Dan, Kita (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 10 June 2015

Dari dulu aku selalu ingin bertanya pada diriku sendiri,
Kenapa? Kenapa aku meninggalkanmu?
Kenapa aku memutuskan untuk menjauh dan pergi?
Sampai saat ini, ketika dia sudah mengisi waktu di hidupku,
Aku tetap tak bisa, tak bisa berdusta, bahwa
Aku masih dan selalu mencintaimu —

“Celia, maaf aku terlambat..” Pria jangkung yang memakai kaos biru itu berjalan tergesa menghampiri seorang gadis yang tadi dipanggilnya Celia, kemudian mencium kedua pipi gadis itu.
“Tidak apa-apa Ken. Aku menunggumu juga belum lama.” Celia tersenyum dengan sangat manis, sambil menyesap Cappucino lattenya.
“Seseorang tadi menabrakku dan tidak mau minta maaf. Menyebalkan.” Ken menghempaskan pantatnya di kursi yang berhadapan dengan Celia. Wajahnya terlihat kesal.
“Ayolah Ken, dia hanya menabrakmu. Mungkin dia tidak sengaja. Kenapa jadi kesal begitu. Oh iya, kamu tidak memesan minuman?”
“Tetap saja aku kesal. Kalau nanti aku bertemu lagi dengannya aku bersumpah dia akan mengucapkan maaf dua kali padaku. Tidak Cel. Aku minta maaf, aku lupa kalau nanti malam aku akan pergi ke pesta Danny. Jadi aku harus bersiap-siap. Aku sudah berjanji. Kamu bisa pergi sendiri kan ke pertunjukan itu?” Dan kamu tidak mengajakku, sambung Celia tentunya dalam hati.
“Tapi aku sudah membeli tiketnya Ken. Kamu tidak bisa membatalkannya begitu saja.” Celia kecewa dengan penolakan Ken yang sudah ke sekian kalinya dengan berbagai alasan. Celia menjalin hubungan dengan Ken ketika mereka memasuki Universitas sekitar empat tahun yang lalu. Bagi Celia, Ken sangat egois. Tapi, entah kenapa pria itu bisa membuatnya luluh dengan mudah. Celia menyukai Ken, tapi sampai sekarang dia masih ragu apakah dia mencintai pria itu atau tidak. Tak seperti cintanya pada seseorang yang selalu ditutup rapat dalam hatinya.
“Maaf Celia, aku menggagalkan kencan kita.” Ken memelas. Kamu selalu membatalkannya Ken, jawab Celia dalam hati.

“Ini tiket pertunjukan. Kamu bisa pergi denganku nanti malam kan?” Farez, pria sawo matang dengan mata kecoklatan yang jernih menawarkan sebuah tiket pada gadis di sebelahnya. Mereka berjalan berdampingan dan sepertinya akan menuju sebuah café.
“Ini kan pertunjukan teater? Kamu sedang bercanda atau mengajakku kencan? Yang benar saja aku pergi ke sana.” gadis itu terdengar kesal dan marah.
“Joy, apa salahnya sih kita ke sana?” Farez meninggikan nada suaranya.
“Aku tidak suka teater dan kamu tau itu. Aku bukan dia Faz, aku tau sampai sekarang kamu masih memikirkan dia. Sudahlah.”
“Joya, please..” Farez meraih tangan Joya yang sedang berbalik arah dan berusaha meninggalkannya.
“Lepaskan Faz” Joya berteriak dan dengan kasar menepis tangan Farez kemudian berjalan dengan cepat. Farez menyusul dan tanpa sadar..
“Hei, kenapa menabrakku?” suara itu terdengar marah.
“Aku tidak menabrakmu. Aku sedang mengejar gadis itu dan kamu menghalangiku. Kamu sibuk menelpon dan tidak memperhatikan jalan.” Farez membela diri. Beberapa orang menoleh ke arah mereka, sedikit menarik perhatian orang-orang.
“Oh, kamu menyalahkanku? Dan tidak mau minta maaf?” Pria yang tadi ditabrak Farez menantangnya.
“Kenapa aku minta maaf padamu?” Farez berlalu begitu saja di depan orang yang saat ini sedang ingin meninjunya.
Pria itu melanjutkan langkahnya dengan kesal menuju sebuah café yang tadi tidak jadi dimasuki Farez, kemudian menemui seorang gadis dan mereka berbicara panjang lebar.

Celia dengan sedikit kecewa pergi menuju pertunjukan teater itu seorang diri. Dua buah tiket yang dibelinya dua hari yang lalu masih digenggamnya dengan perasaan sedih. Dia kecewa, marah, kesal, entahlah. Semuanya bercampur menjadi perasaan yang tidak bisa dia gambarkan. Apa sih pesona Ken bagi dirinya? Pertanyaan itu berulang-ulang dilontarkannya dalam hati. Oke, Ken memang tampan dan.. menarik. Tapi tak satu pun sikap Ken yang bisa membuatnya jatuh cinta bahkan mengagumi pria itu. selalu meninggalkan Celia dan membiarkan gadis itu pergi seorang diri ke tempat-tempat yang ingin gadis itu kunjungi. Sementara Pria itu pergi bersenang-senang dengan teman-temannya.
“Tidak ada yang bisa menggantikan pesonamu.” gumam Celia pelan kemudian melangkah memasuki ruang pertunjukan dan duduk di salah satu kursi penonton.

Celia menikmati acara pertunjukan itu, namun seperti biasanya -selama lima tahun terakhir- dia selalu merasa ada yang kurang ketika dia menyaksikan pertunjukan teater. Orang yang duduk si samping kiri kanannya selalu saja orang yang berbeda. Tak seperti dulu, ketika dia menoleh ke samping, dia akan menemui wajah orang yang sama dengan senyum yang sama. Itu adalah orang pada masa lalu, sekarang belum tentu sama dengan waktu itu. Perubahan bisa terjadi dengan sangat cepat. Apakah kamu masih menyukai pertunjukan tetater seperti dulu? Tanya Celia dalam hati.
Celia terlalu lama bernostalgia dengan kenangannya. Sedih sekali rasanya ketika dia sudah kembali pada dunia nyata. Dia mendesah pelan lalu berdiri dari kursinya menyadari pertunjukan sudah selesai. Ketika dia berdesakan dengan sekerumun orang yang ingin keluar dari ruangan, matanya menatap punggung seorang pria yang juga ikut berdesakkan dengannya. Tak lama pria itu menoleh ke belakang, dan untuk beberapa detik mereka bertatapan sebelum wajah pria itu hilang begitu saja di antara ramainya penonton lain yang akan keluar ruangan.
Celia tertegun, tak sanggup melanjutkan langkahnya. Dia berdiri mematung di tengah orang-orang yang berdesakan. Omelan yang ditujukan beberapa orang padanya tak digubrisnya. Saat ini, dia merasa waktunya terhenti. Mata coklat yang tadi bertatapan dengannya mampu membuat aliran darahnya mengalir lebih cepat, jantungnya berdebar tak beraturan.

Farez berdiri dari kursi penonton ketika pertunjukan teater yang disaksikannya sudah selesai. Dia bisa pergi sendiri tanpa Joya, pikirnya. Dia berjalan berdesakan dengan para penonton lain. Tangannya seperti ingin meraih sesuatu, tapi dengan cepat dia menyadarinya.
“Aku lupa, kamu tidak bersamaku saat ini.” Farez berbicara dengan dirinya sendiri. Dia memperlambat langkahnya, dibiarkan saja orang-orang menabraknya. Kemudian dia menoleh ke belakang berharap menemukan sesuatu. Dan jantungnya berdegup kencang ketika matanya bertemu dengan mata seorang gadis manis dengan mata hitam yang terang. Untuk beberapa detik saja. Tiba-tiba tangan Farez ditarik dengan cepat.
“Kamu tetap pergi sendiri walaupun aku tadi menolaknya?” Joya berteriak marah. Mereka tetap melanjutkan langkah.
“Aku menyukainya Joy, hanya itu.” Farez mencoba memberi pengertian.
“Sudahlah. Kamu masih mencintainya kan? Kamu masih berharap dia kembali kan? Jujur saja Faz.”
“Joya…” kata Farez pelan berusaha menenangkan gadis yang ada di sebelahnya.
“Jawab Faz, kamu masih mencintai Celia kan?” Joya mulai menangis ketika mereka telah sampai di parkiran.
“Masuk dulu.” Farez tidak menjawab dan membukakan pintu mobil untuk Joya.
Di dalam mobil, mereka hanya diam. Joya tampak lebih tenang. Farez tidak lagi mengungkit masalah tadi dan tetap mengemudikan mobil Jazz putihnya dengan kecepatan standar.
“Kamu benar Joya. Aku masih mencintai Celia dan akan terus mencintainya. Aku hanya ingin bertemu dengannya sekali lagi. Walau pertemuan itu hanya untuk mengucapkan kata selamat tinggal.” Farez hanya mampu mengucapkannya dalam hati. Bibirnya tetap terkatup melambangkan keangkuhannya. Dia tak sanggup untuk melukai hati Joya, tak sanggup membuat Joya terluka. karena Joyalah obat yang dulu menyembuhkan luka hatinya. Setega itukah dia?

Celia kecewa, dia tak menemukan apa-apa setelah sampai di luar ruang pertunjukan. Dia tak menemui apa yang dia cari. Akhirnya, dia mengambil kesimpulan bahwa apa yang tadi dilihatnya hanya sebuah ilusi. Mungkin dia terlalu merindukan pria bermata coklat dari masa lalunya itu. Tanpa sadar Celia menumpahkan air matanya. Dia ingat, selama empat tahun terakhir dia tak pernah menangis. Sekalipun Ken mengecewakan atau menyakiti hatinya. Tapi kenapa sekarang dia menangis hanya karena tidak menemukan pria bermata coklat itu?

Celia mendesah pelan. Dia melangkahkan kakinya tanpa tujuan. Dia terus melangkah sampai akhirnya kakinya terhenti karena lelah. Napasnya terdengar cepat. Celia tertegun untuk yang kedua kalinya. Kakinya membawanya ke sebuah taman bermain. Celia berjalan menuju ayunan dan duduk di sana. Tatapannya lurus ke depan. Tidak ada yang berubah dari taman bermain ini, walaupun sudah lama tidak dikunjunginya, namun dia masih ingat jelas. Taman bermain ini merupakan saksi kenangannya dengan seseorang. Kenapa? Kenapa kakinya melangkah ke sini?

“Hai Celia?” Suara itu terdengar bergetar di telinga Celia yang saat ini terduduk lemas di ayunan. Suara itu adalah suara yang selama ini dirindukannya. Celia menoleh perlahan dan berharap ini semua bukan mimpinya di sore hari.
“Apa kabar?” Benar, ini bukan mimpi. Wajah yang sama seperti lima tahun lalu, namun potongan wajahnya saat ini lebih dewasa.
“Farez..?” kata Celia bergetar.
Farez tersenyum dan mengambil posisi untuk duduk di ayunan yang ada di sebelah kanan Celia. Sudah lama mereka tidak saling bertemu.
“Apa kabar?” Farez mengulang pertanyaannya.
“Aku.. Baik.” Celia sangat gugup. Pria yang ada di sebelahnya saat ini adalah pria bermata coklat yang tadi dilihatnya. Pria masa lalu yang sampai ini masih diharapkannya agar mereka kembali bertemu, walau hanya untuk sebuah kata Selamat tinggal.
“Aku merasa melihatmu di pertunjukan teater. Dan aku sangat yakin itu adalah kamu. Aku memikirkan sebuah tempat dan aku menuju ke sini. Berharap bertemu denganmu.” Farez menjelaskan pada Celia tanpa diminta gadis itu.
“Aku pikir aku bermimpi telah melihatmu.” Celia berkata Lirih
“Dan sekarang aku nyata. Ada di sebelahmu.” Farez menatap Celia yang hanya mampu menundukan kepala.
“Dulu kita sering ke sini.” Farez membuka buku kenangan mereka yang sepertinya sudah lusuh di makan waktu.
“Setelah itu kita ke café dan menonton pertunjukan teater.” tambah Celia.
“Ternyata kamu masih ingat.”
“Aku tidak mungkin melupakannya.” Celia menegakkan kepala dan kembali menatap ke depan.
“Kapan kembali ke sini?” tanya Farez.
“Dua minggu yang lalu. Kontrak kerja papa sudah habis dan kami memutuskan untuk menetap kembali di sini.” Celia menjelaskan. Dia berusaha menyembunyikan kesedihannya.
“Begitu. Kamu tidak bertanya keadaanku?”
“Ehh? Kamu terlihat baik.” Celia gelisah ketika bertatapan dengan Farez. Suasana di antara mereka sangat kaku.
“Ya. Tapi selama lima tahun ini hatiku tidak baik. Kamu membuatnya sakit dan terluka.” Farez berkata sambil terus menatap Celia.
“Farez tolong jangan memojokkanku seperti itu. Aku bingung tentang apa yang harus aku lakukan saat itu.” Celia mulai menangis. Rasa bersalahnya kembali muncul.
“Aku berusaha mencarimu waktu itu. Aku berusaha menghubungimu. Aku berlari dari sekolah kita menuju rumahmu. Tapi semuanya tidak berarti apa-apa. Kamu pergi begitu saja. Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal padaku juga tidak. Sejak itu aku memutuskan untuk terus menunggumu. Dan hari ini, penantian dan pengharapanku berakhir. Kamu ada di sini bersamaku. Aku yakin, suatu hari kamu akan kembali.” Farez mengeluarkan semua perasaannya. Celia semakin tak bisa membendung air matanya.
Celia tidak menjawab. Andai Farez tau alasannya waktu itu. Andai Farez mengerti kenapa dia pergi begitu saja.
“Aku merindukanmu Celia.” Farez berucap tanpa mau ditahan. Dia memutuskan untuk melepaskan semua perasaannya saat ini. Dia lelah menyembunyikan lukanya terlalu lama.
“Aku.. bagaimana keadaan Joya?” Celia mengalihkan pembicaraan mereka.
Farez menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Saat ini dia hanya ingin membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan mereka berdua. Dan bukan Joya. Sangat banyak yang ingin diceritakan dan ditanyakannya pada Celia.
“Joya? Dia baik.” jawab Farez akhirnya.
“Syukurlah…”
Mereka sama-sama terdiam untuk waktu yang lama. Mereka sama-sama kembali menjernihkan pikiran dan menenangkan perasaan. Kenapa takdir mempertemukan mereka setelah lima tahun berpisah? Sepertinya sudah banyak perubahan yang terjadi.

“Farezz… jangan mendorong ayunanku terlalu kencang. Aaaa…” Celia berteriak senang. Tawanya terlihat lepas. Farez tertawa di belakangnya sambil mendorong ayunan dengan sekuat tenaga. Tak dihiraukannya Celia yang berteriak-teriak.
Setelah ayunan terhenti mereka masih tetap tertawa satu sama lain. Farez duduk di ayunan sebelah kanan Celia. Mereka bercerita tentang apapun yang ingin mereka ceritakan. Sekolah, keluarga dan cerita tentang mereka berdua. Hari ini adalah hari minggu, mereka akan menonton pertunjukan teater yang bertema Romeo and Juliet. Celia dan Farez sama-sama menyukai pertunjukan teater.
Mereka saling mengenal ketika mereka masuk ke SMP yang sama. Dan mereka menjadi sangat dekat ketika mereka juga masuk SMA yang sama dan mereka sekelas di kelas X. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Saat ini mereka sudah duduk di kelas XI.

“Pertunjukan masih dua jam lagi, sekarang masih pukul lima sore. Apa yang akan kita lakukan untuk menghabiskan waktu?” tanya Farez.
“Bagaimana kalau minum Cappucino latte?” usul Celia.
“Tidak masalah. Mari kita menuju café cinta.” goda Farez seraya menggandeng tangan Celia.
“Apa? Café cinta?” Celia tertawa.
“Setidaknya kamu resmi menjadi pacarku di sana.” Farez menaikan alisnya.
“Oh.. baiklah.” Celia mengangguk-anggukan kepala. Mengingat bagaimana waktu itu dia menerima cinta Farez dengan muka memerah karena malu.

Mereka telah duduk bersebelahan di kursi penonton. Celia terlihat sangat bahagia. Ini adalah yang kesekian kalinya dia menonton pertunjukan bersama Farez. Dia berharap akan terus seperti ini sampai nanti. Semoga saja..
“Kenapa ya, akhir kisah cinta romeo dan Juliet seperti ini? aku ingin kisah mereka berakhir bahagia.” Celia berkata pada Farez yang duduk di sebelah kirinya.
“karena kita adalah romeo dan Juliet masa depan yang akan mempunyai akhir kisah bahagia.” jelas Farez.
“Semoga saja begitu.” Celia merebahkan kepalanya di pundak Farez. Pria itu tersenyum penuh arti. Semoga kita akan terus seperti ini, selamanya. Harap Farez dalam hati.

“Celia..” Joya berlari ke arah Celia yang sedang mengisi buku hariannya.
“Hai nona manis, sepertinya sedang bahagia.” dengan cepat Celia menutup buku itu.
“Ya.. sepertinya hari ini aku akan memberitahumu tentang pria yang selama ini selalu aku ceritakan.” Joya berbicara dengan mata yang berbinar-binar.
“Benarkah? Aku sudah lama menunggu hari ini datang. Seperti apa pria yang membuat sahabatku jatuh cinta setengah mati? Dan aku juga punya cerita untukmu.” Celia tersenyum jahil. Setelah Joya bercerita, dia akan menceritakan hubungannya dengan Farez. Joya tidak tau apapun tentang Farez selama ini. Celia menyembunyikannya karena tidak ingin membuat Joya sedih. Joya terobsesi pada seorang pria dan rasa itu tak terbalas. Celia tau perasaan Joya sangat sedih dan dia tidak ingin memperlihatkan kebahagiaannya ketika sahabatnya sedang bersedih.
“Ya. Kamu mengenal orang itu. Dulu kalian sekelas.” aku Joya.
“Oh ya? Siapa? Jadi aku mengenalnya? Ya Tuhan..” Celia terlihat kaget.
“Hmm, tentu saja kamu mengenalnya. Tapi sepertinya kalian tidak terlalu dekat. Aku tidak pernah melihat kalian mengobrol panjang lebar di sekolah.”
“Siapa Joy? Kamu membuatku semakin penasaran.” Celia merengut manja.
“Hmm, Farez. Teman sekelasmu ketika kelas X.” senyum lebar Celia hilang seketika mendengar nama itu. Farez-nya kah? Atau adakah Farez lain yang dulu pernah sekelas dengannya? Tidak ada. Hanya ada satu Farez.
“Farez?” tanya Celia hati-hati. Dia sudah menguasai dirinya kembali.
“Hmm.” Joya mengangguk senang. Kamu salah Joya, bahkan kami sangat dekat. Ungkap Celia dalam hati. Dengan susah payah Celia menelan ludahnya. Kenapa semuanya jadi kacau begini? Kenapa harus Farez yang sama? Kenapa bukan Farez yang lain? Celia ingin menangis, tapi dia berusaha untuk tetap terlihat senang di hadapan Joya.
“Oh ya, apa ceritamu?”
“Tidak ada. Aku menipumu supaya kamu menceritakannya dengan cepat.” Celia berbohong.
“Dasar Celia…” Mereka akhirnya tertawa bersama. Tanpa Joya tau, bahwa tawa Celia bersamaan dengan tangisannya dalam hati.

Cerpen Karangan: Sahila Daniara

Cerpen Dan, Kita (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengkhianatan Cinta

Oleh:
“Maafkan Aku.” Hanya itu kata yang terus kau ucapkan dari bibirmu, kata itu tidak bisa membuat hilang rasa sakitku. Seketika dadaku terasa sakit, kenanganku bersamamu masih terlintas dalam benakku.

Sahabatku Adalah Musuhku

Oleh:
Pagi yang cerah menyambut gadis cantik pergi menuntut ilmu. Dia terlihat cantik dan anggun. Berseragam OSIS SMP. Dia duduk di kelas 9 dimana yang menunjukkan penuh tantangan, semangat yang

Sahabat Jadi Musuh

Oleh:
“Nad, lo mau ke kantin gak?” Sahut Tia. Tia dan Nadia adalah seorang sahabat yang telah berteman selama 5 tahun. Mereka bisa dikatakan teman yang sangat dekat sekali. Pada

Dia

Oleh:
Ketika menatapnya dari jauh saja aku tersenyum, bagaimana jika aku memilikinya. Dia yang kukagumi, dia juga yang kucintai. Langit cukup mendung, angin bertiup dengan kencangnya seperti akan menandakan hujan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *