Buku Bergambar (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 5 January 2016

Udara yang sejuk dan langit yang cerah menyambut senin pagi di sebuah desa di Cilacap, tepatnya di Sidareja. Saat itu sedang musim kemarau dan juga mendekati musim panen padi dimana memang masih banyak sawah dan lahan-lahan perkebunan. Terlihat barisan anak anak berseragam SMP dan SMA bersepeda ria di jalan yang menembus di tengah-tengah kuningnya padi-padi yang menunduk.

Jalan itu memang akses satu-satunya menuju SMP dan SMA yang cukup terfavorit di Sidareja. Terlihat betapa semangatnya Nova bersama teman-temannya mengayuh sepedanya karena hari ini adalah hari pertama dia masuk SMA. Bagi dia melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA adalah berkah yang luar biasa mengingat ayahnya hanyalah seorang buruh angkut di pasar, maka dia akan berusaha selalu semangat dan selalu bersyukur apa adanya serta belajar dengan serius.

Beberapa jam kemudian semua anak dikumpulkan di halaman untuk mendengarkan beberapa informasi dan pembagian kelas. Saat itulah Nova melihat Vina, gadis yang sangat Nova sukai sejak SMP. Sebenarnya kedekatan mereka sudah terjalin sejak lama, namun karena Nova anak yang pemalu sampai saat SMA pun belum berani diungkapkan, sebenarnya Vina juga memendam rasa pada Nova.

Vina adalah gadis yang aktif, gampang bergaul, suka olahraga, dan punya banyak teman laki-laki. Vina juga merupakan anak dari keluarga yang cukup terpandang serta Vina juga pernah menjalin hubungan dengan beberapa cowok yang Nova kenal dan semuanya anak orang kaya, mungkin karena itulah dia takut untuk mengungkapkannya. Tapi entah kenapa Vina selalu perhatian pada Nova.

“Hey! Kamu daftar di sini juga Vina?” Sapa Nova dengan malu-malu.
“Hey Nova! Iya! Aku daftar di sini. Wah senengnya bisa satu sekolah lagi sama kamu. Ngomong-ngomong kamu berangkat naik apa tadi? Entar pulangnya bareng yah?” jawab Vina dengan wajah yang ceria. “Nggak usah Vin, aku bawa sepeda kok. Lagian aku gak mau repotin kamu!” Balas Nova dengan gugupnya.

“Ah kamu mah, nggak pernah ngerepotin kok. Terus aja ngomong gitu, aku gak suka tahu!” Dengan wajah yang cemberut.
“Maaf ya Vin, tapi kamu tadi sarapan kan? kamu bawa minum kan?” Nova bergegas minta maaf dan menatap Vina.
“Iya iya!! aku maafin. Ini yang paling aku suka dari kamu. Misterius tapi perhatian juga. Oya kamu kelas apa? Aku kelas X-4 nih, sering-sering main ke kelas yah!! Dadah Nova!!” Vina berlari meninggalkan Nova dengan senyum yang berseri. “Iya.” Jawab Nova dengan bergetar.

Itu untuk kesekian kalinya Vina menunjukkan bahwa ada rasa cinta seperti yang Nova rasakan. Tapi entah kenapa masih belum bisa menguatkan tekad Nova untuk menyatakan cinta. Setelah itu semua anak mulai memasuki ruang kelas masing-masing. Nova menuju ruang kelasnya yaitu X-1, dengan membawa buku gambar yang dia buat khusus untuk dia bawa ke mana-mana, mengingat hobi dia adalah menggambar.

Dengan santai dia menuju pintu kelas yang tertutup rapat sambil membayangkan senyum Vina yang akan dia gambar nantinya. Tak disangka, saat itu kelas telah terisi penuh oleh siswa-siswi baru dan hanya menyisakan satu kursi kosong tepat di belakang. Di samping Nova telah duduk seorang bernama Andy. Tak lama mereka saling kenalan dan akrab. Tidak hanya itu, Nova diam-diam juga diperhatikan oleh Raya. Gadis yang duduk tepat dua meja di depan Nova.

Setelah Masa Orientasi Siswa selesai, akhirnya mereka dapat mengikuti kegiatan sekolah seperti biasanya. Keakraban mulai terjalin di setiap kelas. Terutama Nova. Banyak yang mulai mendekati sosoknya. Terlebih saat MOS Nova terpilih sebagai pemimpin upacara penyambutan. Tidak hanya itu, sifatnya yang terkesan diam membuat banyak yang penasaran, serta keahliannya menggambar menambah kesan romantisnya. Setelah beberapa hari Andy mulai melihat setiap goresan pensil karya Nova. Dia mulai bertanya dalam hati, siapa sosok yang begitu cantik yang selalu Nova gambar. Saat sedang bersama di kantin, Andy mulai berani bertanya.

“Ngomong-ngomong cewek yang kamu gambar siapa sih?” Tanya Andy.
“Oh. Itu Vina, dia sekolah di sini juga kok. Dia temen aku dari SMP.” Jawab Nova.
“Wah kalau begitu kamu bisa kenalin aku dong! Mintain nomor Hp-nya dong!” Ujar Andy dengan begitu semangat.
“Iya, nanti aku tanyain sama dia.” Jawab Nova lalu bergegas pergi.

Setelah beberapa hari Nova masih belum cerita soal Andy yang minta dikenalin ke Vina, karena hatinya juga merasa cemburu. Suatu saat, sangat tidak diduga Vina datang ke rumah Nova bersama temannya. Atas permintaan Vina, temannya pulang dengan sepeda motornya. Setelah saling berbincang, tak terasa hari sudah sore, Nova pun memutuskan untuk mengantarkan Vina pulang dengan sepedanya. Hal itu dia lakukan mengingat jarak pulang ke rumah Vina cukup jauh. Nova takut terjadi sesuatu di jalan.

“Vin, aku antar pulang pake sepeda mau? Lagian kalau jalan cape, lumayan jauh.” Ujar Nova dengan cemas.
“Aku gak ngrepotin kan? Terus kamu gak cape kan?” Jawab Vina dengan cemas juga sembari merapikan buku bawaannya.
“Ya nggak lah. Lagian aku dah biasa kan. Tapi vin, sepedaku kan tipe sepeda cowok, kamu bonceng di depan gak apa-apa kan?” Tanya Nova.

“Sebenarnya jalan pun asal ditemani kamu nggak apa-apa kok. Aku nggak akan ngerasa kecapean atau takut. Jadi biar pun aku bonceng di depan aku gak akan ngeluh kok.” Jawab Vina dengan santainya. Mereka pun bergegas, mengingat hari sudah sore. Ini adalah pengalaman pertama Nova bisa sedekat itu dengan gadis pujaannya. Keringatnya mulai keluar, jantungnya pun berdetak kencang. Tangannya mulai dingin, dan wajahnya sesekali terkena helai rambut Vina yang terkena angin. Betapa bahagianya Nova.

“Pernah merasakan hati sebahagia ini dan setenang ini Nova?” Tanya Vina sembari menengokkan wajahnya ke Nova.
“maksudnya? Setenang gimana?” Jawab Nova dengan terengah-engah.
“Iyah. Setenang aku saat berada di dekatmu, bahkan terasa sangat dekat. Dapat aku dengar detak jantungmu, suara napasmu, maaf ya? kalau aku ngrepotin?” Vina sambil tersenyum manja.

“Vina, bersamamu ibarat aku bersepeda di pelangi. Semua terasa indah dan berwarna. Semua nampak memandang kita. Angin menyempurnakan kesejukan hati yang di bingkai senyummu. Harummu menyentuh kalbu. Maaf ya? Aku jadi berbicara ngawur. Sampai sini ajah ya? aku takut dimarahi Ayah kamu, lagian udah deket juga kan!” Nova memberhentikan sepedanya di bawah pohon di pinggir jalan.

“Aku bahkan gak tahu harus jawab apa untuk kata-katamu tadi. Oya takut kenapa sih sama keluargaku? Biasa aja atuh Nova. Makasih ya, aku udah repotin!” Ujar Vina dengan wajah bahagia. “Nggak atuh Vin, ya udah ya. Aku pulang. Inget, mandi terus istirahat yah. Dah!!” Jawab Nova dengan terburu-buru dan bergegas pergi.
“Sosok yang romantis banget kamu Nova, sayang kamu lebih suka dipendam daripada kau ungkapkan.” Ujar Vina di dalam hati sambil memandang Nova yang mulai tak terlihat.

Berbulan-bulan kedekatan mereka terjalin, momen kedekatan selalu Nova lukiskan di buku gambarnya. Isinya pun hanya ada tentang Vina. Hal itu membuat Andy semakin tidak sabar untuk dekat dengan Vina. Akhirnya Andy mendapatkan kontak Vina, dan langsung mencoba memberi perhatian lewat segala kesempatan. Puncaknya saat liburan kenaikan kelas. Ada hiburan di alun-alun sidareja, kebetulan Vina berada di sana, tanpa disengaja Andy melihatnya, padahal Vina menunggu Nova. Terpaksa Vina mengobrol dengan Andy. Tak berapa lama Nova datang dan melihat mereka. Terpaksa hanya melihat dan hatinya merasa sakit. Namun dia tetap berusaha tenang. Tak berapa lama Andy melihat Nova yang sedang menatap kaku. Andy pun menghampirinya.

“Hey bro, udah lama di sini? selama setahun ini gue bener-bener mengagumi Vina, walau gue cuma bisa lihat dia dari jauh dan lihat dia dari buku gambarmu. Aku juga selalu berusaha perhatian. Kayaknya dia juga mulai suka deh ke gue.” Ucap Andy sambil memegang pundak Nova.
“Oh gitu, terus hubungannya sama aku apa?” Jawab Nova dengan melepas pegangan Andy.
“Hmm.. kamu kan udah lama kenal sama Vina, tolong bantu aku ungkapin perasaanku nanti yah? please!” Andy memohon sangat pada Nova.
“lihat aja nanti yah, kalau bisa pasti aku bantu kok.” Nova memalingkan wajah.

Mereka menghampiri Vina. Nampaknya Nova juga sudah tak bisa lagi menahan emosinya. Dia berpikir bahwa semua yang pernah Vina berikan adalah permainan. Saat itulah Nova berbicara. “Ternyata bener yah? kata orang kalau gadis kaya cuma bisa mainin perasaan orang kecil.” Ujar Nova dengan nada keras.
“maksud kamu apa? Mainin gimana? Ada apa sih?” Vina berbalik tanya sambil menatap Nova dan Andy.
“Iya Nova, kamu kenapa? Tiba-tiba ngomong begitu?” Sambung Andy dengan wajah bingung.
“Ternyata kamu gak cuma ngasih perhatian ke aku aja kan? tapi ke semua cowok, termasuk Andy. Iya kan? Aku nyerah Vin, aku sudah pasti kalah dari Andy. Dia punya segalanya, kamu berhak dapat itu. Meski harus aku korbankan perasaanku. Kalau aku sebenarnya cinta sama kamu.” Nova berkata dengan suara bergetar dan memalingkan badan.

“Bukan harta yang membuatku bahagia, aku juga gak mempedulikan itu. Tapi perhatian, kejujuran, pengertian, dan semua itu aku rasakan dari kamu va. Dan ini yang aku tunggu dari dulu. Kenapa kamu gak coba bilang aja sih? Nyebelin tahu. Sebenarnya aku juga cinta sama kamu Nova.” Ujar Vina dengan memeluk Nova dari belakang.
“Jadi!! Kalian saling suka? Maaf ya va, aku gak bermaksud buat rebut dia. Aku nggak tahu. Dan kamu juga gak pernah jujur sih!” ucap Andy sembari seyum kecil.

“Sudahlah Andy, berkat kamu juga aku jadi punya keberanian buat lakuin ini. Sekali lagi gue makasih ya?” Jawab Nova sembari merapikan tampilannya.
“Sip lah bro, sekali lagi selamat yah.” Ucap Andy dengan memegang pundak Nova dan Vina.
“Sama-sama Andy, hehe.” Jawab Nova dan Vina bersamaan.
“Mentang-mentang baru jadian, kompak banget, hehe. Oya, pulang yuk udah malam ini!” Ujar Andy.

Mereka memutuskan untuk segera pulang. Mereka pulang dengan hati yang gembira. Terutama Nova dan Vina. Betapa tidak, hari yang mereka tunggu akhirnya terjadi juga. Berat rasanya melepas tangan Vina, namun mereka melapas pegangan dan berjalan melawan arah dengan sesekali menengok. Ini akan menjadi malam terindah bagi mereka. Hari demi hari berlalu, cinta mereka semakin tumbuh kuat. Nova begitu sangat perhatian dan Vina pun bagaikan putri yang selalu bahagia.

Kabar jadian mereka pun terdengar oleh Raya. Itu sangat membuatnya kecewa. Namun di hati kecilnya berkata bahwa kesempatan masih ada. Raya pun berusaha mendekati Nova, perhatian pun selalu diberikan. Raya menunjukkan ketulusan dan keseriusan, meskipun akhirnya nanti tak akan dapat cinta Nova. Dia tetap berusaha. Dan berusaha selalu di dekat Nova. Pernah suatu saat Raya sengaja pulang naik angkot. Dan dia menghampiri Nova yang sedang mengambil sepeda di parkiran.

“Nova!! Kamu pulang sama siapa? Sendiri kan? Aku ikut yah? Soalnya aku males mau jalan ke depan sendiri, kamu tahu kan kalau siang nggak ada angkot.” Ucap Raya sambil memegang sepeda Nova. “Loh. Biasanya kamu kan manja banget. Harus ada yang jemput, kalau gak bawa motor sendiri kan? Tumben mau panas-panasan.” Jawab Nova dengan sedikit senyum.
“Ah kamu, sekali-kali boleh kan? biar sehat hehe. Kalau gak mau boncengin kita jalan aja gak apa-apa kok. Yang penting aku ada temen ngobrol. Please?” Raya menarik tas Nova.

“Ya udah kalau gitu, entar keburu sore kalau kelamaan di sini.” Nova mulai menuntun sepedanya meninggalkan parkiran.
“Eh tunggu dong! Masa aku ditinggal. Oya, kamu kok gak pulang bareng Vina? Dia marah gak yah kalau aku ngajak pulang bareng kamu?” Tanya Raya sambil mengimbangi jalan Nova.
“Marah itu jelas, hehe. Aku pulang dulu karena dia ada kegiatan sama temen-temennya. Lagian tumben ngajak aku pulang bareng. Ya walaupun cuma sampai gang depan, tapi kan aneh aja.” Jawab Nova sembari sesekali menatap Raya.

“Ah marah juga gak apa-apa, gak takut aku. Lagian tuh ya Nova, kenapa sih kamu mau jadian sama dia, udah jelas-jelas dia gak pernah peduli sama kamu. Asyik sendiri sama teman-temannya. Acara apa coba?” Ucap Raya.
“Kamu kenapa sih? Sok tahu banget. Kamu ada masalah sama dia? Cinta tuh bukan untuk saling mencurigai, membatasi kegiatannya, melarang haknya. Tapi cinta itu cukup menjadi seseorang yang mengerti perasaannya, menempatkan diri saat dia membutuhkanya dan berusaha menghibur kala dia lelah dengan harinya. Apa pun kegiatan dia, asal tidak membuatnya ke luar dari aturan Tuhan aku akan selalu dukung kok. Yang penting dia nyaman itu saja.” Jawab Nova dengan berhenti memandang Raya.

“Kata-katamu lebih sejuk dari angin yang bertiup kencang di jalan ini Va, dan ketulusanmu sekuat terik mentari ini. Kau memperlakukan Vina seperti hujan yang menurunkan airnya ke bumi, mengalir, mengisi, dan memberi kehidupan di hati.” Raya berkata dalam hatinya. Suara ramai kendaraan mulai terdengar. Nova menyenderkan sepedanya dan menarik tangan Raya. Dengan sedikit berlari dia memberhentikan angkot untuk Raya.
“Belum pernah naik angkot kan? Ini aku berhentikan. Sekarang kamu naik, nanti kalau sudah deket rumah kamu bilang turun sini Pak. Oke. Hati-hati yah.” Nova melepas tangan Raya dan berbalik.

Raya hanya bisa tersenyum. Angkot mulai berjalan menjauh dan masih memandangi Nova yang menaiki sepedanya. Raya berkata dalam hatinya. “Cinta tidak bisa memaksa atau dipaksa, juga tidak bisa menghalalkan segala cara untuk memilikinya. Aku sadar, kamu sekuat itu karena kamu bener-bener tulus dan hanya mengharapkan kebahagiaan Vina. Itulah yang membuatmu selalu bahagia Va. Aku pun bahagia mencintaimu, dan aku akan belajar tulus.”

Bersambung

Cerpen Karangan: Mustofa
Blog: http://mustofaberkarya.faa.im
My Insta: tofaa.h

Cerpen Buku Bergambar (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dan, Kita (Part 2)

Oleh:
“Celia, sudah mengemasi barang-barang sayang? Jangan sampai ada yang tertinggal.” Mamanya menghampiri Celia ke kamarnya. Celia sedang asyik melihat-lihat fotonya bersama Farez. “Eh, sudah kok ma. Besok semuanya sudah

Penyesalan Khansa

Oleh:
Sebuah jam berbentuk lingkaran yang menempel di dinding menunjukan pukul 07.15, tetapi pelajaran Matematika pagi ini belum dimulai seperti biasanya. Bu Nur Guru Matematika sekaligus wali kelasku belum juga

Untuk Kebahagiaan Mu

Oleh:
“Baiklah, baik aku berhenti, Dion!” Pekik Ivea dalam tangisnya. Semuanya sudah jelas, keadaannya rumit. Dion yang frustasi hanya termangu. Memandang Ive dengan tatapan memelas. Semua ini salahnya! Dia yang

Cinta Yang Lain

Oleh:
Masa SMA adalah masa-masa yang paling indah. Begitulah yang sering dilantunkan oleh mereka yang sedikit-banyaknya telah merasakan berbagai kisah dalam lembaran-lembaran ketika mereka berada dalam warna-warninya proses metamorfosa masa

Surat Terakhir Untukku

Oleh:
Pagi itu. Suasana pagi menyelimuti hatiku, tak terasa saatnya aku kembali ke sekolah ku di sma jaya negara. Aku teringangat masa laluku dimana aku pernah menyukai teman lamaku zali.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *