Empat Belas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 15 April 2016

Desir angin mulai terasa dingin di sekitar tempatku berpijak. Dedaunan yang gugur, perlahan mengiringi Zian yang sudah bersiap untuk meninggalkan kampung halaman. Aku melambaikan tangan dan terus menatap di balik kacamata silindrisku untuk memastikan Zian benar-benar pergi karena tuntutan perusahaan yang memaksanya untuk kembali kesana. Zian menghampiriku dan berucap seolah-olah itu adalah kata terakhirnya.
“Kamu jangan sedih ya, By. Aku gak akan nakal kok.”
“Aku percaya kamu, Zi. Hatimu cuma buat aku. Sampai ketemu lagi bulan kedepan, ya!” Sahutku seraya mendongakkan pandangan menahan air mata yang perlahan jatuh ke pipi.

Hamparan bintang yang bergantungan dekat bulan purnama dan butiran air yang jatuh dari langit malam ini seolah menyejukkan hati. Sambil terus membayangkan wajah tampan Zian, aku terus memandang langit yang seolah ikut kehilangan sosoknya yang setiap saat di sampingku. Namun, aku sadar dia bukan anak sekolah lagi. Zian sekarang bekerja di luar kota, dia harus mandiri dan minimal harus bisa membiayai dirinya sendiri.

“Ruby… ke sini, Nak. Kita makan malam.” Ujar mama dari balik kaca kamar.
“Iya, Mah. Aku ke sana.”

Di sekolah…
“Zian udah berangkat lagi ke luar kota, By?” Tanya Tiara. Dia adalah sahabat karibku setahun akhir-akhir ini. Jika aku sedang tidak harmonis dengan Zian, Tiara adalah tokoh reason dalam hubungan kami.
“Hmm… udah kemarin, Ra. Kamu kok, gak datang sih? Ke mana?” Tanyaku sembari menyeruput segelas susu jahe.
“Hih! Aku kan gak mau ganggu kamu sama Zian. Kalau aku datang, pasti jadi kamcong!” Tiara menjulurkan lidah dan menjulingkan matanya seolah mengejekku. Tiara adalah sosok sahabat yang menurutku menghibur dan sedikit menyebalkan. Gayanya tidak terlalu feminim, namun raut wajahnya selalu membuatku tertawa.
“Aduh, dasar Tiara juling, hahaha..” Perutku sakit menahan tawa karena melihat aksi konyol Tiara.

Seminggu sudah, Zian tidak memberiku kabar. Aku mencoba mengerti, tapi aku juga kesal dengan itu. Apa dia bekerja tanpa istirahat? Atau ada kerjaan lain? Atau apalah! Pikiranku mulai semerawut karena itu. Ku coba menenangkan hati agar tetap percaya pada Zian, kalau dia benar-benar bekerja di luar sana.
“Udah seminggu ini Zian gak ngasih aku kabar, Ra.” Ujarku pada Tiara. Tidak biasanya seperti ini, Tiara hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke arahku. Sambil terus memelototi layar gadget, tak sedikit pun dia menggubris perkataanku. “Ra, kamu denger aku gak sih?” Tanyaku seraya memegang bahunya. Dia tetap tidak merasakan kehadiranku di sampingnya. Tiara menatap ke arahku karena tanganku mengambil paksa handphone miliknya.

“Kamu apa-apaan sih, By? Kembaliin gak?!” Dengan seruan keras dan sorotan mata tajam, Tiara mengambil kembali barangnya.
“Kamu yang apa-apaan! Gak biasanya kamu kayak gini, Ra! Kamu masih nganggap aku sahabat gak, sih? Aku tahu kamu lagi deket sama seseorang. Tapi hargain aku, dong. Lebih duluan aku sama kamu, daripada cowok yang lagi deket sama kamu sekarang!” Tegasku sambil terus menatap mata Tiara.
“Terserah kamu, By!” Nada bicara Tiara meninggi, seolah menggambarkan kebencian padaku. Aku hanya bisa melihat sosoknya yang perlahan berjalan menjauhiku.

Raga dan hatiku melemas, mataku memerah, pandanganku berubah seperti spion yang dipenuhi dengan percikan air mata. Aku salah! Aku terlalu berambisi tentang Zian. Setelah kejadian itu, aku dan Tiara sedikit menjaga jarak. Bagai bertemu dengan musuh, dia lebih memilih memutar arah jalannya dari pada berpapasan denganku. Tidak banyak yang bisa ku lakukan, apakah persahabatanku berakhir sampai di sini? Aku segera mengganti pakaian karena hari ini tes olah raga. Tiara yang hendak mengambil air minumnya menoleh ke arahku. Aku melontarkan senyum padanya, namun dia membalas dengan wajah datar dan langsung ke luar ruangan.

Pluukk!!

Aku melihat sesuatu yang terjatuh dari bawah bangku paling belakang. Terlihat handphone Tiara yang tergeletak di atas lantai, karena getaran di gadget yang terlalu kuat. Terlihat sebuah message yang masuk bernama kontak ‘Kak Zi’. Aku berpikir sejenak, siapa kak Zi? Apakah dia yang selama ini dekat dengan sahabatku? Awalnya aku tidak berani membaca pesan itu. Namun, aku harus tahu apa yang sedang direncanakan sahabatku dan boyfriend-nya itu. “Kita ketemuan tanggal 14, ya. Aku tunggu kamu di kafe orange jam 4 sore.”

14? Itu kan besok! Kebetulan juga tanggal jadi ku bersama Zian juga tanggal 14 dan besok adalah anniversarry pertama kami. Aku membayangkan di tanggal yang sama merasakan hal yang sama bersama Tiara, tapi Zian tak ada di sini. Tak apalah, aku percaya dia tak akan lupa dengan tanggal pertamanya menyatakan cinta. Tiba-tiba terdengar suara peluit yang sontak membuyarkan lamunan indahku. Aduh! Hampir saja aku ketinggalan tes. Ku taruh handphone Tiara dan bergegas ke lapangan. Tidak ada dering handphone untuk hari ini, aku rindu kata-kata romantis Zian, aku merindukan suaranya, aku mengharapkan kehadirannya, Tuhan… Aku hanya bisa memandang fotonya yang ku jadikan walpaper di monitor laptop.

Waktu menunjukkan pukul 00.00. Aku harus menghapus kesedihan kemarin dan menggantinya dengan hal yang lebih menyenangkan. Aku bersyukur bisa 12 bulan penuh bisa mengisi hati Zian. Banyak sekali hal yang ku harapkan di tanggal 14 ini, dan harapan terbesarku adalah bisa kembali tertawa bersama sahabat baikku, Tiara. Secangkir cokelat panas dan sekaleng biskuit mengawali semangatku di tanggal istimewa ini. Kicauan burung dan rintikan air hujan, memberi kesan sejuk di Kota yang penuh dengan polusi. Suara bising kendaraan roda empat sampai roda dua belas terngiang jelas di telinga. Namun, aku patut bersyukur karena Tuhan masih memberiku kepercayaan di dunia, dan masih bisa bernapas bebas di kota kelahiranku.

“Aku gak sabar pengen lihat wajah pria yang ngajak Tiara ketemuan di kafe orange. Pokoknya aku harus ke sana. Pasti Tiara mau ditembak cowok, deh!” Gumamku dalam hati. Ku tengok arah kiri kanan untuk menyeberang ke sebuah tempat nongkrong anak muda, di sekitaran jalan prima yang tak jauh dari sekolahku. Sesampainya di sana, aku tak melihat batang hidung Tiara. Apa mungkin janjiannya batal? Atau Tiara tidak mau bertemu dengan pria yang mengajaknya bertemu? Tiba-tiba…

Duaaarrr!!!

Gemuruh petir mengagetkanku seolah berbunyi tepat di lubang telinga, hal itu juga membuat cacing dalam perutku ikut berbunyi. Lalu aku memutuskan untuk memesan makanan yang bisa ku santap. Hujan lebat dan semburat kilat memaksaku agar tetap berada di tempat ini, selain itu perutku juga sudah keroncongan karena menahan lapar.
Aku terus menggosokkan kedua telapak tangan agar suhu badanku terjaga kehangatannya. Sudah 15 menit aku terperangkap di kafe orange, namun aku belum melihat keberadaan Tiara. Terlihat seorang pria memakai jaket kulit hitam dengan postur yang tidak terlalu tinggi berkulit kuning langsat sedang duduk berseberangan agak jauh denganku. Lalu datang seorang wanita memakai pakaian dress selutut datang menghampiri pria itu. Setelah lama ku perhatikan, ternyata itu sahabatku, Tiara.

Aku mencoba melambaikan tangan pada mereka, namun mereka tidak melihatku karena jarak kami yang memang tidak berdekatan. Aku memutuskan untuk menghampiri mereka berdua. Belum sempat aku mengangkat badan, seorang pramusaji Orange Cafe itu menyodorkan steak yang tadi ku pesan. Aku masih penasaran dengan lelaki yang dekat dengan sahabatku. Mengapa Tiara begitu marah padaku? Aku tahu, mungkin dia sedang memberiku pelajaran akan arti emosional yang baik. Pertanyaan terbesarku, siapa Kak Zi? Ah! Entah kenapa saluran pencernaanku tak bersahabat di hari ini.

Apakah aku harus memastikan si pelayan itu tidak menaruh obat pengocok perut di dagingku? Atau ada lalat yang menaruh telur menjijikannya saat aku tidak melihat keberadaan mereka? Lantas, Kak Zi itu siapa? Pikiranku berbelok. Tidak ada lagi suara petir terdengar, namun langit sedang tidak ingin menampakkan keceriaannya, semburat jingga di ufuk timur mulai terlihat jelas seperti lukisan karya alam. Penglihatanku bagaikan teropong yang digunakan untuk melihat bulan di malam hari. Aku ingin mendengarkan percakapan mereka, namun telingaku bukanlah antena televisi yang langsung bisa menerima sinyal layaknya sebuah parabola. Aku mulai memberanikan diri untuk menghampiri mereka.

“Hai, Ra! Aku gak tahu kalau kamu mau ke sini. Udah dari tadi?” Aku bertanya seperti orang polos.
Tiara hanya menatapku tanpa berkata sepatah pun. Terlihat di kelopak matanya yang masih menyisakan rasa tidak suka padaku. “Maafin aku, Ra! Aku gak mau ngerusak persahabatan kita, kamu boleh benci aku, tapi kita tetap bersahabat. Aku janji gak bakalan marah ke kamu lagi saat aku punya masalah sama Zian, Ra! Maafin aku.” Air mataku berlinang saat mengucapkan itu.

Aku memegang pundak Tiara dan apa yang ku dapat? Tanpa ada suara, Tiara menghempaskan tanganku darinya. Aku tak percaya dengan apa yang dilakukan sahabatku. Air langit tumpah seakan menggambarkan perasaan ini. Bibirku gemetar, wajahku memucat, dan aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan untuk menebus rasa benci Tiara yang ditorehkan padaku. “Aku lebih baik kehilangan Zian daripada kamu, sahabat terbaikku, Tiara.” Nadaku memelan.
“Kita pindah tempat aja yuk, Kak!” Tiara menarik lengan pria yang bersamanya.

Aku terduduk lemas sambil mendongakkan kepala untuk menahan air mataku yang memaksa ingin ke luar. Aku berdiri dan mengejar mereka berdua. Aku berlari seperti orang bodoh yang mengemis maaf dari seseorang yang berharga di hidupku, seorang sahabat. Sang fajar sebentar lagi akan menenggelamkan dirinya, menandakan tanggal 14 februari akan segera berakhir. Penglihatanku sudah buram karena air mata. Saat hendak pergi dari tempat parkir, aku melihat sebuah mantel yang terpampang di body motor matic entah milik siapa yang tidak asing bagi mataku. Zian? Ah! Tidak mungkin. Tiba-tiba seorang adik kecil mengambil benda yang ku kira itu milik Zian. Hmm.. Aku terkejut setelah mantel itu tersingkap dari matic, ada sebuah stiker bertuliskan “Z&R” sebesar telapak tangan yang menempel di sana. Apa ini kendaraan milik Zian? kekasihku ada di sini? Aku melihat pria yang tadi bersama Tiara mengambil helm dari bagasi motor yang tadi tertaruh sebuah mantel. Ia terlihat memakai masker berwarna hijau tua yang selalu dipakai para medis di ruang operasi.

“Kak! Aku mohon maafin aku.” Terang Tiara sambil mendekap Kak Zi-nya.
“Udahlah, Ra. Kamu terlalu jahat tadi!” Jawab lelaki berkulit kuning langsat itu.
Bagai tersambar kilat di sore hari, jantung ini berdetak tak seperti biasanya seakan akan meledak, oksigen yang ku hirup seakan berubah menjadi molekul nitrogen yang menyumbat paru-paruku. Aku tak menyangka jika laki-laki yang tadi hanya tertunduk diam menyaksikan perdebatan dua orang insani di hadapannya adalah Zian, tambatan hati si Ruby wanita yang selalu memperlihatkan kebodohannya, itu aku…

“Aku ngelakuin itu supaya Ruby jauh dari aku, Kak. Aku lakuin demi kamu. Aku suka sama Kak Zian!” Ujar Tiara
“Kamu udah permaluin dia depan orang banyak, Ra! Kamu sahabatnya. Kamu dengar tadi apa kata Ruby? Dia lebih baik kehilangan Zian daripada sahabatnya. Berarti dia lebih memilih kehilangan aku daripada kamu!”
“Aku gak akan berpihak pada siapa pun..”

Mereka terkejut dan langsung menyorotkan bola matanya ke arahku. Aku merasa seperti orang yang berada di panggung pentas, namun tidak mengetahui alur cerita dan naskah yang akan ku mainkan. Andaikan air mata keruh, mungkin wajahku terlihat kotor dan menjijikkan. Aku tidak bisa berkata lagi, ku langkahkan kaki ke arah tempelan bertuliskan Z&R di matic milik Zian. Apa aku masih bisa menyebutnya kekasih? Tiba-tiba aku merasakan dekapan hangat pria itu.

“By, aku bener-bener gak nyangka bakalan jadi gini. Maaf aku gak ngasih kabar ke kamu selama ini. Aku nyesel, By.” Ku rasakan butiran air matanya yang jatuh ke pundakku. Aku tahu dia sangat menyesal, aku tahu dia sangat merasa bersalah, dan aku tahu dia rela berbohong padaku demi bertemu dengan Tiara!
“Aku gak mau denger penjelasan dari kamu lagi!” Kataku seraya melepaskan dekapan Zian. Aku langsung mengarah pada Tiara yang saat itu tidak bisa menghentikan aliran air matanya. “Apa kamu masih mau memaafkanku?” Tanyaku dengan wajah pucat pasi. Jujur saja, air mataku sudah tidak mampu ke luar lagi. Tiara hanya bisa memandangku tanpa mampu berucap apa pun dari bibirnya.

“Aku menyebut kita sahabat. Iya itu aku! Aku yang terlalu hyper dengan apa yang kita jalani dulu. Kekonyolan, tawa, sedih, dan hal lainnya sering kita lakuin bersama. Aku tahu kamu gak jahat, Ra. Tapi ada satu hal yang membuatku mati rasa, dan apa aku masih pantas mengatakanmu sahabat? Kamu lebih memilih pria pembohong ini daripada aku yang berani bertingkah seperti orang gak waras demi kata maaf dari kamu.” Ungkapku dengan wajah datar tepat di hadapan Tiara yang berusaha menahan air matanya.
“Dan untuk kamu, Zian. Terimakasih sayatan lembut yang sudah kau ukir di hati ini. Tanggal empat belas kita memang sangat pantas untuk dikenang. Sesuai permintaan kalian, aku benar-benar akan menjauh dari kehidupan kalian berdua.”

“Tapi aku sayang sama kamu, By. Kita ulang semuanya dari awal. Aku gak ada perasaan sedikit pun sama Tiara.” Zian menggenggam tanganku.
“Aku juga sayang sama kamu, Zi. Sayang banget. Tapi kamu terlalu jahat, kebohongan dan janji-janjimu terlalu kuat. Kamu juga udah bikin Tiara berubah sikap. Kamu pantas dengannya. Dan kamu terlalu mudah berkata kita ulang semua dari awal. Aku pergi, terima kasih untuk kalian yang sudah menghiasi tanggal empat belas-ku yang penuh dengan hiasan kelam ini. Aku gak akan lupa!” Ungkapku tanpa memandang mereka dan perlahan menjauh dan berjalan membelakangi orang-orang yang tidak menginginkan keberadaanku. Masih banyak kata yang ingin ku lontarkan pada mereka, namun hati kecil ini melarang semua itu.

Cinta dan Sahabat, pada awalnya memang sangat indah terasa. Mereka penentu perasaan ini. Namun, ada waktunya kala Cinta dan sahabat menjadi racun yang menyebar lembut mematikanku perlahan atau mungkin sebuah pisau yang tajam menyisakan sayatan yang kecil namun sangat dalam robekannya. Entah sampai kapan aku percaya lagi pada yang namanya sahabat, apalagi kekasih. Butuh waktu untuk mempertimbangkannya. Best day ever, aku kira akan begitu. Rasanya aku ingin menghapus tanggal empat belas ini.

Cerpen Karangan: Neng Novi Nuraisyah
Facebook: Novi Nuraisyah
Id Line: Nomikinevio
Saya merupakan penulis pemula yang membutuhkan saran dan kritik untuk kesuksesan dalam hal menulis 🙂 salam kenal 🙂

Cerpen Empat Belas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Drama Yang Berakhir Tak Bahagia

Oleh:
Bukannya teman makan teman, tapi entah mengapa perasaan itu timbul begitu saja dalam hati tanpa bisa dicegah. Pertama kali aku mengenal Evan, aku langsung jatuh hati padanya. Ia memang

Cuma Gara Gara Facebook

Oleh:
Amarah dan Kekesalan yang kini melanda Prasetyo, Kecewa yang selalu membayangi, beribu maaf yang entah berapa kali terlontar dari bibirnya. “Maafkan aku, ku akui aku memang salah. Maafkan aku

Cinta Pada Lelaki Yang Sama

Oleh:
Pagi itu, sahabatku, Clara menghampiriku. “Ra, bagaimana menurutmu kalau aku mempunyai seorang pacar?” tanyanya. “Tergantung siapa orangnya kan?” balasku. “Ya,” “Memang, siapa yang menyatakan perasaan padamu?” tanyaku. “Ah, tidak.

Ketika Cinta Dipertanyakan

Oleh:
Keisha, Rasya dan Sandra sudah berteman sejak mereka kecil. “Bagaimana kalo ntar malem kita pergi jalan?! Mau nggak?!” Rupanya Sandra tengah menggoda Rasya dengan mengajaknya pergi jalan. Ia bahkan

Syairku Berganti Tuan

Oleh:
Pagi itu seusai pelajaran matematika muncul niatan di benakku untuk mangkir dari pelajaran kimia yang sangat tak kusukai, ditambah lagi aku tak menyukai ibu gurunya, Yang kerap mengejek dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *