Cinta Putih Abu Abu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 May 2014

Aku pertama kali melihatnya saat Masa Orientasi Siswa di sekolahku. Ya, aku baru saja akan memulai masa putih abu-abuku. Kata orang, masa-masa ini adalah masa paling indah selama bersekolah. Entahlah aku tidak pernah memikirkan itu benar atau tidak.

Namaku Ilham Sullivan, dan dia yang aku maksud itu adalah seorang gadis cantik bernama Ana. Dia membuatku terkesima di saat pandangan pertama. Aku tidak tahu apa yang membuat aku tertarik padanya. Yang aku tahu aku selalu menghabiskan waktu-waktu kosongku untuk memandanginya dari jauh. Aku tidak punya nyali untuk berbicara dengannya. Meskipun terkadang teman-teman selalu mendukungku untuk melakukan itu, tetap saja aku tidak bisa. Memandanginya saja sudah cukup membuatku gugup apalagi harus berbicara dengannya.

Aku pernah hampir menyapanya saat dia berdiri di sebelahku, waktu itu aku sedang memesan makanan di kantin. Aku menyembunyikan keterkejutanku saat menyadari dia berdiri di sebelahku. Dia tertawa dengan temannya. Aku merasakan dadaku berdegup kencang. Lidahku bahkan terasa kaku untuk mengeluarkan kata-kata.

Seorang temanku bernama Freddy akhirnya bosan melihatku hanya diam dan memperhatikan Ana dari jauh. Dia datang dan menghampiriku saat jam istirahat. Dia memberikanku nomor ponsel Ana. Entah aku harus bilang bahwa aku terkejut atau terlewat senang, aku langsung menyalin nomor ponsel Ana dari ponsel milik Freddy.

Awalnya aku sempat ragu-ragu untuk menelepon, tapi menurutku mengapa harus menelepon? Bukankah perkenalan bisa dimulai dari pesan singkat? Akhirnya aku coba mengirimi Ana SMS. Dan betapa senangnya saat beberapa menit kemudian dia membalas. Saat itulah aku mulai dekat dengan dia. Dia ternyata tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Aku pikir Ana adalah cewek yang jutek tapi ternyata dia ramah dan asik di balik wajah juteknya itu.

Sebulan penuh aku saling mengirimi SMS bersamanya, sampai akhirnya aku tertantang untuk menyatakan perasaanku kepada Ana. Dan karena aku bukanlah cowok yang romantis yang punya seribu satu cara untuk menyatakan perasaan kepada wanita, aku pun meminta bantuan Freddy lagi kali ini.

Freddy akhirnya mau membantuku meski sebelumnya dia menertawaiku habis-habisan. Dia mengatur strategi agar aku dan Ana bisa bertemu di kantin saat pulang sekolah. Dan rencananya berjalan lancar, aku menyatakan perasaanku pada Ana meski dengan kaku. Benar-benar kaku. Tapi aku tidak menyangka kalau ternyata dia juga menyukaiku. Dan resmilah aku berpacaran dengan Ana.

Perasaanku berbunga-bunga setelah hari itu. Aku selalu berangkat ke sekolah dengan perasaan semangat. Bukan karena semangat ingin belajar, tapi karena aku bisa bertemu dengan Ana. Dia jadi seperti obat penyemangat untukku.

Sebulan berjalannya waktu, hubunganku dengan Ana baik-baik saja. Aku sering jalan-jalan bersamanya, menghabiskan waktu di toko es krim, bermain pasir di pantai Ancol, dan terkadang menonton film di bioskop.

Dan di bulan kedua, secara tidak sengaja aku bertemu dengan seorang kakak kelas bernama Vanny. Dia meminta nomor ponselku, dan aku pun memberikannya karena kak Vanny itu sangat cantik. Aku juga tidak bisa bersandiwara dengan bersikap sok keren menolak cewek yang meminta nomer ponselku.

Akhirnya aku dan Vanny menjadi dekat, aku sering pergi bersama dia. Pernah juga aku berangkat sekolah bersama dia karena tidak sengaja bertemu di jalan. Dan karena merasa nyaman dengan Vanny, aku jadi lupa bahwa aku memiliki Ana yang harus aku beri perhatian dan waktuku juga. Aku kesulitan membagi waktu. Ternyata berada di antara mereka berdua tidak selamanya indah. Ini tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya

Karena keadaan seperti inilah Ana jadi mulai sering merasa kesal padaku, dia lebih mudah ngambek. Terkadang aku berpikir sikap Ana seperti kekanak-kanakan, berbeda dengan sifat Vanny yang sangat dewasa dan jauh lebih membuatku merasa nyaman.

Semakin hari keadaan semakin buruk. Aku akhirnya menyerah karena tidak tahan dengan Ana yang terlalu manja. Hubunganku dan dia selesai. Aku tidak menyesal sedikit pun karena masih ada Vanny yang menurutku jauh lebih baik. Dan tentu saja karena hubunganku dengan Ana berakhir, aku lebih merasa bebas menghabiskan waktu bersama Vanny.

Freddy temanku itu sempat marah saat aku menceritakan yang sebenarnya bahwa aku banyak menghabiskan waktu dengan Vanny saat aku masih pacaran dengan Ana. Aku tidak mengerti dengan apa yang salah? Apakah jika pacaran itu kita jadi tidak bisa dekat dengan orang lain? Pacaran kan bukan berarti membuat diriku harus merasa terkekang, sebab aku pun tidak pernah melarang Ana bergaul dengan siapa pun.

Aku tidak mempedulikan perkataan Freddy, aku tetap menjalani kedekatanku dengan Vanny. Aku menemani dia ke pesta ulang tahun temannya, aku mengantarkan dia berbelanja di mal, dan aku juga sering menjemput dia jika berada di rumah temannya.

Sebulan berlalu, aku menyadari bahwa keputusanku untuk mengakhiri hubungan dengan Ana adalah keputusan yang tepat. Buktinya sekarang aku malah merasakan lebih nyaman dan bahagia. Aku sedang bersantai di tempat tidurku sambil membayangkan Vanny saat tiba-tiba ponselku berdering. Aku meraih ponselku dan membaca sebuah pesan dari Vanny. Dia memintaku untuk menemuinya di sebuah gang yang dekat dengan rumahnya. Itu adalah tempat aku sering menjemput dia kalau akan pergi keluar.

Aku bergegas menuju ke sana dengan santai. Dan saat aku tiba di sana, aku mendapati Vanny dengan dua orang laki-laki sedang menungguku. Aku menatap mereka bertiga dengan wajah heran. Dua orang laki-laki itu kemudian segera menghampiriku dan melancarkan tinjunya sebelum aku turun dari motor. Aku tidak sempat bersiap untuk itu. Mereka menyerangku secara bersamaan dan tentu saja aku kalah telak karena kalah jumlah. Aku baru tahu bahwa itu adalah kekasih Vanny yang bersama temannya.

Kesalahanku adalah aku tidak pernah bertanya apakah Vanny sudah punya pacar atau tidak. Betapa bodohnya aku. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi berbicara dengan Vanny. Aku bahkan tidak ingin melihat wajahnya. Aku jadi lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di sekolah. Dan saat itulah aku mulai menyesali kebodohanku, aku menyia-nyiakan sosok Ana yang selama ini ternyata adalah cinta yang sebenarnya untukku bukan Vanny. Aku ingin sekali meminta maaf pada Ana, aku sempat menimbang-nimbang itu sebentar dan akhirnya memutuskan untuk melakukannya. Ana hanya tersenyum mendengar penuturanku, dia sama sekali tidak marah atas sikapku waktu itu. aku senang Ana memaafkanku, aku pun berniat ingin mengajaknya kembali bersamaku untuk merangkai kembali mimpi-mimpi kita berdua yang pernah hancur karena keegoisanku. Namun Ana menolak, aku baru tahu kalau ternyata dia bersama orang lain sekarang. Dan berkat kebodohanku juga aku kehilangan Ana selama-lamanya, juga tidak pernah akrab lagi dengan temanku Freddy.

Aku menyimpan penyesalanku dalam-dalam. Aku tidak ingin terjebak dalam kesedihan dan penyesalan. Hidup harus terus melangkah ke depan. Paling tidak aku mendapat pelajaran bahwa betapa pentingnya menjaga perasaan seseorang yang selama ini selalu ada bersama kita.

Cerpen Karangan: Ilham SUliivan
Facebook: www.facebook.com/kouhei.jinnai.9 atau Hanaki Guriko
Nama Saya Ilham Sullivan, saya lahir sembilan belas tahun yang lalu dan saya sangat menyukai dunia tulis-menulis. kenapa? Karena menulis membuat saya mempunyai kehidupan lain Gyahahaha. Follow me guys @kidzu_

Cerpen Cinta Putih Abu Abu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kata Terakhirku Untuk Ibu

Oleh:
“Pergi kamu! kamu bukan anakku..” Seorang ibu berkata kasar pada seorang anak perempuan yang memiliki kekurangan pada fisiknya Yaitu fay. Faylina tasya atau lebih akrab dipanggil fay, adalah anak

Dolphin’s Drama

Oleh:
“Lumba-lumba, lambang cinta abadi. Saat dua orang bertemu dan ada lumba-lumba maka cinta mereka akan abadi selamanya.” “Sadarlah hidup tidak akan seindah drama.” “Ish Manda, biarkan aku berimajinasi sebentar

Cinta Datang Terlambat

Oleh:
Namaku Sia. Aku belum bisa melupakan seseorang yang sangat kucintai, dia adaah Rezi. Ya, dia pergi meninggalkanku tanpa alasan yang pasti. Hari ini adalah hari pertama aku masuk SMA.

Kisah KiKi

Oleh:
Namanya Kiki, umur 16 tahun, sekolah kelas XII di SMA Tunas Harapan. Doi anak tunggal, alias semata wayang dan sebatang kara. Hehehe, soalnya papi-maminya terlalu sibuk dan jarang ada

Kangen

Oleh:
Dalam gelapnya malam, dalam kesendirian yang akhirnya membuat Aldo larut dalam kesedihan yang mendalam. Hembusan angin malam menyeruak masuk ke dalam tubuhnya. Hidupnya kini terasa hampa dan sepi. Senyum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *