sementara jelas di situ tertera “Rian P” bukan “Rian J”

“Oh, kamu. Ada apa?” aku tak lagi tertarik dengan percakapan ini.
“Kok jadi gitu sih, padahal tadi semangat banget,”
“Iya karena aku kira yang telepon Rian pacarku,”
“Kan aku sayang Rian pacarmu,”
“Oh ya? Kamu pacarku, terus yang tiga bulan lalu mutusin aku itu siapa ya? Apa ada Rian yang lain lagi? Kamu udah jadi mantan sekarang. Kalau kamu balik dan ngaku kamu masih pacarku, ke mana aja kemarin-kemarin?”

“Maafin aku sayang, aku bisa jelasin. Tapi gak di telepon ya, aku ingin kita ketemu karena aku juga udah kangen banget sama kamu,”
“Gak bisa, aku udah ada janji hari ini,”
“Ya udah besok deh, sepulang sekolah. Aku jemput ya?”
“Jangan! Tentuin aja di mana tempatnya, kita langsung ketemu di situ,”
“Ok, entar aku sms-in”

Apa lagi sekarang? Di saat aku sudah bisa menerima dia, masa laluku justru kembali. Suara motor Rian sudah terdengar. Sudah bisa dipastikan aku tak akan bisa menikmati perjalananku hari ini. Aku masih terbayang akan telepon Rian tadi. Apa yang akan dia sampaikan besok?

Restoran favorit kita berdua dulu yang menjadi pilihannya. Dia sampai lebih cepat dari aku rupanya. Dengan kemeja pemberian dariku dulu pada saat ulang tahunnya. Dia masih sama, masih tetap tampan seperti sebelumnya. Anganku kembali membayangkan semua kenangan yang pernah tercipta bersamanya dulu. Ku rasakan degup jantungku yang tak karuan seperti saat menatapnya pertama kali. Kenapa ini? Mungkinkah sebenarnya aku masih menyayangi pria ini. Aku sudah semakin dekat dengan kursi tempat ia duduk. Rian berdiri seakan ingin menyambutku. Dia meraih tanganku dan mencium pipi kanan kiriku. Aku tak mampu menolak. Dia pun memundurkan kursi dan mempersilahkan aku duduk.

“Hai sayang, kamu apa kabar? Ini aku udah pesenin Chocolate Float kesukaan kamu,” Oh God, dia pun masih mengingat apa yang menjadi menu favoritku. Aku seperti berada dalam ruang tanpa oksigen sekarang. Dadaku sungguh sesak menghadapi kenyataan seperti ini.
“Kamu mau ngomong apa?”
“Langsung aja? Gak mau tanya kabar aku dulu gitu?”
“Ya udah kamu apa kabar?”
“Gak ikhlas banget, aku gak baik. Aku sakit karena nahan rindu ke kamu.”

Sungguh aku tak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran Rian, jika dia pun merindukanku, untuk apa ada kata “Putus” waktu itu. “Maafin aku sayang, aku gak ada niat untuk mutusin kamu beneran. Aku cuma mau ngetes kamu aja. Kira-kira kamu gimana kalau gak ada aku. Dan hasilnya? Aku kecewa sama kamu sayang, kamu justru udah punya pacar lagi.” Ini tamparan yang kedua untukku, dengan santainya kamu menjelaskan bahwa ini cuma permainanmu. Sebercanda itukah perasaan sayangku di matamu? Aku semakin bingung, aku tak tahu apakah aku harus marah, sedih atau justru menyesali perbuatanku.

Aku pernah sangat mencintaimu Rian, namun semua terhapus begitu saja saat kau mengucap kata perpisahan. Dan di saat aku mulai menyayangi seseorang yang baru kau malah hadir kembali bersama dengan satu penjelasan bahwa yang lalu itu hanyalah ujian. Kamu tak benar-benar pergi saat mengucap perpisahan itu, namun kamu akhirnya pergi karena aku tak bisa menjaga kesetiaan ini. Tapi? Apa ini salahku? Aku pernah menunggumu tanpa lelah namun tak kau hiraukan. Memangnya ini juga bukan salahmu? Siapa yang menyuruhmu membuat satu kebodohan seperti ini.

“Sekarang kita bener-bener gak ada hubungan apa-apa lagi. Aku doakan kamu bahagia dengan dia yang baru.”

Kamu pun berlalu meninggalkanku yang masih tercengang dengan kenyataan ini. Kamu meninggalkanku sendirian. Kamu membiarkanku meneteskan air mata lagi tanpa ada tanganmu yang menghapusnya. “I love you Rian, I love you..” Tangisku pecah, aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Dari mantan kekasihmu, yang masih mengharap keajaiban untuk kita bisa bersatu kembali.

Cerpen Karangan: Odilia Asri Aditya
Facebook: OdiLiia SaraDitya

Cerpen 12 Days to Move On merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary Putri

Oleh:
“Hidup ini indah dan akan lebih indah bila kita bisa memiliki seseorang yang kita sayangi. Dan jika engkau merasakan cinta pada seseorang, katakanlah. Berani jujur dan jangan ragu mengungkapkannya.

Istri Virtual

Oleh:
“Sayur Jengkol sudah matang.” Sheila menulis kalimat itu di dinding facebook suaminya di android pemberian mertuanya dua hari yang lalu.. Ia tidak menunggu jawaban tapi mengepak barang-barang berharganya di

Cerita Yang Tidak Dimulai (Part 1)

Oleh:
Setelah ini saya tidak perlu lagi berpura-pura tidak mencintaimu. Aku menduga-duga, apa kata orang kalau sampai mereka tahu bahwa kau membelikanku kado ulang tahun semahal ini? Ini bukan hadiah

Penyesalan Di Akhir

Oleh:
“Maafkan aku Nisa, aku tak ingin kita putus. Aku tak akan mengulanginya lagi,” Itulah ucapan terakhir yang Dimas katakan padaku sebelum aku memutuskan untuk putus dengannya. Aku sangat terpukul

Kesempatan Kedua Rendy

Oleh:
Matahari bersinar dengan teriknya, membuat kulitku terasa seperti di tusuk jutaan jarum. mengoper bola dari pemain yang satu ke pemain yang lain untuk memasukan bola ke ring yang lumayan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *