Cinta Lama Datang Kembali (Part 2)

Judul Cerpen Cinta Lama Datang Kembali (Part 2)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 13 December 2016

Langit senja mulai menorehkan guratan jingga bercampur tinta emas yang diselimuti udara yang hangat. Kemacetan sore hari seakan semakin membuktikan bahwa Jakarta memang kota yang sibuk. Bahkan sampai malam-pun selalu ada aktivitas di jalan-jalan protokol. Jakarta tidak pernah tidur, menurutuku.

Reno sepertinya memang sudah mulai mencoba untuk mencintai Jakarta dengan kemacetannya. Ia nekat menjemputku meski ia tahu kemacetan di Jakarta sedang menggila di sore hari. Aku suka usahanya itu. Demi mengajakku ngobrol di kedai kopi, ia selalu bergulat dengan kemacetan Jakarta.

Aku dan Reno seakan menemukan kembali serpihan cinta kami yang sempat hilang dulu. Semuanya tak ada yang berbeda selain ego yang menurun dan kedewasaan yang semakin meningkat. Aku semakin nyaman jika berada bersamanya. Waktu pun seakan berdetak cepat jika aku lalui dengannya. Aku dan Reno seakan melebur menjadi satu dan saling mengikatkan hati di bawah langit kota Jakarta.Reno mencoba mencintai Jakarta dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Sama seperti aku yang mencoba kembali membuka hati untuknya.

Sudah hampir tiga bulan dia di Jakarta. Sudah hampir tiga bulan juga kami bersama. Aku dan Reno kini adalah sepasang mantan kekasih yang kembali saling mencintai, namun tak berani untuk mengenyam status baru.
“Tiana, ada yang ingin aku katakan.”
“Oh ya? Aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Ladies first ya?” pintaku. Reno kemudian menganggukan kepala tanda setuju.
“Dua hari lagi sahabatku akan datang menemui tunangannya di Jakarta. Dan dia memintaku untuk bertemu bersama.”
“Lalu?”
“Aku bilang, aku sudah punya pacar. Karena kalau tidak, dia akan menjodohkanku dengan sepupunya yang freak. Aku minta tolong sama kamu untuk berpura-pura jadi pacar aku.”
“Kenapa harus bohong sih, Tian?”
“Ya karena kalau tidak, aku akan dijodohkan dengan sepupunya. He’s not my type!”
“Bukan. Maksudku kenapa aku harus berbohong menjadi pacarmu, jika memang aku benar-benar menginginkanmu?”
Aku menaikkan sebelah alisku dan menatapnya dengan tatapan heran. “Apa yang kamu bicarakan, Reno?”
Reno menyondongkan badannya yang masih duduk di hadapanku. Mengambil tanganku yang berada di atas meja kedai kopi. “Kenapa harus berpura-pura jika perasaan yang kita miliki ini sungguhan? Kita bukan hanya akan membohongi sahabatmu, tapi juga diri kita. Aku tahu, kita saling mencintai.”
“Reno, aku tahu kita saling mencintai. Tapi, aku belum siap untuk menjalani suatu hubungan lagi. Lagipula, untuk saling mencintai yang kita butuhkan bukan hanya statuskan? Lalu apa yang ingin kau katakan tadi?”
Reno hanya terdiam sambil tersenyum ke arahku. Ia seakan menyerah mendengar pernyataanku. Namun, aku tahu Reno pasti mencoba memahami diriku. “Tidak. Lain kali saja.”

Aku dan Reno sudah duduk di sebuah restoran Italia menunggu kedatangan sahabatku, Mayli. Aku menghadap ke arah jendela sementara Reno duduk membelakangi pintu masuk.
Hampir tiga puluh menit Mayli tidak muncul. Aku dan Reno memutuskan untuk memesan menu terlebih dahulu. Tidak lama kemudian ponselku berbunyi. Ternyata itu pesan dari Mayli.
“Sayang sekali tunangannya tidak bisa hadir. Sepertinya tunangannya itu orang yang super sibuk. Tapi katanya, dia akan tetap ke tempat ini. Sebentar lagi dia akan tiba.” Aku tersenyum ketika mengatakan hal itu pada Reno. Rasanya sudah lama aku tidak bertemu Mayli. Aku sudah sangat merindukan sahabatku itu.
Reno hanya mengganggukan kepala sambil memandang menu-menu yang mulai dihidangkan pramusaji di meja kami. Aku memandang lurus ke luar jendela, memperhatikan setiap orang yang akan memasuki restoran tersebut dan berharap Mayli segera tiba. Sementara, Reno sibuk melahap menu-menu yang telah tersaji.

Wanita tinggi bertubuh langsing dengan kulit sawo matang dan wajah manis menghampiri restoran dengan langkah cepat. Mayli! Ya itu mayli. Dia melambaikan tangannya dan dengan setengah berlari segera menuju mejaku.
“Maaf aku telat. Habisnya tunanganku tiba-tiba membatalkan janji karena dia harus menemui sahabatnya yang dirawat di RS. Kalian sudah lama ya di sini?” Suara merdu bercampur serak seakan menjadi ciri khas yang dimiliki Mayli selain wajah manisnya.
“Tidak.. tidak terlalu lama kok.” Jawabku dengan cepat sambil berdiri dan memeluk Mayli dengan erat. Aku sungguh merindukan salah satu sahabat terbaikku. “May, aku kan sudah berjanji akan mengenalkanmu dengan pacar baruku. Ini dia orangnya.” Ucapku sambil menunjuk ke arah Reno yang masih duduk diam di kursinya.
“No, kenalkan ini Mayli, sahabatku.”
Reno tidak beranjak dari kursinya. “Reno!” aku memanggilnya kembali berusaha untuk membuatnya mengenalkan diri kepada Mayli. Namun Reno tetap duduk terdiam tegak mematung dan tak bersuara sepatah kata pun.
Mayli berjalan memutar ke hadapan Reno. “Reno? Kamu di sini?”
“Loh? Kalian sudah saling mengenal? Baguslah. Ini Reno, pacar baruku.” Ucapku sambil tersenyum ke arah Mayli.
Namun ucapanku tak digubris oleh dua orang tersebut. Keduanya hanya terdiam hingga menciptakan keheningan. “Sebenarnya apa yang terjadi? Adakah sesuatu yang tidak aku ketahui?”
“Ini tunanganku yang katanya ingin menemui sahabatnya di Rumah sakit!”
“Tunangan?”
“Iya. Dan sebenarnya kami sedang merencanakan pernikahan. Tapi, entahlah. Kini aku tahu mengapa semenjak menetap di Jakarta dia menjadi sangat dingin. Ternyata alasannya dirimu.” Ucap Mayli setengah menahan tangis kepadaku.
“Ta.. Tapi May. Aku dan Reno sebenarnya gak ada..”
Belum sempat aku menjelaskan yang aku maksud, Mayli segera pergi dan tidak bisa aku kejar. Sementara Reno hanya diam saat aku meminta penjelasan darinya. Aku pergi meninggalkan Reno yang masih duduk menunduk di dalam restoran.

Setelah kejadian di restoran Italia tersebut, aku sulit menghubungi Mayli. Aku yakin dia sangat marah dan bahkan membenciku. Berulang kali Reno mencoba menghubungiku namun aku tidak pernah menjawab panggilannya. Aku hanya tidak ingin memperkeruh suasana. Yang ada di otakku saat ini, aku hanya ingin menemui Mayli dan menjelaskan semuanya.
Akhirnya aku behasil membujuk Mayli untuk bertemu dan menjelaskan semuanya. “Aku adalah mantan kekasih Reno. Aku bertemu kembali saat ia datang ke Jakarta. Aku tahu dia tidak suka berada di sini. Aku berusaha untuk membuatnya senyaman mungkin sampai aku lupa bahwa aku larut dalam kisah lama kami yang seakan inginku bangun kembali. Ini bukan salah Reno, May. Ini salahku yang tak pernah bertanya tentang statusnya.” Ucapku. Sementara Mayli hanya terdiam sambil serius mendengarkan penjelasanku.
Kemudian aku berusaha melanjutkan ceritaku. “Aku memang mencintainya. Sama seperti dulu saat kami masih menjadi satu. Tidak ada yang berubah. Namun, Reno hanya mencintaimu. Aku memintanya berpura-pura menjadi pacarku agar kamu tidak menjodohkanku dengan sepupumu. Maafkan aku, May. Maaf.”
Mayli terdiam menunduk sambil menahan tangis dan tiba-tiba memelukku. “Aku juga meminta maaf karena terus memaksamu untuk menjalin hubungan dengan sepupuku. Aku akan memperbaiki hubunganku dengan Reno.”

Malam harinya, aku menemui Reno di kedai kopi tempat biasa kami bertemu. Reno datang dengan senyum dan wajah yang penuh rasa bersalah. “Maaf untuk semua ini.” Ucapknya ketika baru tiba.
“Aku sudah menjelaskan semua kepada Mayli.”
“Semua? Semua yang mana?”
“Iya. Semua. Semuanya tentang kepura-puraan kita menjadi sepasang kekasih, aku bilang aku mencintaimu tapi kamu tidak mencintaiku. Kamu hanya mencintai Mayli. Mayli percaya dengan penjelasanku, jadi kamu jangan mengacaukan semua yang telah aku jelaskan.”
“Kenapa harus membohonginya lagi sih? Aku dan kamu memang hanya berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Namun cinta di antara kita itu nyata, Tian! Bukan cinta layaknya dua sahabat. Aku akan menjelaskan yang sebenarnya aku rasa kepada Mayli.”
“Jangan! Aku tidak ingin dia terluka.”
“Lalu kamu biarkan dirimu terluka?” tanya Reno dengan nada yang sedikit membentak.
“Aku mengenal diriku lebih dari kamu mengenal diriku. Dan aku lebih mengenalmu dibandingkan kamu mengenal dirimu sendiri. Aku tahu siapa yang sebenarnya kamu cinta. Jadi, jangan lakukan hal bodoh itu.” Ucapku sambil meletakkan sebuah surat di atas meja.
Kemudian aku pergi ke luar kedai kopi sambil menutup mulutku yang mengeluarkan isakkan yang pelan. Reno mencoba mengejarku namun aku segera menaikki taksi yang melintas di depanku.

Untuk Areno Prayoga.
Reno, kenalilah dirimu sendiri. Sadarilah siapa yang sebenarnya engkau ingini. Bukankah kau hanya singgah sementara di Jakarta? Kehidupanmu yang sebenarnya adalah Jogja. Walau kau berusaha mencintai Jakarta, rasa cintamu takkan setulus untuk Jogja. Seperti aku dan Mayli. Aku adalah Jakartamu dan Mayli adalah Jogjamu. Aku hanya menjadi persinggahan sementaramu untuk menemukan kehidupan indahmu bersama Mayli, di Jogja. Cahaya Jakarta memang menyilaukan dan memaksamuu untuk mencoba mencintainya, namun cahaya Jogjalah yang dapat menghangatkanmu tanpa memaksamu untuk mencintainya.
-Tiana

Ketika cinta lama datang kembali menemuiku yang masih bergelut dengan kesendirian. Namun, tanpa kusadari ia hadir dengan kebahagiaannya yang baru dan membuat harapan usangku terhempas ke lautan yang terdalam. Ketika cinta lama datang kembali, ia hadir menemuiku seakan menyadarkanku bahwa kini saatnya aku kembali membuka hati untuk yang lain.

The End…

Cerpen Karangan: Ziah Nur Aisyah
Blog: ziah22.blogspot.com
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.
Kritik dan saran, saya tunggu.

Cerita Cinta Lama Datang Kembali (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Permusuhan Itu Terulang Kembali

Oleh:
Anjani terdiam. Termangu menatap sahabatnya Mulyani yang sudah meninggalkanya. Tiba-tiba air mata Anjani menetes. Tiba-tiba ia teringat oleh masa lalunya ketika dia bermusuhan dengan Mulyani karena suatu hal lagi-lagi

Ketika Harus Merelakan

Oleh:
Aku terjaga dari tidur pulasku, rasa kebelet pipis mulai merangsang tubuhku untuk bangun dan segera menuju kamar mandi. Aku berusaha memanggil ibuku yang tertidur pulas di kursi seberang tempat

Sahabat Bahagiakan Dia

Oleh:
Mungkin tiada kata yang bisa ungkapkan ketika kelunya lidah. Seperti halnya Takuya ketika dia bertemu cewek idamannya selama ini. Apalagi kalau si cewek idaman mendekat dan mengajaknya sekadar mengobrol.

Dilema

Oleh:
Entahlah aku merasa Dia, Revano cowok yang menurut beberapa mahasiswa sangat keren, pintar dan sejuta pujian selalu dihujamkan padanya selalu memperhatikan aku. Aku hanya berfikir bahwa aku hanya ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *