16 Desember 2015

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 26 December 2015

24 Mei 2013
Hari ini, Galih Rizkyandi menyatakan perasaannya padaku. Menyatakan bahwa akulah satu-satunya perempuan yang bisa membuat hatinya bergetar dan membuat pikirannya terus menerus memiikirkanku. Oh Galih, apakah ini sebuah bualan belaka? Kau tahu? Bagaimana cara Galih menyatakan perasaannya padaku? Tadi dia mengajakku ke sebuah warung pecel lele, dia mengajakku makan di sana.

Aku dan dia memesan menu yang sama dan kalau aku menghabiskan makanan itu maka dia akan mengatakan hal spektakuler. Hahaha Galih kamu ada-ada aja, tentu aku akan habiskan makanan itu. Toh memang itu makanan Favoritku. Aku tak langsung menjawab pertanyaan Galih, karena hatiku masih bimbang. Galih memang sering membuatku tertawa ketika sedih. Galih, aku memang nyaman denganmu tapi apa itu bisa dikatakan sebuah cinta?

25 Mei 2013
Wow!! Rasanya minggu ini dapat jackpot deh! Kemarin ditembak Galih, sekarang ditembak Fahri Fardiansyah! Oh Tuhan apakah tahun ini wajahku lagi lucu-lucunya? Hahaha. Kau tahu? Fahri punya cara tersendiri yang berbeda dengan Galih. Fahri mengajakku sebuah cafe di pinggir taman kota. Di cafe itu hanya ada aku dan Fahri, aku pikir sepi sekali untuk sebuah cafe yang sangat kekinian ini. Tapi faktanya cafe ini dibooking oleh Fahri untukku. Aku duduk di antara rangkaian bunga yang berbentuk hati, dinner malam itu sungguh berkesan. Dan kau tahu menu dissert-nya seperti apa? Itu adalah kue cokelat yang dipadukan dengan es krim strawberry kesukaanku.

Di pinggiran piring itu ada bentuk hati dan tulisan “Senna, jadilah pacarku!” tanpa pikir panjang aku pun mengganguk pada Fahri. Karena memang aku mencintainya. Dan itulah hari dimana aku dan Fahri memulai kisah cinta sebagai sepasang kekasih. Oh ya Galih, maafkan aku karena menolakmu. Kau tahu kan nyaman saja tak cukup? Tak usah menungguku Galih. Sepertinya aku akan berlama-lama di hati Fahri.

Hari-hari setelah aku jadian dengan Fahri sungguh mengesankan. Fahri begitu menyenangkan dan penuh dengan kejutan. Setiap kali bertemu pasti Fahri mengucapkan “i love you” dan hal-hal manis lainnya. Dan itu semakin membuat aku mencintainya. Tak terasa sudah 1,5 tahun aku berpacaran dengan Fahri. Tapi baru-baru ini ada yang berbeda dengan Fahri. Dia jadi mulai sulit dihubungi dan jarang sekali bertemu. Kadang handphone-nya pun tak aktif. Tapi sungguh ini tak membuat cintaku pada Fahri surut.

21 November 2015
Fahri apa yang ku lihat? Mengapa ada kamu di display picture milik salah satu rekan club motormu? Katanya kamu ada acara keluarga di Bandung? Tapi mengapa rekanmu sekarang ada di jakarta? Dan itu bersamamu! Sebenarnya apa yang terjadi Fahri? Dan siapa wanita yang di sampingmu? Fahri, maaf hari ini aku pergi dengan Galih. Karena rasanya aku tak bisa menahan kebimbangan ini.

23 November 2015
Fahri, kini aku tahu siapa wanita di sampingmu saat itu. Namanya Rahma kan? Fahri kenapa kamu pergi tour tak bicara dulu kepadaku? aku pasti mengizinkanmu dan selalu mengizinkanmu karena itu hobimu. Aku tak akan pernah melarangmu. Fahri, aku tahu ini dari Galih. Karena kebetulan sepupu Galih adalah rekan club motor kamu juga. Dia bilang kamu memang sering kali membawa wanita jika pergi kopdar (kumpulan). Dan kau tahu? Aku hanya beberapa kali ikut kopdar. Fahri apa lagi ini? Fahri, siapa Rahma itu? Hari ini juga Galih berkunjung ke rumahku, entahlah dia hanya bilang ingin menghiburku.

25 November 2015
Fahri, Hahaha. Aku salah paham padamu. Maafkan aku telah berburuk sangka. Kau tahu? Ternyata Rahma masih sepupunya Fahri. Sekarang hubunganku dan Fahri kembali baik-baik saja.

29 November 2015
Kebenaran Rahma semakin terkuak. Ternyata Rahma tak memiliki hubungan saudara dengan Fahri. Bagaimana aku bisa tahu? Aku bertanya pada adiknya, apakah mereka mempunyai saudara yang bernama Rahma. Dan jawabannya adalah TIDAK. Yang membuatku semakin terlihat buruk adalah pada saat tour itu kakaknya Fahri, Bang Rifky juga ikut. Tapi mengapa bang Rifky tak membicarakan hal ini padaku? mengapa bang Rifky menutup semua ini? Padahal bang Rifky tahu aku sangat mencintai Fahri, kenapa?

30 November 2015
Fahri, apa yang kau lakukan pada hati dan pikiranku? Kenapa aku tak bisa sekali saja tak memikirkanmu. Fahri, kenapa begitu sulit membencimu? Mengapa begitu berat meninggalkanmu? Fahri, mungkinkah aku jatuh cinta padamu? Jatuh cinta hingga ke dasar hatimu? Hingga rasanya aku tak bisa bangkit dalam naungan hatimu. Fahri, apa yang menahanku? Apa yang membuat aku begitu mencintaimu Fahri? Kau melukaiku Fahri, tapi kenapa aku masih tetap percaya bahwa itu hanya sebuah kesalahpahaman?

1 Desember 2015
Hari ini aku bertemu dengan Fahri, aku meminta break padanya. Karena kalau putus sungguh ini akan memberatkanku.

2 Desemebr 2015
Fahri, maaf aku tidak bisa menjadi perempuan yang baik di matamu. Aku akan merubah semuanya. Jika aku kurang cantik, jika aku tak berpenampilan menarik dan jika aku susah diajak ikut tour denganmu. Maka aku akan berubah untukmu Fahri. Maaf jika selama ini aku tak sadar dengan hal itu. Aku mencintaimu Fahri.

7 Desember 2015
Aku berbaikan dengan Fahri. Rasanya sangat bahagia sekali bisa bersama lagi dengan Fahri. Sedikit ada yang berbeda antara kita. Aku tak boleh lagi memegang ponselnya, tapi tak apa setiap orang punya privasi. Saat itu aku dan Fahri pergi ke sebuah tempat makan. Fahri sibuk sekali dengan Hp-nya. Aku hanya diam saja karena mungkin ada hal yang peting yang sedang dibahas Fahri dengan seorang yang jauh di sana. Tak lama setelah itu Fahri minta izin ke toilet dan sepertinya dia melupakan Hp-nya. Aku segera stalking dengan Hp-nya itu. Ada yang menarik perhatianku, itu adalah chat Fahri dengan Rahma.

“Terus gimana dengan Senna?”
“Kita udah putus, dia yang putusin aku!”
Begitulah kira-kira BBM-nya, sungguh ini membuat hatiku hancur. Tanpa pikir panjang aku pergi meninggalkan Fahri yang masih di toilet. Tangisku tak terbendung aku berlari dan terus berlari hingga akhirnya sebuah suara mengagetkanku.

“SENNA!!”
Aku menoleh, ternyata itu Galih. Aku segara menghampirinya dan tertunduk di hadapannya sambil menangis. Galih sungguh heran melihatku. Dia menuntunku dan membawaku masuk ke dalam mobil. Bukannya mengantarku pulang Galih malah membawaku ke alun-alun kota. Katanya, setiap sore selalu ada tukang balon keliling. Galih…
“Aku udah pernah bilang, nyerah aja sama Fahri,” ucap Galih sambil memberikanku minum.
“Galih, aku cinta sama Fahri. Aku gak akan nyerah gitu aja” tuturku.
“Tapi ini keterlaluan Senna!” bantahnya.

“Mungkin sekarang Fahri lagi khilaf” belaku.
“Khilaf? Sepertinya yang khilaf itu kamu Senna!”
“Galih, please jangan nyoba memperkeruh suasana. Aku tuh percaya sepenuhnya sama Fahri. Fahri pasti punya alasan kenapa ngelakuin hal ini. Fahri itu manusia dan manusia punya rasa bosan kan? Siapa tahu Fahri cuman lagi ngilangin rasa bosannya!” tuturku lagi.
“Apa harus kayak gitu?” desak Galih.

“Galih, kamu tahu sendiri kan aku cinta banget sama Fahri. Walaupun Fahri nyakitin hati aku itu gak akan pernah ngerubah perasaan aku. Jadi tolong gak usah jelek-jelekin Fahri. Dan satu lagi, sekarang ini aku lagi mencoba memahami dan mengerti apa yang Fahri mau!” tuturku berlalu meninggalkan Galih. Galih hanya terdiam, entah apa yang dia pikirkan. Tapi tak berapa lama dia menyusulku dan memberikanku 3 buah balon berwarna pink.
“Seperti balon, kamu harus melepaskan apa yang menahanmu agar bisa terbang!” ucapnya sembari memberikanku balon itu. Aku hanya tersenyum menatapnya.

Sejak kejadian itu aku dan Galih menjadi dekat, apalagi Galih selalu mendengarkan keluhku tentang Fahri. Tentang perasaanku padanya, tentang cinta yang tak akan padam untuknya.
Namun semua di luar kendali, Fahri kini benar-benar berubah dan tak pernah menghubungiku lagi. Aku semakin sedih dan terus menangis mengadu pada Galih. Galih hanya mendengarkanku dan tersenyum tanpa berkata-kata apapun.

10 Desember 2015
Aku melihat Fahri jalan dengan seorang wanita, tapi itu bukan Rahma! Siapa lagi ini Fahri? Karena kebetulan saat itu aku sedang dengan Galih, segera ku rangkul tangannya dan berlagak mesra di depan Fahri. Galih bingung dan hanya diam saja. Aku tertawa seolah aku dan Galih sedang bercanda, seperti syuting itulah kami. Fahri terus memandangku dan aku hanya membuang muka. Senang rasanya sepertinya Fahri cemburu padaku.

16 Desember 2015
Malam ini Galih datang ke rumahku.
“Senna, aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku?” tanya Galih hati-hati. Aku hanya diam membisu saat Galih mengatakan hal itu. Galih menatapku lekat. Aku bingung harus bilang apa. Di hatiku sih masih ada Fahri, Fahri Fahri, dan Fahri. Ah Fahri, meski kamu jahat sama aku aku gak pernah bisa benci kamu. Tapi kenapa Fahri? Kenapa kamu jalan dengan wanita lain? Pikirku.

“Galih.. aku, mau kok jadi pacar kamu!” ucapku seraya tersenyum padanya.
“Tapi kenapa?” tanyanya heran.
“Kenapa apanya? Aku emang suka sama kamu. Terus kamu nembak aku. Yaudah jadian deh!” kataku.

Aku dan Galih resmi berpacaran saat itu tepat pukul 19.30 di rumahku. Kami tertawa bersama bercerita hal yang ngalor-ngidul sebelum Galih pergi kira-kira pukul 21.45 Galih meminta izin untuk pulang tapi dia menyatakan sesuatu yang sangat membuat hatiku tersentak.
“Kita putus Senna!” ucapnya. Aku dibuat mematung dengan perkataannya.
“aku gak bisa maksain perasaan seseorang yang masih cinta sama mantannya Senna. Aku gak mau jadi pelampiasan kamu. Dan aku juga yakin kalau sekarang kamu cuma main-main sama aku. Aku gak akan pernah bisa terima pembohong kayak kamu Senna,” tuturnya.

“Jadi ini?” tanyaku heran.
“Iya, ini jebakan Senna. Aku hanya ingin tahu seberapa pentingnya aku buat hidup kamu. Kalau kamu tadi gak terima aku, mungkin sekarang aku masih bisa menghargai kamu. Tapi Senna, ternyata kamu gampang didapetin dan aku tahu alasannya apa kamu ingin membuat cemburu Fahri kan? Aku akan menghentikan perasaan suka ini, perasaan yang hampir 2 tahun ini terus mengikuti. Aku nyerah Senna.”

“Aku akan menghentikannya, tapi bukan dengan cara licik seperti kamu. Mungkin kamu akan berbahagia dengan memanfaatkanku, tapi aku? Aku malah akan membencimu. Senna, maaf untuk hari ini.. Aku harap kamu mengerti seperti kamu mengertikan sikap Fahri. Dan satu lagi, anggap saja kita tak pernah saling tahu satu sama lainnya. Aku harap kamu bisa cepet balikan lagi sama Fahri biar kamu gak sedih lagi.” Ucapnya panjang lebar. Aku hanya melongo dan diam mematung. Kau tahu? Perkataan Galih barusan baru saja membuat seluruh tubuhku gemetar dan hatiku menjadi berantakan. Aku hanya bisa memandangi Galih yang beralalu pergi meninggalkanku.

“Galiiih!!” seruku berlari mendekatinya yang sedang menyalakan motornya untuk berlalu pergi. Galih tak menyahut, dia hanya memandangku.
“Galih, hari ini aku belajar banyak darimu. Terima kasih,” ucapku. Galih hanya tersenyum kecut.
“Galih, aku akan melepaskan apa yang menahanku agar bisa terbang bersamamu!” ucapku lantang. Galih hanya diam saja tak berkomentar.

“Galih, hari ini kamu membuat hatiku hancur, membuat hati yang memang ku bangun untuk Fahri. Kau meruntuhkan cinta yang akan ku berikan pada Fahri. Dan dari kepingan-kepingan itu aku akan mencintaimu. Aku akan sedikit demi sedikit mencintaimu. Mencintai semua kesederhanaanmu. Membuka mata yang telah dibutakan Fahri, dan akan mencoba melupakan semua..” tanpa terasa air mataku mulai menetes.

“Galih, perasaanku untuk Fahri telah kamu hentikan. Dan kali ini aku sadar siapa orang yang pantas aku cintai, Galih… kamu mau kan balikan lagi sama aku, aku sangat mencintaimu. Aku bisa gila kalau sampai…” belum sempat aku menyelesaikan perkataanku. Dia berdiri dan memeluku yang menangis. Saat itu juga tangisku mulai pecah, aku menangis lagi, tapi kali ini bukan karena Fahri. Tapi karena kamu Galih dan tangisan itu bukan tangisan sakit hati tapi sebuah tangisan kebahagiaan. Galih aku mencintaimu. Maaf untuk waktu yang terlalu lama ini. Dan terima kasih karena telah membukakan hati yang buta. Galih Rizkyandi.

Cerpen Karangan: Dina Afrila
Facebook: https://www.facebook.com/nhadinna.luthfiany

Cerpen 16 Desember 2015 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Sahabat Menjadi Pengkhianat

Oleh:
Riuh angin berhembus menjatuhkan daun. Daun daun jatuh yang tak pernah menyalahkan angin. Jalan jalan dipenuhi daun. Aku bersekolah hari ini seperti biasanya. Aku memiliki seorang sahabat bernama Fanya.

Sakura Love (Part 2)

Oleh:
Keesokan harinya. “Mana orangnya ya? Benar di sini kan? Bukankah biasanya orang Jepang itu selalu tepat waktu?” gumam Yume. Yumi baru saja tiba di taman dekat kampus, tempat yang

Seandainya

Oleh:
Sore itu dia datangg menemuiku, di balkon depan rumah, dia duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh

Cinta Tak Pernah Salah (Part 2)

Oleh:
Setelah aku putuskan untuk move on dari Zhoumi rasanya pekerjaanku menjadi sedikit berat. Apalagi sekarang pekerjaanku semakin berat karena perusahaan akan mengadakan ulang tahun perusahaan sekaligus pernikahan putri presdir,

Karena Hujan, Aku

Oleh:
Kupaksakan kakiku untuk menopang perjalanan menuju pulang, tubuhku pun dibiarkan basah begitu saja. Sudah terlanjur! Rintikan hujan sedari tadi tak membuatku dan Ara berhenti berjalan, kami berjalan menyusuri jalan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “16 Desember 2015”

  1. syafa atul Laily says:

    cerpennya baguss…
    apalagi judul’y 16 Desember…
    sama kayak tanggal ultahku…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *