Bunga Sepatu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 20 January 2016

Siang ini matahari sangat menyengatnya. Tetes-tetes keringat bercucuran menderai sekujur tubuhnya. Gadis belia cantik ini tetap tekun dengan tugas Sejarah Bu Julia. Dia adalah Ballerina. Sering dipanggil Rin oleh orang-orang yang mengenalnya. Mahasiswi semester terakhir bidang studi teknik ini termasuk daftar perempuan incaran laki-laki seisi kampus. Selain cantik dia juga pintar. Selain pintar agamanya pun juga kental. Hanya saja dia masih sendiri. Bahkan hanya Vikalah yang tahu mengapa Rin masih tetap sendiri. Vika adalah teman Rin sejak SMP. Teman yang tahu jelas tentang Rin. Begitu pula dengan Rin.

Pulang kuliah adalah jam dimana Rin bisa bernapas lega. Entah, hari ini dia ingin datang ke tempat itu. Tempat di mana pernah ada perpisahan pahit yang andaikan ada pertemuan kembali pasti terasa sangat manis. Rin sengaja pergi sendirian. Karena memang Rin ingin pergi sendirian. Tak lupa ia petik bunga sepatu tepat di depan kampusnya yang kemudian dia bawa ke tempat itu. Sesampainya di sana dia mulai memainkan i-phone yang kemudian review galeri dengan judul “kerinduanku.” Dalam album itu banyak fotonya bersama dengan seorang. Seorang itu adalah Aldo.

“Sampai kapan Rin? Sampai kapan kau menanti Aldo di sini?” ujar Vika yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“Sampai nanti dia kembali.” jawab Rin.
“Kau tahu di mana dia? Kau tahu bagaimana kabarnya?” tanya Vika kembali.
“Dia ada di Medan panggilan negara. Dia selalu baik-baik saja.” jawab Rin dengan berkaca-kaca.
“Dari mana kau tahu?” tanya Vika lagi.
“Setidaknya itu yang dia katakan 2 tahun lalu di sini.” Jawab Rin dengan beberapa tetes air mata kerinduan.

Pagi ini sekampus heboh dengan kedatangan seorang mahasiswa baru. Dia tampan. Anak orang kaya. Tapi dia sombong dan over acting. Namanya adalah Bastian. Dan bukan kejutan lagi jika Bastian terpesona dengan Rin. Bastian mulai mendekatkan diri dengan Rin. Mulai memberi Rin semangat dam perhatian. Hingga suatu ketika Rin dikejutkan dengan ucapan dari mulut Bastian di muka umum. Tepatnya di kantin kampus.

“Ballerina. Aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Dan cintaku ini karena Allah. Rin. Maukah kau menjadi pacarku atas izin Allah?” ujar Bastian. Seluruh pengunjung kantin terdiam dan terpaku. Rin juga ada di dalamnya termasuk dengan Vika.

“Rin. Ini kesempatanmu untuk pergi dari zona sendirian. Dia memilihmu.” bisikan Vika pada Rin. Seketika itu juga Rin teringat dengan janjinya pada Aldo.
“Aku tak bisa Bas.” jawab Rin dengan gugup. Bastian, Vika, dan seluruh isi kantin terkejut mendengar jawaban dari Rin.
“Kenapa? Apa yang salah?” hujat Bastian dengan nada tinggi.
“Aku tak ada hati denganmu, aku minta maaf.” jawab Rin dengan tenang.

“Lalu pada siapa hatimu berlabuh? Laki-laki mana yang kau terima?”
“Kau tak perlu tahu!!” Hujat Rin sambil meninggalkan meja makannya.
“Aldokah yang kau tunggu?” teriakan Bastian yang membuat langkah Rin behenti, Rin juga sempat berpikir bagaimama dia tahu tentang Aldo.

“Jangankan bertemu. Kabarnya pun kau tak pernah tahu Rin. Lalu apa yang membuatmu bertahan?” hujatan yang kembali ke luar dari mulut Bastian. Kali ini Rin benar-benar emosi. Rin berjalan mendekati Bastian dan berkata, “aku akan tetap menunggu, entah Aldo akan kembali di sini atau tidak. Dan kau tak tahu apa pun tentang hubungan kami.” Lalu Rin pergi berlalu meninggalkan kantin.

Selama pembelajaran Rin tak bisa tenang. Vika paham betul dengan tingkah laku Rin. Sampailah pada jam pulang. Rin kembali lagi ke tempat itu tanpa berpamitan dengan Vika. Duduk termenung menyaksikan bunga sepatu yang menjadi tanda perpisahan. Meneteskan air mata kerinduan. Rin tak bisa menahan air mata yang terus meluap. “Aku kangen Do. Aku kangen.” ujar Rin dengan sangat sendu.

“Rin. Aku tak bisa melihatmu tersiksa dengan kerinduan ini. Rindu dengan seorang yang entah ada di mana. Jika aku jadi dirimu, akan ku prioritaskan laki-laki yang coba membahagiakanku.” ujar Vika yang tiba-tiba datang lalu berlalu. Rin tak bisa diam. Dia terus menangis atas nama kerinduan.

Pagi ini keadaan Rin mulai membaik. Begitu pula suasana kampus yang sudah mulai kondusif. Rin sudah setengah tenang dari kemarin. Dia tak banyak berbicara karena suaranya telah habis untuk menangis. Matanya yang lebam seperti dipukul orang sudah jadi pandangan intensif dari Vika. Vika tahu jika itu mata tangisan Rin. Tapi Vika tak ingin mengganggunya. Saat bel istirahat Rin berdiam di kelas. Tak beranjak dari kursinya. Rin hanya terdiam dan terpaku. Meratapi kisah asmaranya yang terombang-ambing. Hingga jam pulang keadaan itu yang memaksa Rin berjalan bagaikan pemimpin negara yang bingung dengan pemerintahannya.

Sesampainya di rumah Rin menghempaskan tubuh lelahnya di atas kasur dengan sprei minion kado dari Aldo waktu SMK dulu. Tiba-tiba i-phonenya berdering. Ternyata ada sms.
“aku pulang.” Dengan nomor yang sama sekali tidak Rin kenal. Rin hanya berpikir ini pasti ulah anak-anak usil. Tapi Rin juga berangan-angan itu adalah Aldo. Angan-angan itu yang membangkitkan Rin untuk pergi ke tempat di mana kerinduannya berpacu. Rin berlari menuju ke sana. Berharap itu bukan angan-angan belaka. Sesampainya di sana, tak ada seorang pun selain Rin. Tubuh Rin mulai lemas. Rin duduk terdiam merintih kerinduan yang sangat dalam. Rin sangat berharap untuk bisa bertemu dengan Aldo saat ini juga.

“Kau menungguku Rin?”

Rin mendengar suara yang tak asing lagi. Saat dia berdiri dan berpaling menghadap suara itu. “Aldo.” Rin terpaku dengan air mata yang sudah ada di ujung mata tapi ditahan. Perlahan Aldo mendekati Rin dan memberikan sepucuk bunga sepatu untuk Rin. Rin membuang bunga itu dan menampar Aldo.
“Kau tak punya otak!! Seenaknya pergi tak pulang-pulang. Kau pikir menunggu itu tak bosan? Kau pikir menahan rindu itu mudah!!” hujatan Rin dengan segala rasa yang beragam.
Aldo menyentuh pipi Rin dengan lembut dan berkata. “terima kasih telah menjadi Ballerinaku yang tetap menunggu dan menepati janjinya.” Setelah itu Aldo memeluk Rin dengan sangat hangat.

“Aku akan tetap kembali di sini, entah kau menungguku atau tidak.” bisikan Aldo untuk Rin.
“Dan aku akan tetap menunggumu di sini, entah kau datang kembali atau tidak.” balasan untuk bisikan Aldo.

Terdengar kalimat itu yang dirajut seperti janji mereka berdua. Kini terbayarlah sudah kesetiaan Rin dengan kembalinya Aldo bersama hati yang masih utuh untuknya. Dan dari balik dinding Rin melihat ada setengah badan Bastian yang menyaksikan kebahagiaan antara Aldo dan Rin. Rin merasa Bastian adalah tiket kembalinya Aldo.

Cerpen Karangan: Windy Annidya Putri
Facebook: Windy Annidya Putri

Cerpen Bunga Sepatu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Complicated About Love

Oleh:
Cahaya yang berubah menjadi kegelapan diterpa hembusan yang menusuk melemahkan dan membuatku tak berdaya. Inilah Aku yang tak terbendung lagi menahan rasa sakit yang mendalam. Luka yang membuatku hilang

Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
Siska berangkat mewakili sekolahnya untuk Perkumpulan Muda Mudi seKabupaten. Disana di bertemu banyak sekali perwakilan dari sekolah sekolah sedaerahnya dan ada cowoknya juga ganteng ganteng lagi, apalagi mentornya. Disana

Aku Bukanlah Segalanya

Oleh:
“Titt… Tiitt!” ku raih segera handphoneku yang lagi nagkring di meja belajarku, ku buka segera sebuah pesan singkat di layar handphoneku. From: Faza Hai Neisya?, met pagi ya:D! Huft,

Serumit Inikah Cinta

Oleh:
Sahabat. Sahabat adalah seseorang yang berharga. Seseorang yang selalu ada saat kita sedih maupun bahagia. Sahabat juga seseorang yang selalu setia membuat hari-hari kita menjadi lebih indah, memberi banyak

Cintaku yang Khianat

Oleh:
Nama ku Senia, panggil aja aku nia. Aku seorang bidan usia ku 23 tahun, aku resmi menjadi bidan baru 3 tahun belakangan ini. Walaupun usia ku tergolong relatif muda

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *