Game of Love (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 3 March 2014

“benarkah cinta hanya sebuah permainan untukmu, aku merupakan salah satu permainan yang kau mainkan” aku bertanya pada Kiran gadis yang berada tepat di depanku.
Dia tersenyum “sebuah luka yang akan membekas selamanya di hatimu, aku kah penyebabnya?, memikirkanku sepanjang hari pasti sangat membuatmu menderita seumur hidupmu, aku tak pernah memainkan perasaanmu, kau lah yang menarikku bermain ke dalam hatimu, aku selalu memperingatkanmu, tapi kau tak pernah mau mendengarkanku, kau terlalu sibuk memasukan hatiku yang kau anggap benar, sangat sakit kan rasanya, mencintai tapi tak bisa memiliki, seperti hatiku yang selalu kau paksa untuk menerimamu”.
Aku menguatkan hatiku lalu berbicara padanya “terima kasih padamu telah memberikan luka yang masih terbuka hingga kau mati dan selalu menghantuiku, kau tepat berada di depanku, datang padaku”.
Dia mundur ke belakang menatap tajam ke arahku “tidak, aku hanyalah bayangan yang kau ciptakan, aku sudah lama mati kau bunuh dengan tanganmu, selamanya kau adalah pembunuhku, Robby”. dia menghillang.
Aku memanggilnya “Kiran”.

28 februari 1998
Aku bertemu Kiran, 10 tahun lalu, aku sedang memikirkan masa depanku, ayahku menginginkanku sekolah bisnis di itali, agar kelak aku bisa meneruskan perusahaannya, tapi aku masih bingung dan memilih duduk-duduk di taman kota, di balik pohon besar yang kududuki, aku mendengar 2 orang gadis sedang bicara, gadis berkulit putih, kurus, rambut panjang ikalnya dibiarkan tergerai, bermata sayu berkata pada gadis berkulit agak hitam, rambutnya pendek hitam, agak berisi badannya, tinggi “pulang ke rumah, kakek tidak benar-benar serius dengan perkataannya”.
Gadis berkulit agak hitam, berambut hitam pendek, tinggi itu menjawab dengan mata berkaca-kaca “kau tahu apa Kiran, kau hanyalah anak yang diadopsi oleh kakekku, aku bukan sepertimu yang selalu menuruti perkataan kakek, aku adalah cucu kandungnya seharusnya kakek tidak memperlakukanku sama sepertimu, aku tak mau mengikuti les balet aku tak suka balet, aku lebih suka bermain bola, kau juga tahu itu kan!!!, kau tadi tidak membantuku untuk apa aku menuruti perkataanmu”.
Gadis bernama Kiran tampak menggengam tangannya kuat-kuat, dia tersenyum samar “iya kau benar, kedudukanku takkan pernah sama denganmu, karena itulah aku memilih menjadi anak penurut, kau juga takkan pernah tahu bagaimana rasanya hidup sendiri tanpa keluarga, aku takkan menangisi hidupku, aku sekarang berjuang untuk hidupku sendiri, apa salahnya hanya mengikuti kelas balet, aku bisa menggantikanmu kau bilang saja mau ikut, nanti aku akan bilang pada kakek bahwa kau mengikuti kelas dengan rajin, kau bisa bebas bermain bola”.
“memang harus begitu, kau adalah penjagaku, aku benar kan? Kiran maaf tadi aku berkata hal-hal yang seharusnya tak pernah kuucapkan, terima kasih ya, kau selalu membantuku”.
Kiran menjawabnya “itu sudah kewajibanku, ayo kita pulang kakek pasti cemas mencarimu”. Saat mereka pulang, Kiran melihat ke arahku, matanya menyiratkan bahwa aku ketahuan, dia tahu aku menguping mereka.

29 juni 2006
Usiaku saat itu 17 tahun, aku sedang berlibur dan pulang ke Indonesia, aku tetap sekolah bisnis di itali, berkat dia, dan aku melihatnya lagi, aku masih jelas mengingatnya, dia sedang berjalan mungkin baru pulang dari sekolahnya, aku menyapanya “hai, kau masih mengingatku?”.
Kiran menjawab dengan bingung “maaf kau siapa? aku merasa tak pernah mengenalmu”.
Aku kecewa dia tak mengingatku “aku…”. belum sempat aku meneruskan pembicaraanku dia memotongnya “aku sedang terburu-buru, maaf”. lalu dia berjalan cepat mendahuluiku, aku penasaran mengikutinya dia berjalan ke café dekat perpustakaan dia menghampiri seorang anak laki-laki berseragam sma, rambutnya penuh hair gel acak-acakan, bajunya dikeluarkan, Kiran tersenyum padanya, sambil menyerahkan sebuah buku, cowok itu yang tadinya berwajah masam terlihat gembira menerima buku itu, mereka berdua asyik mengobrol, tak lama mereka pindah ke perpustakaan dimana Kiran bekerja sebagai pegawai perpustakaan disitu, cowok itu juga selalu duduk di sampingnya, mereka terlihat nyaman berdua, aku hanya melihat mereka dari jauh dengan perasaan aneh, pantas saja dia melupakanku semudah itu rupanya ada nama orang lain, di hatinya. seharusnya aku menyerah padanya tapi aku tetap mencari informasi tentang Kiran dan cowok itu, cowok itu bernama Vasto, tak banyak yang tahu tentang keluarganya, dia hanya tinggal dengan saudaranya, begitu pun juga hubungannya dengan Kiran tak ada yang tahu, dia terkenal anak berandalan, suka tawuran, kenapa anak tak jelas begitu bisa kenal dengan Kiran, dia bukan teman sekolah Kiran, teman-teman Kiran tak ada yang tahu, kecuali saudara angkat Kiran, gadis yang bersama Kiran dulu, aku menemuinya dia sedang latihan sepak bola sendirian di lapangan sekolahnya, aku menunggunya sampai selesai, dia menyadari kehadiranku, dia bertanya “cari siapa mas?”.
“kau yang bernama Sania Nillamy?”.
“panggil aku Sunny, ada apa mencariku?”.
Sunny sudah banyak berubah tidak seperti Kiran yang tak banyak berubah, Sunny kulitnya sekarang putih, rambutnya hitam panjang lurus, Cuma badannya sekarang lebih energik mungkin karena sering olahraga “aku Robby, kau sahabatnya Kiran?”.
“bukan hanya sahabat kami bersaudara, kau mencarinya, biasanya dia sedang bekerja di perpustakaan umum, cari saja disana…”.
“kau mau pulang biar kuantar?”.
Aku mengantarnya pulang dia bertanya “kenapa kau mengantarku pulang, bukankah kau mencari Kiran?”
Aku sibuk melihat rumahnya, oh jadi ini rumahnya.
“kau tidak mendengarkanku, aku paling suka tak didengarkan, kau sudah berapa lama kenal dengan Kiran, Kiran tak pernah cerita bahwa dia mempunyai seorang teman laki-laki”.
“dia tak pernah cerita padamu?”. dia juga tak bercerita pada saudaranya sendiri.
“iya, Kiran hanya berteman dengan buku, dia juga sangat suka menyimpan rahasia sendiri, eh bagaimana bisa kau mengenalnya?”.
“ah, aku peminjam baru di perpustakaan tempatnya bekerja, aku kemarin menghilangkan buku, dan belum dapat menemukan bukunya di toko manapun, aku ingin minta maaf padanya tapi itu pasti akan membuatnya susah”. aku berbohong padanya.
“masalah itu, kau tak usah khawatir, Kiran takkan marah padamu, kau hanya tinggal bicara jujur padanya masalah beres, para peminjam di perpustakaan itu sering menghilangkan buku tapi Kiran bersikap biasa saja, pemilik perpustakaan itu sudah tak peduli dengan koleksi buku-buku disitu, dulu bahkan dia mau menjual perpustakaan itu, kalau saja Kiran tak datang”.
“kenapa Kiran mau bekerja disitu”.
“Kiran penggemar buku-buku lama, di perpustakaan itu semua koleksi bukunya buku-buku lama, itu maksudnya dia hanya berteman dengan buku”.
“oh”.
“terima kasih sudah mengantarku, aku takkan bilang pada Kiran kok”. setelah Sunny masuk aku melihat rumah itu lagi, rumah itu milik pegawai lama di perusahaan ayah, kakek Harno, aku mengenalnya. tepat saat aku jalan, Kiran pulang ke rumahnya, dia sendirian, dia tak melihatku.

Di perjalanan mobilku dihadang oleh seseorang, eh dia terserempet, aku turun dan Kiran yang menghadang mobilku.
“kenapa kau menghadang mobilku?”.
“kau anak dari pemilik perusahaan tempat kakekku bekerja kan, tolong bilang pada ayahmu, jangan berhentikan om Rahmanto, aku tahu dia pasti tidak bekerja dengan baik, kalian memperkerjakannya karena kakek Harno kan, kakek bekerja sangat baik di perusahaan itu, jangan berhentikan om Rahman, biarkan dia bekerja disana, aku akan menuruti semua permintaanmu asalkan kalian memperbolehkan om Rahman bekerja disana”.
“kau akan lakukan apapun sesuai perintahku?”.
Dia mengangguk.
“ikut aku”

Kami menuju rumahku, Kiran kusuruh berdiri dengan buah apel di atas kepalanya, aku akan menembak dengan pisau buah apel yang ada di atas kepalanya. aku bertanya padanya “apa kau takut?”.
Kiran menjawab datar “aku tak pernah takut pada apapun lagi”.
Aku tersenyum, Kiran berdiri tegak di ujung sana, dia berdiri tegak tanpa ketakutan, kenapa aku yang merasa takut padanya, wajahnya yang tajam membuatku gemetar, akhirnya aku melemparnya dan tak meleset, tepat terkena apelnya, wajahnya tetap datar saja, tak ada rasa lega, dia berkata “kau tidak akan memberhentikannya?”.
“jadilah pacarku, dan aku janji aku tidak akan pernah memecatnya, sampai seumur hidupnya”.
“kau benar-benar berjanji?”.
“iya”.

Sejak saat itu Kiran menjadi pacarku, hanya berada di sisiku membuatku bahagia, tapi aku harus kembali ke itali untuk bersekolah, aku mengajak Kiran untuk ikut bersamaku sekolah di itali.
Dia menolak “aku tak bisa meninggalkan kakekku”.
Aku agak marah padanya “kakekmu lebih penting daripada aku, aku tak suka diduakan”.
“kakekku adalah orang yang pertama kali menemukanku sedang mencari makan di tong sampah, kau bisa bayangkan bagaimana jika kakek tak menemukanku, mungkin aku sudah mati karena kelaparan, sejak mengadopsiku kakek dimusuhi oleh keluarganya sendiri, tapi kakek tak pernah meninggalkanku, aku tak bisa meninggalkannya seperti dia yang tak pernah meninggalkanku, apa kau mengerti”.
“aku tak mengerti, karena aku tak hidup seperti hidup yang kau jalani, tapi aku menerimanya jika kau tak mau pergi, aku akan kembali karena itulah kau harus menungguku, aku akan sering menghubungimu, kau harus membalasnya, lalu aku mencium keningnya… pastikan hp dan emailku selalu kau balas”.
Kiran mengangguk.

Aku pergi meninggalkannya, Kiran berbalik.

seperti itulah Kiran… aku merasa aku adalah orang yang paling mengerti dirinya dari siapapun, tapi semakin lama semakin aku menyadari bahwa aku tak pernah mengenalnya.

12 Desember 2010
Kenyatan itu aku ketahui saat aku kembali pulang ke Indonesia. Kiran tidak menungguku di bandara, yang menungguku hanya asisten pribadiku yang mengurus sejak aku kecil saja, aku bertanya padanya “mana Kiran?”.
“mba Kiran tidak bisa datang, kakeknya sakit”.
Aku diam menahan amarahku, lalu berjalan ke depan, Pak Karna mengikuti dari belakang, aku ke rumahnya, tetapi aku tak ingin masuk.
“kenapa anda tidak masuk saja, pasti mba Kiran akan senang melihat anda menjenguk kakeknya” pak Karna menyuruhku masuk.
Aku menolaknya “kita pulang saja”, kami pulang.

Besoknya aku menunggu Kiran di depan rumahnya, Kiran keluar melihatku lalu masuk ke mobil, dia bertanya “sudah lama menunggu?”.
“Cuma 5 menit, kabarnya kakekmu sakit?”.
“iya”.
“sakit apa? parah?”.
“diabetesnya kambuh, gulanya naik, tapi sekarang sudah agak baik”.
“hm.. berarti kau tak sibuk kan”.
“setelah kuliah tidak ada jadwal”.
“kita bisa menonton film”, Kiran tidak meminta maaf, dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Setelah Kiran pulang kuliah kami menonton film. di bioskop milik keluargaku.
Kiran heran “kemana penonton yang lain? kenapa Cuma ada kita berdua?”.
“ini adalah bioskop khusus buatku, tentu tak ada orang lain kecuali aku”.
“kalau memang khusus buatmu, kenapa mengajakku?”.
“karena kau adalah orang spesial untukku”.
“lebih spesial lagi, kalau kita menonton bersama-sama, ketika ada film baru kakek sering mengajakku dan Sunny menonton film, banyak orang datang menonton, tiap adegan seru mereka ikut berteriak, itu pasti lebih menyenangkan”.
“itu lebih menyenangkan untukmu?”. aku bertanya padanya.
“iya”.
“jadi menurutmu menonton berdua tidak menyenangkan”.
“iya”. dia menjawab tanpa beban.
“kau duduklah di kursi tengah, sebentar lagi filmya akan dimulai”.
Kiran menurut, dia langsung duduk tepat di sebelahnya aku pun ikut duduk, aku bilang padanya “aku terbiasa menonton sendirian, tak biasa menonton rame-rame, kau juga lama-lama akan terbiasa”.
Kiran diam tak menjawab aku menoleh padanya, matanya fokus pada layar lebar yang memutar film, film yang diputar adalah film romantis titanic kesukaanku, walau sudah menonton ratusan kali tak membuatku bosan, aku menitikan air mata saat film itu berakhir, aku melihat ke samping untuk menanyakan pendapatnya, Kiran tertidur.
Dia terbangun setelah lampu dinyalakan, dia lalu menghapus ilernya.
“filmnya bagaimana?”.
Dia menjawab “menarik”.
Aku tersenyum dia sangat lucu, aku lalu mengantarnya pulang, dia mengucapkan terima kasih lalu masuk ke rumahnya.

Hari-hari berikutnya saat aku dan Kiran ada waktu kami sering jalan bareng. aku rasa Kiran sudah mulai menerimaku tapi anggapan itu salah, seminggu kemudian aku menyadari bahwa hati Kiran masih menyimpan nama seseorang, dan dia adalah Vasto, pemuda berandalan yang sewaktu sma dekat dengan Kiran.
Aku menjadi teringat pembicaraanku dengan Kiran 4 tahun yang lalu setelah kami berpacaran “apa kau sudah menyukai pria lain?”
“jawaban ya atau tidak itu takkan menjadi hal yang penting untukmu, aku benar kan”.
Jawaban Kiran tak sepenuhnya benar karena sebenarnya aku tak pernah suka ada seseorang yang lebih dekat melebihi aku, aku pergi dari mereka, besoknya aku terus melihat mata Kiran, mencari adakah aku disana, tapi Kiran memalingkan mukanya, pertanda aku memang tak pernah ada di hatinya.

14 Januari 2011
Hari dimana aku melihat 2 wajah yang berlainan dari Kiran, dan aku tak bisa menahannya lagi.
Kiran memohon padaku “ini semua ideku, jangan salahkan Vasto dia tak tahu apa-apa”.
“kau kira aku peduli? aku akan tetap menyerahkan Vasto ke polisi” ancamku.
“bagaimana denganku?, kau akan membiarkanku?”.
Aku melihat wajahnya, perasaanmu takkan pernah sama denganku “hukumanmu adalah penderitaan seumur hidup melihat orang yang kau kasihi dihukum karenamu, cukup adil bukan?”.
Dia tersenyum dingin padaku “kau yang akan menyesal”
Aku tak mengerti kata-katanya sampai dia menyelamatkanku, aku yang hampir tertabrak mobil kalau bukan karena dia menyelamatkanku.

Cerpen Karangan: Krisnhu Gita Pradini
Blog: http://hura-huri.blogspot.com/

Cerpen Game of Love (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Menyesal

Oleh:
Namaku Rara saat itu aku masih duduk di bangku SMP kelas 2. Aku punya sahabat namanya Alen, ia selalu mendengar curhatanku. Tanpa ku sadari aku mengagumi sahabatku itu. Hari

Kelopak Mawar (Part 1)

Oleh:
Mencintai tidak harus memiliki, Ini adalah kata yang sangat dibenci oleh Yuni. Mengapa ada pujangga bodoh yang mengucapkan kalimat ini. Mencintai artinya ingin bersama, dan artinya ingin memilikinya. Itulah

Hujan, Anime dan Cinta (Part 1)

Oleh:
Rintik-rintik hujan dan suara halilintar membangunkan melody dari tidur lelapnya. Perlahan dia membuka matanya dan memalingkan pandangan ke jendela kamarnya. “Argh.. hujan turun lagi,” desahnya perlahan. Sejenak dia teringat

My Love Sayaka

Oleh:
Aku adalah seorang penulis novel pemula, suatu hari aku sedang menulis sebuah Novel di tepi sungai yang indah. Lalu tiba tiba ada seorang gadis duduk di sampingku, gadis itu

Aku Atau Sahabaku

Oleh:
Kadang kita sering terbengkalai atau termenung mendengar kata CINTA, Apa itu Cinta?, mungkin semua orang mengetahui apa arti Cinta. Cinta memang harus dimiliki oleh semua makhluk tuhan di dunia,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *