Butuh Kepercayaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 6 June 2016

Aku Fariz, dan hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah di salah satu Universitas di Bandung, ayahku yang pertama kali memintaku untuk kuliah di Bandung. Aku mengambil program studi Komunikasi, dan aku berharap bisa menjadi seorang reporter yang hebat seperti ayahku, dulu dia adalah seorang reporter yang sudah keliling dunia. Hal itu, membuat aku tertarik untuk menjadi seorang reporter seperti ayah.

Masa kuliah jauh berbeda pada waktu aku SMA dulu. Sekarang aku harus bisa menjadi seseorang yang sesuai dengan apa yang menjadi pilihan program studiku itu. Hal ini, tidak terlalu sulit bagiku, semua itu aku tetap lakukan untuk bisa sukses seperti ayahku dulu. Ayahku menaruh besar harapannya di pundakku.

Tak terasa sudah satu semester aku berkuliah disini, semua itu aku nikmati saja dengan senang hati, walaupun terlampau banyak tugas yang diberikan dosen kepada mahasiswa sepertiku, tapi itu semua tak cukup untuk menyurutkan niatku untuk tetap kuliah disini. Disini aku memiliki teman yang baik dan menjadi sahabatku, namanya Zaki, dia berasal dari Jakarta dan dia adalah manusia yang memiliki harapan yang tinggi untuk bangsa dan negara, dia mengambil program studi yang cukup hebat yaitu Hubungan Internasional, dia yakin kelak dia mampu membawa Indonesia terkenal di seluruh dunia.

Selain Zaki, ada temanku yang sama baiknya, selain baik dia juga cantik, namanya Jihan. Jihan adalah seorang wanita cantik dengan segala impiannya, suatu saat nanti dia ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses di Indonesia maupun di dunia. Jihan adalah seorang mahasiswi program studi Bisnis, dia sangat yakin untuk bisa mencapai cita-citanya itu.
Sejak pertama kali bertemu dengan Jihan, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal di benakku. Saat itu, aku sedang membaca buku di perpustakaan, ketika itu Jihan juga ada disana, dan dia sedang mencari buku di dalam rak yang berjajar berhadapan satu sama lain. Saat itu juga, aku yang tengah duduk sambil membaca buku memutuskan untuk berdiri dan menghampirinya.

“Hai, aku Fariz, kamu mahasiswi sini juga kan?” dengan suara agak pelan sambil menyodorkan tanganku meminta jabat tangan dengannya.
“Ya, aku kuliah di sini juga. Perkenalkan, namaku Jihan,” dengan senyum dia menjabat tanganku.
“Kamu ngambil jurusan apa disini?” tanyaku.
“Bisnis, kamu sendiri?” katanya.
“Kalau aku sih komunikasi,” kataku.
“Bagus dong kalau begitu, pasti mau jadi reporter ya?” katanya dengan senyum manisnya.
“Ya benar, kamu nanti malam ada acara nggak?”
“Nggak ada, kenapa?” katanya sambil mengembalikan buku ke rak.
“Mau gak, kita makan malam bersama?” tanyaku dengan suara terbata-bata
“Boleh, kenapa tidak?”
“Baik, nanti malam jam delapan aku ke rumah kamu, gimana?” kataku dengan senang hati.
“Boleh, sebentar ya!” dia memutus kalimatnya itu dan mengambi kertas dan pulpen menulis sesuatu.
“Nih, alamatnya” dia memberi kertas alamat itu padaku.

Akhirnya malam itu kami makan malam bersama, sejak saat itu aku semakin dekat dengan Jihan. Setiap harinya aku selalu mengobrol dengannya, tak bosan walaupun setiap hari aku bertemu dengannya. Kami sudah seperti pasangan kekasih, namun sampai saat ini aku masih menunda untuk menjadikannya pacar. Bukan karena aku tidak mau, tapi aku masih bingung dan belum siap untuk menerima Jihan sebagai kekasihku. Aku belum tahu apakah dia adalah wanita terbaik untukku, aku masih berfikir dan merenung memikirkannya. Sampai suatu saat aku meminta saran kepada Zaki, sahabatku sekaligus teman kosku.
“Lama-lama kepikiran juga,” aku berfikir dan merenung didepan kamar kos lantai dua tempat ku tinggal, dan tiba-tiba Zaki keluar dari dalam.
“Jihan maksudmu?” dia mengejutkanku dari dalam. Lalu, aku menoleh kebelakang.
“Kalau lo suka padanya, ya lo lakuin aja apa yang harusnya lo lakuin!” kata Zaki yang ada di bibir pintu, lalu menghampiriku.
“Maksudnya?” kataku, dan tiba-tiba Zaki menepuk pundakku.
“Hahaha, Fariz… Fariz, kalo memang lo suka, ya lo tembak aja, apa susahnya sih? Lagian lo udah lama jalan bareng sama dia, nunggu apa lagi? Nanti lo keduluan sama yang lain, mau lo?” katanya.
“Ya gak mau lah, tapi…” kataku dengan nada agak tinggi.
“Tapi kenapa?” kata Zaki dengan sedikit nyolot, lalu menghampiriku.
“Ya gue mau nembak dia, tapi nanti,” kataku.
“Kapan? Ini udah semester empat riz, dan lo, gue, dan Jihan sebentar lagi lulus, jadi sudah gak ada waktu lagi,” katanya yang sedang berhadapan dengan ku.
“Iya, tapi gue takut zak,” kataku.
“Takut? Takut kenapa?” katanya.
“Gue takut ngecewain dia, puas lo?” kataku dengan membentak Zaki.
“Heh, lo dengar ya, gak ada yang akan kecewa kalo ada yang namanya kepercayaan riz. Seperti kita, gue percaya pada lo dan lo juga percaya ke gue. Itu yang menyebabkan kita gak pernah merasa di kecewakan satu sama lain, ingat itu baik-baik.” katanya sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
“Ya, nanti gue pikirin,” kataku sambil menjauhi Zaki.
“Kalo begitu terserah lo, lo mau ngedengerin perkataan sahabat lo sendiri atau nggak,” kata Zaki meninggalkanku dan masuk kedalam.

Mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatku itu, aku mulai berfikir dan menghela nafas sambil memandang pemandangan dari lantai dua tempatku tinggal sekarang. Saat itu, aku tahu bahwa apa yang dikatakan Zaki itu benar, sebentar lagi lulus dan aku mungkin tidak bisa bertemu dengan Jihan lagi, aku harus melakukannya, apapun resikonya.
Keesokan harinya, aku berangkat ke kampus seperti biasa, namun kali ini aku berangkat sendiri tidak bersama dengan sahabatku Zaki. Mungkin karena tadi malam, aku memang keras kepala, sampai-sampai Zaki tak mau berangkat bersama denganku. Nanti mungkin aku harus bicara dengannya di kantin.

Akhirnya, aku bertemu dengan Zaki di kantin, walaupun tadi malam dia terlihat marah, akan tetapi sekarang dia biasa-biasa saja, justru dia agak ceria hari ini. Entah kenapa, tapi aku mencoba untuk mendekatinya.
“Hai, maafin gue ya,” kataku sambil duduk dihadapannya.
“Soal apa?” katanya
“Yang tadi malam, lo benar zak. Gue harus lakuin apa yang harusnya gue lakuin.”
“Serius lo?” katanya sambil memakan cemilan.
“Ya”
“Nah, itu baru temen gue. Terus, terus kapan lo mau nembak dia?” katanya dengan berhenti makan cemilan.
“Nanti, kalo ada waktu yang tepat,” kataku.
“Terserah lo dah,” katanya dengan tersenyum
“Kenapa? Lo kenapa sih? Senyam-senyum, kaya orang gila tau gak?” kataku diam-diam.
“Usst… tau gak?” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Apa?”
“Jangan disini, ayo ikut gue!” kata Zaki berdiri dan menarikku.
Aku dibawa pergi oleh Zaki, tapi tak tahu mau apa. Dia mengajakku ke belakang kantin.
“Sudah, sudah, sudah. Lepasin tangan gue, kaya cewek aja lo. Sebenarnya apa yang mau lo katakan?” kataku sambil menarik tanganku dari tangannya.
“Ok, gue baru saja nembak cewek,” katanya sambil berbisik.
“Serius lo? Siapa? Terus kapan?” kataku yang penasaran.
“Usst… jangan keras-keras!’ katanya sambil menutup mulutku.
“Mmmmm” aku terbekap tangannya, dan Zaki melepaskan tangannya dari mulutku.
“Namanya Ulfa, dia salah satu mahasiswi jurusan sejarah di kampus ini.”
“Wah… gimana orangnya? Cantik gak?” kataku yang semakin penasaran.
“Menurut gue cantik sih, tapi gak tau kalo menurut lo?”
“Yang mana sih orangnya?” kataku dengan menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Yuk kekantin, jam segini dia biasanya udah keluar!” kata Zaki dan menarikku lagi.
Kami pun kekantin, dan Zaki menunjukan cewek yang dia ceritakan itu padaku. Ternyata yang dikatakannya benar, cewek itu memang cantik dan manis. Sepertinya aku juga mengenal cewek itu. Sejenak aku mengingat-ingat kapan aku pernah berjumpa dengan cewek itu. Setelah lama mengingat, aku sadar ternyata cewek itu adalah kekasihku dulu waktu kelas dua SMA, aku tak menyangka dia juga kuliah di sini. Hal itu, membuat aku semakin kurang yakin untuk menembak Jihan, bagaimana kalau dia tahu bahwa Ulfa itu adalah mantan pacar aku. Biarlah, aku harus pura-pura tidak ingat, walaupun dia pasti mengingatku jelas.
Aku ditarik oleh Zaki dan diperkenalkan pada Ulfa, sepertinya Ulfa juga pura-pura tak mengingatku. Padahal jelas sekali dari wajahnya dia masih mengingatku dengan apa yang sudah aku lakukan dulu ketika bersamanya, tapi ini mungkin dia lakukan agar Zaki tak cemburu denganku ketika tahu kalau aku dan Zaki bersahabat. Saat itu, aku sejenak lupa dengan Jihan, mungkin karena cinta pertamaku, aku temui lagi disini, memang dulu aku sempat memutuskannya sebelum lulus SMA, tetapi sebenarnya bukan aku yang memintanya untuk putus, namun dialah yang meminta hubungan kita berakhir. Namun, hal itu akan aku rahasiakan dari Zaki dan juga Jihan.

Aku membiarkan sahabatku itu bersama Ulfa di kantin, aku memilih untuk menuju perpustakaan dan berharap bisa betemu dengan Jihan disana. Aku tahu Jihan memang suka membaca buku, dia tak jauh beda denganku, bedanya dia lebih suka membaca buku ilmu pengetahuan, sedangkan aku lebih suka membaca novel dan komik. Aku masuk ke dalam perpustakaan dan melihat Jihan yang sedang fokus membaca buku. Lalu, aku mencoba duduk di sampingnya dan menyapanya.
“Hai,” kataku dengan melihat ke wajahnya.
“Oh, hai Fariz, sedang apa kamu disini?” dengan terkejut dia berkata padaku.
“Baca buku lah, apalagi? Makan?” kataku dengan senyuman.
“Kamu ini ada-ada saja,” katanya dengan tertawa pelan.
“E…” belum sempat melanjutkan perkataanku bel masuk berbunyi.
“Sudah bel tuh, aku masuk kelas dulu ya…” menutup bukunnya dan mengembalikannya serta meninggalkanku.

Sebenarnya hari itu aku rencana akan menembaknya, namun apa daya tadi kelamaan di kantin bersama Zaki dan Ulfa semuanya jadi gagal. Tapi tak apalah, mungkin ini bukan saatnya. Hari ini aku pulang bersama Zaki, walaupun tadi waktu berangkat tidak bersamanya. Aku sekarang tahu semarah-marahnya Zaki padaku dia tak mungkin meninggalkanku begitu saja, selain itu dia tetap percaya padaku bahwa aku bisa menjadi teman yang baik, yang mau mendengarkan perkataan orang lain.

Hari pun sudah siang, matahari juga sudah mulai bergerak dari atas kepalaku. Sebentar lagi bel pulang berbunyi, tapi aku tak tahu apakah Jihan sudah pulang ataukah belum. Tak lama kemudian bel itu pun berbunyi nyaring, dan Zaki sudah mengajakku untuk pulang bareng, tapi aku menolaknnya. Aku ingin bicara dulu dengan Jihan. Walaupun ketika aku sudah diluar ternyata Jihan belum juga keluar, dan itu membuatku harus menunggu sebentar. Setelah sepuluh menit aku menunggu, Jihan akhirnya keluar juga, tapi ada sesuatu yang aneh, dia keluar bersama seseorang lelaki yang tidak aku kenal, aku pun mulai berfikir kalau lelaki itu adalah pacar dari Jihan, ditambah lagi mereka berdua lewat di depanku dan pulang bersama menaiki sebuah motor sport yang harganya mahal itu. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang sendiri dengan hati gelisah. Namun, tiba-tiba Ulfa memanggilku dari kejauhan.
“Fariz,” kata Ulfa dengan beteriak, lantas aku menoleh kearahnya.
“Ulfa?” kataku dengan sedikit heran.
“Kenapa? Nggak nyangka ya kamu kuliah disini.”
“I..ya, yang aku heran kenapa kamu juga kuliah disini bukannya dulu kamu mau ke luar negeri?” tanyaku dengan malu-malu.
“Aku lebih suka kuliah disini, disini banyak temen, baik-baik lagi.”
“E.. iya sih, kalau boleh tahu kamu tinggal dimana?”
“Oke, kalau kamu mau tahu, yuk pulang bareng nanti kuajak ke rumah ku” kata Ulfa dan menarik tanganku.

Akhirnya, kami berdua pulang bersama menaiki motor bebek milikku ini. Di perjalanan dia mengingatkanku sewaktu masih berpacaran dengannya.
“Jadi ingat dulu ya,” katanya yang sedang duduk dijok belakang. Mendengar perkataan itu aku hanya bisa terdiam dan melihat ke arah tangan Ulfa yang sedang memegangku erat-erat.
“Kok diam? Ingat gak? Dulu kita sering pergi bersama…. makan bersama…. aku ingat loh waktu pertama kali kamu ajak aku ke suatu tempat yang indah… banget, dan waktu itu kamu juga pertama kalinya kasih kado aku sebagai tanda bahwa kamu mencintaiku, saat itu adalah masa-masa terindah yang pernah kita lalui bersama. Tapi sayang, kini itu semua hanya menjadi cerita,” kata Ulfa, dan kami sampai di depan tempat tinggal Ulfa.
“Disini tempatnya?” tanyaku dengan menghentikan mesin motor.
“Iya, masuk dulu yuk!” kata Ulfa.
“Nggak ah, aku belum sholat duhur, mau sholat dulu. Aku pergi dulu ya,” kataku dan meninggalkannya.

Aku langsung pergi meninggalkan tempat itu, dan menuju ke kos-kosan ku yang berjarak sangat jauh dari tempat ini. Sesampainya di kos, aku tak akan menceritakan hal tadi kepada Zaki. Aku lebih memilih diam di kamar kos ku sambil membaca novel yang tadi aku pinjam dari perpustakaan. Ketika aku berada dalam kos, disana hanya ada aku dan juga Zaki. Dia terlihat sedang mempersiapkan sesuatu, mungkin itu hadiah untuk Ulfa nanti malam, karena nanti malam adalah malam minggu. Biasanya anak muda suka pacaran pada malam minggu, tapi tidak denganku. Aku lebih memilih di dalam kamar kos, ya mungkin ini karena aku tidak punya pacar. Diam-diam aku menghampiri Zaki dari belakang.
“Hei,” kataku dengan mengagetkannya.
“Apa?” kata Zaki tanpa menoleh kearahku.
“Serius amat, aku tahu itu pasti buat Ulfa kan?” kataku dengan senyum.
“Nggak, ini buat Jihan.”
“Oh… jadi begitu, oke kalau begitu,” kataku yang kaget hadiah itu untuk Jihan.
“Kenapa? Cemburu ya?” katanya sambil tertawa mengejekku.
“Nggak, siapa yang cemburu?” kataku malu-malu.
“Udah, terserah lo. Yang jelas ini untuk wanita yang aku kagumi selama ini.”
“Tau ah, mending gue lanjut baca nih novel,” kataku dan meninggalkan Zaki untuk melanjutkan membaca novel.
“E… riz..riz. lo ntar malem mau jalan dengan Jihan kan?”
“Gak ah, males gue.”
“Wuih, hebat banget lo, lo pikir dia akan peka sama lo dengan mudah gitu?” katanya dengan berdiri sambil bertepuk tangan.
“Terserah lo mau bilang apa,” kataku menutup novel dengan kencang.
“Ok, gue gak mau debat lagi sama lo,” kata Zaki dan meninggalkanku sendiri.

Hari pun tak terasa sudah malam, aku disini sendirian gak ada temen. Semua teman kos gue menikmati malam minggu bersama pacar mereka masing-masing, hanya aku yang disini sendiri membaca novel yang dari tadi siang belum aku selesaikan. Membaca novel sendirian didalam kamar membuat aku bosan dan memutuskan untuk menelpon Jihan, tapi aku tidak yakin kalau Jihan malam ini sedang ada di rumah. Mana mungkin dia di rumah, dia sekarang ini mungkin sedang ada bersama pacarnya bermalam minggu di luar. Tapi, aku tetap akan menelponnya.
“Halo.”
“E, halo. Ada apa riz?”
“Kamu lagi ada dimana?”
“Di rumah, kenapa? Kamu mau kerumah? Jangan dulu ya, aku sedang ada kerjaan nih.”
“Loh, bukannya kamu sudah punya pacar. Biasanya malam minggu cowok-cowok pada datengin pacarnya dan ngajak malam mingguan. Cowok kamu gak ke rumah kamu?”
“Cowok? Cowok yang mana? Aku belum punya pacar.”
“Belum?, lha tadi kamu pulang sekolah sama siapa?”
“Oh, itu. Dia kakak angkat aku, namanya Wais.”
“Kakak angkat kamu?”
“I..ya. dulu, kakak kandungku meninggal terus ayah aku tertekan karena gak mempunyai anak laki-laki lagi, dan beliau memutuskan untuk mengadopsi seorang anak yang sudah besar sebenarnya.”
“Jadi begitu, udah dulu ya, maaf sudah mengganggu.”
“Gak apa-apa kok.”

Setelah pembicaraan itu, harapanku terbuka lebar untuk bisa memiliki cintanya seorang Jihan dengan utuh, aku sangat senang dan aku berencana untuk secepatnya menemui Jihan dan mengatakan hal ini kepadanya. Aku melanjutkan membaca novel yang dari tadi belum juga aku selesaikan. Tak terasa waktu sudah jam sepuluh malam, temanku Zaki baru pulang malam mingguan bersama Ulfa. Zaki nampak gembira malam ini, sepertinya dia sudah mulai nyaman dengan Ulfa. Aku mengerti perasaan Zaki yang terlihat dari mimik mukanya itu. Dia tak bicara apa-apa padaku malam ini, dia langsung tidur di kamarnya, mungkin dia sangat lelah seharian keluar. Melihat Zaki sudah tidur aku juga bergegas untuk tidur, sebelum tidur aku masih teringat dengan Jihan, wajahnya yang cantik telah meracuni pikiranku, aku tak bisa tidur memikirkan gadis itu, dan itu membuat aku nekat untuk menemuinya besok.

Keesokan harinya, Zaki sudah menungguku untuk berangkat ke kampus bareng. Hari ini aku berangkat bersama Zaki. Hari ini juga aku berencana untuk mengajak Jihan ke suatu tempat, Zaki senang sekali mendengar rencanaku itu.
Hari ini tak ada yang istimewa sama seperti kemarin, aku masih tetap makan di kantin bersama Jihan. Namun, kali ini aku tidak hanya bersama Jihan saja disini, tapi juga bersama Zaki dan Ulfa, hal ini membuat aku malu untuk mengajak Jihan nanti malam. Selesai makan di kantin, Jihan pergi meninggalkan kami bertiga untuk menuju perpustakaan. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera mengikutinya ke perpustakaan. Di perpustakaan aku cukup leluasa untuk mengajak Jihan nanti malam, tak ragu-ragu aku mengatakan hal itu pada Jihan, ini suatu kebetulan atau memang takdir Tuhan, nanti malam Jihan tak terlalu sibuk seperti malam minggu kemarin, jadi dia tak keberatan menerima ajakanku. Sepulang dari kampus, aku langsung menuju ke kos-kosanku bersama Zaki temanku, dan dia senang aku katakan kalau aku nanti malam mau keluar dengan Jihan.

Malam ini, langit sedang cerah dan berbintang, aku bersiap-siap untuk pergi ke rumah Jihan, aku tak terlalu suka berpakaian yang terlalu gaya, aku lebih suka berpakaian sederhana, dan itu membuat Zaki tertawa. Dia berkata, aku tak pantas berkencan dengan menggunakan pakaian yang sedang aku gunakan ini, tetapi aku tak memperdulikannya dan tetap pergi menemui Jihan.

Malam ini benar-benar malam yang indah, aku berhasil mengajak Jihan keluar dan pergi menuju suatu tempat yang bagus sekali. Aku mengajak Jihan ke sebuah restoran di pusat kota. Di tempat itu aku mengatakan sesuatu padanya.
“Terima Kasih kamu sudah mau aku ajak kesini,” kataku yang sedang berhadapan duduk dengannya di meja makan.
“Ngomong-ngomong tumben kamu mau pergi malam-malam seperti ini dengan cewek, kata Zaki, biasanya kamu gak pernah mau diajak pergi malam-malam seperti ini sama cewek lagi,” kata Jihan menghentikan makan.
“I..iya, sebenarnya aku mau ngomong sesuatu ke kamu.”
“Ngomong apa?”
“Kamu mau gak jadi pacar aku?” tanyaku malu-malu.
“Kamu… serius?” katanya.
“Iya, aku serius.”
“Baik, aku mau jadi pacar kamu, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu.”
Sejak saat itu, aku berpacaran dengan Jihan. Setiap hari, kami bertemu dan jalan bareng yang tak pernah membuatku bosan. Sampai pada hari dimana aku selesai dengan kuliah ku, dan hari ini aku, Jihan, dan juga Zaki di wisuda. Setelah lulus, aku mulai bekerja di salah satu media massa di Bandung, dan aku masih tetap ngekost di tempat itu dan masih bersama Zaki disana. Selain itu, aku masih berpacaran dengan Jihan yang selama ini memang dekat denganku.
Dan akhirnya, aku memutuskan untuk menjadikan Jihan sebagai istriku, aku mulai mempersiapkan cincin untuk mempersunting dirinya, aku membelikan cincin terbaik yang mungkin belum pernah aku lihat. Dan aku segera memberikan cincin itu dan mengatakannya pada Jihan. Aku mengajak Jihan ke suatu tempat yang tak kalah indahnya dengan restoran waktu itu.

“Say, mau gak kamu jadi istri aku?” kataku sambil membuka tempat cincin itu mengarah kepadanya. Sontak dia terharu dan memelukku lalu berkata, “ya, aku mau,” dan aku melanjutkan perkataanku, “Ingat sayang, yang harus kamu lakukan adalah percaya sama aku, dan aku juga akan percaya padamu.”
Kami akhirnya menikah. Aku sangat senang dengan pernikahanku ini. Aku juga mulai kepikiran temanku Zaki. Apakah dia jadi menikah dengan Ulfa ataukah tidak. Aku mencoba untuk menghubunginya tapi tak tersambung, dia juga tidak datang ke pernikahanku, ini membuat aku khawatir padanya.

Sudah dua tahun aku menikah dengan Jihan, dan hubungan kami lancar-lancar saja, sampai pada akhirnya Zaki datang ke rumahku yang sudah berada di kota Malang, kota asalku.
“Assalamualaikum,” Zaki mengetuk pintu dengan keras.
“Waalaikumsalam,” aku menjawab dan membukakan pintu, tiba-tiba Zaki memukulku dengan keras. Lalu, aku bertanya, “ada apa Zak? Kok lo mukul gue?”
“Lo udah ngehancurin semuanya!! Persahabatan kita, harapan gue!! Entah apa lagi yang mau lo hancurin!!” Zaki membentakku.
“Maksud lo apa?” kataku.
“Lo sudah mempermainkan perasaan Jihan, ngaku aja lo!! Kemarin lo jalan sama Ulfa kan?” Zaki tetap membentakku.
“Kemarin gue hanya nganter Ulfa pulang, emang kenapa?”
“Masih tanya kenapa, eh… lo gak sadar atau memang sudah pikun ya? Lo sudah gagalin pernikahan gue!! Ngerti lo?” kata Zaki sambil memegang kerah bajuku dengan nada marah.
“Tunggu… tunggu! Maksud lo…” belum selesai aku bicara Zaki memotongnya.
“Ya, lo tau gak? Ulfa tuh masih suka sama lo, dan waktu dia tau lo nikah sama Jihan dia nangis dan malah mutusin gue, dan jelas gue gagal nikah sama dia. Kenapa lo gak bilang kalau si Ulfa tuh mantan pacar lo? Lo sudah ngehancurin kepercayaan gue, padahal gue sangat percaya pada lo, dan karena lo sudah merobohkan kepercayaan itu, mulai sekarang kita gak usah temenan lagi.” Zaki pergi dengan keadaan marah meninggalkanku.
Ternyata Jihan mendengar pembicaraan kami tadi diluar, dan dia juga memarahi aku.
“Siapa itu Ulfa?” kata Jihan dengan nada sedikit marah.
“Temen aku, “
“Bukannya dia mantan pacar kamu? Kenapa kamu gak balik sama dia?”
“Aku sudah gak suka sama dia lagi, kamu percaya kan?” kataku dengan mendekati Jihan.
“Ya, aku percaya kamu, karena kamu dulu pernah berkata padaku bahwa kamu percaya padaku dan aku juga percaya padamu. Tapi, kenapa?” katanya, dan aku langsung memeluknya.
“Sudah, aku gak akan bertemu dengannya lagi, aku berjanji,” kataku dan mencium keningnya.
Akhirnya, aku dan Jihan hidup bersama di luar negeri, aku mengajak Jihan ke Kopenhagen, salah satu kota di negara Belanda, karena aku ditugaskan menjadi reporter disana. Kami hidup tenang disanaa. Walaupun begitu, aku masih tetap merindukan Zaki, sahabat terbaikku.

Cerpen Karangan: Muhammad Arsyad
Facebook: Arsyad Moeslimsejati’s
Nama: Muhammad Arsyad
Lahir: Pekalongan,9 Mei 1998
Tempat Tinggal: Pekalongan Utara, Pekalongan Jawa Tengah

Cerpen Butuh Kepercayaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Aku Dia dan Dirinya

Oleh:
4 Juni 2013 Aku tak tau harus bagaimana dan berbuat apa. Aku sangat mencintai dia dan dirinya. Aku sudah jadian sama dia, kurang lebih tiga bulan.. Selama tiga bulan,

Eccedentesiast

Oleh:
Eccedentesiast. Itulah reina. Gadis yang selalu menyembunyikan semua masalahnya dibalik senyumannya. Banyak hal yang terjadi di hidupnya namun kini masalahnya tak dapat lagi ditutupi oleh sebuah senyuman. “Reina…” Panggil

Novel Perasaan

Oleh:
Prok.. Prokk.. Prokk. Suara tepukan tangan dari banyak orang itu masih terngiang di telingaku. Hari ini, di lapangan upacara, semua mata tertuju padaku. Namaku disebut-sebut oleh Kepala Sekolah saat

Diakhir Sunset

Oleh:
Aku terkenal dengan sifat ceriaku yang ditandai tertawaku yang terbahak dan menimbulkan gema dan gelombang suara yang cukup keras di antara suara normal lainnya. Panggil saja aku ica. Pangilan

Cafe Biru Muda

Oleh:
Mereka duduk berdampingan, sementara di seberang meja seorang gadis berambut sebahu tertunduk resah. Meja bernomor 18 itu diliputi ketegangan. Bahkan tidak ada seorang wetress pun yang berani mendekat padahal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *