Asal Kalian Bahagia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 December 2014

DRRTT.. DRRTT… Suara hand phoneku bergetar beberapa kali. Pertanda ada satu pesan singkat yang masuk. Dari nomor tak dikenal, siapa yah? Padahal, dari awal aku punya handphone, aku tak pernah diteror seseorang. Kecuali Flo, sahabatku.

“Hai Adin..” begitulah isi pesan singkat itu. Aku sangat penasaran, ingin tahu siapa yang mengirimiku pesan.

“Hai, kamu siapa?” Dengan ditemani rasa penasaran, aku pun membalas pesan yang bisa disebut pesan basa-basi.

“Aku Bima Arya. Ini benar kamu kan, Adinda Maharani?” Apa? Bima Arya. Kakiku bergetar hebat, jantung seperti jatuh dari tempatnya perasaan nano-nano pun melanda jiwaku. Ya Tuhan.. apa benar ini nyata? Pasti ini hanya mimpi. Dengan konyolnya aku memastikan ini bukan mimpi dengan menampar pipiku sendiri PLAKK “awww sakiitt..” gumamku sedikit meringis. Lalu aku bercermin, alamak. Pipiku merah.

Dengan menahan rasa sakit, aku membalas pesan itu, “Kamu Bima Arya kelas IX 2 kan? Tau nomor aku dari mana?”

DRRRTTT… DRRRTT.. Selang berapa menit handphone-ku berbunyi lagi. “Dari siapa aja, aku boleh kenalan sama kamu kan?” What? Kanalan? Yang bener aja..? seorang Bima Arya, cowok popular di sekolah, ngajak kenalan sama Adinda Maharani yang terkenal tomboi? Yakin gak tuh?

“Dengan senang hati…” siapa sih cewek yang nolak diajak kenalan sama cowok ganteng.

Semalaman tadi, aku sms-an dengan Bima, awalnya sih, canggung. Tapi lama-kelamaan jadi akrab. Tapi, aku masih tak percaya. Aku rasa ini hanya ‘roman’ yang seperti nyata, tapi, buktinya pipiku ini masih terasa sangat sakit sampai pagi ini, bahkan warna merahnya masih terpampang nyata.
Mungkinkah penantianku selama tiga tahun akan terbayar? Entahlah, aku tak boleh berharap lebih begitu saja dari apa yang terjadi semalam denganku. Tapi, ini adalah titik terang, dimana Bima tengah memberikan secuil harapan untukku.

Pagi seperti pagi-pagi biasanya, aku menyusuri jalanan kecil ini sendiri. Jalanan sedikit becek karena tadi malam hujan sangat deras. Otomatis, aku harus sedikit memperlambat jalanku agar seragamku ini tak kotor. Aku masih memikirkan kejadian indah tadi malam. Sudah kubilang, seperti ‘roman’ tapi nyata.

Aku mulai tahu bagaimana rasanya bahagia itu seperti apa. Kenapa aku bicara seperti itu? Karena dari dulu, aku tak pernah tahu bagaimana rasanya bahagia. Bersama orangtua pun, aku tak merasakan kebahagiaan, malah sakit hati yang kurasakan. Orangtua ku hanya mementingkan pekerjaannya saja. Terkadang, aku juga memunafikan diriku di hadapan orang lain. Aku bilang ‘Aku bahagia dengan kehidupanku’ tapi kata ‘bahagia’ itu hanya di bibir saja.

Terkadang juga, aku merasa iri melihat orang lain selalu mendapatkan apa yang mereka suka. Termasuk hati seorang lelaki. Mereka mendapatkannya seperti membalikan telapak tangan. Tapi aku, seperti membalikan gunung. Melihat mereka seperti itu, aku seakan duduk di bibir gunung berapi, panas. Hatiku berkobar. Tuhan, untuk kali ini saja, kumohon, aku ingin merasakan indahnya dicintai, bukan hanya mencintai. Aku sudah lelah.

Aku tersadar dari lamunanku. Lalu melirik arloji yang melingkari tanganku. Pukul 7:30. Beberapa menit lagi bel masuk. Aku mempercepat jalanku sambil sesekali berlari kecil agar tidak terlambat.

Hufftt… aku menyeka keringat yang bertengger di keningku. Dihukum sendirian memebersihkan tiga kamar mandi yang baunya luar biasa itu, ditambah lari keliling lapangan basket lima putaran, rasanya aku ingin mati saja. Aku baru sekali dihukum seperti ini.

“Adin, lo telat?” Tanya Flo, lalu duduk di sebelahku.

“Iya Flo, eh BTW lo kabur dari kelas ya?” Tanyaku heran. Karena seharusnya Flo berada di kelas dan sedang belajar. Tapi sekarang, dia malah berada bersamaku.

“Kagak lah. Gue, tadi ijin ke kemar mandi. Tapi lihat lo disini, ya, gue kesini aja.” Ujar Flo, masih mempertahankan posisinya, berdiri.

“Lo deketin gue kok kagak bawa minum sih. Gak pengertian banget lo Flo,” Ucapku, memasang muka melas sambil menyamakan posisi seperti Flo.

“Ya sorry, lagian lo gak minta. Eh, masuk kelas yuk!” Ucap Flo dan menarik paksa diriku.

Sesampainya di kelas, aku mendapat omelan dari Bu Indri. Huffttt.. suaranya yang melengking itu, bagai petir yang menyambar telingaku.

Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Aku dan Flo menuju kantin, menyejukan tenggorokan kami yang sangat kering, dan mendamaikan cacing-cacing yang sedari tadi berdemo.

Mataku menyapu seluruh penjuru kantin. Saat jam istirahat seperti ini, biasanya Bima sedang berada di kantin. Aha! Itu dia, Bima bersama kedua temannya duduk di bangku paling pojok. Aku menarik Flo untuk duduk di meja terdekat dengan meja Bima.

“Flo, lu pesenin gue ice tea yah..”

“ogah, beli aja sendiri.. lo kan juga punya tangan,” Ucap Flo, sepotong kentang goreng masuk ke dalam mulutnya.

“Yah, lo kok gitu sih Flo, please…” Aku memohon kepada Flo, dengan memasang muka melas dan menyusun sepuluh jariku. Tanpa bicara Flo pergi memesan minumku.

Sebenarnya, aku bisa saja memesan minumanku sendiri. Tapi aku tak mau melewatkan kesempatanku untuk memandang muka tampan Bima lebih lama. Dia begitu terlihat ceria dan tampan. Ah.. dia tersenyum bagai malaikat. Kedua bola mata kami saling bertemu meski hanya sepersekian detik saja. Bima tersenyum padaku.

“Woy! Senyam-senyum mulu. Lo gila yah?” Ledek Flo dengan WATADOS POBIA-nya.
“Kagak lah..”

Sudah kurang lebih seminggu aku kenal dengan Bima. Meski hanya dalam pesan singkat saja. Tapi, aku bisa merasakan dia adalah orang yang baik. Bagaimana ia berbicara dalam bentuk pesan dengan halus. Terkadang, aku bingung sendiri untuk membalas pesan Bima.

Malam ini, kenapa Bima belum sms aku? Konsentrasiku mengerjakan PR menjadi terganggu karena bimbang menunggu sms dari Bima yang tak kunjung datang. DRRRTTT… DRRRTTT… handphone ku bergetar. Dengan sangat tegesa-gesa aku mengambil handphone ku yang tergeletak di samping buku pelajaran IPA. Saat ku lihat, itu hanya sms tak penting dari oprator. Lalu aku membantingkan handphone-ku ke kasur dengan malas.

DRRRTTT… DRRRTTT… selang lima menit, handphone-ku bergetar lagi, dengan sangat cepat aku menyambar handphone-ku yang tergeletak di atas kasur. Sesuai harapan Bima sms lagi.

“Hai, kok gak sms lagi sih? Udah lupa ya?” Mana mungkin aku melupakan Bima.

“Hai. Gak kok, aku kira kamu yang udah lupa..”

“Ya nggak lah, oya Din, kamu masih single?” Kenapa tiba-tiba Bima menanyakan statusku?

Dengan hati yang berbunga-bunga dan bibir yang menyungging senyum aku membalas pesan Bima “Masih, emang kenapa?”

Beberapa menit lamanya, HP ku tidak berbunyi lagi, rasa kecewa menyelimuti hatiku. Apakah ada hal lain yang sedang Bima kerjakan? Padahal, aku masih ingin bersama Bima.

DRRTT.. handphone ku bergetar lagi, dan itu sms dari Bima “haha.. kamu lucu ya, aku suka sama kamu boleh gak?” Heh? Suka? Maksudnya suka yang lope-lope, atau yang like-like? Aduh aduh.. udah Ge-Er duluan nih.

Aku memijiti keypad layar hand phone-ku, dengan mimik muka yang gaje, senyam senyum tak karuan “Aku gak melarang siapapun untuk menyukai ku atau tidak, aku membebaskan mereka, jika itu bisa membuat mereka merasa senang :)..” Aduh duh, Adinda so bijak banget sih.

“Kalo gitu, aku suka sama kamu..” Jiah, Bima membuat aku melayang.

Waktu berjalan dengan semestinya, Bima yang sudah ku anggap sebagai sahabat membuat hariku penuh dengan bunga yang indah. Flo belum mengetahui kedekatanku dengan Bima. Biarlah. Hari ini, Bima berjanji akan mengajakku ke suatu tempat. Ah, aku harap tempat itu adalah tempat yang romantis, tempat yang indah, kalo bisa jangan pantai, terus di sana Bima nembak aku. Hahah.. belum berangkat aja, udah ngayal tingkat tinggi.

TINN.. TINN Suara klakson motor Bima sudah terdengar. Aku langsung keluar rumah. Dan benar saja, itu Bima. Dia tersenyum padaku. Aku sedikit gugup karena ini pertama kalinya, aku jalan dengan seorang lelaki.

“Bima, kita kemana sih?” Tanyaku di tengah-tengah perjalanan.

“Diem aja, ntar juga tahu kok..” Ucap Bima, suaranya sedikit tak jelas kearena helm membungkus kepalanya.

Aku menyapu seluruh tempat ini. Sejauh mata memandang, sawah yang mulai menguning terhampar luas. Langit yang cerah dilukis dengan gugusan awannya terlihat sangat kontras. Angin berhembus menerpa kulit kami, juga membuat rambut ku sdikit berantakan.

“Gimana, keren kan?” Tanya Bima, matanya fokus ke depan menyapu hamparan sawah yang mulai menguning itu. Beberapa burung terbang dan hinggap di pohon padi. Orang-orangan sawah berdiri kokoh di tengah sawah bertugas mengusir burung tadi, tapi nyatanya, burung tersebut tidak gampang terkelabui.

“Keren. Aku suka!” Jawabku begitu antusias.

“Adinda.. “

“Ya, ada apa..?”

“Makasih ya, udah mau jadi sahabat aku.” Ucap Bima dan tersenyum menatapku

“Iya, nyantai aja kali. Aku mah sama siapa aja temenan.” Balasku enteng.

“Adinda, sahabatamu Flo sudah punya pacar kah?” DEG.. Kenapa Bima bertanya seperti itu? Jangan jangan… ah, sudah lah posthink Adinda.

“Belum, memang kenapa?”

“Emm.. aku aku menyukainya, lebih dari sekedar teman. Lebih tepatnya, mencintainya.”

JLEP, apa benar yang ia katakan Tuhan? Benarkah ia mencintai Flo, sahabatku sendiri? Jantungku seakan berhenti berdetak, oksigen, aku butuh oksigen. Tubuhku menjadi lemas, dan seketika jatuh bersimpuh di tanah. Tuhan.. kenapa? Kenapa dia harus menyukai sahabatku sendiri? Kukira ia akan… ah, aku terlalu banyak berharap.
“Adinda, kamu kenapa? Baik-baik aja kan?” Bima menanyaiku cemas.

Ragaku memang baik Bima, tapi hatiku, hatiku sakit. Kukira perasaanku akan berbalas. Kukira, kau sudah peka terhadap perasaanku. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Bima, kenapa kau tak pernah peka terhadap perasaanku? Tolong Bima, jangan mencintainya! Flo belum tentu menyukaimu Bima. Dia belum tentu menyayangimu sepenuh hati Bima. Kau harusnya sadar, aku, orang yang sangat menyayangimu. Dulu kini dan sampai nanti.

“A aku baik-baik saja..” Jawabku dengan suara tercekat menahan tangis.

“Aku gak yakin,”

“Aku baik kok, cuma pegel aja, pengen duduk..” Aku mencoba mengelak. Karena kalau tidak kami sudah pulang, dan aku tidak akan bersama Bima lagi. Ya, mungkin, ini kesempatan terakhirku untuk bersama Bima, sebelum nantinya, Bima bersama Flo.

“Jadi, gimana menurut kamu?” Tanya Bima lagi. Rupanya dia mengajakku kesini benar-benar untuk memberi tanggapan tentang perasaannya pada Flo.

“Kalau kamu suka, nyatain aja. Jujur sama Flo. Ntar kalo gak jujur Flo diambil orang loh..”

Aku munafik. Aku berkata seperti itu pada orang lain, tapi dirikulah yang seharusnya mendapat perkataan itu. Tapi, jika kebahagiaan Bima ada di Flo, aku ikhlas. Mungkin Bima bukan yang terbaik untukku. Tuhan memang tak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi ia memberikan apa yang kita butuhkan.

“Begitu yah..”

Malam ini, kukira Bima tidak akan me-sms ku lagi. Tapi, dia masih saja sms aku. Ya tidak apa-apa. Tapi, aku tak enak hati saja pada Flo. Bima dan Flo sudah menjadi sepasang kekasih tadi siang.

Memang, sakit rasanya seperti ini. Tapi, mau bagai mana lagi. Ini semua jalan cerita yang Tuhan berikan padaku. Semua kesedihan, kebahagiaan, keluarga, sahabat, jodoh, ada di tangannya. Hidup dan mati pun ada di tangannya. Manusia hanya bisa berdo’a, berusaha dan pasrah. Agar semua yang diinginkan bisa tercapai. Dan saat kita kehilangan orang yang kita cintai, jangan menangis dan jangan menyesal, mungkin tuhan sedang berkata kepada kita, bahwa dia bukan yang terbaik untuk kita. Aku yakin, dibalik semua cobaan yang Tuhan berikan, ada sesuatu yang indah yang akan Tuhan berikan pada kita.

Sekarang, aku hanya bisa berdo’a agar Bima dan Flo tidak melupakan aku sebagai sahabatnya. Jujur saja, aku masih mengharapkan Bima. Berharap akulah tulang rusuk Bima yang sesungguhnya.

VIDI ALDIANO — Kasih tak sampai

Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan.

Kau buat remuk seluruh hatiku.

Indah terasa indah, bila kita terbuai dalam alunan cinta

Sedapat mungkin terciptakan rasa keinginan selalu di miliki..

Namun bila, itu semua dapat terwujud dalam satu ikatan cinta..

Tak semudah seperti yang pernah terbayangkan, menyatukan perasaan kita..

Tetaplah menjadi bintang di langit, agar kisah kita kan abadi..

Biarlah sinarmu tetap menyinari alam mini

Agar menjadi saksi kisah kita, berdua…

Cerpen Karangan: Rida Ayu Pratami
Facebook: Arah Mata Angin

Cerpen Asal Kalian Bahagia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Panduan Bersosialisasi Untuk Anak Kuper (Part 2)

Oleh:
Apa yang sebenarnya sedang kulakukan sih? Menelantarkan PR Kimia dan malah mengawasi ponsel yang tergeletak nyaman di atas kasur. Sambil sesekali mengecek kalau-kalau ada notifikasi teman LHINE baru. Ah,

Lucky When Come Late To School

Oleh:
Pagi itu mentari pagi mulai menampakkan dirinya, perlahan-lahan naik dan menyinari bumi dengan cahaya sinarnya, Angel terbangun dari tidurnya karena terpaan cahaya dari celah jendela yang menyilaukan matanya. Ia

Surat Kolong Meja

Oleh:
Pagi itu menjadi pagi yang tampak menyeramkan bagi Rani. Ya, murid kelas XI SMA Merah Putih itu terlambat masuk sekolah dan ini merupakan kali pertama Rani telat masuk sekolah.

Kejutan

Oleh:
“Huff… masih lama lagi ya, nyampenya?” Gerutuku pelan. Aku sudah mulai bosan duduk di kursi pesawat yang sudah menempuh perjalanan selama beberapa jam. Aku ingin bersekolah kembali di Indonesia.

Boarding Love On (Part 2)

Oleh:
Setelah jam pelajaran selesai kami berkumpul di taman sekolah untuk menceritakan kejadian yang terjadi sehari tadi di sekolah. Aku pun bercerita bersama Nisa sedangkan Via dan Novi pun juga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *