Dan, Kita (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 10 June 2015

“Celia, sudah mengemasi barang-barang sayang? Jangan sampai ada yang tertinggal.” Mamanya menghampiri Celia ke kamarnya. Celia sedang asyik melihat-lihat fotonya bersama Farez.
“Eh, sudah kok ma. Besok semuanya sudah beres.” Celia mengacungkan jempolnya. Mamanya tersenyum dan meninggalkan Celia.
Celia bingung. Ini sudah sebulan sejak Joya menceritakan tentang Farez padanya. Celia terlalu pengecut untuk membicarakan perihal hubungannya dengan Farez. Dia takut melukai hati Joya, takut membuat Joya kecewa, takut Joya membencinya dan menjauhinya. Sehinggga Celia memilih untuk tetap diam dan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Dia juga tidak membicarakan apapun pada Farez, hubungan mereka berjalan seperti biasanya. Tapi untuk saat ini Celia benar-benar bingung. Lusa dia akan meninggalkan Ibu Kota Sumatera Barat ini dan pindah ke Kota Bandung bersama mama dan papanya. Papanya mempunyai kontrak kerja baru di sana, dan mau tak mau Celia dan mamanya juga ikut diboyong. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
“Sore Celia. Kamu mau kemana? Sepertinya barang-barangmu dibungkus semua?” Joya tiba-tiba saja muncul di kamarnya. Celia sedikit kaget karena Joya membuat lamunannya buyar.
“Eh.. Joya. Lusa aku akan pindah..”
“Pin..” Joya tidak menyelesaikan kalimatnya dan meraih foto yang berserakkan di atas tempat tidur Celia. Celia melupakan foto itu ketika Joya datang. Celia hanya bisa mematung ketika Joya menyaksikan foto itu dengan tatapan kecewa.
“Aku sudah bilang padamu kalau aku menyukainya. Dan kamu tega merebutnya diam-diam di belakangku.” Joya menumpahkan air matanya. Raut mukanya terlihat marah.
“Aku tidak merebutnya diam-diam darimu. Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya.” Celia berusaha menenangkan Joya.
“Aku tidak butuh penjelasan. Aku kecewa padamu. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Sepertinya aku menceritakan semua perasaanku selama ini pada orang yang salah.” kalimat terakhir Joya sebelum melangkah meninggalkan Celia sendirian di kamarnya.
“Baik. Aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi kalau itu membuatmu senang Joy. Lusa aku akan pindah dan kita tidak akan bertemu lagi. Dan kamu bisa bersama dengan Farez.” ucap Celia lirih. Setelah itu dia menangis semalaman sampai matanya bengkak.

“Kenapa tiba-tiba mengajak bertemu?” tanya Farez ketika dia menghampiri Celia yang telah lebih dulu menunggu di taman bermain.
“Tidak ada. Hanya ingin melihatmu.” Celia tersenyum.
“Benarkah? Hanya itu?” Farez menyipitkan mata curiga.
“Hmm..” Celia mengangguk. Pertemuan untuk perpisahan kita, sambung Celia dalam hati.
Selama dua jam mereka menghabiskan waktu bersama. Main ayunan, perosotan, mereka juga main kejar-kejaran sampai mereka terlihat benar-benar lelah.
“Ayo pulang. Sudah pukul tujuh malam. Nanti Mamamu mengira aku menculikmu.” canda Farez.
“Aku sudah minta izin kok. Baiklah. Selamat malam Faz.” Celia mencium pipi kanan Farez. Mungkin, itu adalah ucapan selamat tinggal darinya untuk Farez. Setelah pindah dia ingin melupakan Farez. Itu akan lebih adil bagi Joya.
“Selamat malam. Sampai jumpa besok.” Farez kemudian melangkah meninggalkan Celia ke arah yang berlawanan. Celia pun berusaha menyeret kakinya yang membeku di tempat dengan mata yang terus menatap punggung Farez. Selama perjalanan pulang, Celia melepaskan tangisannya.
“Maaf Farez. Sampai jumpa besok takkan bermakna. Besok kamu tidak akan menemukanku lagi. Mungkin kita bukanlah Romeo dan Juliet masa depan.”

Ketika kabar tentang kepindahan Celia sampai ke telinga Farez. Dia berlari ke kelas Celia, gadis itu memang tak ada. Tanpa memikirkan apapun dia berlari ke rumah Celia, ke taman bermain, ke café tempat mereka biasa meminum Cappucino bersama. Tak ada. Celia memang sudah pergi dan tidak mengatakan apapun padanya. Sejak hari itulah, Joya muncul di hadapan Farez dan secara perlahan menyembuhkan luka di hatinya. Namun, sesakit apapun, dia tetap tak bisa menghentikan rasa cintanya pada Celia. Pesona gadis itu telah terbingkai permanen di dinding hatinya. Rasa cinta itu akan tetap sama. Dulu, kini dan nanti.

“Apakah sekarang kamu sudah punya kekasih lagi?” tanya Farez hati-hati.
Celia menjawabnya dengan sebuah anggukan.
“Oh.. Selamat kalau begitu. Siapa namanya?” tanya Farez lagi.
“Ken.” jawab Celia singkat.
“Mau kah kamu menceritakan padaku tentang Ken?”
“Ken. Dia menjadi pacarku empat tahun yang lalu. Kami satu kampus, tapi dulu dia SMA di sini. Dia sangat baik dan perhatian padaku.” Celia berbohong.
“Kamu mencintainya?”
“Untuk apa kamu menanyakan itu? Tentu saja aku mencintainya.” Celia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
“Kenapa dulu meninggalkanku begitu saja? Aku hanya ingin tau jawabanmu. Semudah itu kamu melupakanku dan beralih mencintai Ken?”
“Aku tidak ingin menangis ketika melihatmu melepas kepergianku. Lebih baik aku pergi diam-diam dan membuatmu membenciku. Aku pikir, kalau aku bersama Ken aku bisa melupakanmu.” jelas Celia dengan suara pelan.
“Kenapa harus membuatku membencimu dan kenapa kamu harus melupakanku? Celia tolong bicara yang jelas.” Farez terus mendesak Celia.
“Tolong jangan paksa aku untuk menjawab semuanya. Tolong Farez jangan begini.” Celia berteriak.
“Aku hanya ingin tau alasanmu. Celia, aku yakin kamu belum sepenuhnya melupakanku. Aku tau kamu, dan aku tau sekarang kamu sedang berbohong padaku. Bicara Celia, biar semuanya jelas.” Farez menatap Celia yang sedang berusaha menyembunyikan kebohongannya.
“Dari dulu aku selalu ingin bertanya pada diriku sendiri. Kenapa? Kenapa aku meninggalkanmu? Kenapa aku memutuskan untuk menjauh dan pergi? Sampai saat ini, ketika dia sudah mengisi waktu di hidupku, Aku tetap tak bisa, tak bisa berdusta, bahwa Aku selalu dan masih mencintaimu, Farez.” ucap Celia lirih tanpa keraguan sedikitpun. Farez hanya mampu menatap Celia tanpa bicara. Dia menunggu kalimat selanjutnya yang yang diuraikan Celia.
“Aku melakukan itu agar kamu membenciku. Agar semuanya adil bagiku dan Joya. Waktu itu aku hanya memikirkan bagaimana supaya Joya tidak membenciku karena dia merasa aku merebutmu darinya. Dan aku lebih memilih untuk kehilanganmu daripada kehilangan Joya. Tapi pada akhirnya aku kehilangan keduanya.” Celia menyelesaikan kalimatnya dengan hembusan napas panjang.
“Lalu sekarang?”
“Sekarang? Sudahlah Farez, itu sudah lama sekali. Sekarang semuanya sudah berbeda. Kita sudah punya dua orang yang sama-sama menyayangi kita. Jalani saja. Masa lalu yang membawa kita pada jalan ini. Aku masih menyayangimu Faz, tapi aku tak mau egois. Masih ada Ken di sampingku, begitu juga denganmu, ada Joya.” Entah apa yang sedang dipikirkannya sampai Celia mengucapkan kalimat berjiwa besar ini. Padahal, selama perpisahannya dengan Farez dia selalu berharap agar suatu hari mereka bisa bertemu lagi.

Mereka sama-sama terdiam kembali. Saat ini Celia benar-benar tidak tau apa yang akan dia lakukan. Dia bertemu lagi dengan Farez, cintanya yang belum usai lima tahun lalu. Namun Celia juga sudah bersama Ken sejak empat tahun yang lalu. Dan Farez pun sudah ada Joya dalam hidupnya. Dia tidak ingin menyakiti hati Joya lagi walau dia sendiri merasa sakit.
Kemudian Celia dan Farez mengakhiri pertemuan mereka. Perpisahan seperti lima tahun yang lalu.
“Selamat sore Farez.”
“Selamat sore Celia. Sampai jumpa.”
Kemudian mereka berjalan ke arah yang berlawanan. Celia berdiri mematung menatap punggung Farez. Dia tidak lagi berusaha menyeret langkahnya untuk pergi. Dia akan memperhatikan langkah Farez sampai pria itu menghilang di kelokan ujung jalan. Tapi Farez kemudian membalikan badan dan berlari kembali ke arah Celia. Tanpa sadar Farez memeluknya. Celia hanya mampu mengeluarkan air mata. Dia tidak tau apa yang harus dilakukannya. Dia mencintai Farez, tapi tidak akan melukai Joya lagi. Dia akan membiarkan Farez bahagia bersama Joya, walau dia sendiri tidak yakin dia bahagia bersama Ken.
“Tolong, jangan pergi lagi seperti waktu itu. Jangan biarkan aku menunggumu lagi. Lima tahun itu sudah terlalu lama.” bisik Farez di telinga Celia.
Farez melepaskan pelukannya dan kembali berjalan menjauhi Celia. Dia melambaikan tangannya dengan senyuman. Akhirnya Celia membalas lambaian itu dengan senyumnya yang paling manis. Apa lagi yang bisa dia lakukan ketika dia telah berusaha melupakan sosok itu dan tidak berhasil sama sekali? Celia terus menatap Farez yang saat ini terlihat benar-benar tampan dan keren dalam balutan kaus putih dan jacket birunya yang dipadu dengan jeans bewarna senada.
“Joya, aku harus bagaimana?” Celia berharap Joya mendengarnya.

Mereka tidak menyadari kalau dari tadi Joya bersama mereka. Joya menyaksikan semuanya, mendengar percakapan mereka. Mata Joya terlihat merah. Entah itu sedih atau marah. Tanpa pikir panjang Joya berlari menuju rumah Celia yang tidak jauh dari taman bermain itu. Dia harus sampai sebelum Celia.
“Selamat sore tante?” Joya menyapa mama Celia dengan napas menderu.
“Joya? Selamat sore. Apa kabar sayang? Kamu semakin cantik.” mama Celia menyambut Joya dengan ramah.
“Iya tante. Baik tante. Terima kasih. Apakah Celia ada di rumah?” Celia pura-pura bertanya.
“Dia tadi keluar. Kamu bisa menunggu di kamarnya. Tante akan menghubunginya.”
“Tidak usah dihubungi tante. Joya akan menunggu.” Joya kemudian berjalan menuju kamar Celia.

Joya mengamati kamar Celia yang saat ini dimasukinya. Tidak ada yang berubah. Tentu saja, sudah lima tahun Celia tidak menempati kamar ini. Semuanya masih sama, di dinding atas tempat tidurnya masih terdapat tempelan kertas yang mereka tulis bersama-sama, entah itu harapan atau cita-cita. Di meja kecil yang berada di sebelah tidur Joya masih terpajang foto mereka berdua. Namun, di sebelah foto itu juga terbingkai sebuah foto dimana Farez dan Celia saling tertawa lepas.
Joya melihat sebuah kotak di bawah tempat tidur Celia dan membuka kotak itu. Dia tau itu salah dan tidak sopan. Tapi dia hanya ingin tau seperti apa hubungan Celia dan Farez di masa lalu yang dengan tega dirusak oleh keegoisannya. Kotak itu berisi foto-foto Celia dan Farez yang dulu membuat Joya marah, sebuah buku tentang Romeo and Juliet, juga ada sebuah buku harian mungil. Dengan ragu Joya membuka buku harian itu. Dia membaca semuanya dan dia menyadari kesalahan yang telah dia buat. Celia mengenal Farez sejak SMP dan mereka berpacaran jauh sebelum Joya menceritakan tentang Farez padanya.

Maret 2005,
Aku jadian dengan Farez. ^_^

Tiba-tiba Celia muncul dan Joya menjatuhkan buku harian itu.
“Joya?”
Joya berlari menghampiri Celia dan memeluknya dengan tangisan terisak-isak.
“Maaf Celia. Maaf aku terlalu egois waktu itu. Aku yang merebut Farez darimu, aku yang membuat kalian berpisah. Aku..”
“Sudahlah Joy, aku sudah memaafkanmu. Itu sudah terlalu lama. Dan sekarang aku sudah punya kekasih baru. Bahagialah bersama Farez.” Celia membelai rambut sahabatnya itu.
“Tidak. Kamu yang harus bahagia dengan Farez..”
Celia tak menjawab. Dia tetap memeluk sahabat yang lima tahun tak pernah dijumpainya itu. Kemudian mereka bercerita tentang banyak hal dan hubungan mereka kembali seperti waktu itu. Tak ada dendam dan kesalahpahaman lagi di antara mereka berdua.

“Maafkan Aku Celia, selama beberapa hari ini aku sibuk dengan urusanku dan sedikit mengabaikanmu.” Ken tersenyum dengan sangat manis pada Celia yang saat ini duduk berhadapan dengannya. Celia hanya tersenyum tipis dan tidak membalas apapun.
“Cel, ada apa denganmu?” Ken menyentuh tangan Celia. Celia menghembuskan napas panjang.
“Tidak ada.” jawab Celia singkat.
“Oh iya, aku hampir lupa memberi tahumu. Minggu depan aku akan liburan ke Venesia bersama Danny dan yang lain. Jadi selama beberapa hari ini aku akan benar-benar sibuk. Kuharap kamu memakluminya.” Ken terus bicara tanpa mau tau apa yang sedang berkelebat di pikiran Celia.
“Tidak Ken. Ketika kamu pulang dari liburanmu, aku bukan lagi Celia-mu. Aku bukan lagi kekasihmu.” Celia menggeleng dengan cepat. Butuh banyak keberanian untuk mengucapkan kalimat itu. Dia tidak ingin menyakiti siapapun lagi. Cukup Joya saja yang merasa tersakiti olehnya.
“Apa maksudmu?” Ken menaikkan sebelah alisnya.
“Ayolah Ken, saat ini aku masih kekasihmu. Dan kamu sendiri tidak bisa memahamiku. Kamu selalu sibuk dengan teman-temanmu dan terus mengabaikanku setiap saat. Aku tidak bisa lagi menyandang status sebagai pacarmu.” napas Celia terdengar tidak teratur.
“Jadi maksudmu kita putus? Begitu?”
Celia hanya mengangguk kemudian berdiri dari duduknya. Ken dengan cepat menahannya.
“Kita belum selesai bicara. Jangan meninggalkanku begitu saja.” Ken bicara pelan. Dia menyadari kesalahannya dan tidak ingin gadis di hadapannya berlalu begitu saja.
“Maaf Ken, ada seseorang yang saat ini sedang menungguku.” Celia menepis tangan Ken yang berusaha menahan langkahnya.
“Siapa? Kekasih barumu?” selidik Ken.
Celia menggeleng dengan cepat kemudian berjalan tergesa meninggalkan Ken yang diliputi rasa bersalah dan penyesalan, karena tidak menjaga orang yang dia sayangi dengan baik.

“Aku minta maaf. Waktu itu aku tak seharusnya begitu. Aku seharusnya tak egois dengan perasaanku saat itu. Maaf Farez, maaf.” Joya berkata dengan nada bergetar. Air mata menggantung di ujung-ujung kelopak matanya.
“Sudahlah Joya. Yang penting sekarang hubunganmu dengan Celia sudah membaik. Begitupun aku dengannya.” Farez tersenyum.
“Ya, mulai sekarang aku berjanji tidak akan menjadi pengganggu dalam hubungan kalian. Mulai sekarang aku temanmu, seperti aku dan Celia. Baiklah aku pergi sekarang. Bersenang-senanglah dengan Celia. Kurasa dia sedang dalam perjalanan ke sini.” Joya melirik jam di pergelangan tangannya kemudian berjalan menjauhi Farez dengan lambaian tangan.

Setelah Joya berlalu, Farez hanya diam dan sesekali menggerakkan ayunannya dengan pelan. Diamatinya sekeliling. Taman bermain yang menyimpan banyak kenangannya dengan Celia di masa lalu.
“Hai Faz.” Celia mengagetkan Farez yang mengingat kenangan mereka.
“Oh hai. Kukira kamu tidak akan datang.”
“Aku pasti datang.”
“Jadi dia yang mengisi harimu ketika aku meninggalkanmu? Maaf aku mengikutimu.” Ken tiba-tiba muncul di tengah percakapan Celia dan Farez.
“Dia mengisi hariku jauh sebelum kamu mengenalku.” jawab Celia.
“Baiklah. Aku minta maaf telah membuatmu kecewa selama ini. Mungkin, ini semua pelajaran untukku. Di masa depan, aku tidak akan melakukan hal yang sama pada gadis-ku. Seperti apa yang aku lakukan padamu. Bersenang-senanglah.” Ken tersenyum kemudian beralih menatap Farez dan kembali tersenyum. Farez merasa pernah bertemu dengan Ken, tapi ingatan itu samar-samar.
“Maaf Ken. Dan terima kasih atas waktu empat tahun ini.”
“Itu tidak berarti apa-apa Celia. Aku hanya membuatmu kecewa. Sudahlah. Aku pergi sekarang. Sampai jumpa Cel. Dan..” Ken menunjuk Farez dengan sopan.
“Farez..” balas Farez seolah sudah mengerti dengan isyarat tangan Ken.
“Ah ya Farez, jaga Celia dengan baik. Baiklah, aku pergi.” Ken mengangkat tangan kanannya.
“Tunggu Ken. Dulu aku pernah bertanya padamu kenapa aku harus minta maaf. Sekarang aku tau, aku minta karena aku telah menabrakmu waktu itu. Dan maaf lagi, karena aku merebut gadis-mu.” Farez sedikit menunduk.
“Ya.. Hei, jadi waktu itu..?” Ken kemudian tertawa dan mengedipkan matanya ke arah Farez. Celia hanya mengerinyitkan dahi pertanda bingung. Tak lama Ken menjauh dan menghilang dari pandangan mereka.

Farez tersenyum kemudian meraih tangan Celia. Di genggamnya tangan itu dengan erat. Kemudian mereka berjalan bersama. Melanjutkan kisah masa lalu yang belum usai. Mereka bertemu bukan untuk mengucapkan kata selamat tinggal satu sama lain, tetapi mereka bertemu untuk mengucapkan kata selamat datang kembali. Dan benar, mereka menjadi Romeo dan Juliet masa depan dengan akhir kisah yang bahagia. Takdir pertemuan itu indah bukan?

Cerpen Karangan: Sahila Daniara

Cerpen Dan, Kita (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lelaki Hujan

Oleh:
Seorang gadis sedang duduk di halte menunggu hujan reda. Namanya Maya. Mahasiswi semester 3 di sebuah universitas. Dan, hal yang paling tidak ia suka adalah, BASAH. Tiba-tiba seorang lelaki

Kenangan Terakhir

Oleh:
Di jendela kamarku, aku menangis sambil menatap bintang bintang. Aku berharap dia akan kembali, memelukku, menciumku dan mengelap tangisku. Tapi itu aneh, karena ia gak akan kembali lagi 2

Untuk Mu Rani (Part 2)

Oleh:
Sampai di patung kecap kami memutuskan berhenti untuk menghangatkan tubuh dengan segelas bandrek susu dan jagung bakar. Sambil memandang lampu-lampu pemukiman warga di bawah sana. Asyik ngobrol sana-sini akhirnya

Cinta Sampai Mati

Oleh:
Petualang cinta? mungkinkah itu diriku? Tapi aku lebih suka dengan menyebutnya metaforlova, sebuah perjalanan cinta, dari satu masa ke masa lain dalam kehidupanku. Kali ini aku bertemu dengan seseorang

Angle Of Love

Oleh:
Cinta, tiba-tiba saja aku tertarik ingin menceritakan kisahku. Kisah yang meninggalkan pertanyaan dan aku pun tidak yakin dengan jawabannya. Bermula dari ketika aku dan sahabatku ayu sedang duduk di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Dan, Kita (Part 2)”

  1. Noviani says:

    Bagus banget. Nyesek buangeetz, nangis juga. Top deh.

  2. Effelin says:

    sedih banget ceritanya. cerita tersedih yang pernah aku bace. KEREN!!!!!

  3. safira says:

    Terharu….hampir mirip ma pengalaman q. Walau endingnya g happy kyk crita ini
    jadi nangis nie T_T

Leave a Reply to Effelin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *