Complicated

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 26 December 2015

“hei tenang, kalau boleh aku bicara, ya… Kamu memang harus berubah ndra, kamu itu terlalu posesif, cerewet, dan curigaan. Ku rasa Roni memang sudah tidak cocok sama kamu.” ujar Irene ragu. Mencoba agar Sandra tidak tersinggung dengan perkataannya. Temannya itu sudah tiga puluh menit menangis dan menghabiskan waktu Irene hanya gara-gara pacarnya yang selingkuh. Ia tahu Sandra sakit hati tapi tidak seharusnya dia bertingkah kekanakan seperti ini. Perempuan harus kuat.

Sandra yang masih terisak mengernyitkan dahinya. Irene jadi gugup sendiri. Ia tahu sahabatnya ini tersinggung.
“a..apa? aku cerewet? Posesif? Curigaan? Ya! Aku memang seperti itu! Tapi untuk sekarang bisa tidak sih kamu jangan bilang begitu?” Sandra terisak pelan. Irene yang melihatnya semakin menyesal sekaligus… jengkel. Entah mengapa ia jengkel sendiri jika menghadapi sikap Sandra.
“ya.. Maaf, tapi kamu harus kuat. Kamu juga harus intropeksi diri biar kedepannya kamu nggak akan jadi wanita yang lemah. Kamu juga nggak boleh Negative thinking sama Roni.” Balas Irene, sembari mengusap punggung sahabatnya itu.

“kamu bilang seperti itu seakan-akan aku yang salah Ren, kamu sahabatku atau tidak sih?! Tunggu saja saat kamu merasakan apa yang aku rasakan sekarang!” Sandra menarik tas selempangnya kasar dan pergi tanpa memberi kesempatan Irene untuk menjawab. Irene menghela napas lelah. Harusnya ia datang ke cafe tempat Aiden menunggunya, namun gara-gara sahabatnya yang manja itu menangis, akhirnya janjinya ia tunda. Huh, Irene harus menelepon Aiden Sekarang.

“hai, sayang. Maaf ya buat kamu menunggu. Aku akan ke sana sekarang.”
“Ren, aku udah pulang ke rumah, maaf ya… ku kira kamu sibuk dan nggak bakal ke cafe jadi aku pulang karena ada urusan penting. Maaf ya.” Jawab Aiden di seberang sana. Air muka Irene kecewa namun ia tetap tersenyum walaupun tidak dilihat Aiden, pacarnya.
“yah.. No problem, tapi besok sore, bisa temani aku ke perpustakaan kota?”
“Oke, see you.”

Pip.

Hari ini Seharusnya Aiden mengantar Irene ke perpustakaan kota. Tapi sudah satu jam Irene menunggu di depan rumahnya untuk diantar Aiden, namun pacarnya itu belum juga datang. Irene menghela napas kesal. Ia berulang kali menghubungi Aiden, tapi tidak aktif. Tidak biasanya Aiden mematikan ponsel dan terlambat janjian. Irene kesal. Gadis berumur 20 tahun itu memutuskan untuk naik taksi saja dari pada menunggu Aiden yang entah kapan datangnya. Di dalam mobil taksi, Irene memandang ke luar. Memikirkan Aiden. Laki-laki yang sejak satu bulan lalu menjadi kekasihnya. Sebenarnya dulu ia tak pernah tahu mereka saling mengenal, tapi saat Aiden mengatakan bahwa mereka teman kecil, Irene percaya saja. Mungkin ia lupa atau apapun itu.

Tapi satu minggu terakhir ia jarang sekali melihat Aiden. Hal ini membuat Irene tak mengerti. Padahal hubungan mereka baru seumur jagung tapi ia sudah merasakan sesuatu yang patut dicurigai dari Aiden. Entah apa itu, tapi ia curiga saat Aiden semangat sekali saat Irene membahas tentang sahabat-sahabatnya, terutama Sandra. Yah seharusnya Irene tidak berpikiran seperti itu, Sandra bukan saingannya. Irene jauh lebih cantik dan pintar dibanding Sandra yang cerewet. Ia merasa aneh sendiri kala memikirkan hal itu. “ya, aku seharusnya tidak berpikiran seperti itu.” batin Irene. Irene berhenti melamun saat taksi sudah berhenti, ia keluar setelah membayar ongkosnya. Kemudian tersenyum saat sudah berada di depan tempat favoritnya.

Ini sudah jam lima sore. Setelah membaca buku, Irene memutuskan mampir ke kedai roti untuk membeli beberapa roti tawar. Namun langkahnya terhenti. Matanya terpaku saat ia melihat ke dalam cafe di sebelah kedai roti. Aiden sedang bersama seorang gadis sambil menikmati kopi. Mereka berbicara sambil sesekali tertawa. Irene mematung, pikirannya dipenuhi prasangka-prasangka buruk. Aiden tak melihat Irene karena pria itu fokus pada seorang gadis di depannya.

Karena penasaran, Irene memutuskan untuk masuk ke dalam dan menemui Aiden. Pria yang ditujunya menatapnya dengan terkejut, lalu tingkahnya seperti orang bodoh yang ketahuan selingkuh. Irene semakin curiga. Saat ia semakin dekat, langkahnya tiba-tiba berhenti saat seorang gadis di hadapan Aiden menoleh dan pandangan mereka bertemu. ‘Sandra?’ batin Irene.
“Hai.” Aiden menyapa Irene. berniat membuka percakapan di antara mereka saat mereka sudah duduk, dengan Irene di antara mereka.
“Kalian… Sudah saling mengenal?” tanya Irene. Ia melihat Sandra yang tak kalah bingung. “tunggu, untuk apa kau di sini?” Sandra bertanya balik, membuat mereka terlihat canggung.

“Aku melihat pacarku ada di sini. Jadi aku ke mari. Lalu, kalian sedang apa di sini? Kenapa hanya berdua saja?” Irene fokus menatap gelagat Aiden yang mencurigakan. Namun tak seorang pun yang menjawab. Ia menghembuskan napas kesal. “baik, aku tidak akan mengganggu kalian. Mungkin saja kalian ada urusan kerja atau apapun itu. Tapi, sayang, aku butuh penjelasanmu kenapa tidak mengantarku tadi. Aku akan meneleponmu nanti. Dan Sandra.. Ah sudahlah. Maaf mengganggu.” Irene kemudian pergi dengan pikiran yang berkecamuk, meninggalkan kedua orang yang menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

Irene sudah curiga, Irene sudah berprasangka tentang hal itu. Jadi saat Aiden menjelaskan padanya pagi itu, ia hanya menatapnya tanpa ekspresi apapun.

“Ku mohon maafkan aku…”

Hanya itu yang Irene perhatikan. Lalu Aiden pergi tanpa menengok sebentar, setidaknya hanya untuk melihat Irene menangis atau tidak. Tapi Aiden pergi begitu saja. Tanpa memberi kesempatan pada gadis itu untuk mengatakan apa yang hatinya rasakan. Bahkan pria itu tak mengetahui bahwa dengan susah payah Irene menahan air matanya untuk tidak turun. Sekelebat bayangan tentang kencan pertamanya dengan Aiden, saat Aiden pertama kali menyatakan cintanya.

Saat itu ia seperti terhipnotis diri Aiden, namun kini saat ia tahu kenyataannya bahwa ternyata hanya sandiwara belaka, hatinya begitu perih. Ia teringat kembali ucapan Aiden yang menghempasnya begitu dalam ke dasar laut. Membuat kepercayaan, cinta, harapan, dan keinginannya bersama Aiden terkoyak dan tercabik habis-habisan. Irene akhirnya menangis. Ia tak menyangka ia hanya akan dipermainkan. Ia tak menyangka hal itu terjadi.

“Aku sudah menyukai Sandra sejak dulu. Dulu sekali, sejak kami masih SMP. Namun ia tak pernah memandangku. Namun sekarang, aku akhirnya dapat menggapainya dan berteman dengannya. Namun ada satu orang yang menghalangiku. Roni. Ku pikir mereka hanya teman, tapi aku salah, ternyata mereka pacaran. Aku sudah tak bisa bertemu dengan Sandra sejak saat itu. Tapi, di tengah keterpurukanku, aku melihatmu.

Aku mengatakan pada hatiku bahwa kau gadis yang baik dan aku akhirnya suka padamu. Namun ketika aku tahu Sandra berteman denganmu, rasa ini pupus. Aku kembali memandangnya sebagai tujuanku. Aku diam-diam mencintai Sandra. Maafkan aku.” Aiden menunduk saat itu, tak berani bertatap muka dengan Irene. Ia tahu gadis di hadapannya ini pasti sangat terluka.

“Aku menyuruh seseorang untuk menggoda Roni yang play boy. Mereka akhirnya putus.” Aiden tersenyum sekilas saat mengatakan itu. Irene yang melihatnya hanya menatapnya datar.
“aku berhasil mendapatkan Sandra dan.. Maafkan aku, Irene. Ku mohon maafkan aku.” itu kata-kata terakhirnya sebelum pergi meninggalkan Irene bersama air matanya yang mengucur deras.
“padahal, aku ingin menanyakan. Kenapa kamu tidak mengantarku ke perpustakaan. Kenapa kamu malah pulang saat kita ada janji di cafe. Apakah semua itu karena Sandra? Karena kamu lebih memilih menemuinya, menemaninya, dan menenangkannya saat menangis? Kenapa saat ini kamu tidak sedikit pun menoleh untuk melihatku?”

Irene semakin terisak. Tenggorokannya semakin tercekat saat ia sadar ia hanya berbicara pada angin kosong di depannya. Hatinya sungguh sakit. Ini sungguh terlalu cepat. Saat Irene tengah menangis sesenggukkan. Seseorang mendekat ke arahnya. “hei tenang. kalau boleh aku bicara, yah… Kamu memang harus berubah Irene, kamu itu terlalu cuek, pendiam, dan curigaan. Ku rasa Aiden memang sudah tidak cocok sama kamu. Maaf, tapi kamu harus kuat. Kamu juga harus intropeksi diri biar kedepannya kamu nggak akan jadi wanita yang lemah.”

Irene tahu itu Sandra. Namun ia tak menanggapi. Terserah Sandra mau bilang apa, mungkin itu hanya pembalasan darinya. “jadi, kamu sudah tahu rasanya dikhianati? Dipermainkan? Begitulah juga yang aku rasakan saat aku dipermainkan Roni dan kamu malah bilang seperti itu seakan aku yang salah. Tapi sekarang kamu sudah tahu rasanya.” Ujar Sandra agak bergetar.

Irene semakin terisak. Saat Sandra berjalan menjauh, tangisannya pecah. Pikirannya campur aduk. Pandangannya tak tentu arah. Udara pagi yang segar membuatnya sesak. Pupus sudah, semua berakhir menjadi kepingan-kepingan kecil. Irene menyandarkan diri di kursi taman. Matanya terpejam. Kepalanya pusing. Hingga ia tak sadar apa yang terjadi setelah itu.

Cerpen Karangan: Resty Indah Yani
Facebook: Indah Cho
Hai, kenalkan, aku Resty alumni dari SMK N 1 RANDUDONGKAL. Aku harap kritik dan saran untuk cerpenku yang gaje ini ^_^ add facebook: Indah Cho, follow @Indah137cho

Cerpen Complicated merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Yang Tenggelam Diam Diam

Oleh:
Kau timbul tenggelam dalam batinku, kata-katamu menusuk kepalaku berkali-kali, aku dijerat bayangan yang hempas pada tengah malam. Hujan malam itu pertanda mengerikan yang saksi di hadapan kita, kupasrahkan wajahku

6 Tahun Yang Lalu

Oleh:
Pandangan cinta tertuju kepada seorang laki-laki yang sedang melukis di halaman sekolah. Dia adalah raka. Seorang laki-laki yang sangat tampan dan juga menawan, banyak orang yang bilang kalau dia

Purnama yang Menyinari Kota

Oleh:
Purnama menyinari kotaku malam ini. Seperti biasa, ku lakukan rutinitasku setiap bulan. Duduk di teras rumah dengan secangkir wedang jahe, sambil menikmati cahaya bulan yang bersinar terang. Sesekali, semilir

Terserah

Oleh:
“Jadi, apa maumu? Sekarang terserah kamu, keputusan ada di tanganmu”. Pertanyaannya sontak membuatku bahagia namun ada pula rasa takut, rasa takut yang selama ini menghantui. Karena pacarku itu selalu

Ku Merindukannya (Part 1)

Oleh:
Kududuk terdiam antara kursi dan meja di sampingku, tak terasa jika aku sudah usai dengannya, ya Tiberias Calvin Natalarik Marcel Saputra sebut saja Calvin, cowok yang dulu pernah menemaniku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Complicated”

  1. Shasa Amalia.P says:

    sedih banget..
    Tapi ceritanya bagus juga^.
    Terus berkarya yaa…^^

  2. ella says:

    Ceritanya kurang sentuhan lerasaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *