Catching Lyn (Dwilogi Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 7 July 2016

Aku menatap wanita yang saat ini duduk di hadapanku. Aura kecanggungan terasa pekat menyelimuti. Ia masih tampak sama sekaligus berbeda. Wajahnya masih tampak imut bagiku, seakan waktu berhenti disekitarnya. Namun ia juga tampak lebih dewasa. Sapuan make-up tipis yang tidak berlebihan membuatnya tampak jauh lebih cantik dari yang aku ingat. Aku berdehem pelan memecah keheningan.

“Jadi, apa kabarmu?” tanyaku perlahan membuat kedua bola matanya yang besar menatapku. Ah, tatapan itu yang sangat aku rindukan.
“Hm. Aku baik, Sam. Kamu apa kabar?” tanyanya lirih. Mendengarnya menyebut namaku dengan “SAM” membuat hatiku menghangat teringat akan masa lalu. Hanya dia yang menganggap namaku indah dan tak pernah mengolokku dari sisi manapun.
“Sam?” suara lembutnya yang sedikit cempreng itu membuatku tersentak ke masa sekarang.
“Aku baik. Jadi apa yang kamu lakukan sekarang?”
‘Apa kamu sudah memiliki tambatan hati?’ namun pertanyaan itu hanya terhenti di ujung lidahku.
“Aku bekerja sekarang.” Jawabnya sembari mengangkat bahunya yang mungil.
“Benarkah? Dimana?” Ia menyebutkan salah satu perusahaan swasta terkenal yang membuatku takjub dan tersenyum kecil membayangkan suara cemprengnya yang seperti anak-anak menjawab panggilan telepon atau melayani seorang customer.
“Bagaimana denganmu?” tanyanya.
“Ah, aku hanya mengelola kafe kecil-kecilan.” Jawabku berusaha terdengar rendah hati. Ia tersenyum. Senyum yang sangat aku rindukan.
“Sudah kuduga, kamu memang berbakat di bidang bisnis.” Ucapnya tertawa kecil. Ah, satu lagi yang aku rindukan padanya.
“Hem, jadi kamu ini pacarnya Nara?” tanyanya dengan kepala tertunduk. Entah mengapa mendengar pertanyaannya yang sarat akan keraguan membuat harapanku sedikit timbul.
“Bukan. Aku kakak sepupu Nara. Dia baru pulang dari Singapore dan tidak terbiasa menyetir di kota kecil.” Jawabku kemudian teringat alasan mengapa aku berada di hadapannya sekarang. “Ah, maafkan Nara ya. Nara sudah cerita bahwa ia menabrak mobil seorang perempuan. Tapi aku tidak tahu kalau itu kamu.” Ucapku sambil tersenyum sedikit bersyukur karena Naralah yang mempertemukanku dengan wanita di hadapanku sekarang ini.
“Tidak apa kok, Sam. Itu hanya kecelakaan kecil. Mobilku juga hanya tergores. Lagipula aku sudah bilang tidak apa tapi Nara yang memaksa untuk mengganti biaya catnya. Tapi kenapa malah kamu yang kemari?” ia mengerutkan keningnya dengan heran.
“Nara sedang ada kuliah di kampusnya. Jadi ia minta tolong padaku untuk menggantikannya.” Ucapku mengangkat bahu. “Maafkan Nara ya, Lyn. Dia tidak sengaja. Tapi aku akan mengganti biayanya kok.”
“Oh, itu tidak perlu Sam. Hanya lecet sedikit saja.” Ucapnya sembari menggelengkan kepala membuatku terdiam. Kalau wanita ini menolak itu berarti aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Dan itu membuat harapanku pupus bukan?
“Tidak. Aku akan tetap menggantinya. Aku akan memberitahukan bengkel yang bagus untukmu. Bagaimana?” tanyaku berharap ia menerimanya.
“Tapi aku..”
“Ayolah, Lyn. Lagipula Nara akan membunuhku jika dia tau pada akhirnya menolak. Kamu tahu dia memiliki tanggung jawab yang sangat besar.” Ucapku membujuknya secara halus meski sedikit melebihkan sifat Nara yang sebenarnya.
“Baiklah jika itu tidak merepotkan.” Jawabnya ragu namun mampu membuatku menghela nafas lega.
“Tentu saja tidak. Sama sekali tidak merepotkan. Oh, bagaimana kalau kamu memberikan nomormu padaku?” kataku berusaha tidak terdengar terlalu bersemangat. Ia menatapku ragu sebelum mengeluarkan handphonenya dan mengusap layarnya. Tiba-tiba saja ide itu terlintas dalam benakku. Dengan perlahan aku mengeluarkan smartphoneku dan membuka menu kamera. Seakan pura-pura mengetikkan pesan pendek aku mengarahkan layar kamera dan menangkap gambarnya yang tengah sedikit menundukan kepala.
“Jadi berapa nomormu?” tanyaku masih tetap mengarahkan layar. Saat ia menatapku aku kembali menagkap bayangannya dan mengabadikannya di lensa kamera handphoneku.
“Bagaimana kalau line atau bbm saja?” tanyanya ragu. Aku mengangkat bahu tanda aku tak keberatan. Ia menyorongkan handphonenya ke arahku yang memperlihatkan kode bar linenya. Dengan cepat agar tidak dicurigai aku segera membuka lineku dan mengarahkannya ke bar kodenya.
“Thanks ya Sam.”
“Tidak masalah.” Ucapku sembari meletakkan handphoneku dan menatapnya yang meraih handphonenya.
“Habis ini langsung pulang?” ia menganggukkan kepala membuat beberapa helai rambutnya terjatuh di pundak. Ia masih sama seperti dulu. Setiap mengikat rambut selalu tidak beraturan hingga terkadang helaiannya terlepas dan sering kali aku menahan diri untuk tidak menyelipkannya ke balik telinganya.
“Naik mobil?” tanyaku lagi. Sedikit berharap ia yang berbalik bertanya kepadaku. Seperti apa aku punya pacar mungkin?
“Tidak. Hari ini mobil aku tinggal di rumah.”
“Mau aku antar?” ia tertegun sejenak mendengar tawaranku.
“Ehm.. itu..”
“Tidak apa. Lagi pula aku sudah lama tidak bertemu dengan Bunda.” Ucapku yang entah mengapa membuatnya tak nyaman. Aku memang sangat mengenalnya selama tiga tahun dan begitu akrab dengan Bunda dan Ayahnya. Sehingga terkadang jika ijin sebuah acara mereka pasti menitipkannya padaku.
“Aku..”
“Kaly!” suara itu membuatku menoleh dan menemukan sosok tegap dan tampan menghampiri gadis itu. aku terdiam sejenak saat menyadari bahwa wajah itu begitu familiar.
“Steven” tanpa sadar aku menyebutkan namanya membuatnya menoleh dan terkejut melihatku yang duduk di seberang Kaly. Tatapannya kembali ke arah Kaly dan menatapnya dengan pandangan bertanya. Aku mengerutkan kening, bingung, mengapa Steven menatap Kaly seperti itu? Dan mengapa pula Steven berada di sini?
“Ehm. Stev, ternyata Sam ini kakak sepupunya Nara. Yang nabrak aku kemarin.” Jelas Kaly membuatku semakin mempertanyakan kedekatan mereka. Firasat buruk menyelimutiku.
“Hey Sum. Apa kabar?” Steven menatapku dengan tatapan yang puas? Ia mengulurkan tangannya ke arahku. Seperti gerakan robot bodoh aku hanya bisa membalasnya dengan tatapan tidak mengerti.
“Baik. Kamu..”
“Tunangannya Kaly.” Jawaban Steven entah mengapa membuat saat itu juga kakiku hampir seperti jelly. Namun dengan cepat aku merubah ekspresiku.
“Ah. Sejak kapan?” tanyaku berusaha menekan rasa kecewa dan amarah yang menggelegak.
“Dua bulan yang lalu.” Steven mengangkat bahunya acuh dengan wajah berbinar dan saat itu aku harus menahan diriku untuk tidak melayangkan tinjuku. Aku mengangguk pelan kemudian berusaha tersenyum lebar ke arah pasangan itu.
“Selamat.” Aku mengangguk ke arah Steven dan Kaly yang sedari tadi meenundukkan kepala.
“Jadi, apa masalahnya sudah selesai?” tanya Steven meski aku tahu ia hanya berbasa-basi.
“Sudah. Aku akan mengganti biaya perbaikannya. Hm. Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama. Besok aku hubungi lagi untuk bengkelnya, Lyn. Tolong jaga Lyn baik-baik.” Ucapku dan tanpa menunggu respon keduanya aku berbalik dan melangkah pergi seakan menyeret kenangan masa lalu yang sudah retak dan terasa begitu berat.

Aku tahu, mungkin aku adalah pria terbodoh yang pernah hidup. Bukan hanya bodoh namun juga berengsek. Layar handphoneku menampilkan foto yang diambil tadi siang. Sosok yang sampai saat ini tak mampu aku lupakan. Sosok yang membuatku merasakan bagaimana menjadi seorang pecundang, pengecut. Kalyna. Atau Lyn. Banyak orang yang bertanya mengapa aku memanggilnya Lyn, bukan Kaly seperti yang lain. Aku sendiri memiliki alasan tersendiri. Ingatan membawaku dimana pertama kali aku bertemu dengan gadis itu.
Gadis itu mungil, bahkan tingginya mungkin tidak mencapai seratus lima puluh centi. Namun ia berdiri di depan seorang lelaki yang jauh lebih tinggi darinya memarahi pria itu karena tanpa sengaja menyenggolnya dan justru menyalahkan gadis itu. Pose gadis itu terlihat menantang dan menandakan ia tidak takut. Saat itu yang aku tidak peduli dan tidak ingin peduli. Namun saat tanpa sengaja mataku bertemu pandang dengan kedua bola mata besar yang mengingatkanku pada burung merpatiku yang sangat aku sayangi, aku langsung terpaku. Bukan hanya itu, kedua matanya memancarkan perasaan takut hanya ia tidak memperlihatkannya dari sikapnya. Hanya karena itu aku langsung membantunya, menghadang dan mengusir pria itu dengan sedikit gertakan. Aku bahkan bisa melihat kelegaan dari sorot yang terpancar di matanya.
Saat itu aku memutuskan, akulah yang akan menjaganya. Gadis mungil yang terlihat rapuh dan lembut di luar. Meskipun sebenarnya ia sangat kuat dari dalam. Itulah yang membuatku kagum padanya, dan tidak menyamakannya dengan gadis lainnya. Lyn, adalah nama panggilanku untuk burung merpatiku. Aku memanggilnya seperti itu karena ia mengingatkanku padanya. Ia sama seperti merpati yang cantik, mungil dan lembut namun memiliki ketahanan mental seperti baja. Bukan hanya itu, merpati selalu setia. Dan Lyn tak pernah mengingkari teman-temannya.

Aku tidak peduli dengan perkataan siapapun. Gosip apapun. Banyak orang yang mempertanyakan kedekatanku dengan Lyn. Namun selama mereka menjaga mulut mereka di samping Lyn, maka aku tidak akan melayangkan tanganku. Aku menjaganya dari para serigala yang seakan melihat gadis itu seperti daging segar mentah yang lezat. Lyn sendiri imut dan manis, meski aku yakin ia tidak menyadarinya. Senyumnya sering kali mengalihkan perhatian para lelaki. Salah satunya Steven. Pria yang katanya para wanita menjadi idola.
Aku tidak menyukainya, karena ia sering kali menatap Lyn dan mengamati gadis itu dari jauh. Jadi yang bisa aku lakukan hanyalah melindungi Lyn darinya. Ia lelaki yang suka mempermainkan wanita. Tapi justru akulah yang menyakiti gadis itu. Ya, aku tak bisa melupakan bagaimana ekspresi Lyn ketika ia di atas panggung. Saat dimana aku terakhir kali bertemu dengannya di usia kami yang masih muda.
Saat ini, ketika aku menyadari perasaanku bertahun lalu dan bertahan untuk tetap mencarinya, takdir mempertemukanku dengannya namun dengan posisi yang berbeda. Lyn, sudah menjadi milik orang lain. Dan itu Steven. Lelaki yang berusaha aku jauhkan dari Lyn malah menjadi tunangannya. Sedang aku? Hanya bisa memukuli kepala atas kebodohanku. Hidup itu ironis, bukan?

“Saaaam!” suara cempreng itu membuatku tersadar dan langsung memasukkan handphoneku secepat kilat ke dalam saku celana. Sosok ramping tinggi dengan rambut panjang yang dihighlight merah menyembul dari pintu kamarku.
“Gimana kejutannya? Suka?” tanya Narra dengan seringaian lebar. Aku menyipitkan mata. Bagaimana gadis kecil yang suka ikut campur ini tahu?
“Dari mana kamu tahu?” sentakku kesal. ia mengangkat bahunya berusaha bersikap sok misterius.
“Nara! kalau kamu tidak kasih tahu, aku adukan ke Pops kalau kamu menyetir tanpa SIM!” ancamku yang berhasil membuat wajahnya pucat. Pops adalah ayah Nara dan satu-satunya pria yang paling gadis itu takuti.
“Cih. Sudah tua jadi cepat tersinggung.” Nara melangkah masuk ke dalam kamarku dan menjatuhkan dirinya di atas kasur kesayanganku.
“Jadi?”
“Okeee.. Aku ke rumah Mama dan masuk ke dalam kamar lamamu. Dan mudah saja, di sana terlalu banyak foto si gadis. Mama bahkan bilang kalau Mama sangat menyukai gadis itu. jadi tebakannya adalah, ia adalah pacar-yang-tak-terlupakan. Benar bukan?”
“Salah. Apa kamu sengaja menabraknya?” entah mengapa dugaan itu muncul di benakku.
“Astaga. Tidak! Aku sama sekali tidak sengaja menabraknya. Aku hanya terkejut ketika melihat wajahnya. Itu saja.”
“Jadi kamu memintaku menggantikanku karena tahu semua itu?”
“Begitulah. Jadi?”
“Apanya?”
“Ya pertemuanmu dengannya! Apa ia masih mengingatmu?” aku terdiam, terngiang akan percakapan di salah satu kafe tadi siang. Kemudian mengangkat bahu.
“Ia sudah bertunangan.” Jawabku singkat.
“Lalu?” Nara mengangkat sebelah alisnya membuatku menatapnya seakan ia makhluk terbodoh yang pernah kulihat.
“Dia sudah bertunangan Nara. Sudah berakhir semua. Titik.” Tegasku membuatnya mengernyitkan dahi.
“Bukankah ada pepatah, sebelum janur kuning melengkung, sikat saja?”
“Sikat sikat, emang dia barang apa?” gerutuku kesal membuat Nara terkekeh riang tampak senang berhasil mengusikku.
“Ayolah Sam. Lagipula apa yang kurang darimu? Kamu tidak terlalu jelek kok. Gagah, tinggi. Bussinessman sukses, sudah punya rumah, mobil. Lalu apa lagi?” Nara melambaikan tangannya membuatku kesal. Ia belum melihat Steven jadi ia dapat berkata seperti itu.
“Sudahlah Nar. Aku tidak ingin merusak apapun dan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya.” Ucapku sembari mengisyaratkan untuk segera angkat kaki dari rumahku.
“Apa kamu yakin Sam, kamu tidak ingin melakukan apapun? Jangan sampai menyesal untuk yang kedua kalinya. Siapa tahu dia justru lebih bahagia denganmu.”
“Pulanglah, Nar.” Ucapku tegas yang membuatnya mengatupkan bibir dengan kesal. Sambil mendengus, Nara segera meninggalkan kamarku dengan hentakan kakinya. Aku segera menutup pintu kamar kemudian merebahkan tubuhku di atas kasur. Ucapan Nara terngiang di benakku. Mengembalikan Lyn di sisiku tidaklah semudah itu. Lyn, apakah dia bahagia dengan Steven? Entahlah. Mungkin memang sebaiknya aku tidak mengusik hubungan Lyn dan Steven sekalipun itu terasa berat untukku.

Cerpen Karangan: yvonemelosa
Blog: www.duniadalamimajinasi.blogspot.com
Facebook: https://web.facebook.com/yvoniaphenomenic

Cerpen Catching Lyn (Dwilogi Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Melawan Bayangan

Oleh:
Gerimis dan lagu-lagu mellow adalah pasangan yang paling romantis di sore seperti hari ini. Perlahan rinainya membasahi alam. Sama dengan gerimis di pipi Nessa yang perlahan-lahan kian membanjir. Sedikit

Karena Hujan, Aku

Oleh:
Kupaksakan kakiku untuk menopang perjalanan menuju pulang, tubuhku pun dibiarkan basah begitu saja. Sudah terlanjur! Rintikan hujan sedari tadi tak membuatku dan Ara berhenti berjalan, kami berjalan menyusuri jalan

Kenapa Harus Aku?

Oleh:
Tuhan. Sesungguhnya aku tak ingin kebahagiaan. Tapi, aku butuh kebahagiaan Tuhan, karena Kau tak akan memberi apa yang kubutuhkan melainkan memberi apa yang ku butuhkan. Erna hanya termenung memandang

Sahabat Sejati

Oleh:
Pada saat aku masuk SMP, aku itu menyukai seseorang dia itu bernama Rangga. Dia orangnya itu baik sekali dan nggak kayak yang lain. Di kelas 7 ini aku duduk

Hot Bread Factory

Oleh:
Ku terus berjalan menelusuri dinginnya udara malam. Cardigan yang saat ini aku gunakan kurasa kurang bisa menutupi udara dingin malam ini. Tak lupa juga kugunakan penutup kepala berbentuk minion

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *