Dermaga Tua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 25 January 2015

Dingin sekali.. rasa-rasanya melebihi dingginnya puncak Gunung Sindoro yang pernah kudaki dulu, Bukan… bukan cuacanya, lebih tepat ke hati dan rasa ini yang dingin, kaku, seperti tidak tau mau berbuat apa.
Mungkin rasa itu yang kutinggalkan 6 tahun silam di kota di ujung Utara Sulawesi ini, dan kini aku baru kembali atau baru berani kembali mungkin, ini pun karena beberapa hal.. tidak ingin aku kembali mengobrak-abrik sesuatu yang sudah kujejal secara paksa dan tak kubiarkan sedikitpun memberi alasan kenapa harus seperti itu.. Egois memang, hanya saja aku tak mau sakit, karena terlalu sulit untuk mengobatinya sendiri. Aku telusuri lagi semua, semua yang pernah kutelusuri dulu, 6 Tahun lalu, tidak, rasanya sudah seperti puluhan tahun saja karena terasa begitu lama dan kujalani sendiri… Kuingat-ingat lagi memori-memori yang bagai fatamorgana, terseok-seok memaksa untuk hadir. Sekali lagi.

Rasa rindu ini, tidak bisa kupaksakan untuk diam saja tanpa menggerogoti jiwa yang benar-benar resah ini. Ada yang memaksaku untuk kembali dan benar-benar kembali. Surat itu, surat yang seminggu lalu itu, yang dengan benar-benar bergetar aku membacanya, surat dari seorang istri yang benar-benar mencintai suaminya, yang merelakan hatinya untuk terpecah belah menerima kehadiran bidadari lain di jauh relung hati imamnya.

Untuk yang teringin kukenal, mbak kian

“Assalamualaikum mbak Kian..
lancangnya diri ini mungkin tidak termaafkan, tidak juga untuk dimaklumi, andai saja saya benar-benar menjadi satu-satunya bidadari dalam hati mas Wisnu, tidak akan saya ganggu kokohnya pertahanan mbak Kian untuk benar-benar pergi.
Andai saya diberi kesempatan untuk memohon dan bersujud di kaki seorang manusia, maka saya akan lakukan itu di kaki mbak kian, kembalilah mbak, jenguk sebentar sesuatu yang pernah mbak tinggalkan dulu, bukan, bukan untuk kembali ke ruang waktu yang dulu, tapi hanya sekedar menyembuhkan rasa rindu seorang laki-laki yang menjaga cintanya dengan luar biasa tanpa ada seorang pun tau termasuk saya, yang kini sedang berusaha melawan penyakitnya di pembaringannya sekarang, buakn untuk saya, mungkin untuk mbak kian. Dia Koma mbak kian, mas wisnu sudah koma 23 hari. Bahkan orang-orang berbaju putih yang sekolah begitu tinggi untuk menyembuhkan orang lain, tidak memberi saya harapan apapun kecuali bersujud pasrah di atas sajadah.

Kembali sebentar saja, agar tak akan ada penyesalan lagi nantinya. Saya juga seorang perempuan mbak kian, saya mengerti dan benar-benar paham atas semua rasa yang jauh-jauh tetap membekas di hati mbak kian.
kembalilah untuk mengucapkan salam perpisahan, salam yang sebenarnya tak pernah dinanti mas Wisnu, tapi dia butuh itu saya rasa. Butuh itu agar tidak ada lagi beban yang telah lama bersarang bersama penyakitnya. Maafkan ego ini mbak kian, maafkan ego yang hanya ingin merasakan bahagianya mas Wisnu.

Tertanda sayang
Ainun Safira

Aku bergetar hebat, nama itu “Ainun Safira” akan kuanggap apa dia Tuhan, musuhku? Perebut kebahagiaanku? Bodohnya aku, akulah musuh diriku sendiri. Yang selama 6 tahun ini mencoba menjadi seorang sanguinis.

Aku ke dermaga tua itu, di pesisir kota yang begitu kubanggakan.. Tempat aku tumbuh besar menjadi seorang gadis tangguh, bersama keluarga yang juga tangguh tapi hangat.
Dermaga yang kau bilang dapat mengenang semua tentang kau, dan dermaga yang kau bilang juga dapat mengubur semua tentang aku. masihkah kau sering kesini di malam-malammu yang sunyi? Banyak yang bilang kau kesini setelah Tahajudmu selesai, termenung menatap ombak-ombak halus, hingga waktu subuh tiba.. apa yang sebenarnya kau lakukan Wisnu? Mengenang aku kah atau mencoba mengubur semua? Dan kupastikan kau mengubur semua tentang aku, setelah kudengar kau menikahi seorang gadis yang pasti cantik yang belum kutau nama dan parasnya. Namun aku tetap berharap bahwa itu salah.

Air mataku tak sanggup lagi kubendung. Aku menangis dalam bisunya malam ini, menangis di dermaga tua itu, lemas sekali aku, terduduk dan menahan badanku di salah satu kayu pembatas dermaga. Apa yang kutangisi, kegagalanku? Ataukah apa?
“Menantimu calon penyempurna dienku, Kian.”
Tulisan itu kutemukan di kayu pembatas dermaga tempatku bersandar. Tuhan apalagi ini.. sudah cukup, sudah, aku menangis dengan suara yang kudengar sendiri.

“mama” ya Wisnu selalu memanggil ibuku dengan “mama”, dia begitu dekat dengan keluargaku, dialah sahabatku sedari kecil, teringat ketika kita selalu bermain kejar-kejaran, dia selalu memelankan laju larinya hanya agar aku menang dan menangkapnya, yang rela membagi semua makan siangnya saat makananku tertinggal, yang mengaku dirinya lah yang memecahkan vas bunga di ruang kepala sekolah, hingga dihukum membersihkan ruangan kelas, padahal aku yang melakukannya, yang sempat resah aku dibuatnya hingga masa SMA kami. Ya ada rasa yang belum pantas kami rasakan, tapi kamilah manusia, kita saling mengatakan tapi tak saling meneruskan menjadi hubungan yang belum pantas.. sesekali bertukar kabar, tapi tanpa ku tahu dia meminta aku pada orangtuaku, berjanji menjadi imam dan penyempurna dien nantinya. Entahlah keababilan apa ini, atau seserius itukah dia? sampai saat aku jengah dengan sebuah keadaan dan benar-benar keluar dari cerita ini, aku ingin lari, lari sejauh aku bisa, menempatkan diri ke tempat pengasingan yang tak seorang pun mengenal aku.

Saat sarjana kuraih, 6 tahun lalu kuputuskan benar-benar pergi, kutinggalkan semua yang ada, kota tercintaku dan keluarga besarku… Aku mencari pekerjaan di ibukota, dan 6 tahun ini aku begitu menikmati kesibukanku di kantor, kunikmati setiap jengkal kesendirian ini, sunyi memang namun ini duniaku yang mengajarkan aku sendiri lebih baik dan takkan ada yang terluka. hingga surat itu datang menggetarkan hati…

Aku kembali wisnu, kembali untukmu.. kembali karena wanita bejilbab sedikit lebar yang sama denganku itu..
Kupandangi kau dipembaringan itu. Kau tampak begitu tampan, banyak sekali selang melilit tubuhmu, wajahmu syahdu didampingi bidadari lemah lembut yang juga teduh, berbeda sekali dengan pembawaanku yang hiperaktif dan penuh semangat.

Ainun… kupanggil bidadari itu, “Panggil saya fira saja mbak”, dia memelukku seperti saudara perempuan yang telah lama tak berjumpa, fira menanggis sejadi-jadinya, melontarkan kata maaf yang begitu tulus, lembut sekali. Beruntungnya kau wisnu, inikah bidadarimu? Kenapa harus masih ada aku di hatimu, sedang bidadari ini jauh lebih indah. Aku pun ikut menangis.
“Bagaimana fira bisa tau tentang aku dan perasan ini? Apakah wisnu menceritakannya, lelaki tidak berperasaan yang tega melakukan itu. Fira mengetahui dari awal. Tak sedikit pun wisnu menunjukkan ada yang lain di hatinya, ada cinta yang lain, bukan untuk fira tapi aku. Ya diari-diari itu. diari wisnu di lemari yang dibaca fira. Diarinya sejak kecil hingga saat ini, tak terlewatkan sedikitpun cerita-cerita kami disitu, dia begitu detail menulisnya. Kukira akan sangat cocok menerbitkannya menjadi sebuah novel. Yang aku bahkan tidak tahu.. Akulah tokoh utamanya. Hanya aku. Itu dulu. Atau sampai kini?

Tuhan, kenapa bukan aku di sampingnya, kenapa bukan aku yang bisa membasuhnya dengan tangan ini, kenapa bukan aku mahromnya, kenapa.. kenapa.. benar-benar aku merasa jijik dengan pikiranku ini. Apakah aku pikir Wisnu bisa sebaik ini kalau dia denganku,
Aku harus segera kembali, kembali ke duniaku lagi yang tanpa Wisnu, kembali untuk menyerahkan semua untuk fira.. kutitipkan surat untuk Wisnu.. entah ada waktu membacanya atau tidak.

Assalamualaikum wisnu..

Hei kau jadi laki-laki yang begitu tangguh dan tampan sekarang, bagaimana kau tidak bisa melawan penyakitmu. Apalagi dengan bidadari cantik pilihanmu, dia benar-benar seorang bidadari wisnu.

Aku benar-benar harus pergi wisnu, tapi apakah itu butuh sebuah alasan kenapa aku harus pergi dan tidak menjadi penyempurna dienmu? Maaf kalau membuatmu resah, tapi bukankah itu membuatmu semakin dekat dengan pencipta.Mu? bukankah kau menemukan seorang bidadari sholehah itu yang kini tengah mengandung buah hatimu? Kumohon jangan jadikan aku alasan bahagiamu yang tak sempurna, karena aku pergi untuk tidak meninggalkan sedih hatimu jika kau bersamaku.

Jaga fira wisnu, karena dia sudah seperti saudara perempuanku, dia begitu baik, dia lembut wisnu.. Dan aku telah membuat pilihan untuk tidak bersamamu, bahkan untuk tidak bersama lelaki manapun. Aku bahagia dengan kesendirian ini, aku bahagia dengan anak-anak asuhku di Panti Asuhan yang kukunjungi sebulan dua kali. Dan aku tidak ingin serakah lagi untuk mengambil kebahagiaan kalian. Jadikan aku sahabat kecilmu yang tidak pernah kembali, karena aku tetap akan jadi sahabat kecilmu yang terus mendoakanmu, fira dan calon jagoan kecil kalian.”
sesekali pergilah ke dermaga tua itu bersama fira.. aku menemukan sebuah tulisanmu disitu, “Menantimu calon penyempurna dienku, Fira” walaupun agak sedikit berbeda ..

Tertanda, saudara perempuan fira yang paling cantik..

Kian

Sebelum aku kembali ke tempat pelarianku, tempat kusibukkan diriku untuk menghapus rasa ini. Aku singgahi lagi dermaga tua itu, ku duduk sendiri menikmati lembutnya angin sore yang segera membawa jingga.

Terimakasih mengajarkan aku untuk ikhlas, terimakasih mengajarkan aku bahwa bahagia bukan ketika memiliki tapi ketika kita kita tahu bahwa ada orang lain yang menyempurnakannya, Terimakasih Wisnu,
Terimakasih Fira, kalian adalah orang-orang yang akan membuatku selalu merasa kuat melawan semua ini.

Kulirik ada Messages baru di HP ku, dari fira “mbak kian, mas wisnu sudah sadar, kembalilah mbak ke rumah sakit, kembalilah mbak ke rumahmu yang sebenarnya, saya akan sangat senang jika mbak menjadi saudara perempuan saya. mbak kian, akan segera saya bacakan surat dari mbak kian untuk mas wisnu.

Ku hapus sms itu, ku hapus nomor telefon fira dan ku patahkan sim cardku. Aku tersenyum. Bahagialah Fira. kupegang dan kudekap benda itu, sebuah Al-Quran pemberian Wisnu selepas kami Ujian Akhir Nasional, itu 10 Tahun yang lalu. Dan kubuka selembar kertas yang sengaja selalu kuselipkan disitu, selembar kertas kuterima dari seorang dokter kandungan yang memeriksaku 6 tahun lalu,
“Rahimku positif tidak dapat mengandung janin, aku mandul…”

Cerpen Karangan: Rizkiani Iskandar
Facebook: Rizkiani Iskandar
Seorang gadis bernama Rizkiani Iskandar, kelahiran 5 Oktober di Gorontalo 20 Tahun yang lalu, saat ini telah berhasil menyelesaikan study nya di Program Diploma Ekonomika dan Bisnis di Universitas Gadjah Mada yang akan diwisuda Februari 2014.. Sangat senang menulis saat tidak ada kegiatan, dhoby lainnya adalah Hiking dan traveling…

Cerpen Dermaga Tua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Tinggal

Oleh:
Namaku Dita Novelina Prasityani, biasa dipanggil Dita. Aku tinggal di Jakarta, sekarang aku duduk di bangku SMA Citra Pahlawan Kristen kelas 11G. Aku adalah bintang sekolah di SMA ini,

Persahabatan dan Cinta

Oleh:
Rintik hujan membasahi sore ini. Tawa kami bertiga mewarnai dinginnya senja. “Hahaha! Aku tahu dong, siapa dulu akuuu..” kata Elin. “Gayamu.” kataku mengetik tugas di laptop. “Sepertinya seru ini

Sepenggal Lorosae

Oleh:
“Permisi!” Hampir serentak suara di teras depan rumah disertai ketukan di pintu. Pagi itu pandanganku beradu dengan dua orang setelah pintu terbuka. “Sonia!, om Alfredo!, selamat datang di Indonesia!”

Kurindukan Engkau Di Sana

Oleh:
Senja telah tiba, ku memandang langit yang bagaikan lukisan indah terbentang luas. Sampai fikiranku teringat kenangan masa itu. Kenangan disaat kita masih bersama, disaat kita masih bisa tertawa, bahagia,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dermaga Tua”

  1. Shidiq says:

    Cerpennya bagus sekali, bisa membuat saya larut dalam alur, begitu luwes dan teratur, membuat saya bisa merasakan bagaimana tokoh Kian yang digambarkan oleh mbak kian sendiri 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *