Disaat Cinta Mulai Menyapa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 20 February 2015

Siang itu matahari bersinar sangat terik. Panasnya menusuk hingga ke kulit anak-anak jalanan yang mulai berhamburan menghampiri setiap mobil yang berhenti di pertigaan lampu merah. Nia dan Rangga yang baru pulang sekolah terasa miris melihat kejadian tersebut.
“Kasihan yah anak-anak itu, di bawah terik matahari yang panas ini mereka harus mengemis untuk dapat bertahan hidup” ujar Nia sedih.
“Iya sih, tapi kamu sadar nggak sih kalau mereka itu dikendalikan oleh oknum yang menyuruh mereka untuk mengemis dan nantinya uang yang mereka hasilkan diberikan kepada oknum tersebut” ujar Rangga.
“Itu memang benar, iiih… aku sebel sama oknum-oknum tersebut. Mereka nggak tahu apa, kalo anak-anak itu punya hak yang sama seperti kita, hak untuk bersekolah, hak untuk bermain dan hak untuk bahagia. Mereka itu sudah menderita dengan hidup mereka, kenapa oknum tersebut masih memanfaatkan anak-anak polos itu demi kepentingannya sendiri, apa mereka nggak punya hati?! Uuh… sebel aku sama mereka!! Awas aja ya kalo aku sampai ketemu mereka, akan kutinju dan kupatahkan tangan mereka semua!!” ucap Nia sambil memperagakannya kepada Rangga.
“Eh… eh.. Nia, jangan anarkis gini dong!! Sabar dulu!!” ujar Rangga yang tubuhnya diguncang-guncangkan oleh Nia.
“Oh maaf, maaf, aku terbawa suasana” jawab Nia terbata.
“Iya nggak pa pa. Oh ya, gimana kalo kita membantu anak-anak jalanan itu?!” ucap Rangga.
“Caranya?” Nia bertanya-bertanya.
“Gimana kalau kita membuat rumah singgah untuk anak-anak itu. Walaupun mereka tidak bersekolah, mereka dapat menimba ilmu disana” usul Rangga dengan semangat.
“Rumah singgah? ehm… Boleh juga!! Sekalian kita berbagi ilmu kita untuk mereka!!” ujar Nia dengan wajah berbinar.
“Baiklah, serahkan saja semuanya padaku!!” ujar Rangga mantap.
Lalu Rangga dan Nia berjalan pulang dengan hati gembira dan kepuasan hati.

Di sisi lain Nia jauh lebih bahagia, sifat peduli sesama yang dimiliki Rangga membuat Rangga berbeda dengan cowok lain. Nia merasa nyaman bila berada di dekatnya. Walaupun Rangga berasal dari keluarga yang berada, namun dia tak pernah sombong. Bahkan Rangga mau bersahabat dengan Nia yang notabennya berasal dari keluarga yang sederhana. Persahabatan mereka dimulai sejak mereka berdua duduk di sekolah dasar. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Rangga yang merupakan cowok idaman para cewek di sekolahnya sering kali membuat Nia gemes karena sifat pelupanya.

Pernah pada suatu hari, Rangga kehilangan kunci motornya. Dia bahkan sudah mengumumkannya ke seluruh penjuru sekolah dan berjanji akan memberikan hadiah kepeda orang yang menemukan kunci motor tersebut. Alhasil, semua orang di sekolah itu mencari kunci motor kapten andalan tim sepak bola SMA Harapan Bangsa itu. Namun hingga bel pulang sekolah berdering, tak ada satu orang pun yang berhasil menemukannya. Dengan hati kecewa, bingung, bercampur takut akhirnya Rangga pulang naik angkot bersama Nia, sahabatnya.

Sesampainya di rumah, Rangga segera menyelinap masuk ke dalam kamar. Saat dia melepas seragamnya dan menggantungnya, tiba-tiba ada sesuatu jatuh dari saku celananya. Ia mengambil benda itu dan ternyata benda itu adalah kunci motor yang ia cari-cari. Dia baru sadar kalau kunci itu dia masukkan ke dalam saku celananya, saat dia terburu-buru menemui Bu Riska tadi di sekolah. Dengan hati senang dan malu dia kembali ke SMA Harapan Bangsa untuk mengambil sepedanya yang ia titipkan pada Pak Amir penjaga sekolahnya. Setelah itu, Rangga tidak lupa mampir ke rumah Nia untuk menceritakan kejadian tersebut.

Sesampainya di rumah Nia…
“Ni, kamu tau nggak sih kalo kunci motor yang aku cari-cari ternyata ada di saku celanaku” Rangga memulai percakapan.
“Hah… kok bisa?” Tanya Nia penasaran.
“Tadi aku buru-buru waktu menghadap Bu Riska, jadi tanpa pikir panjang aku masukin ke saku celanaku” jelas Rangga.
“Rangga, Rangga, kamu masih aja ya nyimpan sifat pelupamu itu. Ha… ha… ha..” Nia terkekeh.
“Tau nih lagi kambuh, Lagian biasanya kan tak masukin ke dalam tas” jawab Rangga malu.
“uh kamu tuh bikin panik orang seantero sekolah saja” jawab Nia masih terkekeh.
“Pliss, jangan bilang ke anak-anak ya!! ntar kalo sampai ketahuan bisa hilang reputasiku” Rangga memohon.
“Iya deh, buat sahabatku yang pikunan” nia terkekeh, sedangkan yang di tertawakan hanya cemberut.

Begituah Rangga saat penyakit pelupanya kambuh, Rangga yang merupakan cowok terfamous di sekolahnya terasa turun derajatnya menjadi seorang yang tak berguna. Sementara Nia sendiri adalah salah satu siswa pandai yang menjadi andalan sekolahnya saat mengahadapi ajang olimpiade sains antar SMA. Nia memiliki jiwa sosial yang tinggi dan kerap sekali membantu orang lain yang membutuhkan, walaupun dia sendiri dalam keadaan yang serba kekurangan. Begitulah Rangga dan Nia bersahabat, mereka tak terpisahkan. Sampai pada akhirnya, timbullah getaran cinta di hati Nia. Nia mulai memendam rasa cinta kepada sahabatnya, Rangga.

Keesokan harinya, ada murid pindahan dari Jakarta. Namanya Rara Anggraini, dia cantik dan anak salah satu donatur di SMA Harapan Bangsa. Saat pertama kali berkenalan dengan Rangga, Rara mulai menyimpan rasa pada kapten pentolan di sekolah tersebut. Dia melakukan berbagai cara untuk mendapat perhatian Rangga. Akhirnya dia meminta bantuan pada Nia untuk mengatakannya pada Rangga. Dengan berat hati akhirnya Nia mengatakannya kepada Rangga.
“Ngga, kayaknya Rara suka tuh sama kamu”, ujar Nia pelan.
“Masa sih?! Emang menurut kamu seperti itu?”, Tanya Rangga antusias.
“Ya kalau dilihat dari sikapnya sih, dia suka banget sama kamu!”, jawab Nia berusaha tegar.
“Ehm, tapi sejujurnya aku juga suka sama dia” jawab Rangga datar.
Deg, jantung Nia serasa berhenti berdegup saat Rangga mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang begitu sederhana namun begitu menyesakkan dada Nia, hatinya patah dan semua harapannya tentang cinta sejatinya pupus begitu saja di depan matanya. Nia mengutuk dirinya sendiri yang mengucapkan hal itu. Namun dia berusaha tegar di hadapan Rangga.
“Hei, Nia kamu kenapa? ada yang salah dari omonganku?” tanya Rangga memuyarkan lamunan Nia.
“Ehm, oh nggak pa pa kok! Bagus dong kalo kamu juga suka sama Rara!” Nia berusaha berusaha tegar.
“Jadi kamu setuju dong kalo aku jadian sama Rara? So, enaknya kapan aku nembak dia?” Tanya Rangga bersemangat.
“Terserah kamu sajalah!!” jawab Nia lemah.
“Bagaimana kalo ntar pulang sekolah?” jawab Rangga bersemangat.
“Apa? pulang sekolah? cepet banget sih?” jawab Nia kaget.
“Iya pulang sekolah nanti. Mumpung aku nggak lupa kalau ada cewek yang naksir sama aku, he… he… he…” jawab Rangga terkekeh.
“Ya udahlah, good luck!!!” jawab Nia datar.
Mereka pun mengakhiri percakapan dan kembali ke kelas.

Terlalu banyak hal yang dipikirkan oleh Nia saat pelajaran berlangsung. Kesedihan dan kekecewaan terhadap keputusan Rangga untuk berpacaran dengan Rara, gadis yang baru dikenalnya. Sementara itu, Rangga sedang menyusun rencana untuk menembak Rara. Tak terasa bel pulang sekolah berdering, semua siswa pun berhamburan keluar kelas. Tinggallah Rangga, Nia, dan Rara di kelas yang berada di lantai dua gedung SMA Harapan Bangsa itu. Rangga mulai menghampiri Rara yang berada di bangku deretan pertama.
“Ra, pulang bareng yuk!”, ajak Rangga dengan tampang cool.
“Hah pulang bareng? boleh juga!” balas Rara dengan hati berbunga.
Akhirnya Rangga dan Rara pulang bersama, meninggalkan Nia yang hatinya terluka. Di sisi lain, Rara merasa sangat senang karena akhirnya dia mendapat perhatian dari Rangga dan sampai pada akhirnya kini merekapun jadian. Rara berjanji tidak akan melepaskan Rangga dan tidak akan membiarkan satu cewek pun mendekatinya.

Hari demi hari berjalan begitu lama, bagi Nia. Tak ada lagi gurauan, tak ada lagi canda tawa dan tak ada lagi tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Kini yang ada hanya luka tergores dalam hatinya saat melihat Rangga sahabat yang dicintainya jalan bersama Rara. Hubungan mereka membuat Rangga lupa bahwa dia mempunyai orang yang terpenting dalam hidupnya yaitu Nia, sahabat karibnya.

Hari itu tepatnya tanggal 17 Februari, hari ulang tahun Nia yang ke-17. Dia berharap di usianya kini dia dapat menjadi anak kebanggaan orangtuanya dan dia berharap dapat menemukan cinta sejatinya yang dapat mencintainya apa adanya. Di sisa hari Minggu itu, Nia menanti Rangga sahabatnya di rumahnya. Biasanya Rangga selalu datang dengan membawa hadiah dan merayakannya bersama keluarganya. Sambil mendekap boneka beruang berwarna pink kesayangannya, dia memandang keluar jendela kamarnya, dan berharap Rangga datang di pekarangan rumahnya. Boneka beruang itu merupakan hadiah ulang tahun dari Rangga saat dia berumur 15 tahun. Dia masih ingat benar kata-kata Rangga saat itu.
“Selamat ulang tahun sahabatku yang paling baik, pintar, dan… cantik. Oh iya ini ada hadiah untukmu” ujar Rangga sambil menyodorkan boneka beruang besar berwarna pink itu.
“Wah hadiahnya bagus sekali, terima kasih sahabatku yang pelupa!!” Nia senang sekali.
“Kebiasaan nih manggil aku pelupa, cowok ganteng kayak begini dibilang pelupa” Rangga cemberut.
“Ceileh ngambek nih, ya udah deh, maafin aku ya Rangga yang ganteng?” Nia memasang tampang memelas.
“Ha… ha… ha… gitu dong. Ehem, (Rangga memasang tampang serius). Sebenarnya alasanku ngasih boneka ini ke kamu yaitu aku ingin selalu ada untukmu. Di saat kamu senang, sedih dan di saat kamu menangis, aku ingin menjadi sandaranmu. Bahkan saat kamu akan terbuai dalam mimpi aku ingin kau memeluk boneka ini agar kau merasakan kehadiranku dan membawa aku ke dalam mimpi indahmu” ujar Rangga dengan panjang lebar.
“So sweet, ha… ha… ha… terima kasih Rangga” ucap Nia tulus.
Itulah saat-saat terindah dalam persahatan mereka. Sampai akhirnya kini Rangga tak hadir dalam ulang tahun Nia, bahkan dia tidak mengucapkan selamat melalui telepon ataupun sms. Nia merasa kehilangan dan terus memeluk erat boneka beruang itu yang menglirkan kehangatan dalam hatinya yang kini beku akan kerinduan.

Keesokan harinya di sekolah, Rangga menghampiri Nia. Perasaan bersalahnya karena telah melupakan ulang tahun Nia kemarin membuatnya merasa canggung untuk berbicara dengan Nia.
“Hai Ni, gimana kabarmu?” tanya Rangga canggung.
“Ha… ha… ha.. kamu kenapa koko canggung gini, ekspresimu itu lucu banget?” Nia terkekeh.
“Oh, eh, ehm Aku minta maaf ya!” Rangga terbata.
“Soal apa?” jawab Nia bingung.
“Karena aku nggak datang ke rumahmu kemarin” jawab Rangga dengan nada menyesal.
“Iya, nggak pa pa. Lagian siapa yang nunggu kamu, GR iihh…” ledek Nia mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku.
“Siapa yang GR? Ehm, sekali lagi aku minta maaf, soalnya aku kemarin nganterin Rara membeli kado untuk hadiah ulang tahun mamanya. Rara tuh sayang banget loh sama mamanya!” Rangga memuji Rara. (suasana hening, Nia hanya terdiam mendengar pujian Rangga untuk Rara)
“Eh Ni, gimana kalau kamu sekarang aku traktir makan di kantin. Ya itung-itung tanda permintaan maaf aku” ajak Rangga bersemangat.
“Ehm, kayaknya enak tuh. Ok, boleh juga” ucap Nia yang mencoba untuk bersikap sewajarnya.

Akhirnya Rangga dan Nia pun pergi ke kantin yang saat itu ramai dikunjungi siswa untuk memaanfaatkan jam istirahat. Nia dan Rangga mengobrol dengan penuh kehangatan canda tawa, yang akhir-akhir ini mulai menghilang dalam persahabatan mereka. Lalu, tiba-tiba…
“Byur” segelas air mendarat di tubuh Nia.
“Apa-apaan ini?” Nia mendongak ke arah orang yang telah menyiramnya.
“Dasar kamu gadis miskin, jangan sekali-kali kamu mendekati Rangga pacarku ya!” bentak Rara pada Nia.
Suasana menegang. Semua mata tertuju kepada Nia, Rara dan Rangga. Dalam situasi itu, Rangga mencoba untuk menenangkan Rara, sementara Nia hanya terdiam.
“Sudahlah Ra, ngapain kamu begini? Nia kan kan sahabatku” Rangga menenangkan.
“Tapi gadis miskin ini telah mencoba merebutmu dariku. Emangnya dia tidak diajari orangtuanya agar tidak mengganggu hubungan orang lain?!” bentak Rara.
“Jangan sekali-kali kamu menjelekkan orangtuaku. Memangnya siapa kamu sampai berani menghina orangtuaku. Memang aku tak sekaya kamu, tapi yang harus kamu ingat, aku tak pernah merebut Rangga darimu” jawaB Rara penuh amarah.
“Sudahlah Ni, kamu tidak perlu marah-marah seperti itu!!!” tegas Rangga.
“Sudahlah Ra, ayo kita pergi dari sini!” ajak Rangga.
Rangga dan Rara pun berlalu, meninggalkan Nia yang kecewa dan terluka. Ia tak menyangka Rangga akan membentaknya di depan teman-temannya dan lebih membela Rara.

Malam harinya di rumah Rangga. Rangga termenung mengingat kejadian tadi siang di kantin sekolah. Dia menoleh ke samping tempat tidurnya, di atas meja kecil itu ada fotonya bersama seorang gadis yang tadi siang telah dilukai hatinya. Ya, itu foto Rangga dan Nia saat mereka piknik ke Bogor bersama, saat itu dia dan Nia sangat senang dapat menikmati hijaunya alam di puncak pegunungan. Rangga menerawang jauh tentang kenangan masa lalunya bersama Nia. Dia menyadari semenjak dia berpacaran dengan Rara, hubungannya dengan Nia mulai meregang. Dia tak mau hal itu terjadi, dia tidak mau kehilangan sahabat seperti Nia. Akhirnya malam itu dia memutuskan untuk berbicara mengenai hal ini.

Sesampainya di rumah Rara.
“Ra, aku mau ngomong sesuatu ke kamu” Rangga memulai pembicaraan.
“Ngomong aja sayang, aku seneng banget kamu main kesini” jawab Rara dengan nada manja.
“Kejadian tadi siang, kenapa kamu melakukannya. Bukannya kamu tahu kalau Nia itu sahabatku” Tanya Rangga.
“Habisnya aku sebel sama dia. Kamu nyadar nggak sih kalo dia bersahabat denganmu itu Cuma mau manfaatin kamu aja. Aku benci sama dia, aku nggak mau kamu dekat-dekat dia lagi!!” jelas Rara.
“Kalo gitu kita putus saja!” Rangga menegaskan.
“Apa, putus? jadi kamu lebih milih dia daripada aku?” Rara merengek tak setuju.
“Ya aku lebih memilih Nia sebagai sahabatku. Karena dia bisa menerimaku apa adanya dan dia jauh lebih menghargai orang lain daripada kamu!” jawab Rangga pasti.
“Tapi aku masih sayang sama kamu!” rengek Rara.
“Ok, aku rasa tidak ada yang perlu kita omongin lagi. Cukup sampai disini hubungan kita. Aku pulang dulu.” Ujar Rangga sambil berlalu.

Keesokan harinya di sekolah. Rangga menghampiri Nia yang duduk termenung di kursinya.
“Ni, maafin aku ya atas kejadian kemarin” ucap Rangga tulus.
“Iya nggak pa pa, aku udah maafin kamu kok” jawab Nia.
“Tapi kenapa…?” Tanya Rangga.
“maksudnya?” Tanya Nia bingung.
“Kenapa kamu selalu maafin kesalahanku? Padahal aku sudah berkali-kali menyakitimu Nia” Tanya Rangga dengan wajah sedih.
Karena aku mencintaimu Rangga ucap Nia dalam hati. “karena kamu adalah sahabatku benar kan?” jawab Nia ceria.
“Terima kasih Nia kau adalah sahabat terbaikku dan aku tidak akan melepaskanmu lagi” ucap Rangga tulus.
Nia tersenyum.
“eh, ngomong-ngomong pulang sekolah nanti kamu ada acara nggak?” Tanya Rangga mengalihkan pembicaraan.
“Emangnya kenapa? Ehmm, aku rasa tidak ada.” jawab Nia.
“Kalo gitu ntar pulang sekolah ikut aku ke suatu tempat ya!” ajak Rangga.
“Kemana..?” Tanya Nia bingung.
“Pokoknya kamu pasti suka.” Jawab Rangga penuh rahasia.
“Ok… tapi Rara?” Tanya Nia melemah.
“Tenang saja aku sudah putus dengannya, jadi kupastikan kejadian kemarin tidak akan terulang lagi” jawab Rangga menenangkan Nia.
“ehmm, Ok lah kalau memang begitu” Nia menyetujui.

Sepulang sekolah Nia dan Rangga pergi ke suatu tempat. Dalam perjalanan Rangga menutup mata Nia menggunakan kain penutup, yang membuat Nia semakin penasaran kemana Rangga akan membawanya. Setiba di tempat tujuan Rangga membuka penutup mata Nia.
“Tara… surprise…” Teriak Rangga.
Nia melihat apa yang ada di depannya tanpa kata. Anak-anak kecil yang masing-masing membawa setangkai bunga mawar merah yang kemudian diberikan kepadanya. Dengan senyum mengembang sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun mereka membuat senang hati Nia. Rangga yang keluar dari dalam rumah membawa kue ulang tahun dan ikut bergabung bersama mereka. Setalah meniup lilinnya, Rangga mengajak Nia masuk ke dalam rumah.
“Terima kasih Rangga” ucap Nia tulus. Oh ya, dari mana kau mengumpulkan anak-anak ini Rangga? Kau sangat memebuatku terkejut”.
“Tenang dulu masih ada kejutan lain di dalam” ucap Rangga rahasia.

Rangga mengajak Nia masuk ke dalam rumah. Rumah itu tidak begitu besar, dindingnya terbuat dari kayu begitu pula atapnya. Saat Nia masuk dia terkejut. Ada meja-meja kecil di sana. Di tengah ruangan terdapat sebuah papan tulis putih dan poster-poster pengetahuan di setiap dinding.
“Bagaimana, kamu suka? sekarang aku sudah menepati janjiku kan?” ucap Rangga menyadarkan Nia dari lamunannya.
“Aku sangat bahagia, kau tahu itu kan?” kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.
“Alhamdulilah kalau kamu senang” jawab Rangga senang.
“Ngga, ini adalah rumah singgah yang sangat nyaman. Terima kasih atas semua yang kau berikan hari ini, ini adalah kado yang paling berharga. Dan terima kasih karena kamu sudah mau mengerti aku dan menjadi bagian terpenting dalam hidupku”
“Iya, sama-sama” Rangga bahagia melihat Nia tersenyum bahagia. Rangga merasakan kehangatan yang mengalir di hatinya. Dia bahagia karena Nia telah menjadikannya orang terpenting dalam hidup Nia. Hatinya bergetar melihat senyum Nia, entah rasa apa itu.

Rangga merasakan kalau dia mulai mencintai Nia, hal itu dia rasakan saat dia tidak ingin kehilangan Nia dalam hidupnya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengutarakannya besok di rumah singgahnya dan Nia.

Keesokan harinya, Rangga meminta Nia untuk datang ke rumah singgah. Dia membuat surprise untuk mengutarakan perasaanya. Sementara itu Nia sangat bahagia, dia juga akan mengungkapkan perasaannya kepada Rangga, apapun resikonya. Walaupun nantinya Rangga tak membalas cintanya, dia tetap akan mengatakannya.
Saat tiba di rumah singgah, Nia melihat Rangga yang sudah ada disana. Nia memanggilnya dan melambaikan tangannya untuk memberi isyarat.
“Hai Rangga,” panggil Nia dari seberang jalan. Rangga menengoknya dan ikut melambaikan tangannya. Namun saat Nia akan menyeberang jalan ada mobil yang menabraknya dari belakang.
“Niaaaaaaa…” teriak Rangga.
Rangga berlari menghampiri Nia, dia memangku tubuh Nia yang bersimbah darah.
“Nia, Nia, bangun.. Jangan Tinggalkan aku, aku mencintaimu Nia” teriak Rangga yang tak bisa menahan air matanya yang mengalir deras.
“Ra…ngga aku sena..ng kau ju..ga men..cintai..ku” ucap Nia terbata.
“Jangan tinggalkan aku Nia!” teriak Rangga.
“maafkan aku Rangga, jaga dirimu baik-ba…ik”
Itulah kata-kata terakhir Nia. Nia meninggal saat dilarikan ke Rumah Sakit. Rangga sangat terpukul atas kematian Nia sahabat sekaligus orang yang sangat dicintainya. Dia merasakan separuh jiwanya telah hilang bersama kepergian Nia untuk selamanya dalam hidupnya.

END

Cerpen Karangan: Lala Nia
Facebook: Lailatul Nikmah

Cerpen Disaat Cinta Mulai Menyapa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Separating Twice

Oleh:
“Kenapa bisa sampai telat sayang?” Georgy datang sambil menyodorkan minuman dingin yang mungkin habis ia beli di kantin barulah ia kemari, “Aku hanya terlambat 1 menit, mungkin satpamnya lagi

Ajariku Menjadi Muslimah

Oleh:
Untuk kesekian kalinya surat-surat ini kutulis di atas kertas putih. Kosong. Ya, kertas itu kosong setelah beberapa tahun silam kucoret-coret dengan tinta kepahitan. Yang kusebut kenangan terindah, namun kini

Mr Sooneth A.K.A Smith (Part 2)

Oleh:
Benar ternyata malamnya aku diajak nona biduan untuk menyanyikan lagu kesukaannya dia lagi, yaitu dangdut. Aku rasanya ingin pergi saja dari tempat ini, tapi mana mungkin. Dia masih punya

Butterfly and Rose

Oleh:
Seekor kupu-kupu masuk dari jendela kamarku, ia lalu hinggap pada setangkai mawar merah dalam vas di meja belajar. Sayap birunya yang indah mengepak-ngepak dengan gemulai di atas mahkota sang

Sekejap Mata

Oleh:
Pagi ini aku berangkat sekolah seperti biasa. Aku berangkat bersama temanku dan menaiki sebuah bus kota. Bus yang sudah terlihat tua dan kumuh itu mengantarkanku pergi sekolah. Bus berhenti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Disaat Cinta Mulai Menyapa”

  1. Sri Dewi Pamungkas says:

    Wah,, kakak.. Cerpennya nyentuh bgt.. Sampe nangis loh, bacanya.. Ini bukan lebay yah,, tpi emang aslinya gitu 😀 good bgt deh 😉

  2. Sepertinya berangkat dari pengalaman pribadi…

    salam
    Doni Setyawan
    cintasemesta.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *