Berawal Dari Kehilangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 7 April 2016

Sore itu aku pergi bermain game online di warnet terdekat dengan sendal baruku yang telah ibu belikan satu minggu yang lalu. Satu jam pun berlalu, matahari sudah mulai tenggelam dan sinar matahari pada saat itu menemaniku melangkah ke luar dengan perasaan lelah karena mata yang terlalu lama menatap monitor serta jari yang terlalu sering memainkan mouse dan keyboard. Belum sampai ke luar di satu bilik dekat pintu aku melihat ada teman SMP-ku yang sedang bermain game online dengan dua temannya.

Aku pun berniat menyapanya dengan senyuman, belum juga aku senyum kepadanya ternyata dia telah memanggil namaku terlebih dahulu, aku pun balik memanggil namanya disertai senyuman. Setelah sampai di pintu ke luar, aku melihat beberapa sandal yang sudah tidak layak untuk dipakai. Mataku tetap melihat ke kanan ke kiri berharap ada sandal baruku yang ibu belikan itu, tapi apa daya ternyata sandalku hilang!! Oh tidak. Aku melirik mencoba melihat ke bilik teman SMP-ku, ternyata mereka menyimpan sandal masing-masing di dalam bilik yang mereka tempati.

Teman SMP-ku pun bertanya, “Sandalnya hilang? kalau ingin bermain game online, bawalah sandalmu masuk dan simpan di bilikmu.” Kata mereka sambil tertawa lepas. Aku tak bisa berkata apa apa, karena kedua teman yang satu bilik dengan teman SMP-ku pun ikut menertawaiku. Salah satu teman dari teman SMP-ku bernama Roni.
“Pakailah saja sandal yang ada.” Katanya. Dengan kecewa, marah dan kesal aku menjawab, “Tidak ada yang layak untuk aku pakai dan aku bawa pulang.” Akhirnya aku memilih meminjam sandal dari teman SMP-ku karena tidak mungkin aku pulang dengan kaki telanjang. Apa yang akan orang-orang katakan? mungkin bisa jadi mereka ikut menertawaiku.

Roni pun membolehkan, aku pikir itu adalah sandal Roni tetapi ternyata itu adalah sandal Jaya (teman dari teman SMP-ku yang satunya lagi). Jaya terlihat sedang memiringkan bibirnya ke kiri dengan tatapan yang terlihat sungkan atas perlakuanku tetapi aku tetap memakai sandal itu untuk aku bawa pulang. Dengan terpaksa, mereka akhirnya membolehkanku membawa sandal itu pulang. Ketika aku akan menghidupkan mesin motorku, Roni ke luar dengan membawa handphone dan meminta nomor teleponku agar dia dapat menghubungiku dan mengambil sandal Jaya. Aku yang merasa bahwa itu memang bukan sandalku memberikan nomor teleponku kepada Roni. Setelah selesai, aku kembali mengontak motorku dan melaju dengan perasaan was-was karena takut dimarahi ibu saat sampai di rumah.

Sesampainya di rumah, aku ditanya oleh ibu, “Ke mana sandalmu? Itu sandal siapa?” dengan jujur aku menjawab apa yang sebenarnya terjadi kepadaku di warnet itu, ibu yang percaya dengan alasanku membiarkan sandal baruku itu hilang. Baru saja aku duduk di kursi teras yang ada di depan rumahku, handphone berbunyi dengan nomor baru yang tertera di layar. Aku berpikir sejenak, nomor siapa ini? ada apa? Setelah bertanya-tanya dalam hati akhirnya aku menekan tombol hijau yang berarti bahwa aku menerima panggilan tersebut.

Terdengar suara dari sana yang mengatakan. “Hai Yanti, aku Roni teman Anto yang tadi menyimpan nomormu di warnet itu.” Aku yang memang belum lupa karena kejadian itu baru saja terjadi langsung menjawab, “Oh iya, ada apa?”
“Kok tanya ada apa sih. Kembalikan sandal Jaya, kami ingin pulang ke rumah. Aku tunggu di rumah Anto.” Aku yang berjanji ingin mengembalikkan sandal itu langsung membawa sandal yang aku pinjam ke rumah Anto -teman SMP-ku. Sesampainya di sana, aku mengembalikkan sandal yang aku pinjam.

Setelah kejadian itu, Roni terus mencoba menghubungiku dengan mengirim pesan singkat setiap hari. Aku yang merasa pernah melihat Roni sebelumnya dan cukup menarik perhatianku, akhirnya aku pun tanpa ragu selalu membalas pesan singkatnya sampai kemudian Roni menyatakan perasaannya kepadaku yang tak pernah ku sangka sebelumnya.
Kurang lebih 6 bulan kita menjalani hidup bersama layaknya seorang kekasih seperti anak muda kebanyakan. Entah apa yang ada di pikiranku, beberapa bulan terakhir ini aku diuji dengan salah satu pria yang tidak terlalu tampan, tetapi mampu mengambil hatiku yang pada saat itu aku memang sudah memiliki kekasih, yaitu Roni. Aku yang sempat merasa tidak pantas dengan Roni karena Roni adalah laki-laki yang sangat tampan selalu berpikiran, apakah Roni memang benar-benar mencintaiku dengan tulus? Sedangkan wanita yang pernah bersamanya jauh lebih segala-galanya dari diriku.

Sampai akhirnya keminderan itu membuatku menerima cinta Alan pria yang tidak setampan Roni. Dua bulan aku menjalin hubungan dengan dua laki-laki sampai waktu menuntutku untuk memilih salah satu dari mereka. Tetapi sebelum aku mengakhiri hubungan dengan salah satu dari mereka, Roni mengetahui apa yang sebenarnya terjadi denganku dan Alam. Mungkin dia benar-benar mencintaiku karena walaupun dia mengetahui perbuatan burukku itu ia malah memberi pilihan kepadaku, “Aku atau dia yang kamu pilih?” Sebagai wanita yang ada di posisi itu aku merasa sulit untuk menjawab pertanyaan yang hanya 6 kata itu. Satu minggu telah berlalu akhirnya aku memutuskan memilih Alan daripada Roni karena beberapa alasan yang sudah ku pertimbangkan. Dengan terpaksa Roni menerima keputusanku.

Tidak lama dari kejadian itu ternyata Alan memiliki banyak teman wanita yang baru aku tahu setelah aku memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Roni dan ada satu wanita yang aku curigai dan ternyata dia memang selingkuhan Alan. Sungguh aku sangat menyesal atas sikap yang aku pilih untuk meninggalkan Roni yang memang terlihat benar-benar menyayangiku tanpa memandang siapa aku. Tapi kebodohanku membuat Roni menjahuiku sampai sekarang dan aku pun menyesali perbuatanku karena sudah menyia-nyiakan orang yang memang benar-benar ingin hidup bersama denganku tanpa memandang siapa aku. Tapi sekarang pengalaman pahit itu aku jadikan pelajaran, agar suatu saat nanti apabila ada seseorang yang datang kepadaku membawa cinta, tidak akan aku sia-siakan seperti dulu.

Cerpen Karangan: Firda F. Febrianti
Facebook: Firda Fransiska Febrianty
Nama lengkap: Firda Fransiska Febrianti
Nama panggil: Firdhay (Dhay)

Cerpen Berawal Dari Kehilangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Andaikan

Oleh:
Andaikan waktu itu dia tak pernah mengenal pria itu, andaikan waktu itu dia tak pernah mengikuti ajakan dari pria itu mungkin saja sekarang dia tak akan pernah semenyesal ini,

Sayang Mama Jangan Pergi

Oleh:
Seorang gadis remaja yang cantik tapi berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya telah meninggal saat sedang bekerja jadi supir angkot dikarenakan kecalakaan disebabkan masuk jurang. Sejak saat itu kehidupannya

Di Pantai

Oleh:
Bandung, 12 September 2001 Buat Tika. Hai, kamu masih ingat ketika kita dekat pertama kali? Bukan, bukan di Gereja. Kita memang sudah kenal di Gereja, tapi bukan itu. Maksudku,

Mila dan Mas Rama

Oleh:
Perkenalkan, aku Adinda, bisa dipanggil Dinda. Aku tinggal di rumah yang sangat besar bersama keluarga kecilku yang berisikan, aku, Nila, dan suamiku mas Rama. Kami tinggal disini atas kerja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *